
ARKA
Arka mendudukkan dirinya di kursi. Tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya, Shania pergi begitu saja. Sikap yang selalu ia ambil jika berada di persimpangan, sikap manusiawi yang ditunjukkan seorang remaja jika ia merasa terkejut, kebingungan dan tak tau harus berkata apa adalah mengalihkan pembicaraan dan pergi.
"Give me a chance,"
Ia ingat semua sikapnya dulu terhadap Shania. Ia memang pantas mendapatkannya, menjadi second option (pilihan kedua), seperti dulu yang ia lakukan pada Shania. Tapi apakah dalam kasus ini ia tak berhak mendapatkan kesempatan kedua.
Dia benar, Shania benar...Arka sudah kalah dengan ucapannya sendiri, gadis itu sudah berhasil membuat lelaki matang ini memohon untuk pertama kalinya pada seorang perempuan. bahkan kepada Alya pun ia tak sampai repot repot begini, justru perempuan lah yang memohon kepadanya. Alya ?? yang benar saja, ia bahkan tak pantas mengingat perempuan itu. Shanianya bukan seperti perempuan macam Alya.
"Apa semudah itu kamu mengganti posisi mas dengan cita citamu Sha, apa segitu menyakitkannya dulu penolakan dan sikap mas terhadapmu ?"
------------------
"Sha, oper !!" pekik Melan melambaikan kedua tangannya lurus di atas.
Shania mendribble bola membalikkan badan mengecoh lawan dan,
Shooot !
Bola tepat diterima Melan, namun gagal dieksekusi olehnya. Shania dapat memperkirakan itu, gadis itu tak menunggu waktu lama dan mengejar kembali bola, mengeksekusinya menjadi sebuah poin. Itulah kelebihan Shania yang tak dimiliki oleh siswa lain sesama anggota ekskul basket, bahkan mungkin anak anak pebasket di kota ini.
Tepukan tangan dan suitan kencang tertuju untuknya dari pinggir lapangan, tempat dimana penonton, sesama anggota ekskul basket dan pelatih berada.
"Perfect !!!! Shania punya itu mah, " pekik Naran, Cakra tersenyum akan itu.
"Shania daftar ngga sih ke Dispora ?" tanya Naran.
"Kayanya daftar, ga mungkin engga !" jawab Cakra mengusap peluh dengan handuk kecilnya.
Shania duduk di pinggir lapangan, melakukan pendinginan bersama yang lainnya, seraya mendengarkan penjelasan pak Nirwa dan ka Gema, pelatih mereka.
Langit semakin menampilkan warna kejinggaannya, tanda hari semakin menenggelamkan sang surya untuk kembali ke peraduannya.
"Sha, balik sama siapa ?" tanya Cakra.
"Ekhemm...ekhem..." deheman teman temannya dsngan maksud tertentu.
"Tenggorokan seret pak haji ? minum tuh air comberan !" seloroh Shania pada Naran.
"Bisa ae si Sha, " jawab Naran kikuk.
"Gue balik sendiri Cak, " Shania meneguk air minum dari tumbler berukuran 1 liternya.
__ADS_1
"Mau gue anter ngga? udah sore !"
"Ga usah, makasih..."
Bersamaan sebuah mobil memasuki parkiran sekolah. Tanpa sang pengemudi keluar, Shania tau siapa yang berada di dalam sana.
"Oh ya udah, " terlihat raut kecewa dari Cakra, tapi lebih baik seperti itu. Shania sudah menolak Cakra berkali kali. Namun, pemuda ini masih saja mengejar ngejarnya.
"Eh kalian duluan aja, gue masih ada urusan sebentar !" ucap Shania pada teman temannya. Padahal gadis itu sedang menunggu hingga situasi sepi. Ia berjalan ke arah mobil yang baru saja parkir, dan membuka handle pintu mobil samping pengemudi, lalu masuk ke dalamnya.
"Mas ngapain kesini ?" tanya Shania.
"Jemput kamu, "
"Tapi motor Sha gimana mas ?" tunjuknya pada motor matic sejuta umatnya, yang tengah menunggu si empunya duduk diatas jok dan membawanya mengukuri jalan.
"Tinggalin aja, titip di rumah pak Yono, " jawab Arka.
Pak Yono adalah penjaga sekolah, rumahnya tepat di samping belakang sekolah.
"Kamu tunggu sebentar disini," Arka meminta kunci motor Shania, ia langsung membawa motor Shania menuju kediaman pak Yono.
"Eh, ada pak Arka !" seru pak Yono, lelaki paruh baya yang sebagian rambutnya sudah beruban itu tengah menikmati kopi sore harinya di teras rumah.
