Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Penghakiman


__ADS_3

Arka membawakan Shania teh kemasan dan beberapa cemilan.


"Mas 'ga ke kampus ?" tanya Shania.


Ia menggeleng, "hari ini nemenin kamu dulu, dosennya ga masuk, sakit..asdos-nya udah mas calling."


"Ini bakalan lama ya ?" tanya Shania, dan Arka mengangguk.


"Ada sekitar 5 tenaga medis, dibantu sama guru guru. Paling sampe jam pulang sekolah, itupun baru kelas XII dan sebagian kelas XI."


Shania beroh singkat.


"Yakin mau masuk almamater kuning, Sha ?" tanya pak Wildan.


"Insyaallah pak, kalo otaknya bisa nyempil diantara orang orang pinter. Berharap Albert Einstein bantuin sih !" jawabnya.


"Harus optimis, bakal satu kampus beda gedung sama Arka dong ?" Shania mengangguk.


"Maunya sih beda, biar bisa cuci mata !" seloroh Shania, diikuti tawa pak Wildan.


"Yakin berani, Arka kan killer ?!" Wildan duduk di samping Arka di kursi tunggal.


"Engga berani," gelengnya sambil terkekeh.


"Kadang saya menyayangkan bakat kamu Sha, tapi mau bagaimana lagi, mungkin sudah jodohnya Arka, iya kan Ka !" Arka mengangguk saja mendengar pengakuan seniornya ini.


"Kalo gitu saya tinggal melihat dulu proses pemeriksaan," ujarnya ingin beranjak.


"Ka, sebaiknya kamu ikut muncul dulu, takutnya nanti yang lain akan curiga !" pinta pak Wildan diangguki Arka.


"Iya pak, "


"Kamu berani sendiri dulu disini ?" tanya Arka, Shania mengangguk. Tak mungkin kan sifat manjanya keluar di depan pak Wildan, pasti sudah habis ditertawakan.


"Berani, " jawabnya.


"Mas keluar dulu, " Arka mengusap bahu Shania dan keluar dari ruang kepala sekolah bersama pak Wildan.


Shania menghembuskan nafasnya lelah, sampai kapan ia harus bermain kucing kucingan begini. Gadis ini tersenyum simpul, ia memang harus banyak bersyukur dikelilingi oleh orang orang yang menyayanginya. Ia jadi teringat Maya, gadis itu bisa senekat itu dan tak ada yang tau, menunjukkan jika gadis itu memang sendirian.


"Kapan terakhir kali gue bersyukur ?" gumamnya. Sepertinya akhir akhir ini Tuhan sedang menunjukkan betapa ia berkuasa atas hidup, dengan menunjukkan pada Shania semua sebab akibat setiap keputusannya.


Bayangannya menangkap gambaran flashback dulu, sering kabur pada jam pelajaran, tak pernah menghargai waktunya yang berharga sebagai seorang pelajar, dan sekarang tiba tiba Allah memungkas waktunya di sekolah, hanya tinggal beberapa bulan sampai perutnya membuncit dan waktunya pun ikut berakhir di sekolah ini, betapa ia menyesal sudah menyia nyiakan waktu.


Dulu ia selalu malas malasan untuk belajar, dan terbukti sekarang..betapa ia susah memahami setiap konsep materi apalagi waktunya untuk UTBK sudah sangat kritis, seakan ingin kembali lagi belajar dalam waktu yang lama agar ia siap untuk menghadapi SNMPTN.


Dulu ia sering membantah dan nakal, untung saja Tuhan tak menghukumnya begitu berat dengan mempertemukannya dengan Arka meskipun ujung ujungnya ia menikah muda dan hamil juga. Tapi setidaknya Arka lelaki baik dan bertanggung jawab, jika saja ia masih ikut bergaul di luar dengan Deni di luaran sana seperti dulu, mungkin ia sudah... Shania menggelengkan kepalanya kuat kuat.


Deni memang baik, tapi tetap saja ia tak bisa menutup kemungkinan yang namanya s3tan selalu nyempil. Jika kemarin ia nekat untuk menggugurkan mungkin ia akan berakhir seperti Maya sekarang. Betapa Shania sadar dan bersyukur sekarang.


