Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Berandal squad


__ADS_3

"Ini rumah pak Arka ?" tanya Roy membeo, melihat bangunan di depannya.


"Ya iyalah, masa rumah pak Lurah desa loe !" sarkas Melan.


"Sha !!!" beberapa kali Ari berteriak seperti tukang paket.


"Loe teriak teriak kaya di hutan malu maluin, tuh ada bel !" tepuk Leli di punggung Ari dan menunjuk bel.


"Malu gue ngajak Ari, besok besok lakban aja mulutnya !" ujar Deni di tertawai yang lain.


"Kelamaan main di kuburan nih, " ujar Guntur.


Shania membuka pintu rumah setelah mendengar bel rumah berbunyi. Tampaklah gadis dengan dress baby doll khas wanita hamil dengan rambut yang di ikat setengah dan sandal jepit.


"Gue kira loe bakalan dasteran Sha ?" tanya Niken.


"Shania tuh wanita hamil masa kini, jangan disamain sama emak di rumah !" jawab Roy.


"Yu masuk, " Shania mendorong pagar besi dibantu yang lain, para cowok cowok memasukkan motornya.


"Sha, kalo pake baju rumahan baru keliatan banget loe lagi hamil," sudah dari tadi bibir Guntur gatal ingin bicara, yang lain menempelkan telunjuk di bibir agar Inez versi cowok ini tak berucap yang membuat Shania tak nyaman.


"Ga apa apa, gue udah biasa ko ! Hamil bukan sesuatu buat di sesali lagi sekarang, kan gue ada laki juga, bukan pasangan kumpul ke bo pula !" jawabnya, yap ! hormon kehamilan yang menguras emosi sudah bisa dinetralkan Shania. Shania kembali ke stelan awal menjadi Shania yang cuek dan masa bo*doh.


Mereka masuk ke dalam ruang tamu dan berlanjut ke ruang tengah.


"Abis ada tamu ya Sha ?" tanya Melan melihat dua gelas berisi kopi dan cemilan, juga bantal bantal sofa yang tercecer.


"Baru banget bu Juli sama pak Yuan pulang !" jawab Shania membantu bi Atun membereskan gelas.


"Biar bi Atun, neng !" Shania mengangguk.


"Disini aja ya, nunggu bentar ga apa apa ya ? soalnya mas Kala lagi beli galon ke depan !" pinta Shania, mereka mengangguk.


"Pantesan nih masih ada tulisan tangan bu Juli, " tunjuk Leli pada whiteboard.


Mereka langsung duduk tak beraturan, bukan duduk melingkar ataupun berbaris rapi, Roy dan Deni sudah rebahan di karpet bulu seraya bercanda ala anak bocah.


"Cingciripit tulang bajing kacapit..."


"Kamvrettt !!! belum selesai lagu, loe maen capit jari gue !" sengit Roy bangun dari posisinya saat Deni menjepit telunjuk Roy.


"Loe berdua aduhh, ampun gue !" Niken menjewer kuping keduanya agar tak rusuh. Sedangkan Leli dan Melan sudah memencet tombol remote televisi LED yang tertempel di dinding berukuran 60 inch, mencari saluran tv, dan itu jatuh pada tayangan kartun kocak. Brandal tanggung ya begini...


"Sha, pak Arka sekarang ngajar di mana ?" tanya Ari mengambil keripik dari toples.


"Di SMA ANGKASA RAYA," jawab Shania menata toples cemilan lainnya. Bukan tidak tau jika teman temannya ini jelmaan kurawa yang doyan nyemil apalagi gratis.

__ADS_1


"Owh, ANGKASA RAYA yang waktu itu salah satu siswanya nyabet gelar nilai UN terbaik di Jakarta taun 20XX ?" timpal Leli ikut nimbrung, Shania mengangguk dan ikut duduk melantai di karpet.


" Woahhh, banyak cewek cakepnya Sha di sana ! Hati hati loe, pak Arka digaet orang !" sela Roy.


Kriukkk...


Kriukk....


"Mulut loe kalo sama cewek cantik tau aja, " Niken mengusap kasar wajah Roy.


"Njirrr, tuh tangan loe bekas ciki keju ! Nempel nih di muka gue, " ujarnya tak terima, sedangkan Niken tertawa terbahak.


