Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
5 L


__ADS_3

Awalnya ia ragu, tapi setelah Arka bilang bahwa obat lambung tidak pahit seperti obat lainnya, Shania mau mencoba.


Meskipun rasanya tak seenak susu strawberry ataupun choco lava, tapi masih bisa ia telan. Anggaplah Shania sedang memakan kapur tulis yang ia seduh dengan air, tentu saja tak langsung membuatnya memasukkan obat lambung ke dalam list 10 daftar makanan kesukaannya.


"Mas, obat lambung Sha abis. Minta dibeliin lagi," pintanya saat menyantap sarapan. Arka yang tadinya melihat piring Shania menoleh. Bagaimana bisa gadis ini sarapan dengan 3 menu berbeda dalam satu piring. nasi goreng, roti selai coklat, dan kentang goreng dengan sosis.


"Memangnya belum baikan juga ?" Arka mengerutkan keningnya beberapa lipatan, yang benar saja ini sudah lewat dari 10 hari, sejak Shania diperiksa dokter.


"Masih gini gini aja, kadang suka pusing, kadang ga enak perut, lemes juga !" jawabnya menyuapkan nasi goreng lalu kentang goreng yang dicolekkan pada saus sambal, karbo..karbo dan karbo.


"Nanti mas tanyakan dulu ke dokter, soalnya kalo obat obatan mengandung bahan kimia tidak dianjurkan untuk dikonsumsi dalam jangka waktu lama, Sha."


"Kamu sering minum vitamin sama obat tambah darah yang mas beli, kan ?" gadis ini menggidikkan bahunya.


"Kalo vitamin karena manis dan cair Sha minum, tapi kalo obat tambah darah, ihhhh !" ia bergidik, rasanya dengan mencium aromanya saja bikin mual dan eneg. Begini susahnya nasib orang orang yang tidak bisa makan obat, sepertinya jika terus begini ia akan meminta si Edward Cullen buat gigit lehernya, mau jadi vampir aja sekalian, biar kalo anemia ga usah makan obat, tapi langsung nyedot darah. Darah muda, darah bujang, darah perawan, darah duda, darah biru okelah yang penting asal jangan darah kotor.


"Lemes, pusing kamu itu dari anemianya."


"Oh, yang 5 L itu ya !" Arka mengangguk.


"5 L apa aja neng, mas ?" tanya bi Atun ikut menyimak obrolan kedua majikannya.


"Letih, Lelah, Lesu, Lemas..."


"Love you, " potong Shania, membuat bi Atun terkikik.


"Si neng bisa aja, "


"Lunglai Sha," ralat Arka.


***


"Kuat ngga pake motor ? naik umum aja kalo gitu,"


"Kuat lah, Sha mah cewek setronggg, paku payung aja dibikin cemilan !" jawabnya menarik resleting jaket sampai ke leher. Sepertinya Arka si muka papan memang kebal dengan mulut sabun cuci Shania alias mulut 2 ribuan, ekonomi dan merakyat. Mau selorohan se receh apapun mukanya tetap saja mode tembok.


"Neng ! bekalnya," bi Atun mengingatkan.


"Udah bi, tenang aja Sha mah inget kalo sama makanan, cuma suka lupa kalo sama utang !"


"Mas ga ada jadwal ngajar di sekolah hari ini ?" tanya Shania memakai sepatunya.


"Ga ada, mas langsung ke kampus sama ke Route 78 kalo sempet, "


"Sibuk banget ya ?!" tanya nya mengernyit, Arka mengangguk.


"Oke deh, adinda pergi dulu berjuang wahai kanda..." pamitnya meraih punggung tangan Arka dan menyalaminya takzim, berikut kecupan di punggung tangan Arka.


"Hati hati bawa motornya, kalo ada apa apa telfon."

__ADS_1


"Oke, " ia memasang helmnya dan melajukan motor keluar dari parkiran, tak lama Arka ikut bersiap siap untuk pergi ke kampus.


**************


"Hai rakjel (rakyat jelata) !" Shania masuk ke dalam kelas.


"Njirrr ! iyain aja lah pasien RS jiwa baru keluar," jawab Inez.


"Sha, pr matematika udah ?" seperti biasa, selalu saja menjadi pemandangan lumrah teman sekelas yang sibuk mencatat dan mencontek.


"Udah dong, apa sih yang Shania belum !" ucapnya jumawa.


"Nyontek dong Sha, " pinta Fitri.


"Ogheyy ! bentaran, satu soal ceban !" selorohnya, Shania mencari buku miliknya dan menyerahkannya pada Fitri, buku pr yang isinya full itu ibarat umpan memancing paling mahal yang isinya ada kroto, pelet sama ikan tongkol, langsung diserbu sama ikan ikan kelaparan yang belum mengerjakan pr. Bukan cuma Fitri yang menyerbu buku Shania rupanya.


"Njirr mahal," jawab Yuda.


"Dih si kamvrett, ternyata banyak yang belum !" Shania meraih baju olahraganya. Jam pelajaran ketiga adalah olahraga.


