Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Geng burung kicau


__ADS_3

"Sepaddaaaa !!! Everybody home ?!!"


Arka membuka pintu rumah dan menyambut teman-teman yang harus disebut apa reaksi heboh mereka, saat pintu baru dibuka.


"Pak Arka !!!! Ponakan ku mana ?!!" mereka berebut masuk, membuat Arka memasang badan di depan pintu masuk.


"Awas bege !! Gue duluan, mau liat ponakan cantiknya gue !"


"Awas !! Gue mau liat jodoh masa depan gue !" seru Roy.


"Hahaha, ga dapet ibunya ngincer anaknya !" tawa Inez.


"Pak, maaf ya mereka emang ga ada akhlak." Deni menggeplak teman-temannya agar diam dengan keresek berisi kado.


"Bisa tenang ?" mereka mengangguk.


"Bisa rapi dan kalem ?" mereka kembali mengangguk seraya membuat gerakan mengunci mulutnya.


"Jangan ribut dan rusuh, anak saya tidur," Arka mempersilahkan mereka masuk, tapi pandangannya berhenti di akhir deretan anak-anak didiknya, pada seorang pemuda yang belum pernah datang kemari, Cakra.


"Selamat pak, " hanya ucapan singkat itu saja yang ia ucapkan dengan sebuah kotak hadiah berwarna pink berpita ungu di tangannya.


"Terimakasih, silahkan masuk !" ia tau disini ada tatapan tersirat dari keduanya yang satu frekuensi. Jika keduanya menyukai wanita yang sama, hanya bedanya yang satu harus berlapang dada menerima jika Shania memang lebih memilih guru mereka, Arka... mungkin ini alasan Shania selalu menolaknya, dan yang satu harus memberikan sedikit kerelaan hatinya untuk memberikan istrinya dan pemuda ini waktu.


"Shania !!!"


Baru saja diwanti-wanti untuk tak rusuh, tapi lihatlah anak-anak pengidap amnesia akut ini. Seakan memiliki nyawa 10 melebihi nyawa kucing.


"Njirrr ! bisa ga sih ga berisik, mau gue siram ??!" Shania mendekap Galexia, naluri seorang ibunya bekerja, tapi entah mengerti keadaan lingkungannya sejak dari kandungan atau memang Galexia setenang ayahnya, bayi menggemaskan ini seakan tidak terganggu dengan kehadiran sosok-sosok yang harus dikatakan apa mereka ? datang tak diundang pulang tak dijemput, datang tak digendong pulang tak di bopong.


"Sorry, sorry !"


"Berisik oyyy ! Mau loe, di siram pake cairan sulfat sama bapaknya Xiao !" Deni menoyor teman-temannya.


"Hahaha, Xiao...loe pikir tokoh Tekken di ps !" tawa Ari.


Baru saja 3 menit mereka disini, Shania sudah ingin menangis nama anaknya dijadikan guyonan oleh segerombolan anak buah Spongebob Squarepants.


"Gue lakban juga mulut loe satu-satu !!" galak Shania.


"Eh, eh...dia senyum dong !!! Cantik banget ya Allah !! Lucu, Sha !!!" ucap Melan demi melihat Galexia tersenyum lebar sambil tertidur.


"Gemezzzz ! Pengen bawa pulanggggg," rengek Leli dan Niken. Kini mereka sedang duduk di karpet dengan Shania yang mendekap Galexia.


"Diminum dulu, anak-anak !" ibu membawa senampan gelas berisi jus jeruk.


"Waduhhh, makasih bu ! Ga usah repot-repot, padahal buat dia mah kasih aja air comberan aja !" tunjuk Leli pada Guntur dan Roy.


"Saravvv ! Loe aja air aki !"


"Loh, si Cakra mana ?" tanya Niken celingukan.


"Hah ?!! ada Cakra ?" Shania terkejut, mereka mengangguk.


"Doi udah tau kok, Sha !" jawab Melan.


"Kenapa Sha ? takut ketauan loe selingkuh ?" Guntur menaik turunkan alisnya.


"Ish ! Sembarangan, kalo ngomong !" sengitnya.


"Gue kaget peak !"


"Di luar kali sama pak Arka,"

__ADS_1


"Tengahin Den, tengahin ! Ntar bacok-bacokan berabe !" seloroh Ari.


"Biarin aja, biar seru !" jawab Deni.


"Kayanya si Cakra lagi di introgasi, jangan macem-macem !"


"Mestinya yang di pelototin momynya Xia, kan dia yang kegenitan !" jawab Leli.


"Enak aja, gue ga pernah kegenitan sama cowok !" sarkas Shania.


"Oh ya ?! Loe lupa yang sering gombalin pak Arka dulu siapa ? Nini towok ?!" tanya Melan membuat Shania tertawa. Tak lama dua orang laki-laki masuk ke ruang tengah ikut bergabung, entah apa yang mereka obrolkan sebelumnya.


"Hay Sha, apa kabar ?!" sapaan Cakra membuat tawa mereka diam, pasalnya Cakra berjalan bersama pak Arka.


