Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Kejutan buat mama Sha-Sha


__ADS_3

Arka menurunkan beberapa box keperluan untuk buka bersama satu bagasi full, sampai-sampai Melan dan Leli mengerutkan dahinya.


"Mas, jadi cuma dikasih lampu sama meja taman panjang aja ?!" Arka mengangguk.


"Loh, ini !" tunjuk Melan.


"Mereka karyawan cafe Mel, Li.."


"Eh iya, udah sempet kenal pak," jawab Melan disenyumi Arga, senyum seribu watt yang ia harapkan dengan senyuman itu para gadis bisa klepek-klepek kaya duyung kalo keabisan air.


"Ga usah senyum gitu Ga, senyuman loe bikin sakit mata !" sarkas Sifa sambil tertawa.


"Sirik si jones ! Namanya juga usaha !" Arga melengos sambil membawa bermeter-meter lampu kelap-kelip kecil bersama Lukman dan Dimas.


"Kalo gue jones, loe apa ? Jodi ?!!"


"Udah, pejuang jomblo ga usah berantem. Kalo cemburu bilang aja Fa ! Arga tuh ga peka," jawab Lukman.


"Ish, apaan Uncle Luk !" gerutu Sifa, membantu membawa stand mic.


"Ini pak Arka mau bukber apa mau hajatan ?" gumam Leli, melihat dari banyaknya makanan disana dan orang-orang dari cafe, belum lagi barang yang mereka bawa.


"Ahh, bo*do amat lah ! Yang penting kenyang !" tawa kecil Melan terkikik.


"Mel, tolong ambil kurma di kursi depan !" pinta Arka berlalu membawa setumpuk kardus yang entah isinya apa seperti akan pindahan saja.


"Iya pak, " Melan dan Leli masih bergelut disana bersama bawaan Arka yang seperti akan mengadakan bukaan bersama anak yatim nan kelaparan.


Klek...


"Eh," mata Melan terbuka lebar melihat sebucket bunga mawar merah yang cantik.


"Li, liat noh ! Buat Shania ?" bisik Melan. Leli ikut melongokan kepala.


"Iyalah, masa buat emaknya Guntur !" jawab Leli.


"Sweet banget tau ngga sih," gemas Melan.


Tapi sejurus kemudian ia berfikir, "tunggu deh !"


"Apa ?"


"Sekarang tanggal berapa ?"


"Ahhh iya.. ! Amsyong ! Kenapa bisa sampe lupa !" decak mereka sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Mel, Li ! Sudah ?" suara Arka membuat mereka terkejut.


"Astagfirullah, pak !"


"Kenapa ?!" tanya Arka mengerutkan dahinya.


"Ga tau karena keasyikan atau emang kita nya yang ga ada ukhluk, hari ini Sha ultah,"


Arka tersenyum tipis," nanti ikut syukuran kecil-kecilan saja."


"Tapi belum siapin kado pak,"


"Minta do'anya aja," jawab Arka.


Setelah selesai membawa semua yang ada di bagasi, Melan dan Leli masuk dan membisikkan sesuatu pada setiap temannya.


"Ye, kalo gue mah tau. Udah siapin juga ! Loe temen-temen kagak ada akhlak banget, sampe lupa hari ini !" jawab Inez.

__ADS_1


"Berisik loe, mau gue selotip nih mulut loe !" sarkas Roy merentangkan selotip bening untuk merekatkan tutup toples.


"Kalian ngomongin apa sih ?" tanya Shania, hampir saja jantung mereka melompat dari tempatnya untuk ikutan bikin kue.


"Itu Sha, mulut si bigos minta dipakein selotip biar berenti ngomong !" alibi Roy.


"Sha, nanti family Route 78 mau ikutan bukber disini," ujar Arka.


"Iya boleh mas, biar tambah rame !" jawab Shania.


Selain memang meminta Shania membuat kue karena permintaan hampers, Arka sengaja untuk membuatnya sibuk seharian hingga ia tak sadar jika halaman belakang sedang dihias oleh anak-anak Route 78.


"Mas, Sha mau mandiin dulu dedek !" Arka mengangguk, lihatlah lelaki ini tampangnya yang tenang dan kalem padahal sedang menyiapkan surprise, memang cocok jika bekerja sebagai pembunuh bayaran seperti kata Shania, jika perasaannya tengah berkecambuk atau gugup pun ia bisa menyembunyikannya dengan rapi.


"Anak momy Sha-sha udah cantik, udah wangi !" Shania mencium Galexia dengan mengusek-usek hidungnya di badan bayi itu hingga Galexia tersenyum berkali-kali dan menggelinjang karena geli.


"Loh ! ini geng kurawa pada kemana ? Ko berubah jadi tua ?" kekeh Shania melihat di ruang dapur dan tengah sudah ada Dimas, Teh Mila, dan Lukman juga Arga dan Sifa, sedangkan demit demitnya menghilang tanpa jejak sejarahnya.


"Mereka lagi keluar dulu sebentar, katanya ngejar tukang cilok !" jawab Dimas ngasal.


"Ah masa, ngejar tukang cilok rame-rame gitu, kaya orang mau tawuran ? Punya salah apa tukang cilok ?" jawaban Shania membuat Lukman dan teh Mila tertawa.


"Kamu mandi dulu deh Sha, sini si cantik biar teteh yang pegang !" pinta teh Mila yang baru datang.


"Ini kalo semua disini, cafe siapa yang jaga ?" tanya Shania.


