
"Waduh, kayanya udah ga muat deh !" Shania beberapa kali mematut dirinya di depan cermin, bolak balik sampai matanya juling pun tetap tak merubah penampakan perutnya yang kian hari kian maju tak gentar.
"Kayanya seragam cherrybell gini mesti pensiun, bye chuyunkk !" Shania menggantung seragam pas bodynya, biarlah itu menjadi kenangan kelak akan ia ceritakan kisah legenda anak pak Hadi di balik seragam pas body itu pada anaknya. Ia menarik seragam berukuran sedikit lebih besar.
"Idih ! kaya si neng dari desa Legok hayam ihhh !" cibirnya melihat tampilan dirinya sendiri, seragam putih berjarak beberapa centi dari leku kan, tidak mencetak leku kan tubuhnya. Rok abu ber-rempel selutut.
"Mas, masa kaya gini ! Kaya baju pinjem sama orang !" ia meminta pendapat Arka, laki laki ini hanya menoleh sebentar lalu kembali sibuk merapikan bajunya.
"Bagus, itu namanya siswi sekolah."
"Ih, emang yang kemaren kemaren apa ? Miss Universe gitu ?" tanya nya melinting tangan baju hingga sedikit terangkat, namun dirasa tak cocok Shania kembali merapikannya. Mencari style secocok mungkin.
"Yang kemarin kaya pemeran figuran sinetron atau engga artis artis girlband,"
"Ihh jujur banget sih mas, kan jadi terbang idung Sha nembus genteng rumah !" jawabnya tertawa, menyerah...Shania mulai memakai jam tangan dan tak lupa cardigan.
"Mas sibuk di kampus hari ini, nanti biar Dimas yang jemput ya ?!" Shania mengangguk.
"Mas, kita ke Bandung pake travel atau mobil ?" tanya Shania.
"Biar pake mobil aja, kalo lewat tol kan deket, cepet."
"Oh, oke !"
"Sha udah telfon teh Nengsih buat siapin peuyeum !"
"Jangan makan yang mengandung gas, alkohol dan ragi Sha." Shania sampai lupa.
"Oh iya ya, Sha lupa mas !" ia menepuk jidatnya.
"Ya sudah, nanti kamu kesiangan..Dimas jemput jam 2 siang, sepulang kamu pemantapan !"
"Iya, "
"Sha pengen ke supermarket sebentar ya,"
"Beli apa ? Bukannya kebutuhan dapur masih ada ?" tanya Arka.
"Mau beli beberapa bahan, Sha suka ngaruy ihh kalo liat video di yukiub orang jepang lagi mukbang, jadi kepengen !"
"Ngaruy apa ?" tanya Arka.
"Ngiler mas, air ludah ketelen sendiri dalam jumlah yang banyak saking tergiur, kepengen !" jelas Shania, Arka hanya beroh singkat. Banyak kosakata Shania yang suka nyempil nyempil diantara bahasa Indonesianya seperti bunda dan itu asing untuk Arka.
"Jangan yang pedes pedes Sha, kasian dedek kalo momy nya makan pedes, "
"Engga mas, "
****
Ternyata di luar ekspektasi, seragam yang dipakai Shania malah menjadi trendcenter di sekolah. Seragam putih yang dilinting sedikit dan rok rempel selutut diikuti beberapa adik kelas bahkan satu angkatannya. Memang benar perempuan hamil itu selalu terlihat lebih shine, bukan karena wajahnya ditempelin lampu neon 60 watt, tapi memang memiliki aura nya tersendiri. Dan salah jika mereka ingin mengikuti Shania, pikir gadis itu. Perilakunya bukan untuk ditiru siapapun !
Sejak seminggu yang lalu Shania lebih suka nontonin mukbang orang orang Jepang dan Korea, terlebih lagi suara mereka mengunyah makanan, berasa ikut makan. Tak jarang ia pergi ke supermarket hanya untuk mencari bahan bahan yang sama seperti di dalam video.
"Pantesan sekarang mon tokan ! rupanya ini hobby baru si neng ini !" Inez duduk di samping Shania yang tengah menonton video mukbang.
__ADS_1
"Gue pengen nyari permen kaya beginian Nez, dimana ya ?!" tunjuk Shania pada permen permen kenyal berbagai bentuk yang tengah dimakan si perempuan di dalam video.
"Oh itu mah mesti di mall, itu loh Sha ! Yang di timbang itu, yang permennya di taro di kotak kaca !" jawab Inez.
"Ah iya ! Gue baru inget ! Beli ah !" serunya senang, karena tau dimana mendapatkannya.
Benar saja, setelah jam pulang berbunyi. Shania bergegas ke parkiran, disana sudah ada Dimas yang menunggunya.
"Ka Dim !" sapa Shania pada lelaki yang sedang menunggunya sambil main game online.
"Oh, kirain masih lama !"
"Engga Ka, yuu ! ke mall dulu ya ka, Sha mau beli sesuatu," pinta Shania.
"Oke, mau beli apa hari ini, ramen, sosis, chicken wing's, jelly, coklat ?" Dimas menjabarkan satu persatu makanan yang akhir akhir ini Shania buru, untung saja ngidamnya si little momy ini bukan ingin mobil lamborghini, jika iya..mungkin Arka harus menjual kedua cabang Route 78 berikut karyawan karyawannya untuk memenuhinya.
"Permen kenyal ka, yang bentuknya macem macem itu loh !" imbuh Shania.
"Kaya semacam Youpi ?" tanya Dimas, Shania mengangguk.