"Baik Cak," jawab Shania.


"Kanan suami, kiri calon affair," bisik Guntur.


"Taruhan sama gue, yang berdarah duluan pak Arka, Cakra apa Shania ?" bisik Deni.


"Shania !" jawab mereka serempak.


"Kurang aj4r," desis Shania.


"Gue ga bawa apa-apa Sha, selamat ya Sha anak kamu cantik, gemesin kaya ibunya !" Cakra menyerahkan kotak yang ia oegang pada Shania.


"Tetot !! Password anda salah, bad wors Cak, siap siap di gantung di tiang jemuran !" goda Ari.


"Makasih Cak, wahhh ! Udah dibawain kado sama om Cakra, " seru Shania mengurai ketegangan yang diciptakan teman-temannya.


"Ekhemmm om !" deheman Deni.


"Om Cakra, makin keren aja setelah jadi atlit, " ujar Niken.


"Cantik Sha, pak Arka !" Cakra melihat bayi imut dengan pipi kemerahan di dekapan sang ibu.


"Hati-hati om, nanti cinta pada pandangan kedua !" goda Deni.


"Saingan loe berat Roy !" cibir Ari ditertawai yang lain.


Arka duduk di samping Shania, Melan mulai cerewet bertanya-tanya tentang proses kelahiran Galexia. Hingga mereka kembali menghidupkan suasana.


"Masyaallah !! Gue juga nanti pengen banget lahiran normal kalo punya anak !" ujar Leli.


"Kalo si Roy, lahirnya di lepeh sama emaknya !" tawa Niken.


"Sat ! Gue lagi yang kena, kaya yang lahiran loe bagus aja Ken, loe juga kan lahirannya di colek kaya upil !" jawabnya.


Arka maupun Cakra sama-sama diam, hanya sebagai penonton diantara lenong abg dengan sesekali tersenyum simpul dan melirik Shania.


"Berisik oy ! Tuh jodoh masa depan gue jadinya bangun !" tunjuk Roy pada Galexia yang menggeliat.


"Dih pait...pait ! Ga mau gue punya mantu kaya loe," jawab Shania bergidik.


"Ijinkan ananda, calon mamah mertua untuk menandai putri mamah," goda Roy semakin gencar membuat Shania semakin bergidik.


"Uekk !"


"Si@l 7 turunan Sha, loe punya mantu kaya gini !" cibir Ari.


"Mulut loe Ri, kaya minta di campurin ke rujak cingur !" jawab Roy.


"Sha, dedek haus kayanya, dikasih ASI dulu !" pinta Arka, Shania mengangguk.

__ADS_1


"Guys gue ke kamar dulu kayanya Galexia haus, "


"Iya Sha, "


"Gue boleh ikut ngga Sha ?" tanya Roy.


"Wah, setor nyawa nih anak !" jawab Deni.


"Kali aja butuh bantuan megangin Xia gitu ?!" kekeh Roy.


"Abis loe pegang, terus loe bawa kabur gitu ?" tanya Leli dan Inez.


"Emang muka gue ada muka-muka penculik ?!" Roy memajukan wajahnya seraya melebarkan mata selebar dunia.


"Engga, tapi pedo fil !" jawab Niken.


Shania berlalu meninggalkan para kumpulan burung kicau yang sedang kontes.


"Maaf ya berisik mas, tapi kayanya dedek anteng-anteng aja," Shania membaringkan Galexia di ranjang lalu ia berbaring di sampingnya, mengeluarkan sumber kehidupan miliknya yang langsung disambar bayi chubby itu. Sedangkan Arka memperhatikan keduanya di samping Shania dengan tersenyum tipis.


"Ga apa-apa, dedek kayanya udah biasa sama mereka sejak dari kandungan."


"Mas tadi abis ngapain sama Cakra ?" tanya Shania hati-hati.


"Ngobrol," jawabnya singkat.


"Keliatan banget ya dia suka kamu," tawa sumbang Arka.


"Ih, apaan sih mas," Shania mendelik.


"Salut banget sama dia, kalo mas ga tau bisa kaya gitu apa engga,"


"Mas udah deh, ga usah jadi bahas Cakra."


"Oke..oke.."


Tapi sejurus kemudian Arka bertanya.


"Kamu suka Cakra ?"


"Mas apa-apaan sih ?!"


"Mas cuma nanya aja Sha," cubit Arka di pipi Shania.


"Ga lucu !"


"Ya udah mas nemenin dulu mereka, nanti perabotan rumah diacak-acak temen-temen kamu," Arka mengecup kening selembut sutra dan harum susu milik putrinya dan terakhir menyarangkan bibirnya di bibir Shania.


"Sejak kapan mas Kala cemburuan gini ?!" gumamnya.


.


.


.


Noted


* Sulfat : Asam anorganik yang bersifat korosif dan merusak.


*Tekken : Salah satu nama permainan yang sering dimainkan di playstation.


* Amnesia : Ketidakmampuan untuk mengingat peristiwa dalam jangka waktu tertentu, cedera otak.

__ADS_1


__ADS_2