
"Perlengkapan buat dedek masih ada yang kurang ?" tanya Arka.
"Engga kayanya, udah semua."
"Kata bunda sih kalo ada yang kurang nanti bisa nyusul, ga usah banyak-banyak soalnya ga akan kepake lama," lanjutnya.
"Mas udah booking RS kan ?" tanya Shania.
"Udah, sesuai tanggal hpl."
Shania melirik jam di tangannya, waktunya menyiapkan makan malam. Ia beranjak dari sofa menuju dapur.
"Bi, udah berapa hari, Sha ga belanja di mang Usep ?" tanya Shania sedikit berteriak, melirik bahan makanan segar di kulkas yang hampir kosong.
"Udah ampir seminggu kayanya neng," jawab bi Atun.
"Pantes, "
"Kenapa Sha ?" tanya Arka menoleh.
"Bahan seger abis mas," jawab Shania mengambil wortel dan buncis terakhir untuk ia masak bersama bahan lainnya.
"Ya sudah besok mas antar ke pasar,"
"Iya,"
****
Shania sudah bersiap dengan tas selempangnya. Kehamilan yang sudah memasuki bulannya memang membuat setiap geraknya terasa berat dan tak enak, tapi tak menyurutkan niatannya untuk berkegiatan. Ingat ?!! ini Shania yang selalu pecicilan dan tak bisa diam.
"Ibu dari Surabaya jam berapa mas ?"
"Tadi jam 7 pagi, paling nanti sore nyampe. Nanti sekalian pulang dari cafe, jemput dulu ibu di stasiun."
"Iya, ya udah ayuk buruan lah ! Mumpung masih jam segini. Kalo weekend pasar suka mendadak penuh pagi-pagi," ajak Shania.
Sepanjang jalan Shania terus bergerak, tak enak duduk.
"Kenapa Sha ?"
"Perut Sha dari tadi subuh ga enak mas, apa karena kemaren makan baso bareng Inez ya ?"
"Pedes ? Kan mas udah bilang jangan makan pedes-pedes," alis Arka menukik, kondisi dimana ia tak suka dengan sesuatu atau marah.
Oke, salahkan Shania yang selalu keras kepala dan ceroboh, ia salah menuangkan antara sambal dan saus karena keasyikan mengobrol dengan Inez, tapi seingatnya sambal yang ia tuang tak begitu banyak.
"Mau ke kamar mandi ?" tanya Arka, Shania mengangguk.
"Ya udah sebentar, mas cari pom bensin dulu,"
Shania keluar dari mobil dan langsung menuju kamar mandi umum di pom. Tak lama berselang ia keluar.
"Udah ?"
__ADS_1
"Udah, yu !"
Rasa lega itu tak berlangsung lama, di pasar keadaan yang sama terjadi lagi, sampai Shania 2 kali bolak balik ke kamar mandi umum.
"Masih mau keras kepala ?" tanya Arka, Shania hanya nyengir.
"Engga mas, " kikuknya.
Arka beberapa kali mengusapkan tissue di kening dan sekitaran garis wajah Shania yang dialiri sungai keringat dengan Shania yang asik memilih-milih bahan segar.
"Udah ? Kamu sampe banjir keringet gini, gerah ?" tanya Arka.
"Campuran mas, gerah, nahan sakit perut, kaya melilit gitu," Shania masih mampu berjalan meskipun sedari tadi perutnya tak bisa diajak kompromi.
"Mau ke dokter aja kalo gitu ?"
"Ga usah lah, palingan ntar juga baikan sendiri kalo udah minum teh panas, yu pulang !" jawab Shania mempercepat langkahnya agar cepat sampai ke parkiran.
Kini panas menjalari pinggang Shania hingga sesekali gadis ini mengurut pinggangnya.
"Mau beli cemilan ? Biasanya kamu suka minta dibeliin itu !" tunjuk Arka pada salah satu pedagang kue ape di dekat pasar.
"Mau mas, "
"Bentar, mas aja yang beli. Kamu tunggu disini," jawab Arka keluar dari mobil dan membeli kue yang biasa Shania request jika sedang melintasi pasar.
Sesampainya di rumah, Shania langsung membawa kresek putih berisi kue berwarna hijau dengan siraman kental manis coklat dan meses di atasnya ini ke meja makan. Sedangkan Arka sibuk membawa barang belanjaan ke dalam yang langsung disambut bi Atun dengan menatanya di kulkas setelah dicuci terlebih dahulu.
Shania menaruh kue serabinya orang Jakarta ini ke piring kecil dan duduk lalu memakannya.
"Oh iya neng, " jawab bi Atun.
"Enak mas, mau ngga ?" Shania jelas bukan menawarkan tapi tangannya sudah terulur di depan mulut Arka dan memasukkan comotan kue ape ke dalam mulut Arka.
"Kamu yakin ga apa-apa ? Apa mas ga usah ke cafe sama angkringan aja ?" tanya Arka khawatir demi melihat bulir keringat masih keluar dari pori-pori kulit selembut sutra itu.
