
"Mas, kantin disini dimana sih ?! Sha aus,"
"Bekal minummu mana ?" tanya Arka.
"Abis,"
"Biar mas yang beli,"
"Biar Sha aja, mas. Masa sering kesini tapi ga tau kantin yang mana !"
"Dari sini lurus, terus belok kanan..nanti dari sana udah keliatan ko, soalnya suka rame,"
"Kirain dari sana belok kiri mentok di kuburan," jawab Shania.
Gadis itu kemudian beranjak, melangkah sesuai arahan Arka.
Ia memutar bola matanya jengah, kenapa tadi ia ngeyel pengen banget pergi ke kantin sendiri, lagipula kenapa harus ada si kuman ini kemana pun ia pergi, ini kampus kan luas.
Hampir saja Shania membalikkan badannya dan mengurungkan niatannya membeli minum. Tapi sayang si kuman melihatnya.
"Shania !"
Emhh, kan...tetot ! Telat balik kanan.
Ia masuk ke dalam kantin dan mengambil apa yang ia butuhkan.
"Mau beli minum ya ?"
"Bukan, iyalah pake nanya !" Gadis ini mulai menunjukkan taring ketidaksukaannya.
Ia terkekeh, "Haus ya...kirain udah pulang."
"So tau, airnya buat ku pake mandi," jawab Shania.
Ia tertawa, "mandi ? Disini ? Wah bisa diintip dong !" godanya.
Shania menatapnya sinis, "boleh intip aja, tapi jangan lari kalo nanti gue berubah jadi berbulu !" jawab Shania.
"Genderuwo maksudnya ?"
"Kalo genderuwonya secantik ini, mau-mau aja lah !" jawabnya lagi.
"Gimana kampus kuning ?" tanyanya, Shania mengangkat alisnya sebelah, pertanyaan absurd yang mengada-ada biar bisa basa-basi.
"Ga gimana-gimana. Emang maunya gimana ?" tanya Shania balik.
"Ya engga sih, welcome aja ya...semoga suka main kesini,"
"Welcome kamu telat, " Shania segera membalikkan badan saat sudah membayar.
Sadar jika ia diikuti, Shania menoleh, "loe ngapain ngikutin gue ?" tanya nya sengit. Shania mulai tak suka dengan sikapnya yang mengekor kemana pun ia pergi layaknya daki.
"Kali aja butuh temen,"
"Temen buat apa ? Gue ga butuh temen. Mati aja sendiri ga rame-rame !" jawabnya sengak, tapi Egi malah tertawa.
"Loe tuh bener-bener kocak abis Sha, keren !"
"Dih, sakit nih orang !" gumam Shania kesal tapi Egi malah terkekeh-kekeh.
"Sha," panggil Arka yang tak tau sejak kapan laki-laki ini sudah ada di depan keduanya.
"Mas," gumam Shania.
"Oh, jadi abang loe juga kuliah disini ? Ini kan Arkala Mahesa, kan ? Sekertaris BEM !" jawab Egi.
"Abang, abang...loe pikir laki gue tukang baso !" sengitnya.
"Dia istri saya bukan adik," tatapan tajam menusuk milik Arka langsung menusuk ke arah retina Egi. Seketika tawanya hilang, wajahnya berubah mendung. Siapapun bisa merasakan aura dingin dari Arka saat ini.
"Ohhh. Apa ?! Istri ?!" Egi menelan ludahnya.
"Iya. Kenapa, ada masalah ? Berharap dia masih single, bisa kamu dekati ?" jawabnya dingin.
__ADS_1
"Engga ka, maaf," jawabnya. Shania menutup mulutnya tak percaya.
"Udah beli minumnya ? Kita pulang, Galexia di rumah sudah nunggu," ucap Arka.
"Iya mas," Shania berlari kecil mendekati Arka sambil mengulum bibirnya menahan tawa. Cemburunya pak guru wow...baru segitu aja anak orang udah ketar ketir susah nelen saliva.