"Ahhh, kan muka aa gans berminyak bau keju !" gerutu Roy beranjak mencari toilet.


"Di kanan, deket dapur !" pekik Shania.


"Apaan banyaknya anak jamet di ANGKASA RAYA, norak !" gidik Melan acuh.


"Cie !! yang punya mantan anak ANGKASA RAYA !" ledek Niken dan Leli, membuat Melan bergidik sebal.


"Mantan si Melan juga anak jamet kan, yang dikit dikit kalo ada masalah dijadiin story !" ledek Guntur, sontak dipelototi Melan.


"Diem loe ! Itu mah masa lalu !" dengusnya.


"Bok3r aja di story in keknya ! Hay guys !!!! Gue mau bok3r !!!" Ari memperagakan seperti seorang vlogger yang ditertawai teman lain. Sontak Melan mengejar dan memukuli Ari bertubi tubi.


"Gaya loe, ck ck ! kaya mau ngapel aja !" sewot Guntur melihat Roy yang merapikan rambut sekembalinya dari toilet.


"Kemana ?"


"Bengkel, mau stel ulang motor ! Biar cakep pas balapan, " jawabnya lagi.


"Idihhh, mamposss tau rasa loe !" jawab Melan.


"Do'a loe jelek banget Mel ! do'ain tuh menang !" desis Ari.


"Ga cocok kalo loe jadi anak motor Roy,"


"Liat si Deni, tatooan, otot bisep keluar, wajah mumpuni, sangar !" ledek Leli.


"Nah lo ?! wajah cherrybelle, badan boro boro ngotot, yang ngotot cuma mulut loe !" tawa yang lainnya menambah keseruan mereka.


"Sat, gue juga punya tatto !" jawab Roy.


"Mana ?" tantang Leli.


"Nih di pundak sama di lengan !" tunjuk Roy.

__ADS_1


Seketika tawa meledak, sampai sampai Shania menahan perutnya yang sedikit ngilu saat tertawa.


"Itu mah loe panuan !! Saravv !" Deni menoyor kepala Roy, bersama pukulan telak dari Niken, Leli, dan Melan.


"Aduh, gue pengen pipis lah !" Shania beranjak menuju toilet.


"Oyy ahhh ! Serem lah gue mah temenan sama ciwi ciwi disini !" aduh Roy yang menghalangi kepalanya.


"Muka pretty women, spare part Angelina jolie, tapi kelakuan Samson Betawi !" seru Roy.


Tak lama Arka datang, mendadak mereka kalang kabut saat mendengar suara motor dan merapikan posisinya menjadi lebih sopan.


Arka memang guru yang disegani, terkenal tegas dan disiplin. Irit senyum cenderung terlihat jutek. Tapi lihatlah sekarang, guru itu sedang mengangkat galon beserta tabung gas.


"Pak, saya bantu !" segera Ari dan Guntur ikut menolong.


"Terimakasih, "


Pada dasarnya mereka adalah anak anak yang baik, hanya saja pergaulan dan lingkungan yang membentuk karakter berandal mereka.


"Sudah lama ?" tanya Arka.


"Baru ko pak, " jawab Melan.


"Sebentar ya, saya ganti baju dulu dan ambil buku dulu, " pinta Arka berlalu menuju kamar.


"Baru..."


"Baru abis jus 2 gelas, keripik setoples !" lanjut Ari.


"Gue kalo punya anak didik kaya si Ari, dah gue kardusin terus buang di pinggir jalan, " tukas Niken dengan nada berdecak.


"Emang anak kucing ?!" Ari menjiwir hidung Niken sekembalinya membantu Arka.


"Abisnya bikin bangkrut tau ngga ?!"


Arka sudah keluar dengan t shirt putihnya. Dengan stelan casual begini bapak guru kita ini tak terlihat seperti sudah berumur kepala 3.


Mereka mulai membuka buku, belajar dengan suasana baru dan nyaman membuat belajar jadi lebih efektif, meskipun cara Arka mengajar masih terbilang tegas seperti biasanya. Tak ada main main selama belajar. Materi yang disampaikan mudah dipahami oleh mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


Noted


*Jamet : jajal metal, biasanya orang orang yang beratributkan anak metal hanya untuk gaya gayaan.


__ADS_2