
Pagi pagi sudah menjadi agenda harian Arka di dapur, bersama bi Atun ia sudah memasak berbagai menu sarapan penggugah selera. Ia memang tak bisa mengumbar kata kata manis dan gombalan maut untuk Shania. Menurutnya pembuktianlah yang akan menunjukkan jika ia serius ingin menjalani biduk rumah tangga dengan gadis itu. Arka ingat ucapan Dimas kemarin. Bisa bisanya istri nakalnya itu memikirkan untuk menggugat cerai. Apa yang ada di otak kecilnya itu.
"Shania nanyain caranya gugat cerai, Ka."
Rahang Arka mengeras mendengar pengakuan itu, tapi ia hanya bisa diam dan menghela nafas.
"Dia masih kecil, butuh bimbingan loe, dia nanya hubungan loe sama Alya. Mungkin dia ngiranya loe sama Alya masih punya hubungan. Emang selama ini sikap loe ga menunjukkan keseriusan, Ka? atau mungkin bagi Shania, yang ia butuhkan adalah pengakuan."
Melihat Arka yang mengeraskan rahangnya Dimas menepuk pundaknya, "jangan keras, butuh kesabaran, butuh dibimbing bro !" Dimas menyimpan mangkuk dan gelas kotor di wastafel.
Shania memang selalu ceroboh. Pagi ini ia sudah keluar dari kamar dengan seragamnya lengkap, Arka mendengar pintu kamar terbuka. Wangi vanilla terselip diantara wangi masakannya.
Bi Atun tertawa terkikik saat menoleh. Sedangkan baginya hal ini tak terlalu lucu, entah memang Arka sedikit kebal dengan hal hal yang berbau kocak, hingga kadar senyum dan tawanya tidak berlebihan seperti orang lain.
"Kenapa bi, ummhhh wanginya !" Shania menghirup aroma masakan.
"Mas Arka yang masak neng, " jawab bibi masih mengulum bibirnya. Shania duduk di kursi, dan menarik sepiring nasi goreng kornet lengkap dengan telur setengah matang dan udang tepung.
"Widihhh mantap !" jawabnya dengan lahap.
"Yu ! berangkat !" setelah menghabiskan makan satu piring nasi.
Arka menatap ke arah rambut Shania.
"Kamu yakin ?! mau berangkat kaya gitu ?!" tanya Arka. Bi Atun kembali tertawa.
"Kenapa emangnya, seragam Shania ga ada yang aneh, kaos kaki juga warna putih ga akan kena razia lagi !" jawabnya santai.
"Coba ngaca !" pinta Arka, tapi Shania menepis udara.
"Ah udahlah ntar keburu telat !" Arka belum mengijinkannya mengendarai motor, basket dan voli.
"Bi, Shania sekolah dulu ya !" pamitnya.
"Iya neng, "
Shania melintas dan hendak masuk ke mobil Arka, sampai ia menyipitkan matanya di kaca jendela mobil Arka yang kinclong, tampak kinclong seperti mobil baru ngambil dari showroom.
Matanya terfokus pada satu benda di rambutnya.
"Astaga ! gue lupa ini roll an masih nyangkut di rambut !" Shania segera melepas roll an di rambutnya.
Arka keluar dari rumah.
Bipp !
Arka mengarahkan remote otomatis.
"Mas Kala ko ga ngomong kalo roll rambut aku masih nyangkut !" manyunnya dan memukul dada Arka. Jadi salahnya ? Arka mengangkat alisnya sebelah.
"Tadi kan mas sudah bilang, " Arka membuka pintu mobil bagian Shania.
"Kapan ?!"
"Di meja makan," jawabnya ditatap tajam oleh Shania yang masuk ke dalam mobil.
"Engga ! mas cuma bilang nyuruh aku ngaca !" nyolotnya. Sedangkan Arka memasangkan seatbelt untuknya.
"Terus, kamu ada ngaca ?!"
"Engga !"
"Ya udah berarti kamu yang bandel, dikasih tau suruh ngaca ga di denger, " Shania menyunggingkan bibirnya kecut. Berdebat dengan Arka tak akan menang, ia kan memang maha benar ! dan memang jawabannya itu selalu membuat Shania skak mat.
***********
__ADS_1
"Honeyyy !!!!" pekik Roy, dari arah bangku depan kelas.
"Minggir loe ! ngalangin jalan gue !" Shania mendorong jidat Roy saat ingin masuk ke kelas, Arka mengekor di belakang gadis itu, yang sejak kedatangannya saja, dari gerbang sudah disambut seantero penghuni sekolah, karena aksi heroiknya membawa nama sekolah meskipun kini mereka harus puas dengan hasil yang sepertinya akan berbeda jika Shania masih ikut berjuang di final kemarin. Mendadak berita tentang Shania menjadi viral, gadis cantik yang jago basket, beberapa universitas ternama di kota ini bahkan menghubungi langsung pihak sekolah, jika lulus nanti Shania berhak mencoba mendaftar di universitas mereka lewat jalur prestasi.
"Hay Sha !" sapa Cakra, ia menyerahkan sebungkua coklat untuk Shania, coklat yang biasa ada di minimarket.
"Welcome back !"
"Thanks Cak, "
"Lutut loe udah ga apa apa kan ?" tanya nya. Shania melirik lututnya.
"Fine, gue udah ga apa apa, thanks coklatnya !" tapi tiba tiba lengannya tertarik oleh tangan seseorang.
"Eh !"
"Hanya tinggal 2 menit lagi masuk kelas !"
"Kamu anak kelas XI IPA 4 kan ?" tanya Arka menatap sengit Cakra.
"Iya pak, " Cakra membungkuk.
"Gue masuk kelas dulu Sha, " pamitnya, Shania mengangguk.