"Elah, itu mah di warung warung juga ada Sha. Yang satunya gopean kan ? Jajanan Ori tuh !" Dimas akhirnya merasakan geplakan istri nakal Arka.
Plakk
Bahunya di pukul Shania, "sembarangan, bukan yang gope, enak aja ! Mahal tau !"
"Semahal mahalnya juga ga akan lebih mahal dari harga motor," debat Dimas.
"Ya engga gope juga maksudnya udah ah buruan, lama !" Shania masuk ke dalam mobil.
******
Dimas masuk ke arah parkiran di lantai 15 sebuah Plaza, karena bassement nampak penuh. Setelah mendapatkan tempat untuk parkir Shania turun duluan.
Little momy kepengen permen Youpi mahalll, otewe meluncur !!
Arka tersenyum dengan laporan Dimas sepaket dengan foto punggung Shania yang berjalan duluan.
Keduanya berjalan menuju lift, dan turun ke gedung dimana berderet gerai foodcourt. Awalnya Shania nampak berhenti di gerai gerai aksesoris saat melewatinya tadi. Tapi ia hanya melihat lihat saja, tak ada barang yang benar benar ia inginkan.
Beruntunglah Shania, Dimas bukan lelaki rewel yang enggan diajak jalan.
"Ka Dim, Ori maennya beginian ngga ?" tanya Shania, maksud gadis ini nge-mall.
"Jarang, paling 2 sampe 3 bulan sekali kalo dapet bonus dari bos. Ori maenannya tanah, serangga, ga usah kebanyakan kenal mall lah, ngeri ! kalo bapaknya ga ada duit kan berabe," Shania beroh singkat.
"Sha haus euy, beli dulu minum deh !" Shania belok di gerai sebuah coffe, namun yang ia beli minuman milkshake untuknya dan ice coffe untuk Dimas.
"Nih ka Dim, aus..minum dulu bentaran !" Shania menyerahkan satu cup ice coffe, sambil duduk sejenak di kursi yang sudah disediakan oleh pihak gerai.
"Thanks Sha,"
"Wah..wah...nikah sama bosnya pacaran sama karyawannya ?!!!" ejek seseorang dari arah depan mereka.
Shania dan Dimas menoleh saat tengah mengobrol.
__ADS_1
Shania mengangkat alisnya sebelah demi mendapati Alya bersama seorang temannya. Ia memakai blouse pendek berwarna merah dan celana jeans tanpa jilbabnya.
"Alya, " gumam Dimas.
"Best lah ! bocil SMA udah berani maenan laki, " tawa sumbangnya. Suasana hati Shania seketika memburuk, hormon kehamilannya yang membuat Shania jadi makin labil akhir akhir ini berperan besar mengubah suasana hatinya saat ini.
"Al ! Stop !" larang Dimas membentaknya, melihat Shania yang sudah berwajah keruh.
"Kenapa ? Emang bener kan Dim ?" ia melipat kedua tangannya di dada. Jika tidak takut malu mungkin Shania sudah menjambak dan mengacak ngacak wajah Alya seperti dulu yang ia sering lakukan pada almarhumah Maya.
"Nyari duit kali Al, biar bisa nonton konser k pop. Ga tau buat bayar ujian !" teman Alya mengompori.
"Dan apa ini ? Gue tebak loe lagi bunting kan ?!" tunjuknya pada perut Shania, Alya sangat tau bentukan tubuh Shania meskipun tak kentara perbedaannya.
"Anak siapa tuh ?!"
Plakkk !!!!
"Jaga ucapan kaka ya, Shania bukan cewek murah !!" Shania sampai tak percaya jika ia menampar Alya di depan umum.
"Lancang !" desis Alya memegang pipinya yang panas dan kebas.
"Gimana ga murah ! masih sekolah udah jual tubuh sama pria dewasa yang punya pacar, apa namanya kalo bukan lonth3 !!" teriak Alya, ingin menunjuk Shania, namun dihalangi Dimas. Dimas bukan tak ingin melawan, tapi ia akan menjadi pec undang jika ia melawan perempuan sekalipun itu mulut jaha nam Alya. Hampir semua orang melihat pertengkaran mereka dan memandang Shania.
"Al !!! cukup ! Gue ga lawan karena loe cewek. Loe tuh maling teriak maling, jangan sampai gue bongkar semua kelakuan busuk loe disini !!" tunjuk Dimas.
"Kelakuan mana Dim ?!" tawanya sumbang, sementara Shania sudah benar benar menjatuhkan air matanya atas penghinaan dirinya. Gadis itu berlari membelah jalanan kadang sesekali menabrak pengunjung lain.
"Sha !!!" pekik Dimas.
"Awas loe Al, tunggu gue lapor Arka. Dan dia yang bakal obrak abrik loe !" ancam Dimas.
Perempuan itu malah tertawa sumbang seraya mengusap pipinya yang panas karena tamparan keras Shania.
Setidaknya ada lebih dari puluhan orang menatapnya dengan tatapan seperti ini
Hah ? anak SMA hamil ?
Oh my Gosh !
Ga nyangka, cantik-cantik pe lacoer !
Neng...neng..masih kecil udah tau gagang kunci, sekolah dulu yang bener !
Tatatpan tatapan merendahkan itu sepaket ucapan Alya dan temannya membuat hatinya terasa dijatuhkan dari parkiran menuju jalanan sana dan ditabrak sejumlah kendaraaan.
Apa diantara mereka ada murid SMA BP, atau orang lain yang mengenalnya ? maka tamatlah riwayatnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.