Shania meledakkan tawanya, "mas serem banget sih ! Udah kaya pangeran kegelapan, wajah orang secerah mentari gitu mendadak mendung sama ujan petir !"
Arka menoleh dengan alis mengangkat, disamakan dengan pangeran kegelapan.
"Kamu pecicilan," Arka mencubit pipi Shania.
"Ihh, aww ! Ko jadi Shania yang disalahin, Sha ga ngapa-ngapain juga !" memang dapat Shania lihat sejak awal kedatangannya tadi beberapa mahasiswa sini meliriknya. Ternyata efek kejadian demo sangat dahsyat.
"Kalo kamu denger aturan mas, ga akan ditempelin gitu. Besok-besok ga usah kesini lagi kalo kamu sendirian. Biar mas aja yang ke kampus kamu !" jawabnya.
Shania menusuk-nusuk perut Arka, "cieee, cemburu ya !"
"Bukan cemburu, mas risih..memangnya kamu ga risih ?"
"Kalo Sha bisa liat mas cemburu kaya tadi sih, Sha rela..."
"Maksud kamu, kamu rela di deketin laki-laki lain selain mas ?" tanya Arka.
"Ko pertanyaannya kedengeran kaya Sha istri durhaka ya ?!" Shania mengerutkan dahinya.
"Emang," Arka melengos mendahului Shania yang menghentikan langkahnya.
"Dih !" Shania berdecak. Tapi saat ia akan menyusul Arka, tiba-tiba saja seorang perempuan menghampiri Arka dan mengajaknya mengobrol, membuat radar Shania berbunyi. Karena dari matanya si perempuan menatap Arka kagum, bicaranya saja tak pernah luput memandang Arka sambil tersenyum simpul, meskipun yang diajak ngobrol kaku kaya kanebo yang abis dianggurin di luar.
"Dih, ganjen banget !"
Arka terlihat tengah menjelaskan sesuatu pada si perempuan dengan telaten, dan si perempuan yang mengangguk-angguk, entah paham atau hanya pura-pura paham.
Shania menghentakkan kakinya kesal, jelas saja ! Istrinya malah ditinggal, tapi dia malah asyik-asyikan ngobrol sama cewek lain.
Shania berjalan mendekati keduanya, lalu dengan sengaja ke tengah-tengah dan menubruk keduanya.
"Misi !!!! Hati panas mau lewat !!!" desisnya.
"Sha, astagfirullah."
Shania menoleh berbalik sepaket dengan wajah menyebalkan dan sengaknya, "upps ! Sorry ganggu !"
"Kalo jalan tuh liat, udah tau ada orang lagi ngobrol !!" jawabnya tak terima.
Arka langsung meminta maaf dan meninggalkan si perempuan.
"Maaf penjelasan saya cuma sampai sini saja, kamu bisa minta tolong sama Hendra atau Nathan."
"Terusin aja mas, terusinnnn ! Istri mah buang aja ke tempat sampah," desis Shania lagi.
Tapi tanpa di duga perempuan tadi tak terima karena acara menatap kagumnya di ganggu Shania, si gadis tengil menyebalkan.
"Loe siapa ? Anak jurusan mana ?!" tanya nya.
"Loe tandain muka gue nih, kalo perlu !!!" tantang Shania.
"Sha, udah...lagian mas tadi cuma jelasin materi yang ga dia ngerti. Maaf ya kalo bikin kamu marah," Arka mencoba menenangkan kemarahan momy Gale yang sudah seperti banteng ngamuk.
"Telat !" desis Shania.
"Ih, ga waras !" jawab si perempuan tadi.
"Emang, nama tengah gue tuh, GA WARAS !!" pekik Shania, sebenarnya acara marah-marah di kampus orang bukan termasuk agendanya hari ini, tapi apa mau dikata jika kejadiannya seperti ini, maka dia jual Shania beli.
