
Sikat sana, sikat sini. Kerah kemeja dan bagian tangan, yang kata Arka suka nempel noda disikat full energi oleh Shania, gadis yang memakai daster ungu pendek ini duduk di bangku kecil di kamar mandi. Beberapa kemeja panjang, bekas Arka mengajar beberapa hari kebelakang baru dicuci hari ini.
Gadis yang tadi siang menjadi artis dadakan ini, tak tau jika ia seviral itu sampai masuk acara berita, untung saja bukan viral karena maling tabung gas melon. Dan disinilah ia sekarang, nyuci baju kaya si bawang putih. Berbekal sikat, sabun colek dan omelan khas Shania, untung saja gadis ini tak perlu mencuci di sungai. Shania melihat Arka yang menjadi pengawasnya, berdiri menggendong Galexia yang sama-sama memperhatikannya mencuci sambil ketawa-tiwi di ambang pintu kamar mandi.
"Seneng banget liat istri menderita, mas tuh jatohnya kaya ibu tirinya upik abu. Ketawa gitu bukannya ganteng, malah kaya si bawang merah yang lagi ketawa karena udah berhasil jadi pelakor !"
"Dedek juga sekarang cs nya ayah, awas yahhh ! Kalo minta ASI, momy ga kasih," manyunnya, tapi bayi gemoy yang baru saja merasakan rasanya MP-ASI itu bergerak kegirangan, karena yang ia sangka ibunya sedang mengajaknya bermain dan berceloteh.
Arka hanya terkekeh melihat gadis itu sibuk mengomel menjalani hukumannya setelah sebelumnya mengeluh, katanya capek, lemes kaya abis digigit dan diisep vampir, tenaganya abis, badannya udah kaya ayam geprek, saking lemesnya ke rumah aja sampe ngesot-ngesot kaya suster ngesot adalah beberapa drama queennya yang minta biar di gendong Arka dan lepas dari jerat hukum pak guru tapi sekarang ia malah dengan semangat 45-nya mengomel tak henti-hentinya mirip kereta api ga ada remnya.
"Aaaaahhhh, kuku Sha patahh ! Abis perawatan di salon, pake sisa-sisa harga diri yang tinggal nyisa recehnya di atm ! Mana ke salon ga bisa pake bpjs lagi," keluhnya meringis, melihat wajah menggemaskan ibunya Galexia tertawa lucu.
"Berapa perawatan kuku kamu ? Biar nanti mas ganti," jawabnya.
Kapan lagi, ia bisa mengambil kesempatan dari kesempitan, sekalian saja ia hitungkan dengan pijat spa, luluran, dan hairmask.
"1 juta," jawabnya sengak menyebalkan. Arka merogoh ponselnya dari saku celana dan mengetik sesuatu.
"Sudah mas kirim," tunjuknya pada layar ponselnya.
Shania melongo, segampang itu ternyata korupsi. Benar, ia tak pantas jadi anggota dewan. Takutnya setelah diatas ia akan lupa diri, jadi anggota legislatif di rumah saja banyak minusnya. Terbayang jika nanti ia yang jadi wakil rakyat, ditegur presiden dikit, presidennya yang ia marahi. Di suruh kerja lembur pura-pura amnesia dan pingsan.
***
Tugasnya sudah beres, Galexia pun sudah tertidur. Kini Shania sedang berada di sofa tengah, meminta jatahnya bermanja-manja ria pada suami gurunya yang datar.
"Mas, ga capek apa ?! Udah ngurusin cafe, angkringan, ngajar, terus ngampus, pake so so an ngurusin BEM lagi ? Mas tuh bukan superhero."
"Insyaallah kalo pake hati ikhlas bukan pake dumelan kaya kamu, lagian mas hanya tenaga pembantu, bukan sekertaris betulannya, hanya sering dimintai tolong saja," cubitnya di hidung Shania.
"Semuanya terasa mudah," lanjut Arka.
"BEM diurusin, Sha jadi nomer ke berapa nih, udah kaya punya selir banyak !" omelnya lagi, bentuk rasa irinya.
"Kamu nomor 2 barengan Galexia sama ibu," Shania melotot, lalu nomor 1 nya siapa. Dasar laki-laki....belum Shania menyelesaikan pikirannya Arka sudah kembali menjawab.
"Setelah Allah," Arka terkekeh melihat mata yang tadinya melotot kini luluh meredup.