Shania kini banyak peningkatan, selain karena pengaruh Arka, alasan lainnya adalah ingin mengejar cita citanya kuliah di kampus almamater kuning.


Bel istirahat berbunyi,


"Sha, ke kantin yu !"


"Hayukk gaskeun lah, udah lama ga makan baso tapi kuahnya pedes asem Nez, racikan nyai Inez !"


"Kayanya gue mau dateng bulan deh Nez, soalnya pingin yang pedes pedes."


"Bukannya loe lagi aslam ya ?" tanya Inez.


"Ahh, ga apa apa lah ! Ntar tinggal minum obat beres," tepisnya enteng.


"Cieee, sombong amat yang udah bisa makan obat !" tawa Inez terdengar seperti ledekan. Sontak dihadiahi toyoran kepala oleh Shania.


"Ya udah, gue ga tanggung jawab kalo ntar loe bolak balik toilet, "


"Ya racikannya manusiawi dikit kek, jangan kaya mau racunin guguk tetangga !" keduanya masuk ke dalam kantin, sebelumnya Shania melahap dulu roti dan telur miliknya.


Cuaca hari ini sedikit mendung, jadi pelajaran olahraga di lapangan tak membuat kulit terbakar karena panas matahari.


"Nez, perut gue panas uyy ! gara gara baso, " kekeh Shania.


"Nah makanya, loe yang pengen juga ! Dibilangin jangan kebanyakan sambel, "


"Tapi enak Nez, " ia mengangguk angguk.


Pelajaran olahraga hari ini lumayan menguras tenaga. Tapi bukan masalah besar untuk Shania yang notabenenya olahragawan.

__ADS_1


"Aduh, bentar lah ! Gue mau ke toilet, " aduh nya saat tengah berlari.


"Pak ! ijin ke toilet, " Shania menginterupsi.


"Iya, "


Ia pergi ke arah toilet terdekat.


"Eh, kayanya udah dateng tamu bulanan gue, mana ga bawa roti jepang lagi !" terpaksa Shania berlari ke arah koperasi siswa untuk membeli kebutuhan wanitanya itu, lalu tak lama ia kembali.


"Udah ? Lama amat, buang bom atau batu ?" tanya Inez.


"Gue beli dulu roti jepang, takut tembus ! tapi perut gue malah sakit Nez dibawa olahraga, ngilu sama mules !" Shania memegang perutnya.


"Nah kan, apa gue bilang ! 1. Karena loe makan baso pedes, 2.Karena mulesnya si tamu. Makan tuh mules !" Shania malah tertawa. Shania sampai kembali ijin ke toilet.


"Gila, banyak banget ! deres !!" ringisnya melihat segitiga miliknya.


"Kalo ga salah punya gue di rumah abis, harus beli. Ntar aja lah baliknya !"


Sepulang sekolah Shania mampir ke sebuah minimarket, ia memarkirkan motornya di samping sebuah mobil berwarna merah, hanya ada 3 kendaraan disana termasuk motor miliknya.


Ia masuk ke dalam minimarket, langsung menuju tempat dimana kebutuhannya itu. Tapi ia langsung membalikkan kembali badannya dan bersembunyi di balik rak, matanya menangkap seseorang yang ia kenal sedang bersama seorang pria paruh baya.


"Maya, " gumamnya, dunia memang hanya selebar daun pete, bisa bertemu dia kembali.


Bergaul dengan Inez sedikit banyaknya membuat jiwa emak emak Shania berkobar. Ia sedikit penasaran dengan kehidupan Maya sekarang, setelah ia baru saja back to the world.


Shania mendekat dan mendengar percakapan keduanya di balik rak samping Maya berada.


"Sayang, bpkb mobil sudah di dalam mobilnya."


"Makasih bebs, kamu yang terbaik. Tapi apartment buatku jadi kan ? aku udah bosen lah di kost anku, kupingku udah panas jadi bahan ghibahan penghuni kost an lain, kalo kamu datang !" Shania membelalakkan matanya sekaligus bergidik geli, bayangkan saja laki laki itu lebih cocok jadi engkong nya. Meskipun Arka pun sudah berumur, tapi jika dibandingkan astaga !! bagai langit dan kerak bumi.


"Si Maya ga kapok kapok njirr !" gumamnya pelan.


"Mantep lah udah dikasih mobil, sama apartment, ck ck ck ! dunia emang sekamvrett ini,"


Tak ingin mendengar percakapan menjijikan lainnya Shania buru buru pergi dan mengambil barang yang ia butuhkan termasuk jamu yang dulu sempat Arka belikan untuknya saat datang tamu.


"Ada tambahan lainnya dek?" tanya kasir.


"Ga ada ka, "


"Mau pulsanya sekalian ? atau roti beli 2 gratis 1 ?!" tawarnya, Shania menggeleng.


"Engga itu aja cukup, " Shania membayar barang belanjaannya lalu lekas keluar, melihat mobil merah di samping motornya yang ia tebak itulah mobil Maya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2