Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Kesambet jin apa ?


__ADS_3

Arka sampai di parkiran kampus hijau, terlihat dari kejauhan Shania dengan rambut tergerainya tampak manis memakai topi berwarna putih tersenyum dan melambaikan tangan.


Apakah ia akan rela meninggalkan istrinya selama 4 bulan ? Jawabannya tentu tidak.


Pria matang ini selalu cemburu, bahkan akhir-akhir ini cemburunya berkali-kali lipat, ia suka mencuri-curi kesempatan saat Shania tidur, untuk sekedar memeriksa ponsel Shania dan semua akun sosmed milik istri nakalnya itu. Shania-nya memang makin cantik setiap harinya dan tentu saja pria-pria di luar sana dengan senang hati akan menemaninya. Tanpa aba-aba Arka mencium kepala yang terhalangi topi ini, membuat Shania mendongak kebingungan.


"Mas kenapa ? Tumben ngajakin bolos ?" tanya Shania.


"Cuma lagi kangen sama momy-nya Gale," jawabnya.


"Dih, mas aneh !"


"Kita jemput dedek ?" Shania mengangguk.


***


"Galeee !!!" panggil Shania. Galexia berlari dari dalam rumah.


"Momyyyy !" bocah gemoy berkucir itu langsung melompat membuat Shania tertawa seraya menangkap dengan kepayahan, Arka tersenyum melihat kedua gadis kesayangannya.


Bocah 3 tahun ini berjingkrak-jingkrak kegirangan saat tau jika ia akan jalan-jalan bersama kedua orangtuanya.


"Ayahhh !" kini bergantian bocah gemoy nan cantik itu memeluk dan minta di gendong Arka.


"Ayah, tadi dedek colet-colet bikin benang kucuttt cama nene !" ocehnya gemas masih cadel, mengadu pada Arka.


(Ayah, tadi dedek coret-coret, bikin benang kusut sama nene)


"Anak ayah udah siap ? Beli es krim sama Momy ?!" tanya Arka, Gale mengangguk cepat.


"Ciapppp !"


"Siapppp !"


Jawab kedua gadisnya yang berbeda generasi.


Arka diam seketika, tiba-tiba ia merasakan mual.


"Kenapa mas ?" tanya Shania menyentuh lengan Arka.


"Ayah kenapa ?" tanya si mata bulat nan bening, Galexia.


Arka menggeleng, "dedek turun dulu sebentar ya," pintanya. Bocah itu mengangguk, tanpa di duga Arka membungkukkan badannya ke arah tempat sampah dan muntah.


"Hueekkkk !"


Shania dan Gale tergelonjak kaget.


"Ya allah masss !! Mas ga apa-apa ? Mas sakit ?" Shania membantu memijit tengkuk Arka.


"Ayah, ayah kenapa ? Aduh, apa gala-gala gendong dedek ?! Aduh gimana ini momy, ayah halus ke doktel, halus dicuntik, nanti kalo pingcan kaya momy waktu itu pas gendong dedek gimana ? Beli es klim nya ngga jadi !" heboh Galexia si bocah cerewet.


(Ayah, ayah kenapa ? Aduh, apa gara-gara gendong dedek ?! Aduh gimana ini momy, ayah harus ke dokter, harus disuntik, nanti kalo pingsan kaya momy waktu itu pas gendong dedek gimana ? Beli es krimnya ngga jadi !)

__ADS_1


Arka yang baru saja muntah bahkan sampai mengulum bibirnya tersenyum melihat putrinya yang jika bicara selalu heboh dan tanpa rem bak kereta seperti Shania. Sedangkan Shania, ia melongo mendengar putrinya nyeroscos. Inilah sifat Galexia, mirip dirinya.


"Sha ambilin minum dulu ya mas," Shania segera masuk ke dalam.


"Loh, nduk..belum pergi ?" tanya ibu.


"Belum bu, mas Kala malah muntah," jawab Shania dengan sigap mengambil air putih hangat.


"Muntah ?! Oalah, sakit ?" ibu ikut berjalan ke depan.


"Kenapa to le ?" tanya ibu.


"Ga apa-apa bu, tiba-tiba mual aja nyium bau tadi tukang baso lewat," jawab Arka, memang tadi sebuah gerobak bakso melintas tepat di depan rumah.


Shania mengerutkan dahinya aneh, "gimana ? Ga usah jadi aja perginya mas ? Nanti mas pusing lagi," kini Gale yang menoleh dengan wajah memelasnya.


"Jadinya ga jadi nih dede beli es klim sama ayah sama momy ?"


(Jadinya ga jadi nih dedek beli es krim sama ayah sama momy ?)


"Jadi sayang, yuuu ! Ayah udah ga apa-apa, ayah lagi mau makan es krim rasa coklat, campur strawberry, campur vanilla pake topping koko cru*nch sama coklat !" cerocos Arka yang langsung berdiri dan menggandeng putrinya, sontak saja Gale berseru kegirangan.


"Ayo ayah !"


