Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Semoga lancar sayang


__ADS_3

"Aduh maaf sekali pak, saya sedang mengajukan cuti dan sedang berada di luar kota. Begini saja pak, bapak bisa pilih option rumah sakit untuk bantu mereservasi ulang rumah sakit lain sebagai alternatif tempat melahirkan secara caesar, tapi menurut pemeriksaan saya selama ini, mbak Shania tidak mengalami keluhan apapun selain dari stress yang kemarin, overall semuanya baik-baik saja, normal dan sehat, saya sarankan untuk lahiran normal saja di rumah sakit atau rumah bersalin terdekat saja, takutnya bukaan sudah besar....."


Semua penjelasan dokter Rani membuatnya semakin dilema.


"Dim, bisa jemput ibu ? Saya pulang duluan !" pintanya.


"Oke, " jawab Dimas tak banyak bertanya kali ini, tidak seperti biasanya, tumben sekali. Ia segera melepas appron yang menempel di badannya.


"Sebentar lagi ibu sampai di stasiun, sebaiknya sekarang saja."


Arka memakai motor sejuta umat milik Shania yang terparkir beberapa hari di Route 78 untuk pulang.


"Mas Arka buru-buru banget," gumam Sifa.


"Kebelet kali, " jawab Arga.


Sebuah mobil berwarna putih yang ia kenali sudah terparkir di halaman, itu tandanya bunda sudah disini.


"Assalamualaikum, "


"Waalaikumsalam, loh mas ?! Ibu mana ?" tanya Shania sambil meringis, cara berjalannya menyambut Arka pun sangat pelan dan hati-hati. Gelagat itu sangat terlihat di mata Arka.


"Dijemput Dimas, masih sakit perutnya ?" tanya Arka mengusap-usap perut Shania, tumben sekali biasanya sang jabang bayi akan meresponnya, tapi kini sepertinya sudah anteng di jalan menuju kelahirannya.


"Masih, pinggang Sha panas !" desisnya, Shania menyibakkan poni yang menghalangi dan mengusap keringat yang semakin deras, cepolan rambutnya memang sudah tak beraturan, tapi justru itu tak mengurangi kecantikan Shania, malah aura perempuannya semakin terlihat cantik.


Arka mengusap pipi Shania, demi melihat buliran sebesar biji jagung dari keringatnya.


"Udah makan ?" Shania menggeleng.


"Ga nav su !" ia kembali duduk di samping bunda.


"Neng, ke dokter aja yu !" tangan bunda mengusap lembut penuh pijatan di sepanjang punggung hingga ke pinggang, setidaknya bisa membantu putrinya ini relaks.


"Sha pengen ke air," ditanya apa menjawab apa, Shania rupanya tak fokus pada perkataan bunda.


"Sini mas bantu, " Arka langsung meraih tangan Shania dan membawa ke kamar mandi.


"Ka, bawa ke rumah sakit aja. Kayanya bukaan sudah berjalan," pinta bunda berbisik.


"Biar bunda siapkan peralatannya, kalau sudah pasti, nanti kita beritahu Shania."


Bunda melengos membantu menyiapkan peralatan lahiran, Arka menghela nafasnya, ia harus menyiapkan kosakata yang cocok dan pas untuk menjelaskannya pada Shania agar tak panik, karena bisa jadi lahiran caesar seperti impiannya harus kandas. Ia tau rumah sakit di Jakarta memang tidak hanya satu, tapi untuk keliling-keliling kota Jakarta dan menempuh jarak yang tak dekat juga kemacetan ibukota sembari membawa perempuan yang sudah dalam proses bukaan lahiran bukan ide yang bagus.


"Mas, udah mau ashar gini ngelamun di depan kamar mandi. Mau kesambet jin ?" pertanyaan Shania yang baru membuka pintu kamar mandi membuyarkan lamunannya.


Arka meraih tangan dan merangkul Shania, "iya kesambet jin, jin cantik kaya kamu !"

__ADS_1


Shania mencebik, "dih..gombal, jangan-jangan udah kesambet lagi !"


"Mas ngapain sih nungguin di depan toilet segala, lebay deh !" cibir Shania.


"Takut kamu hilang dari pandangan, " jawabnya.


"Idih mulutnya !" Shania mencomot mulut Arka.