"Oh boleh pak, motor siapa itu? rasanya saya kenal !" ia menautkan kedua alisnya demi melihat motor matic berwarna hitam milik Shania.
"Punya Shania pak, "
"Oh iya, neng Shania !" serunya sambil mengangguk anggukan kepala mengingatnya.
"Neng Shania nya kemana pak ?" tanya pak Yono.
"Ada pak, saya antar..kasian sudah sore pulang sendiri," Arka memarkirkan motor Shania aga dalam di halaman rumah pak Yono.
"Disini saja ya pak, " ijin Arka.
"Monggo pak, tenang saja. Disini aman, kuncinya dibawa pulang saja pak, " jawab pak Yono.
"Makasih pak, " jawab Arka.
Shania masih dengan pikirannya sendiri, baru saja beberapa jam yang lalu, Arka mengucapkan kalimat yang mampu membuat sekujur badannya tersengat aliran listrik. Meminta sebuah kesempatan padanya.
"Jangan terlalu dipikirin, nanti kamu stress, " seloroh Arka dengan wajah tripleknya.
__ADS_1
"Apa sih mas, mikirin apa juga !" ia mengalihkan pandangannya ke luar kaca jendela sebelah kirinya.
"Mas mau bawa aku kemana ?" tanya Shania.
"Angkringan mas yang kemarin buka cabang di Daan Mogot, kita kesana !" ajaknya.
Alisnya terangkat, "tapi Sha belum mandi mas, masih keringetan gini ! bau pula !"
"Kamu cantik, kamu wangi. Ga usah berlebihan, nanti yang lain ikut suka, mas ga mau punya saingan !" jawaban Arka membuat perona alami bekerja dengan sempurna di pipi Shania.
"Sejak kapan bapak guru killer jadi buaya gini ? " tanya Shania, mungkin AC mobil saja tak akan cukup mendinginkan hawa panas yang menguar dari wajah dan hatinya. Harusnya Shania di ceburin di lautan pasifik yang airnya sedingin es biar berendam sama singa laut.
Arka tertawa kecil seraya memutar stirnya, mengeluarkan mobil dari parkiran sekolah.
Sepanjang jalan tak ada obrolan yang berarti diantara keduanya, sibuk dengan pikiran masing masing. Tidak seperti biasanya, Shania yang cerewet, gadis ini hanya memainkan dan memutar mutar cincin di jari manisnya, cincin emas putih yang Arka sematkan beberapa bulan yang lalu.
"Ucapan mas tadi siang jangan terlalu dipikirkan, kamu fokus saja dengan seleksi nanti dan ujianmu."
Shania menoleh menyimak baik baik, selanjutnya ia menunduk sendu.
"Mas, Shania jahat banget ya !" ia mulai buka suara, memainkan ujung kaos seragam basketnya yang berwarna hitam beraksen merah.
Arka melirik ke arah Shania.
"Jahat ?" Arka mengulang ucapan Shania dengan alis terangkat sebelah.
"Mas Kala mikirin masa depan rumah tangga kita, sementara aku sibuk mikirin diri sendiri, " ia semakin menundukkan kepalanya demi menahan sesuatu yang mulai meleleh.
"Mungkin bakalan mudah kalo dulu aku ga coba buat cari cari perhatian mas Kala, kalo waktu itu aku ga masuk ke toilet guru, mas ga akan seberjuang ini. Kalo waktu itu aku kasih kesempatan ini buat ka Alya, bukan lari gitu aja. Dan mas bakalan dapet wanita yang...." sebelum Shania mengucapkan kalimat yang lebih menyakitkan lagi untuk dirinya sendiri.
"Sshhh !!" Arka mengusap lembut bahu yang tertutup jaket. Lelaki ini menepikan mobilnya.
Ini akan jadi kali ke berapanya, Arka menarik Shania dan memeluk istri kecilnya ini, memberikan perlindungan, kehangatan, dan kenyamanan seperti pelukan bunda dan ayah.
"Maafin Sha yang jahat, maafin Sha yang egois," ucapannya teredam dada bidang Arka, bibirnya bahkan tak sungkan mengecup ubun ubun Shania.
"Kamu ga harus melepas cita citamu, mas yang bakal ngikut. Mas bakal menunggu sampai kamu siap. Bahagiamu, bahagia mas. Keinginanmu...keinginan mas juga," meskipun kini ia harus kembali mengorbankan kehidupan rumah tangga impiannya lagi, tapi sepadan jika memang itu bisa membuat istri kecilnya bahagia. Inikah yang dinamakan jatuh cinta, rela berkorban, bahkan jika Shania memintanya untuk ikut terjun ke dasar jurang pun, ia dengan senang hati akan ikut, demi melihat Shania bahagia.
.
.
.
__ADS_1
.