Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Don't leave me alone


__ADS_3

Don't Leave me alone


(Jangan tinggalkan aku sendiri)


Arkala Mahesa


-------------------------------------


Mata indah itu membulat mendapati betapa banyaknya booth dan gerobak penjual makanan di depan. Kebanyakan stand memakai tenda putih sebagai tempat makan masing masing lapak. Asap makanan yang keluar dari setiap booth menambah euforia acara. Cukup ramai namun tertib.


Setiap bloknya tersusun rapi dengan banner nama makanan dan asal daerah dipajang di setiap muka booth, makanan khas dari setiap daerah di nusantara. Dengan lampu lampion berwarna warni di sepanjang selasar. Ini mungkin akan jadi kencan pertama mereka yang tak disadari, unbelievable (sulit dipercaya).


"Mas, Sha mau itu !" tunjuknya pada penjual dengan booth sebuah gerobak yang ditanggung menjadi pemandangan utama. Yap ! tahu Gejrot dari Cirebon dan disampingnya adalah stand es goyobod.


Jajanan dengan isi tahu coklat yang di goreng dan disiram air kuah asam dari asam jawa, manis gula merah dan pedas dari rawit, sukses membuat Shania menarik narik lengan kemeja Arka untuk segera mendekat. Lelaki itu menurut saja, mengikuti kemana arah langkah istri kecilnya.


"Mas mau ngga ?" tanya Shania.


"Mas nyicip aja punya kamu, biar jangan terlalu kenyang. Kamu harus coba makanan khas Surabaya disana !" tunjuk Arka.


"Oke, " angguknya.


"A, pesen 1 ya ! pedes,"


"Siap teh, silahkan duduk dulu !"


Satu porsi tahu gejrot dengan piring tanah liat dan satu gelas es goyobod sudah tersaji.


"Nah ini loh mas, kalo aku pulang ke rumah di Bandung, suka beli ini di pinggir jalan, isinya tuh kaya puding tapi dibuatnya dari hunkwe, pake tape singkong, kelapa muda sama potongan roti tawar, kuahnya ini santan sama gula !" Shania mengaduk aduk es goyobod, entah apa yang dia cari di dalam gelas itu.


"Kamu nyari apa nya ? kalo cari berlian di dalem tuh ga akan nemu !"


Gadis itu tertawa, "mas aya aya wae (ada ada aja). Mas tuh lagi ngelucu, tapinya garing kaya kerupuk kulit !" hati Arka menghangat demi melihat tawa renyah Shania.


"Nih coba ! kalo di mix jadi satu semuanya beuhhh...ajipp !" sendok bebek almunium yang berisi potongan semua isian es goyobod sudah berada di depan mulut Arka.


Pria itu melahapnya, alis Shania bertaut menatap Arka penuh rasa penasaran.


"Ngapain ?" tanya nya.


"Ya nunggu respon mas Kala lah ! masa nungguin negara api nyerang Indonesia, " cibirnya.


"Enak, " jawabnya merebut sendok dan menggeser gelas berisi es menyegarkan itu dari depan Shania.


"Enak doang ?!" Shania berdecih tak percaya dengan sikap kaku Arka.


"Terus harus bilang apa ? kan enak mewakili rasa bersyukur karena makanannya lezat," jawab Arka sudah sendokan ke berapa kalinya.


"Ga ada ekspresi lain gitu, enak sama engga datar datar aja mukanya kaya plafon rumah !" ledek Shania.


"Enak sayang, "


Mendadak para kepompong menetas bersamaan dan terbang bersama dalam wujud kupu kupu di dalam perut Shania.


"Bukkk !!"


Shania memukul lengan Arka dengan wajah merengut.


"Kalo jawab yang bener ih, mukanya gitu gitu aja, ga usah gombal gombal mas, ga pantes !" Shania memalingkan wajahnya mengaduk aduk kuah tahu dan memakan sisa tahu gejrotnya.


