
5 batang coklat berbungkus kertas bergambar penuh coklat almond berjejer di atas meja, laki laki jantan itu dipegang ucapannya. Shania mengangguk angguk, Arka benar benar membuktikan ucapannya yang mengganti sebatang coklat dari Cakra dengan 5 batang coklat darinya.
"Mas Kala pulang cuma mau anterin ini doang ?!" tanya Shania saat melihat Arka keluar lagi, tapi dengan stelan berbeda. Stelan i kece seperti anak muda, padahal usianya sudah 33 tahun. kaos putih polos dibalut kemeja kotak kotak merah, tapi sepertinya bukan bekas ikutan jadi salah satu pendukung presiden dulu, karena jelas jelas itu bermerk salah satu distro ternama 3se*cond. Cakra aja yang anak muda lewattt...
Iya mengangguk, bukan kunci mobil yang diraihnya, tapi kunci motor trailnya. Aduhhh, ada rasa ga ridho sebenernya. Sepaket dengan helm fullface nya, ia mengeluarkan motor yang pernah mengantarkan Shania menuju tempat pertandingan basket sebelumnya.
Ini mah om om sugar versi nyata...ga kan dituker sama kupon tog3l segepok sekaligus yang isinya 2 sama 4 angka.
"Hati hati di rumah, jangan dulu aktivitas berat ! assalamualaikum, "
"Waalaikumsalam, " cicit Shania mengerjap beberapa kali seraya menutup pintu gerbang dan pintu rumah. Setelah ini ia harus mengubek ubek isi kamar mandi atau lemari dan meja rias Arka demi mendapatkan resep tua tanpa kerutan. Biar nanti pas nginjek umur 35 masih keliatan kaya gadis 20 tahun. Siapa tau kan ngalahin Song hye kyo.
Beberapa kali hatinya mencelos saat merebahkan tubuhnya di ranjang empuk, tak mengindahkan ucapan bi Atun yang mengingatkan.
"Neng, kata mas Arka jangan tidur siang, "
Betapa pentingnya jangan tidur siang bagiku, sampai harus setiap hari diingatkan. Terkecuali kalo hari sabtu.
Menatap kelima batang coklat dengan harga sekitar 20 ribu satunya, kali lima itu artinya 100 ribu.
Hatinya berulang kali mencelos mengingat perhatian Arka, tak ada yang terlewat hingga hal hal terkecil sekalipun. Ia menyimpan coklat di ranjang sebelahnya. Meminta diganti pake nyolot pula setelah itu cuma diliatin tapi tidak ia makan. Bukan kah childist ? biar apa cobak? mau dipasangin frame ?
Shania masih dengan seragamnya mengacungkan tangannya ke atas hingga kilauan emas putih di jari manis menjadi fokusnya saat ini.
"Saya terima nikah dan kawinnya Shania Cleoza Maheswari....."
"Pernikahan bukan untuk main main..."
Ia menghela nafasnya berat, tertawa sumbang mengingat semua sikap buruknya akhir akhir ini pada Arka yang merupakan refleksi dari pertahanan dirinya, agar tak kembali merasakan tak diinginkan dan mengacaukan.
Hingga suara gelegar petir menyambar langit kota ini, membuyarkan semua pikirannya.
Sepertinya hari ini akan turun hujan. Langit sebelah selatan saja sudah berpayungkan awan cumolonimbus.
"Bi, kayanya mau ujan gede barengan petir deh bi, persiapan lilin ada ngga bi ?" tanya Shania sedikit panik, ia tak suka dengan kegelapan, ia benci dengan keadaan gelap gulita, ia akan merasa sesak jika sama sekali tak ada cahaya, ia sangat tidak nyaman dengan kesunyian.
"Ada neng, di laci dapur..sebentar coba bi Atun liat dulu !" jawabnya membuka laci dapur.
"Ada neng !"
"Sini deh bi, Shania minta satu buat dikamar biar bisa langsung dinyalain kalo seandainya mati lampu tiba tiba," pinta Shania.
