
Selepas pulang jalan-jalan, Shania mampir ke apotik untuk membeli sebuah benda kecil penentu nasibnya ke depan. Dan Voalaahhhh ! Selain resmi jadi murid playgroup, Gale pun kini menyandang status calon kaka. Usia kandungan Shania sudah 9 minggu saat ini.
****
Shania tengah mempersiapkan semua keperluan dan baju-baju suaminya.
"Sha, itu bajunya yang rapi. Sesuai warna diberesinnya."
Sudah kalimat istighfar dan takbir ke berapa kalinya yang diucapkan oleh Shania hari ini, bahkan ia tak sengaja menggigit kukunya hingga patah saking kesalnya dengan Arka.
"Mas, baju mas tuh cuma 4 warna, hitam, putih, abu sama merah. Mau disatuin pun ga akan jadi warna pelangi. Toh nanti kalo nyampe di Bandung juga bakalan disimpen di lemari. Nyampur 1, 2 mah ga akan bikin mata jadi blur atuh !" gertakan gigi Shania menandakan jika momynya Gale ini sudah berada di ambang batas kesabaran, pasalnya ia sudah berulang kali membongkar muat dan mengatur ulang isi sebuah koper.
"Gue gares juga nih koper !" gumamnya.
"Mata mas ga srek Sha liatnya !" jawabnya. Oke kali ini Sha beruntung tidak mengalami ngidam, tapi ngidamnya Arka sungguh-sungguh sangat menyebalkan. Ia khawatir nanti di Bandung, Arka akan menyusahkan orang lain.
"Ting Tong !"
"Mas, itu pasti Guntur sama Ari. Yang bawa asinan Bogor !" ujar Shania.
Guntur, Deni, Roy, bahkan Ari dan Melan kena imbas ngidamnya Arka. Pagi-pagi sekali Shania sudah meminta kedua temannya ini membelikan asinan Bogor yang diidamkan Arka.
"Tur," Guntur sudah masuk bersama Ari.
"Pak ini pesanan bapak, Guntur harap ga salah lagi," sudah 2 kali ia dan Ari bolak-balik membeli asinan hanya karena tak sesuai pesanan Arka. Arka meraih bungkusan asinan dan memberikannya pada Shania untuk di pindahkan ke mangkuk.
Ari mendekati Galexia yang sedang menggambar tak karuan, bocah itu sudah rapi dengan seragam playgroupnya dan bando merah strawberrynya.
"Hay cantik ! Lagi ngapain ?" Ari duduk di sampingnya.
"Lagi gambal om pong !" senyumnya dengan deretan gigi susu rapi nan bersih tanpa hitam-hitam ompong.
"Gambar apa itu ? Kaya benang kusut ?!"
"Ini tuh gambal ibu peliii (gambar ibu peri) om pong. Mas sih ga liat !" jawabnya sewot.
"Mana ?!" tanya Ari menyipitkan matanya.
"Yahh, kan ibu pelinya telbang gala-gala takut ompong, katanya om pong nyelemin mukanya kaya hantu !" Guntur tertawa melihat wajah masam Ari yang dikerjai Gale.
(Yahh, kan ibu perinya terbang gara-gara takut ompong, katanya omponh nyeremin kaya hantu)
"Si@--" Ari menahan kalimatnya di tenggorokan, Shania sudah melotot. Sejak kata pertama yang diucapkan Galexia keluar dari mulut mungilnya, maka Shania dan Arka memberlakukan aturan wajib bagi geng kurawa untuk berkata sopan, bersikap teladan tanpa candaan kekerasan yang biasa mereka lakukan selama ini.
Shania berada di dapur memindahkan asinan, bersama Guntur yang mengekor.
"Anak-anak yang lain bentar lagi nyusul Sha, si Niken lagi nunggu si burik dulu," ujar Guntur.
Shania mengangguk, "Sha, kalo sampai yang ini salah sama ga masuk lagi di lidah pak Arka, dahlah gue pensiun jadi omnya calon bayi loe yang ada di perut !" keluh Guntur, Shania tertawa melihat wajah frustasi teman-temannya.