"Muka mas memang gini bawaan orok Sha, mas lagi ga gombal. Bilang enak doang salah, sekarang ditambahin belakangnya masih salah, " wajah Shania memerah, jika sampai Arka menatap dan bertanya, ia akan menjawab karena rasa pedasnya tahu gejrot.


"Udah ah ga usah dibahas, udah abis kan ?! katanya mas mau ajak Sha makan makanan khas Surabaya," jawab Shania.


Arka membawa Shania menuju blok dimana ia melihat booth penjual nasi rawon, rujak cingur dan tahu tek.


Mereka hanya memesan satu porsi di setiap menunya. Keromantisan dan kemesraan yang tercipta tanpa disengaja dan tak disadari oleh keduanya.


Shania menyerahkan sendok, selesai ia melahap suapan nasi rawon ketiga kalinya pada Arka.

__ADS_1


"Enak ?" tanya Arka.


"Enak banget, ini tuh toge kan ?" tanya Shania menunjuk ke arah piringnya.


"Iya, kecambah.." jawab Arka.


"Pantesan kepalanya gede gede, " Shania meraih teh tawar hangat sebagai minuman pelengkap menikmati nasi rawon.


Terbersit di benaknya tentang pertanyaan Inez yang mampu membuat hatinya mencelos dan berkata jika ia adalah gadis ter egois di muka bumi. Ia menghirup nafas dan membuangnya berkali kali melihat Arka masih santai melahap nasi rawon.


"Kenapa ? masih mau ? aaa?!" Arka menyodorkan sendok berisi nasi rawon di depan mulut Shania, tapi gadis itu menggeleng keras.


"Udah kenyang, "


"Mas, "


"Ya ?!"


"Ada yang mau Sha tanyain sama mas, " raut wajahnya menyendu.


Arka meraih gelas teh tawar, setelah selesai menandaskan isi piring.


"Apa ?!" kini tatapannya terpusat pada Shania,


Deg...


Deg...


Deg...


"Mas kemarin bilang. Kalo... keinginan Shania adalah keinginan mas, bahagia Shania adalah bahagia mas juga. Tapi mas ga pernah bilang keinginan mas apa ? Rasanya ga adil aja, dan Shania bakalan jadi perempuan yang egois kalo gitu, Sha jahat mas,"


"Yakin kamu ingin tau ?" tanya Arka, mata Arka menyelami mata bulat Shania, mendadak waktu seakan berhenti untuk keduanya seakan pancaran mata keduanya saling berbicara (eyes talking).


"Don't leave me alone,"


(Jangan tinggalkan aku sendiri)


Shania langsung menunduk, rasa bersalah menggelayut manja di benaknya.


"Maafin Sha mas, " Arka menggenggam tangan Shania yang terulur diatas meja,


"Ga apa apa, mas juga ga bisa egois..memaksa kamu untuk mengikuti semua keinginan mas, " Arka melepaskan tangan Shania.


"Udah malem, besok masih sekolah."


"Pak ! berapa semuanya ?" tanya Arka yang sudah beranjak dan mengeluarkan dompet dari saku belakangnya.


*******


"Mas, bentar ! perut Sha begah, udah kaya mau meletus," keluhnya tertinggal di belakang.


Arka menghentikan langkahnya dan kembali.


"Masih bisa jalan ga ? itu parkiran udah deket, "


"Mas ihhh, udah kaya atlit marathon aja, duduk dulu kek, santai dulu kek. Kaya lagi dikejar s3tan aja. Langkah kaki mas tuh lebar lebar kaya lagi halang rintang !" protesnya.


"Udah malam Sha, sini mas gendong !" tawarnya.


"Idih, udah kaya tuyul aja digendong gendong !" tanpa meminta persetujuan Shania, Arka justru sudah berjongkok dan mengangkat Shania dari depan.


"Eh, mas ih !!!" ia menepuk pundak Arka, tapi tak urung mengalungkan tangannya ke depan dada Arka.


"Ga sopan tau ! ga diijinin maen gendong gendong anak gadis orang, " cibirnya.


"Tapi anak gadis itu istri mas. Ya udah, mas mau minta ijin kalo gitu buat gendong kamu. Ijin gendong ya Sha, " kekehnya.