"Kalian masuk !" pinta Arka, tak ada satu pun yang tak menurut pada guru tampan tapi galak ini, handsome and killer. Begitupun Roy yang berlari menyerobot menubruk Inez dan Risya.
"Oy ahhh !!"
"Gue gibeng loe Roy !"
Arka merebut coklat dari tangan Shania dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Eh, pak ! itu coklat punya aku !" tatapan tajam Shania.
"Ga usah banyak makan coklat, terlalu bahagia bisa bikin orang gila !" ucap Arka.
"Saya mau cek dulu, ini ada racunnya atau engga, aman atau engga, siapa tau ini kadaluwarsa, bisa bikin kamu sakit perut, " jawab Arka, yang bagi Shania tidak masuk akal. Gadis ini hanya mencebik kesal dan masuk ke dalam kelas.
Sepanjang pelajaran, Shania hanya memasang wajah masamnya pada Arka.
"Invasi besar besaran kalo gini, " gumamnya.
"Apanya invasi, dimana, kapan, siapa ?" tanya Inez kebingungan.
"Tuh ! pak kalajengking campuran kingkong, " tunjuknya dengan ujung pulpen pada Arka yang tengah menerangkan materi elektrolit dan ion.
"Kenapa lagi laki loe ?" senyum Inez, melihat Shania dan pak Arka yang seperti kucing dan guguk, tapi bagi Inez itu manis.
"Masa coklat dari si Cakra dia embat, bilang aja mau ! ga pernah ada yang kasih dia coklat, tinggal bilang minta aja apa susahnya sih ! ga usah maen rebut gitu aja, " dumelnya.
Inez tersenyum lebar, Shania memang gadis tak peka, oon kebangetan, apalagi gelar yang pantas ia sematkan untuk teman si patrick star ini.
"Kebanyakan gaul sama tokoh tokoh nick*elodeon jadi gini nih, orang suka aja ga peka, "
"Ish, " Shania berdesis.
"Loe boleh cantik, jago basket, tapi otak loe soal cinta cetek kaya kali yang lagi di revitalisasi."
"Njirr !" umpat Shania.
"Iya lah, loe ga tau apa pak Arka tuh lagi cemburu sama Cakra, gitu aja ga tau !" desis Inez.
"Ga mungkin, itu mah dianya aja yang sirik sama orang, " jawab Shania.
"Pluk !" sebuah gulungan kertas mendarat diantara Shania dan Inez.
__ADS_1
"Kalian berdua mau ngobrol disitu atau di depan, biar saya yang gantian duduk disitu ?!" tanya Arka menatap penuh aura mencekam. Jika sedang mengajar ia memang selalu ptofesional, tak memandang Shania adalah istrinya.
"Maaf pak, " Inez menunduk, tapi tidak dengan Shania. Yap ! tak mudah untukmenghadapi gadis nakal ini.
Arka memanggil Shania ke ruang guru saat istirahat, membuat gadis ini menyeret kakinya malas menuju ruang guru.
"Apa lagi ?!" sengitnya. Arka menyodorkan sebuah kotak makan.
"Sudah masuk waktu istirahat, jangan sampai telat makan," jawabnya melirik santai ke arah gadis yang matanya tengah berapi api.
"Masih marah ?" saat tak ada respon dari Shania.
"Oke, nanti mas ganti di rumah !" ucap Arka.
Shania melirik Arka sanksi.
"Dua, " tawar Arka, masih tak ada jawaban dari Shania.
"Tiga, " tawarnya lagi.
"Lima, " jawab Shania.
"Oke, lima.." jawab Arka mengalah.
"Deal, makasih bekalnya, " Shania tersenyum terkekeh seraya menyambar bekal.
"Dor ! ketauan, pagi pagi udah pacaran aja, " pak Wahyu mencondongkan kepalanya tepat disamping Shania, ke arah ia dan Arka.
"Astagfirullah ! ish, pak Wahyu !! bikin kaget aja," Shania tergelonjak kaget, dan mengusap dadanya, membuat pak Wahyu dan Arka terkikik.
"Lagi pada ngapain, pingin pada ketauan nih, sering bareng terus !" imbuh pria paruh bayu yang sebagian rambutnya sudah berwarna keputihan.
"Engga ih, lagi malak pak ! ya udah deh, Shania pamit dulu.."
"Eh, engga salim sama suami ?" goda pak Wahyu membuat wajahnya memerah.
"Dih, pak Wahyu nih..minta dicariin istri kedua, " jawab Shania.
"Boleh deh Sha, boleh kalo bisa yang masih mon..tok.." selorohnya.
"Huuu, maunya ! ntar Shania cariin pak, sekalian lapor sama bu Ida, " ucap Shania sambil berlalu.
Pak Wahyu tertawa, "haduhhh, tuh anak ! anaknya pak Hadi tuh, " pak Wahyu menggelengkan kepalanya.
"Shania memang bandel pak, tapi sebenarnya dia baik dan tipe anak yang menyenangkan, " ujar pak Wahyu, Arka mengangguk angguk mendapati pujian atas Shania dari pak Wahyu secara tak sadar.
"Eh, maaf pak, bukan saya gimana gimana..."
"Ga apa apa pak, saya tau.." jawab Arka tersenyum.
"Wedewww, bekel ! buatan loe sendiri ?" tanya Inez menautkan alisnya mencomot bekal Shania tanpa permisi, tapi Shania tak pernah keberatan.
"Bukan, mas Kala !" jawab Shania santai.
"Uhukk ! seriusan ?!" tanya Inez.
"Serius, " Shania kembali menyendok nasi.
"Wah, suami idaman banget, " jawab Inez kembali menyendok bekal Shania.
"Laper wa ?!" tanya Shania, Inez tertawa.
.
.
__ADS_1
.
.