"Sabar om gledek, ikhlas ngga nih ?" tanya Shania.
"Ikhlas demi ponakan gue yang baru, apa sih yang engga," jawab Guntur.
Arka mendekat, ia memang sudah tidak merasakan mual, karena memang sudah menemukan obatnya, yaitu bau parfum Shania. Shania sampai membawakan Arka parfum dan baju miliknya di koper Arka.
"Sudah Sha ?" tanya Arka.
"Nih," Shania memberikan semangkuk asinan.
"Sesuai pesanan saya kan Tur ?" Guntur mengangguk.
"Sesuai pak, cabenya 5 warnanya merah terang, buahnya juga masih seger baru beli di pasar tadi subuh, garamnya se sendok teh terus togenya udah dapet ngitung jumlahnya 99."
Shania mengulum bibirnya, sedangkan Guntur meringis dan menghela nafasnya...ingat betul ia dengan kejadian tadi.
__ADS_1
Flashback
"Bu, asinannya satu lagi ya...masih salah nih !" ucapnya pada si pedagang, sudah 2 kali ia kesitu sampai si pedagang menertawakannya dan Ari.
"Bu, cabenya 5 tapi warnanya yang terang-terang dan seger, buahnya baru beli tadi subuh kan ?" si ibu itu mengangguk.
"Garemnya harus pas sesendok, terus togenya harus pas 99 ga kurang ga lebih !"
"Ini mau pesen apa mau ngajak berantem mas ?" tanya si ibu. Ari meledakkan tawanya, menertawakan Guntur.
Flashback off
"Makasih Tur, saya makan di depan ya !" Arka melengos ke sofa tengah dimana Ari dan Gale tengah menggambar.
"Ini gambal apa om pong ?!" tanya Gale membuat keningnya berkerut jadi beberapa lipatan.
"Ini seekor kucing !" jawab Ari.
Bocah itu semakin mengerutkan dahinya, "loh ! Mana kucingnya om ?!" tanya Gale.
"Ini ! Ekornya nyembul, ceritanya kucingnya kecebur air jadi yang muncul cuma ekornya !" tawa Ari berhasil mengusili balik Gale, wajah Gale merengut kecut.
"Idihhh, kilain bisa gambal !" ketus gadis berpipi bakpau itu, membuat Ari semakin gemas dibuatnya.
(Idihhh, kirain bisa gambar !)
"Gue culik juga loe ah, gemes banget gue !" gumam Ari gemas.
"Sha, Gale gue culik ya !" ujar Ari.
"Ambilll, bungkus aja !" jawab Shania berseloroh.
"Om pong, sini deh !" pinta bocah itu.
"Apa ?" tanya Ari mendekatkan wajahnya, namun ternyata Gale malah memoleskan spidol di wajah Ari lalu tertawa tergelak.
"Om, Gale tuh mau kaya momy !" bocah itu lantas masuk ke dalam kamar Shania, naik ke kursi meja rias mengambil beberapa alat make up milik momynya.
"Om ! Jangan dihapusss !" Gale merengut.
"Gale mau ngapain tuh ? Engga-engga jangan !!" tolak Ari, tapi tak kehabisan akal, Gale menggunakan senjata terakhirnya dengan menangis, jika Shania akan pura-pura amnesia maka Gale akan menangis.
"Eh..eh...iya iya..oke," ucap Ari pasrah, Gale mengusap air mata buayanya dari sudut matanya dan mulai menggoreskan lipstik, dan alat make up lainnya di wajah Ari.
"Assalamualaikum !" pekik beberapa orang lainnya.
"Om Loyyy, onty Inez !" pekik Gale.
"Dedek Kia !" gemas Gale menghambur pada Niken yang menggendong anaknya, meninggalkan aktivitasnya.
"Waalaikumsalam,"
"Kaka Gale ! Asikkk, mau punya adek lagi," ujar Melan.
"Iya onty Melan, di dalem pelut momy ada dedeknya. Jadi dedeknya Gale ada dua sekalang !" jawab Gale.
"Kaka Gale belum berangkat sekolah ?" tanya Niken.