Awalnya Arka mendengar omelan istri nakalnya tak kelar-kelar seperti panjangnya gerbong kereta api pengangkut tebu. Tapi sejurus kemudian senyap, rupanya Shania sudah terlelap tidur menggunakan pa_ha Arka sebagai bantalnya.
"Capek ya Sha, good night."
Meskipun hukuman Shania bagian jatahnya belum ia tunaikan. Bukan masalah besar untuknya, karena tiap malam ia bisa menggempur Shania.
Arka menggendong badan Shania menuju kamar, dan membaringkan bintang demo ini di samping Galexia, Cukup hari ini ia berulah, entah apa yang akan istri nakalnya lakukan lagi esok.
Seperti biasa, Arka selalu bangun pukul 2 dini hari, jika ia akan melaksanakan solat malamnya. Galexia ikut terbangun karena haus, membuat Shania ikut terbangun dan meng'ASIhi Galexia.
Shania yang tak bisa tertidur lagi, memperhatikan Arka yang khusyuk berdo'a, ia mengira-ngira do'a apa yang sedang Arka panjatkan.
Arka sudah selesai dengan solat malamnya, ia melipat sajadah dan menyimpannya di kursi, lalu duduk di samping Shania.
"Mas, ganteng banget kalo lagi solat gitu !" puji Shania.
"Masih pagi Sha, kamu mendingan tidur lagi..besok masih harus kuliah,"
"Sha udah ga ngantuk lagi, " Galexia kembali tertidur.
"Mas do'a apa sih khusyuk banget ?!" Shania menyipitkan matanya.
"Awas aja kalo minta mau punya istri lagi," Arka melepas songkoknya dan memasangkan pada kepala Shania.
"Mandi sana, otak kamu ini suudzon, punya istri satu aja ga abis-abis."
__ADS_1
Ralat, mungkin lebih tepatnya..satu aja bikin pusing apalagi punya dua mungkin Arka mati mendadak. Arka menarik senyuman smirknya.
"Kalo kamu udah ga ngantuk lagi, bisa nih...jalanin hukuman yang ketiga ?"
"Idih, apaan itu senyumnya, kaya minta disiram pake air selokan depan !" jawab Shania mendorong dada Arka yang sudah memeluk Shania.
"Sha udah bebas hukuman mas, ga liat apa, tuh di teras belakang kemeja mas udah pada ngegantung kaya lagi cuci gudang !"
"Hukuman kamu yang udah bikin mas cemburunya ?"
"Yang mana ?!" tanya Shania.
Mata usilnya terfokus pada piyama Shania yang kancing atasnya belum ia betulkan. Bukannya membenarkan, Arka semakin mengeratkan pelukannya dan menyerang bibir Shania, tak tinggal diam tangannya mulai nakal.
Arka tersenyum melihat bagian atas Shania yang masih banyak bekas tanda merah miliknya karena ulahnya kemarin-kemarin, dan kini ia akan menambahkannya biar penuh.
"Mas, jangan di kasur..nanti dedek keganggu !"
(..)
Keduanya menuntaskan apa yang sudah dimulai di pagi hari. Jakarta pagi-pagi sudah menggelora.
"Mas, Sha lupa...kemarin tuh harusnya jadwal kb Sha !"
"Terus ?"
"Kayanya hari ini Sha mau ke klinik,"
"Oke, mas anter !"
"Mas, dedek !!" Shania yang setengah bersandar di meja ditahan Arka menunjuk Galexia, bayi gemoy itu hampir terjatuh dari ranjang karena tidurnya yang sebebas merpati. Refleks Arka melepas Shania dan menahan badan Galexia.
Geduubrakkk !!!!
Bukan Galexia yang jatuh, tapi Shania.
Pan__ta-t polosnya mencium lantai. Arka tertawa, menepuk jidatnya. Membawa Galexia ke tengah ranjang lalu menyelimutinya dengan selimut hangat miliknya, dan kembali membantu istrinya bangun.
"Maaf Sha," masih dengan kekehannya.
"Mas tega ih, pan*tat Sha sakit !" Shania memukul dada polos itu.
"Udah ah, ga mau lagi !!! Belum tuntas juga bo*do amat !!" dumelnya, Arka masih saja tertawa.
"Ya udah ga apa-apa ga ada ronde ke 2, mas bantu ke kamar mandi ?"
"Ga usah !" sarkasnya.
.
.
Sampai di meja makan, Shania masih ngambek. Lebih tepatnya sih malu, kan ga keren kalo lagi begituan terus ada adegan pann_tat nyium lantai.