Apa yang Arka pikirkan ? Gombalan kakunya mana bisa menghibur dan membuat Shania tenang saat ini. Bahkan ia saja sudah dilanda rasa panik sejak tadi. Maklum saja jika ia norak dan kampungan, pasalnya ini adalah kali pertamanya menangani istri lahiran, hanya saja paniknya Arka tidak sampai jingkrak-jingkrak dan hebohin orang satu kampung.


"Orang-orang hari ini pada aneh deh, " ujar Shania.


"Aneh kenapa ?" tanya Arka yang membantu Shania duduk tapi gadis ini menepis rangkulan Arka.


"Mas, awas ahhh ! Emangnya Sha penganten sunat, dibantuin sampe kaya gininya banget."


"Mas tumben banget gombal-gombal, ga cocok mas, ga usah mau jadi saingan deni c*@gur !"


"Bunda juga tumben-tumbenan kesini jam segini ?!"


"Emang ga boleh gitu ?" tanya bunda sudah memasukkan tas peralatan ke dalam mobil miliknya.


Arka ingat di dekat kompleksnya ada rumah bersalin, memang tak sebesar rumah sakit tempat Shania sering konsultasi dan periksa kehamilan. Tapi beberapa kali ia melintasi tempat itu dan menurutnya cukup recomended.


"Sha, periksa yu ! Daripada harus gini terus, kan kita ga tau kamu sakit apa ?!" bujuk Arka, bunda pun membantu Arka membujuk Shania, memang paling susah menyuruh Shania berobat dari dulu, karena ujung ujungnya pasti diberi resep obat untuk ditebus. Oh No ! si obat adalah musuh bebuyutannya.


"Aduhh ! Sakit perut aja ribet banget. Sha cuma sakit sama panas gara-gara sambel ahh !" gerutunya.


"Ya udah mau periksa dimana, biar pada ga bawel kalo Sha cuma butuh istirahat aja," jawabnya sewot.


"Yu ! pake dulu swetternya," Arka membantu Shania memakai swetter yang diberikan bunda.


"Ish, Sha bisa sendiri. Dipikir sakit stroke apa ?!" galaknya sambil menatap sengit.


Bunda terkikik menepuk bahu Arka, "yang sabar, Ka..ibu melahirkan maha betul !"


"Buruan mas ! Malah pada ngegosip !" sungutnya yang sudah di luar.


"Iya Sha, " bunda memberikan kunci mobil miliknya.


"Makasih bun,"


"Iya sok, titip Shania...yang sabar ya Ka. Nanti biar bunda nyusul sama ibu,"


Shania memeluk lengan Arka erat dirasa butuh kekuatan untuk berpegangan.


"Ko pake mobil bunda ?" tanya Shania.

__ADS_1


"Kan mobil mas dipake buat jemput ibu,"


"Pake motor aja mas,"


"Takut kamu ga nyaman, atau ada apa-apa nantinya." Tak lagi banyak bicara, Shania menurut saja.


"Neng Sha, kenapa ?" tanya pak Slamet yang tak sengaja melintas depan rumah Arka.


"Wah, udah mau lahiran ya ?! Lancar ya neng Sha," lanjutnya mendo'akan.


"Aamiin pak, " jawab Arka.


Shania sontak menoleh tajam pada Arka, "mas !"


Arka menghela nafasnya, bingung harus menjawab apa.


"Kan orang do'ain Sha, ya kita aamiin kan lah,"


"Ya tapi kan ga sekarang," sewotnya. Semakin ciut saja nyali Arka untuk mengatakan bahwa memang Shania sedang dalam kondisi itu.


Shania duduk tak tenang, tapi ia mencoba menutupi rasa sakitnya. Karena dalam pikirannya, bukan sekarang waktunya ia melahirkan.


Shhhhhh...


Ssshhhhhh....


"Ya Allah, " gumamnya menggigit bibir bawahnya.


Desisan Shania membuat kepala Arka terasa berdenyut, ia memang tak bisa merasakan apa yang Shania rasakan, yang jelas dari gambaran yang Arka lihat, Shania begitu berjuang merasakan sakitnya. Refleks tangannya yang sebelah menggenggam tangan Shania dan sesekali mengusap perut Shania.


"Lancar lancar sayang..." Tapi sejurus kemudian, saat Shania bergerak dari duduknya.


"Mas, ini kenapa basah?" demi mendapati celananya yang basah oleh cairan merah.


.


.


.


Noted


*Option : Pilihan


*Reservasi : Pesan tempat


*Overall : Keseluruhan

__ADS_1


*Blank : kosong


*Recomended : direkomendasikan.


__ADS_2