Lalu, apa masih ada pembalasan untuk beberapa kenakalannya dulu ?


Cemilan dan minuman sudah habis di lahap calon little momy ini. Tapi pintu tak menunjukkan tanda tanda akan dibuka.


"Ini udah belum sih, pan tat gue pegel !" Shania berdiri dari duduknya, mematikan lagu yang ia putar dari ponselnya dan ia dengar dengan earphone.


Disaat ia meregangkan otot ototnya, ponselnya bergetar.


"Eh, tante Ria !"


Shania mengangkatnya, " iya tante," terdengar dari sana tante Ria menangis tersedu sedu.


"Sha, maafkan segala kesalahan Maya ya, tolong do'a kan semoga Maya di lapangkan alam kuburnya, Maya telah berpulang barusan jam 09.20 WIB,"


"Apa ??!!" Shania terjengkat, air matanya meleleh.


"Innalillahi...Shania turut berduka tante, nanti Shania kesana ya tante !"


Arka dan pak Wildan masuk ke dalam ruangan.


"Tante masih di RS kan ? apa udah di rumah ?"


(..)


"Waalaikumsalam, " Shania berkali kali mengusap lelehan air matanya.

__ADS_1


"Kenapa Sha ?"


"Pak, Maya sudah berpulang," Shania menangis di pelukan Arka.


"Innalillahi wa inna ilaihi ra'jiun," keduanya mengusap wajah.


"Dimana Sha ?"


"Di RS, tadi jam 09.20 WIB, katanya kondisi Maya sempet drop semalam dan tak ada respon lagi, terus barusan waktu abis di cek lagi, udah ga ada !" Arka mengusap air mata dan ingus Shania.


"Untuk sekarang ga usah kita umumkan dulu, takut geger satu sekolah apalagi sedang hectic begini !" jawab pak Wildan.


"Nanti saya koordinasikan dulu sama guru guru, kamu kasih tau teman teman saja yang mau takziah silahkan,"


Shania keluar dari ruang kepsek dengan celingukan, matanya yang sembab tak bisa ia sembunyikan. Bukan hanya karena meninggalnya Maya, tapi lebih pada ia bersyukur nasibnya jauh lebih baik, selangkah menjauhi kematian.


"Sha, loe darimana ? udah diperiksa belum ? Loe abis mewek Sha ?" tanya Inez.


"Udah," jawab Shania.


"Gilaaa, gue pikir mau diapain ! Ternyata di tes bruh ! untung aja gue bersih, "


"Yang cewek juga ada beberapa bekas cu pang an oyy, noh si Resti kelas XII IPS 1 !"


"Deni ketauan abis minum semalem,"


Shania tidak fokus dengan obrolan, keluhan dan curhat an teman temannya.


"Guys ! minta perhatiannya sebentar," pinta Shania di depan kelas.


"Kenapa Sha ?"


"Gue mewakili keluarga Maya, mau minta kerendahan hati kalian buat memaafkan semua kesalahan Maya yang disengaja ataupun engga, minta kalian menundukkan kepala sejenak buat do'ain Maya, tadi ibunya telfon kalo Maya sudah berpulang jam 9 lewat 20, "


"Innalillahi wa innailaihi raji'un !!"


"Beneran Sha ?" tanya yang lain, Shania mengangguk.


"Oyy guys ! Kumpulin duit yuu, buat takziah !" ajak Andi ketkel.


"Kapan ke rumahnya ?"


"Buat yang mau takziah, kata tante Ria langsung aja ke rumahnya ntar balik sekolah, " jawab Shania.


"Ga nyangka gue, " gumam Inez.


"Minta maaf sono loe ! sering ghibahin dia," desis Shania.


"Heem lah, ngerasa dosa tau ngga ?!" sesalnya.


"Makanya stop ghibahin orang, besok besok, bisa aja kan kita yang di ghibahin," jawab Shania.


"Bijak banget loe tumben, "


Akhirnya uang sudah terkumpul, beberapa teman lain dari beda kelas ikut bergabung termasuk Rubi sahabatnya yang sudah sesenggukan.