Perempuan tadi tak menjawab lagi dan hanya melirik Shania sekilas dengan tatapan sinis.
"Apa loe liat-liat ?! Sini, mata loe gue colok !"
"Sha,"
"Apa ?!!! Mas mau juga matanya Sha colok ?! Lagian istri sendiri ditinggal giliran ada yang bening, engga...engga...dia ga bening, tante-tante ! Diladenin!" kesal Shania.
__ADS_1
Arka terkekeh melihat Shania yang berapi-api.
"Cemburunya gantian ya ?" tanya nya.
"Tau ah ! Sha mau pulang sendiri aja,"
"Jangan-jangan mas nyuruh Sha ga kesini lagi, bukan gara-gara si kuman Egi, tapi karena mas ga mau diganggu waktu lagi sama cewek-cewek gatel, iya kan ?!!" sungutnya.
"Lho kok jadi mas yang dicurigain ?"
"Bilang aja iya, emang dasar laki-laki mah sama aja !!! Buaya," gerutunya pergi ingin mengambil tas.
"Sha," susul Arka.
"Ga usah panggil-panggil ! Jangan so kenal !" ketusnya.
Lengkap sudah hubungan mereka, Arka jika cemburu, maka aura kegelapannya akan melingkupi si lawan mainnya, sedangkan Shania kata-kata pedasnya dan keberaniannya akan membuat lawan main gemeteran.
Shania masih cemberut, sejalanan saja ia tak mau memeluk Arka, meski Arka sudah berulang kali memintanya berpegangan.
"Mas mau ke Route 78 Sha,"
"Ya udah, anterin aja Sha pulang dulu !"
Arka mengangguk lalu mengantarkan Shania pulang, tapi ternyata di rumah sudah ada teman-teman geng kurawanya yang sedang mengajak Galexia bermain.
"Loe semua ngapain kesini, tuan rumahnya masih di luar, ga usah jadi tamu kurang aj_ar !" ia berkacak pinggang, bukannya merasa tak enak mereka malah tertawa.
"Gue mau numpang makan," jawab Guntur.
"Ha-ha-ha, dasar anak pungut !" sarkas Deni.
"Ga ada makan-makan. Disini bukan rumah makan, sono pada pergi !" usir Shania.
"Nah kan diusir mak tiri kan," jawab Melan menggendong Galexia.
"Loe kemana dulu sih Sha, kita-kita aja udah disini ?!"
"Mak Malin pacaran dulu guys, sama bapaknya Cinderella !" jawab Ari.
"Ya loe semua ga ada kerjaan banget, sore-sore udah nyatronin rumah orang !" decak Shania.
"Loh ini anak ko_lor ijo satu lagi kemana ?!" tanya Shania saat melihat absennya Roy.
"Entah, ilang ditelan bumi kali !"
"Ga tau ilang ditelan ko_lor bapaknya,"
"Sha, mas ke cafe dulu !" ijin Arka meraih Shania.
"Udah, jangan marah lagi. Mas minta maaf kalo salah," ucapnya.
"Ohhhh, pantesan ketus mulu. Mak lagi marah sama pacarnya !" ujar Guntur.
"Diem loe !" bentak Shania.
"Kalem mak, kalem....jangan makan orang hari ini, belum jadwalnya ! Jadwal mak makan orang tuh malam jum'at pon !" jawab Guntur lagi.
"Ha-ha kimvritt," tawa Deni.
Arka menggendong Galexia sebentar, sangat terlihat bayi gemoy itu sangat merindukan ayahnya. Arka mengecup kening, pipi, mata dan hidung bayi gemoynya.
"Ayah kerja dulu sebentar, baik-baik sama momy, nene, tante, dan om."
Bukan Gale yang menjawab tapi anak geng demit, "iya ayah !!!"
Shania yang semula kesal tak kuat menahan tawa, "geli gue !"
.
.
.
__ADS_1
.