Shania mematikan ponselnya. Disaat petir begini, ia lebih memilih cari aman saja dengan memutus semua yang berbau gelombang elektromagnetik.
Sudah ke berapa kalinya siang ini hatinya mencelos, melihat tulisan tangan Arka di buku catatannya. Di tengah kesibukannya ia tetap memprioritaskan Shania. Usaha Arka demi ia yang selalu membicarakan perceraian. Jelas jelas lelaki itu sedang berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankannya. Tapi apakah ia bahagia ? atau justru terpaksa ?
Shania mengambil satu batang coklat dan memakannya.
Gludukkkk !!!
"Astagfirullah, bunda !!!" pekik Shania.
"Neng, kenapa ?!" tanya bi Atun dari balik pintu kamar. Shania yang menutup kedua telinganya kini melompat dari ranjang menuju luar kamar, agar bisa bersama bi Atun.
"Kenapa neng ?"
__ADS_1
"Engga bi, Sha kaget doang !" jawabnya nyengir.
Dan benar saja, hujan datang membawa teman temannya disertai angin kencang dan petir yang menggelegar, memekakkan telinga. Hujan membasahi bumi, bukan lagi basah. Beberapa belahan dunia terjadi banjir. Drainase kota yang buruk dipenuhi sampah membuat laju air tak lancar hingga menyebabkan kebanjiran di beberapa titik kota.
"Neng, neng ga apa apa ?" tanya bi Atun.
"Engga bi, " Shania membuka pintu, bi Atun sepaket jas hujan plastik hijau yang dibeli di pinggiran jalan dan celana yang dilinting sampai lutut menyambut.
"Bibi darimana pake jas hujan ?" tanya Shania mengerutkan dahinya.
"Jalanan depan kompleks banjir neng sepa*ha orang dewasa !" Shania sontak membulatkan matanya.
"Apa bi ?! masa ??!" Shania melirik jendela rumahnya dan menyingkabkan gorden tile putih. Karena jarak rumah dan gerbang kompleks yang berdekatan maka jelas terlihat air sudah masuk ke dalam kompleks, untung belum sampai rumah, posisi rumah Arka terbilang cukup tinggi dari jalanan, dan diputus sebuah selokan. Namun kini selokan depan rumah itu tak terlihat.
"Ya Allah bi, " padahal hari sudah hampir gelap.
*************
"Dim, gue pulang dulu ! tadi dapet telfon dari bi Atun, katanya komplek banjir, " Arka meraih kunci motor dan helm.
"Tapi itu masih hujan bro !" ujar Dimas.
"Kalo banjir, biasanya PLN setempat matiin arus listrik, Shania takut gelap Dim, " jawab Arka memakai jas hujannya.
"Hati hati bruh, jalanan licin !" Arka mengangguk.
Jalanan jika hujan begini malah macet. Arka beberapa kali melirik jam tangan hitam sportnya.
Ia mengedarkan mata ke sekeliling, para pengendara lain pun sama sepertinya, jenuh menunggu kemacetan yang lamban terurai. Matanya menyipit demi melihat sekumpulan orang yang tengah berteduh di halte, tapi perhatiannya tertuju pada seorang anak kecil membawa tumpukan koran di samping halte dengan menggigil kedinginan.
Arka menepikan motornya dan ikut bergabung disana, ia melirik ke arah bocah lelaki yang diperkirakan berusia 9 tahun itu.
"Mau beli koran malamnya bang ?!" Arka tersenyum, ia berjongkok untuk menyamakan ketinggiannya dengan si kecil.
"Berapa ?" tanya nya. Melihat koran yang dia pasangi plastik agar tak kebasahan, sedangkan tubuhnya terguyur derasnya air hujan. Yang penting koran koran itu bisa jadi ladang uang untuknya makan malam ini.
"5 ribu saja bang, "
"Saya beli 2 saja. "
Dengan cepat dan penuh antusias bocah itu membuka plastik bening penutup koran dan mengambil 2 tumpuk koran dari dalamnya.