Sesosok jenazah dengan tinggi rata rata usia remaja sudah terbujur kaku di tengah rumahnya, foto wisuda yang terpampang di dinding rumahnya menunjukkan pertumbuhan Maya, dari mulai Maya kecil yang lulus tk memakai riasan dan kebaya bertopikan toga, lalu lulus SD dan terakhir fotonya bersama ibu dan adiknya, sepertinya foto yang diambil baru baru ini, saat wajahnya sudah mengenal skin care.


Mobil merah terparkir di halaman rumah, mobil yang Shania lihat di indomarco sebulan lalu. Terlihat masih kinclong. Nyawa hanya ditukar apartment dan mobil..sungguh miris !


Di samping sosok yang sudah kehilangan pasokan darahnya itu duduk seorang ibu yang menangis pilu kehilangannya. Itulah gambaran nyata dan jelas yang terekam mata dan telinga Shania.


"Bunda, " lirih hatinya.


"Rubi, Shania !" sapa tante Ria.


"Tante, " Rubi langsung memeluk tante Ria.


Sedangkan Shania dan teman yang lain duduk di sekitaran rumah. Bukan hanya menghadapi kejadian pahit ini saja, tapi penghakiman yang harus siap mereka dapatkan dari masyarakat luas. Hukum sosial jelas lebih rimba dari hukum negara. Lebih menghantam dibandingkan hanya kurungan penjara.


Pel ac*ur...


Pel akor...


Gadis tak memiliki harga diri..

__ADS_1


Kumpul ke bo...berkumpul dengan yang bukan muhrimnya.


Keluarga tak memiliki mor al..


Anak jaman sekarang sudah tak memikirkan aurat apalagi harga diri..


Korban jaman, dan masih banyak lagi nama baru, bukan gelar sarjana. Namun, menyakitkan yang tersemat di belakang nama Maya sekeluarga sekarang termasuk bayi yang dikandungnya yang tak tau apa-apa ikut terseret, entah untuk berapa lama itu akan berlangsung.


Shania jadi mengingat dulu, saat ayah yang menurutnya tega memutuskan sepihak untuk memaksa menikahkannya dengan Arka, rupanya ini alasannya.


"Dimana ?"


Ponsel Shania bergetar, Arka memberinya pesan.


"Masih di rumah Maya mas, "


"Mas kesana sama guru guru yang lain,"


"Iya,"


Tak lama menunggu akhirnya Arka dan guru guru yang lain datang. Semakin keras saja ibu Maya menangis.


Shania sedikit meringis merasakan perutnya kembali ngilu.


"Sha, loe kenapa ?" tanya Inez.


"Perut gue sakit Nez, "


"Udah ha id?" tanya nya, mereka duduk di deretan kursi tamu di teras rumah Maya.


"Ga tau," Inez mengerutkan dahinya.


"Ko ga tau, "


"Pulang aja Sha kalo gitu, " jawab Fitri.


"Loe sakit Sha ?" tanya Yuni.


Shania mengetik pesan pada Arka di dalam.


"Mas, perut Sha sakit, kayanya dedek lagi kram di dalem,"


"Kita pulang sekarang, "


Arka pamit pada ibu Maya dan guru yang lain. Ia keluar dan melihat Shania tengah kepayahan menahan sakit.


"Ini kenapa ?" tanya nya.


"Shania sakit kayanya pak, "


"Ya sudah sebaiknya pulang saja, saya sudah mau pulang. Mau sekalian bareng saja ? " tawarnya.


"Kebetulan Sha, bareng aja sama pak Arka, " jawab Fitri.


Shania mengangguk, dan Inez membantu bersama Roy.


"Gue duluan ya guys !"


"Ati ati Sha !"


Mereka melambaikan tangannya hingga Shania menutup kaca mobil.


"Sakit banget Sha ?" Arka melirik Shania ikut memegang perut Shania.


"Tadi sakit banget mas, kenapa ya ?!" tanya nya khawatir.


"Ke rumah sakit sekarang ya, takut dedek kenapa napa, sekalian kontrol, jadwal kontrol kan sekarang ?" Shania mengangguk.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2