"Hilihhh, udah digendong juga !" cebiknya.

__ADS_1


Kedua manusia lintas generasi itu berjalan diantara sekian ribu pengunjung, tanpa jarak. Shania menumpukkan dagunya di pundak Arka, hingga aroma masing masing tercium dan terasa begitu jelas menyapu penciuman.


"4 hari lagi udah masuk waktu ujian, do'ain Sha biar lancar ya mas ! biar bisa naik kelas,"


"Aamiin, " jawab Arka.


"Berarti minggu depan kamu melakukan seleksi kompetensi kan ?" tanya Arka, bila biasanya Shania akan bersemangat tidak hari ini, gadis ini hanya mengangguk, hatinya meluruh berserakan di sepanjang selasar.


"Kenapa ? kamu sakit ?" tanya Arka.


"Engga mas, Sha ngantuk aja capek !" jawabnya. Obrolan bu Endang dan Inez selalu memenuhi otak kecil Shania.


Tanpa aba aba Arka menurunkan Shania, tepat di samping mobil.


******************


"Sha, anterin gue yu !" pinta Inez di sela sela jam istirahat.


"Kemana ? males gue !" Shania masih berleha leha di bangkunya, istirahat kali ini hanya ingin duduk duduk saja.


"Ngambil kartu ujian di TU, buruan lah ! males malesan kaya orang hamil aja, "


"Dihhh ! mulutnya ga dijaga ! asal cuap aja," Inez nyengir seperti onta. Shania beranjak dengan malas malasan.


"Yu buru !! hutang jus jeruk loe !" Shania sudah berdiri.


"Dih, nganter doang gantinya jus jeruk," keduanya berjalan menuju ruangan TU.


"Loe ga ngambil kartu ujian Sha ?" tanya Inez, ternyata saat datang ke TU, bukan hanya Inez saja yang memiliki niatan mengambil kartu ujian, ada beberapa siswa lainnya disana.


"Ih ngantri dong, kaya ngantri sembako !" dumel Shania.


"Namanya juga mau ujian Sha, "


"Punya gue udah diambilin mas Kala, tinggal cus otewe ujian aja !"


"Emh..emh..emh...enaknya nih nyonya, "


"Dikasih kunci jawaban dong ! bagi bagi gue Sha, " ia menaik turunkan alisnya, Shania duduk di bangku depan TU.


"Boro boro ! yang ada gue di les private kaya orang mau ujian cpns, galak banget...kaya biasa kalo ngajar di kelas, kalo menyangkut pelajaran mas Kala berubah bertanduk," curahan hati istri nakal seperti Shania yang ga jauh jauh dari mengomel.


"Bagus dong, siapa tau ntar sekolah heboh kan Shania muncul jadi juara umum !"


"Wah, bumi gonjang ganjing kalo gitu, " jawab Shania dibalas tawa Inez.


.


.


.


.


* booth : stan makanan/ ruang /kamar.


* euforia : kemeriahan.


* banner : media promosi untuk menawarkan sesuatu.


* lampion : sejenis lentera dari kertas dengan lilin di dalam.


* Tahu gejrot, berasal dari Cirebon dengan tahu coklat yang digoreng dan kuah gula merah dan asam jawa dicampur rawit.


* Es goyobod, minuman asal tanah pasundan berisi hunkwe, roti tawar, tape singkong dan kelapa muda dengan kuah santan dan gula.


*Nasi rawon, sup daging sapi berkuah, dengan campuran bumbu rempah menggunakan kluwek, disajikan bersama nasi, kecambah, telur asin, daun bawang, empal, kerupuk udang.


*Rujak cingur, potongan sayuran segar dengan bumbu rujak dan diberi cingur atau irisan mulut sapi yang sudah direbus dan diolah.

__ADS_1


*Tahu Tek, berisi tahu goreng setengah matang dan lontong yang dipotong kecil kecil disiram saus bumbu petis, biasanya sering ditambahkan komponen seperti telur, kentang goreng, acar, timun dan tauge.


__ADS_2