"Ini mau ko !" Gale kembali ke karpet dan membereskan alat gambarnya.
Ari baru saja keluar dari kamar mandi, dengan wajah yang masih basah.
"Loe numpang mandi disini Ri, emang di rumah loe ga ada air ?!" tanya Leli.
"Noh ! Tanya ponakan loe, muka ganteng gue dibikin jadi kanvas lukis, gue udah mirip sama joker !" jawab Ari mengelap wajahnya dengan handuk.
__ADS_1
"Ha-ha-ha, jadi kelinci percobaan Gale, selamet..selamet !" tawa Guntur puas lalu mengurut dadanya karena selamat dari aksi jahil Galexia.
"Aku tuh mau make up, make up kaya momy, onty !" jawab Gale dengan gemasnya.
"Sayang, ayo berangkat !" Arka sudah memakai jaketnya dan jam tangan.
"Sayang, sini cuci dulu tangannya. Udah siang, ayah udah siap nganter kaka Gale," ujar Shania membawa putrinya ke wastafel.
"Oke momy," baru saja Shania beres mencuci tangannya, bocah itu sudah kembali berlari.
"Snowyyy !!!" panggil Gale pada kelinci putihnya.
"Gale sekolah dulu ya, jangan nakal di lumah, nulut sama momynya Gale ya snowyy, baik-baikin momy, bial dikasih makan enak, dibuatin cake elsa, dikasih ayam goleng, dikasih puding mangga !" monolog Gale pada kelinci putihnya seraya duduk melantai mengusap usap bulu putih nan bersih kelinci miliknya.
(Gale sekolah dulu ya, jangan nakal dirumah, nurut sama momynya Gale ya snowy, baik-baikin momy biar dikasih makan enak, dibuatin cake elsa, dikasih ayam goreng, dikasih puding mangga)
"Kira-kira tuh kelinci ngarti kagak cake elsa yang kaya gimana ?" tanya Guntur pada Ari, Deni dan Roy.
"Gue heran aja Tur, tuh kelinci makanannya lebih elit daripada loe !"
"Bwahahahahaha !" seketika tawa meledak dari mereka.
"Oyy, anak gue kaget !" sarkas Niken.
"Onty, om om. Gale sekolah dulu ya !" salim Gale.
"Iya sayang."
"Dedek Kia, kaka Gale sekolah dulu ya !" pamitnya pada anak Niken.
"Nenek, bi Atun. Gale sekolah dulu !" salimnya takzim.
"Iya cantik."
"Momy, Gale sekolah dulu."
"Wokeh cantiknya momy, hati-hati, yang bener sekolahnya ya. Kalo ada yang usil, hajar aja !" bisik Shania tertawa
"Sha," tegur Arka.
"Iya momy, dedek...baik-baik di pelut momy ya, kaka sekolah dulu. Nanti kaka ajak dedek maen sama snowy ya !" kekeh bocah itu mengecup perut Shania.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Shania mengantar keduanya sampai di pagar, melihat pria matang yang dulu selalu bersikap dingin padanya, bahkan sering menghukumnya di sekolah kini begitu manis dan lucu mencangklok tas kelinci merah muda plus hiasan telinga di salah satu pundaknya, satu tangan menggandeng putri kecilnya yang berjingkrak-jingkrak pecicilan. Hatinya terenyuh...
"Shania !!!!! Kamu tidur ?! Keliling lapangan basket 5 putaran !"
"Dasar ceroboh !"
"Silahkan tanda tangan perjanjian ini !"
"Kamu tidur di ranjang, biar saya di kasur lipat,"
Lamunan Shania buyar saat Gale berteriak.
"Bye-bye momyyy !!!"
"Bye kaka Gale !!!" balas Shania.
.
.
__ADS_1
.
Hai hai guys, Jika kalian berfikir. Min, ko ini ceritanya kaya mau udahan ? Karena memang betul, kita sudah sampai di ujung, hanya tinggal 1atau 2 part lagi, dan kisah mak Malin, pak Arka, kaka Gale sama geng kurawa selesai. Jadi tunggu part terakhirnya besok ya !😘