"Mau yang mana bang, G4lamedia, Merdeka p*ost, pikir4n raky4t ?" tanya bocah itu. Karena sejujurnya Arka seringnya baca berita terupdate lewat portal berita online.
"Yang mana saja, " jawabnya singkat.
Arka meneliti dari atas sampai bawah, anak itu terlihat menggigil dengan permukaan kulit berpori pori keluar, telapak kaki dan tangan yang mengkerut, tanda ia terguyur air hujan dalam waktu yang lama, dan sedang kedinginan.
"Siapa namamu ?!" tanya Arka.
"Fatur bang," Arka menerima koran dan menyerahkan uang berwarna hijau dari saku depannya.
"Simpan saja kembaliannya buatmu, Fatur !"
"Wah terimakasih bang, " ia mengecup uang itu dan memasukkannya ke dalam saku celana lusuhnya.
__ADS_1
"Fatur masih sekolah ?" tanya Arka.
"Masih bang," bocah itu menjawab tanpa melihat Arka.
"Kelas ?"
"kelas 2 bang, sempat berhenti setahun.."
"Kenapa ?"
"Ga naik bang, jarang masuk sekolah karena bantu ibu, jualan koran sama tissue," jawabnya terlihat biasa saja, tak ada raut wajah sedih dan berkaca kaca, this is fighter.
Kelak Arka ingin membangun sebuah naungan untuk anak anak kurang beruntung seperti Fatur, tanpa menghambat mereka menghasilkan biaya untuk hidup mereka. Tapi tentulah memerlukan biaya yang tidak sedikit, cita citanya saja yang ingin melanjutkan pendidikan magisternya masih tertunda, padahal usianya sudah 33 tahun, dulu ia sudah mendaftarkan diri di salah satu universitas ternama di kota ini, tapi ternyata Allah berkehendak lain, ayahnya meninggal, membuatnya harus memboyong ibunya ke kota ini, dan disinilah ia menjadi tulang punggung. Pekerjaan apapun ia ambil, termasuk jadi guru honorer, hingga akhirnya pada usia 24 tahun ia diangkat menjadi pns, sedikit sedikit ia mengumpulkan uang untuk membangun sebuah cafe. Setidaknya pengalaman bekerja mengajarkan Arka untuk menjadi fighter dan pelaku bisnis kecil kecilan.
Hujan tak terlihat akan berhenti, ia melirik jam kembali, lalu beralih melihat Fatur yang semakin mengigil.
Arka melepas jas hujannya.
"Pake punya abang, sebaiknya cepat pulang, sudah malam !"
"Eh, terus abang gimana ?"
"Ga apa apa, jalan sudah lancar. Abang memakai motor, rumah juga sudah dekat, " ia memasangkan jas hujan yang tampak kebesaran di badan Fatur.
"Makasih bang, " jawabnya.
Arka segera memasukkan koran ke dalam tasnya yang terbalut penutup tas berbahan parasit senada dengan jas hujannya.
************
"Ya allah bi, airnya makin tinggi !" Shania beberapa kali melihat jendela.
"Iya neng, "
"Mas Kala pulangnya gimana kalo banjir gini ?" tanya Shania bergumam lalu kembali masuk ke dalam kamar.
Pet...
Lampu seketika padam, membuat Shania semakin dilanda panik, mencari cari lilin, karena keadaan yang gelap gulita, ia malah menyenggol lilinnya hingga membuatnya menggelinding dan masuk ke kolong ranjang.
"Yahhhh !"
"Sesek nafas gue !" gumamnya panik, memegang dadanya. Keringat bercucuran di keningnya.
"Bibi !" panggilnya, tapi tak ada jawaban dari luar.
Duarrrr !!! kembali petir menyambar keras.
"Mas Kalaaaa !!!" Shania berjongkok di samping ranjang dengan menutup kedua telinganya.
Seketika pintu kamar terbuka, seseorang dengan pakaian yang basah memeluk Shania.
.
.
__ADS_1
.
.