****
"Nanti pulangnya mas jemput."
"Iya," jawabnya ketus, seraya mencium punggung tangan Arka.
"Masih marah ? Jangan marah lagi nanti cantiknya bertambah," jawab Arka.
Shania mencibir, "Hihhh ! Ga usah gombal ihh, mas tuh garing kaya kerupuk kulit !" tapi Arka malah tertawa mendengar kritikan pedas dari Shania.
__ADS_1
"Makasih sayang atas pujiannya,"
"Idih, mas ketularan Roy sama Guntur !" Shania bergidik lalu pergi meninggalkan lelaki yang terkekeh itu.
"Ko muka loe bete sih Sha ?" tanya Melan yang bertemu di pendopo dekat fakultas teknik, karena disanalah mereka akan berkumpul sebelum masuk.
"Kayanya hukumannya kurang !" tawa Deni sambil mengepulkan asap vape beraroma permen karet.
"Hukuman apa, yang ada badan gue pegel-pegel. Lutut gue berasa copot nyonk ! Mana tadi subuh gue jatoh lagi," ia mengusap-usap pan_tatnya.
"Gimana ga jatoh, loe lakuinnya diatas mesin cuci, aneh !" desis Melan, Shania mengerutkan dahinya.
"Apanya di mesin cuci ? kuku gue sampe patah-patah, tuh ! Mana abis perawatan di salon, gue sikat abis lehernya pake tenaga powerfull !" tunjuknya pada kuku jarinya yang patah.
"Ha-ha-ha kaya vampire ngisep darah di leher ! Ga nyangka lah, Shania ternyata pro !" tawa Deni.
"Astagaaa !!! Loe sadis Sha, punggung pak Arka berdarah-darah dong sampe kuku loe patah gitu ?!" tanya Melan, Shania semakin mengerutkan dahinya.
"Ko berdarah ?!" tanya Shania.
"Mas Kala seneng-seneng aja ko, malah ketawa-tiwi !" jawab Shania.
"Wah, pasangan aneh tau ngga ! dicakar-cakar malah ketawa, gue mulai takut sama pak Arka, apa dia pshyco ?" tanya Roy.
"Enak aja, kalo ngomong !" Shania menoyor kepala Roy.
"Liat ngga ! ini tangan gue kering kayanya ga cocok sama sabun colek, kalo bukan karena hukuman kemaren ga akan kaya gini nasib tangan gue !"
Ting !!!!
Otak ketiga temannya ini baru sinkron, mereka ambigu, terdiam, merasa jadi makhluk paling mesum se-bima sakti, dan paling bo*doh karena menanggapi obrolan Shania dengan otak 21 plusss, atau mereka yang kebelet pengen nikah ? Sepertinya mereka harus me-recharge kembali ketebalan iman mereka.
Tak lama mereka tertawa, menertawakan kebodohannya sendiri, sedangkan Shania melongo sendiri.
"Dih, loe bertiga ga waras ! Serem gue !" Shania beranjak dan pergi ke kelas.
"Shaaa !!! Mau kemana ?!"
"Jonggolll !" pekiknya, mereka kembali tertawa.
Sepanjang langkahnya menuju kelas, mahasiswa yang melihat Shania, tersenyum dan menyapa.
"Ini orang-orang hari ini pada minum bay_gon apa gimana ? Mendadak pada kurang se sendok, aneh !" guman Shania.
"Hay Sha, kemaren loe keren ! Sampe masuk berita," ujar temannya. Shania menaikkan alisnya sebelah.
"Berita ?" tanya nya, temannya mengangguk lalu menyerahkan ponselnya dengan artikel demo kemarin, wajah Shania terpampang disitu menjadi halaman utamanya.
"Hah ?! Ini kapan terbitnya ?" tanya Shania.
"Dari kemarin juga udah ada, Sha. Masa loe ga tau ?" Shania menggeleng. Jika seperti ini pasti ayahnya tau.
Saat masih sibuk dengan pikirannya, ponsel Shania bergetar. Nama Arka tertera di ponselnya, berikut panggilan tak terjawab dari ayah, Shania baru ingat, sejak kemarin ia belum melihat ponselnya.
"Hallo mas,"
"Ayah nyuruh datang ke rumah Sha,"
"Oh, oke mas !"
"Mamposss gue !" Shania menepuk jidatnya, baru usai melaksanakan hukuman dari Arka, masa iya harus dihukum ayah juga.
.
__ADS_1
.
.