"Yuu, masuk ke mobil !!" seru Arka, sementara Shania dan ibu kebingungan. Shania mendongak, padahal matahari tengah bersinar dengan cerahnya tidak hujan tidak angin, tak ada guncangan gempa bumi juga. Tapi Arka-nya mendadak berubah 180 derajat.


"Sejak kapan mas Kala suka es krim bu, ga kira-kira juga mintanya kaya yang mau abis aja ?!" Shania saling menatap dengan ibu.


"Ndak tau nak, seperti sedang ngidam saja," celetuk ibu membuat Shania berfikir, mungkinkah ?


"Ndak usah nduk, yo wes hati-hati di jalan." Shania mengangguk dan salim takzim.


"Momyyy !!! Buluannnn, nanti es klimnya kebulu abis, dibeli olang !" pekik Gale menyembulkan kepalanya dari kaca jendela mobil.


(Momyy !!! Buruannn, nanti es krimnya keburu abis, dibeli orang !)


"Iya !" jawab Shania berlari.


Difikir gerai es krim cuma satu apa di Jekardahhh, lagian es krim di bumi ga cuma se-sendok, gerutu Shania.


Setelah sebelumnya Shania dan Arka melakukan survei dan pendaftaran sekolah playgroup untuk Galexia, mereka langsung meluncur ke salah satu mall di Jekardah.


"Ini yang bocah siapa sih ?" Shania menggaruk kepalanya tak gatal, melihat Arka dan Gale berseru kegirangan saat dari kejauhan gerai es krim terlihat.


"Ayo ayah, laliiii bial ga ngantli, bisa duluan !" seru Galexia di ladeni Arka.


(Ayo ayah, lari biar ga ngantri, bisa duluan !)


"Astaga ga usah lari ! Tuh gerai ga akan kemana-mana juga," decak Shania menyusul.


"Ah momy lelet lalinya, kaya nene-nene !" tawa Gale membuat Shania melotot disebut nene-nene, Arka ikut tertawa.


(Ah momy lelet larinya, kaya nene-nene !)

__ADS_1


"Nene cantik," kecup Arka dari samping saat mereka sudah duduk.


Ini kenapa suaminya jadi aneh begini ? Apakah benar ini Arkala Mahesa ?


"Mas tumben ikutan heboh beli es krim ? Biasanya juga ga terlalu suka," tanya Shania.


"Mas lagi pengen Sha, kayanya enak kalo liat Gale makan es krim. Nanti setelah pulang, mas pengen dimasakin belut goreng ya Sha, tapi buatan kamu."


Shania membelalakkan matanya, ia hampir tersedak salivanya sendiri, "belut ?!!"


Yang benar saja, hari gini nyari belut dimana ?


"Nyari belut dimana mas ?" tanya Shania.


"Pokonya mas pengen makan belut sawah goreng Sha, yang masih fresh, nanti kamu yang bersihin sama olahnya !"


"Kenapa ga sekalian aja ceburin Sha ke cairan asam sulfat mas."


Gale tertawa melihat wajah cemberut dan frustasi Shania.


"Momy mukanya jelek, kaya dedek kalo lagi ga mau diculuh mandi," kikik Galexia.


(Momy, mukanya jelek, kaya dedek kalo lagi ga mau disuruh mandi,)


"Yang ikhlas Sha, tuh denger kan kata dedek. Muka momy jelek, asem kaya mangga muda," tambah Arka. Tadi disebut nene-nene sekarang disebut asem pula seperti mangga yang masih muda.


"Sabar Sha, sabar...untung sayang !" benak Shania sambil mengelus dada.


"Sha," Shania mendongak.


"Mas bakalan ke Bandung 4 bulan buat melakukan kajian kuliah dan rampungin tesis," Shania diam sejenak, memang inilah yang sempat ia pikirkan kemarin, bahwa kemungkinan mereka akan berjauhan. Tapi tak tau kekuatan super darimana, ia kini bersikap bijak dan kuat.


Shania tersenyum simpul, "iya mas, kapan ?"


Kini malah berbalik, justru Arka yang diluar kebiasaan. "Ko, kamu kaya yang seneng gitu bisa jauhan dari mas ?"


Shania sampai mengerjapkan matanya, apakah akan ada drama-drama suami terdzolimi disini ?


"Maksudnya ?" tanya Shania.


"Kamu seneng kan bisa jauhan dari mas. Kamu ga mikir kalo nanti disana mas kangen Gale, kangen kamu gimana ?" Shania sampai menganga dibuatnya.


"Mas kesambet jin apa sih ?" gumam Shania.


"Bukan gitu mas, ya udah ga apa-apa. Insyaallah Sha disini sama Gale nunggu mas, mas jangan khawatir, toh mas cuma 4 bulan kan di Bandung. Kalo weekend mas bisa ke Jakarta atau Sha sama Gale ke Bandung," jelas Shania.


"Cuma, kamu bilang ?!!" sengak Arka.


"Allahu, gue dosa apa sih kali ini. Dari tadi salah mulu !" benak Shania, sudah jelas ia tak berani mengatakannya secara gamblang karena dapat dipastikan bahwa ia akan salah lagi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2