Shania menggeleng, "ga apa-apa, mas pergi aja !"
"Nanti kalo ada apa-apa telfon aja, mas cuma sebentar aja, abis beres kerjaan langsung pulang,"
"Terus ibu ? Sha ga apa-apa mas," jawab Shania.
"Iya, nanti insyaallah kalo ga sama mas masih ada Dimas, ya udah mas pergi dulu. Hati-hati di rumah !"
Kali ini Arka sedikit ragu untuk meninggalkan Shania, mengingat kondisi Shania yang terlihat kurang sehat.
"Iya bawel, ya udah pergi sana !" jawab Shania terkekeh.
"Beneran ?" Arka meyakinkan sekali lagi.
"Bener ih !! Mas nanya sekali, Sha lempar sendal ya mas," Shania bahkan sudah mendorong-dorong badan Arka.
Arka menghilang di perempatan, sebenarnya gadis ini juga tak yakin dirinya sedang baik-baik saja. Karena rasa sakit itu hilang timbul, dan rasa panas di pinggangnya tak kunjung membaik. Shania memutuskan untuk rebahan saja di ranjang sampai tak terasa ia tertidur, namun tak lama karena rasa sakit itu berhasil membangunkan lelapnya Shania.
__ADS_1
"Masih sakit perutnya neng ?" bi Atun melihat kegelisahan majikan kecilnya itu.
"Masih bi, pinggang Sha juga panas, pegel gitu. Perasaan Sha tuangin sambel ga sampe satu drum, tapi ko bisa begini amat sakitnya," keluhnya bingung. Bi Atun mengusap perut Shania, ia adalah wanita yang sudah melahirkan 3 kali, setidaknya ia tau jika keadaan Shania bukanlah sakit perut pada umumnya karena sambal atau penyakit lambung.
Melihat perut Shania yang sudah turun, membuatnya berasumsi jika majikan kecilnya ini sebentar lagi akan melahirkan.
Ia ingat betul ketakutan Shania, bahkan sampai tempo hari bertengkar dengan Arka gara-gara ketakutannya akan proses melahirkan, maka ia mengurungkan niatannya untuk memberitahukan pendapatnya pada Shania.
"Ya udah neng, jalan-jalan aja ke luar cari udara seger. Atau ngga istirahat aja," jawab bi Atun memberikan saran.
"Sha udah coba tidur bi, tapi tadi kebangun gara-gara sakit. Sakitnya ilang timbul bi," Shania lebih memilih ke teras belakang, tempat favoritnya menghabiskan waktu.
Sepeninggal Shania ke teras belakang, bi Atun segera mendial nomor Arka dari ponsel miliknya.
"Assalamualaikum mas, " bi Atun sedikit menjauh dari jangkauan pendengaran Shania.
" Waalaikumsalam bi, "
"Maaf mas mengganggu, menurut bibi sepertinya neng Sha mau melahirkan,"
Arka sedikit terkejut dengan kabar dari bi Atun, tapi ia berusaha tenang, otaknya berfikir apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu sekarang.
"Shania yang bilang atau justru Shania ga tau bi ?"
"Neng Sha kayanya ga sadar mau melahirkan mas,"
"Ya udah bi, jangan dulu dikasih tau. Takutnya Sha panik, saya pulang sekarang." Sebab Arka tau bi Atun tak akan bisa menenangkan Shania, salah ia bicara, maka Shania malah akan membuatnya kewalahan, harus orang yang tepat untuk menghadapi istri nakalnya itu.
Arka mematikan panggilan dari bi Atun, dan segera mendial nomor bunda, menceritakan keadaan Shania, bunda pun ternyata satu pemikiran dengannya untuk tak segera memberitahu Shania tentang keadaannya.
Arka juga melakukan panggilan ke RS tempat ia sudah membooking tempat untuk lahiran Shania.
"Maaf bu, begini...seminggu yang lalu saya sudah booking untuk lahiran operasi caesar atas nama Shania Cleoza Maheswari untuk tanggal XX, kalo misalnya dimajukan untuk hari ini apakah bisa ?" tanya Arka.
"Sebentar, Paket caesar VVIP atas Nama Shania Cleoza - Arkala Mahesa, dengan dokter obgyn dr.Rani Mulyani, Sp.OG ?" tanya seorang dari sambungan telfon.
"Iya,"
"Untuk hari ini maaf sekali pak, full booking dari mulai paket a,b,c, VIP, dan VVIP. Lagipula dr.Rani sedang ambil cuti sampai hari selasa, apa mau pindah hari atau mungkin kami beri rujukan ke RS lain ?"
"Oh, kalo begitu terimakasih, biar saya konsultasikan dulu dengan dokter Rani."
Arka memijit pelipisnya seraya membereskan barang diatas mejanya dan menghubungi dokter Rani.
"Assalamualaikum dok, "
"Waaikumsalam. Eh pak Arka, iya ada apa pak ?!"
"Jadi gini dok..." Arka mengunci ruangannya dengan ponsel masih ia tempelkan di telinga dan tas laptop yang ia tenteng.
.
.
__ADS_1
.
.