"Hari ini cafe libur Sha, cuma terima pesenan online sampai tadi jam 3 sore."


Shania berohria, "tumbenan."


Shania menyampirkan handuk di pundaknya yang menggantung di gantungan kamarnya.


"Assalamualaikum !" mereka datang rame-rame kaya hujan di bulan November.


"Waalaikumsalam, "


"Masih suka dong mak, Malin lagi bokek ga mungkin nolak rejeki. Mana udah cape bantu mamak bikin kue !" jawab Guntur.


"Dih, gue kutuk jadi kodok loe !" jawab Shania. Dimas tertawa, "sejak kapan Shania jadi ibunya Malin ?"


"Sejak sekolah di BP, dan punya anak entok kaya gini !" tunjuk Ari pada Guntur.


"Jadi Shania tuh ibunya Malin atau ibunya bebek entok ?" tanya Lukman.


"Ibunya semua makhluk," jawab Niken terkekeh.


"Si@*lan," desis Shania.


"Nah kan, mamak kaulah panutanku mak !" Guntur kiss bye pada Shania, sedangkan Arka sudah tak aneh lagi pada tingkah mereka.


"Sha mau mandi ?" tanya Melan.


"Bukan. Mau du geman, masa iya bawa handuk mau baca koran Mel," tawa Shania.


"Kali aja mau macul !"


"Gue udah ga kuat lah lemes, apa buka aja sekarang ya ?!" ujar Ari merebahkan badannya di ruang tengah.


"Dih kaya anak tk aja !" decih Inez.


"Temen mbak Shania, lucu-lucu !" jawab Arga.


"Lucu yang mana dulu nih Ga ? yang baju merah, abu, putih atau item ?" goda Dimas.

__ADS_1


"Cieeee ! Trio belalang sama emak gosip ada yang ngeceng ! Hati -hati mas, nih anak 4 harus dikalemin, soalnya hampir punah !" jawab Roy.


"Hahahah,"


"Si kimvriitt, dikira gue satwa !"


"Udah rame ya pada nunggu buka," ibu muncul dengan wajah segar.


"Ini tuan rumah udah pada seger, kita yang tamu kaya loyang kue. Bau amis, lengket penuh sama terigu."


"Ga apa-apa neng, yang penting ga kaya adonan kue, kaya orang disamping !" Arga menunjuk Sifa.


"Nih orang cari-cari masalah terus, minta di empanin ke Suman to !" jawab Sifa.


.


.


Arka membuka pintu menuju teras belakang, yang seketika disulap menjadi cantik, lampu kecil berwarna oranye bohlam dan putih menghiasi pohon mangga dan pohon delima yang tak terlalu tinggi. Hanya butuh ditambah sedikit sentuhan saja, halaman belakang memang sudah cantik. Tanaman bambu jepang di sepanjang tembok pembatas rumah, rumput hias terhampar di sepanjang tanah yang berbatasan dengan lantai keramik teras belakang menambah kesan hijau, rapi dan segar, juga beberapa tanaman pot yang ditaruh di teras. Meja piknik panjang berada di tengah, dengan di pojok kanan sebuah kursi bersama stand microphone sudah berdiri. Tak ada balon ataupun kertas krep yang bisa membuat berantakan di akhir acara, sebab kasihan nanti orang rumah membereskannya.


Shania mengekor, ia menganga melihat perubahannya, merasa aneh tapi tak terlalu kentara.


"Ini ko di kasih lampu-lampu gini mas ? Kaya mau dinner aja !"


"Kan emang mau dinner, " jawab Arka.


"Engga, maksudnya kaya apa ya ? romantis gitu mas !" puji Shania melihat keadaan teras belakangnya.


"Ga apa-apa biar bukbernya lebih berkesan," Arka merangkul Shania dari samping dan membawanya ke dekapannya, bukan seperti pasangan yang lain yang akan memeluk dari belakang. Karena beda cara memeluk beda sensasinya menurut Arka. Jika seperti ini akan lebih seperti melindungi dan memberikan rasa nyaman. Beda dengan dari belakang yang terkesan mesra.


"Ini kapan dihiasnya, ko Sha ga tau ?" tanya nya.


"Tadi, waktu kamu masih sibuk nata kue di toples," jawab Arka.


"Loe curang Mpok Leha !"


"Itu 6 tuh, gue keluar !"


"Apaan loe senggol dadunya, "


"Idih, ini apa lagi gue dipijek !"


"Mati loe cik Mel ! Bedak..mana bedak ?!" tawa Deni.


"Ogah ah, loe mah ngincer gue mulu, tuh Guntur sama Niken ga loe pijek dari tadi, dendam loe gue pijek tadi !"


"Gantian, yooo ! Ka Arga sama ka Dimas mau ikutan ?" tanya Melan.


"Boleh, boleh !"


"Siapa tau bisa nginjek hatinya, buat jadi mama baru Ori," kekeh Dimas, langsung dihadiahi toyoran kepala dari Lukman.


Mengisi waktu yang sudah tinggal beberapa puluh menit lagi mereka habiskan untuk bermain lu do, tapi bukan mereka kalau tidak heboh dan ribut.


"Den, pssttt !" bisik Ari.


"Apaan ?!"


" Telor siapin telor ! terigu sama air,"


"Guys, ntar pada suruh bukaan dulu kalo udah pada maghriban baru deh giring Mak Malin di tengah-tengah buat kita siram !"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2