
Dengan mengejutkan ayah menarik namanya dari list donatur BAKTI PERSADA. Ini yang tidak diketahui Shania, ayahnya tak mau Shania mengetahui jika setiap tahunnya ia menggelontorkan sejumlah uang untuk pengayaan alat alat sekolah di BAKTI PERSADA, alasannya sih klasik, agar Shania tidak sombong dan membeda bedakan dirinya dengan teman temannya.
Atas sikap tak mengenakkan yang terjadi di ruang lingkup sekolah pada Shania, ia memutuskan mencabut kucuran dana bantuannya sampai pihak yang bersangkutan ada etikad baik untuk meminta maaf pada Shania, Arka dan keluarga.
"Bisa dituntut itu ! Atas tindakan pencemaran nama baik, perilaku tak menyenangkan," ujar teh Nengsih di ujung telfon sana.
"Oke Neng, makasih !" tutup ayah.
"Ga usah yah, insyaallah Arka dan Shania tidak apa-apa. Arka tidak mau memperpanjang masalah, Arka mau Shania tenang sebelum menghadapi ujian dan melahirkan. Yang ada jika kita melaporkan akan memperpanjang masalah," jawab Arka.
"Sha juga ga apa apa yah, " jawab Shania, ayah melihat putrinya berbeda sekarang. Lebih dewasa dan lebih bijak dalam menghadapi sebuah masalah yang menimpa dirinya meskipun manjanya belum hilang.
Kejadian demi kejadian sampai ke telinga ayah Shania. Ia adalah pribadi keras, tegas, dan berpendirian. Jika sudah begitu ya begitu.
"Ya sudah, terserah kalian saja. Tapi jika ternyata oknum oknum yang meresahkan masih mengganggu. Maka hukum harus bertindak. Tidak bisa mereka mengambil kesimpulan tanpa bukti konkrit, bila perlu kamu tunjukkan buku dan cincin nikah kalian,"
Ayah menyeruput kopinya di sofa tengah, meskipun nada suaranya berapi api tapi ekspresinya tetap tenang.
"Salah ayah yang membiarkan kalian tinggal bersama dulu, " kalimat itu terlontar dari mulut seorang ayah yang baru kali ini menyesali keputusannya selama hidup.
Arka dan Shania saling pandang, lalu menggeleng ke arah ayah.
"Kalau ayah menyesali sudah menikahkan Arka dan Shania, ayah salah.." jawab Arka ambil suara.
"Sha mungkin saat ini masih bandel, Sha mungkin ga seperti sekarang, Sha ga sadar sadar dan masih betah di kehidupan yang ga tau kapan dan sebesar apa peleburan dosanya nanti. Sha akan selalu berfikir kekanakan, dan mungkin bener kata Bimo...kalo Sha murah, udah liatin aurat sama mas Kala tapi lepasin dia gitu aja, Sha ga akan pernah tau yang namanya tanggung jawab," Shania melanjutkan kalimat Arka.
Bunda mengusap punggung putrinya yang sebentar lagi akan menjadi ibu ini.
"Dibalik kejadian selalu ada hikmahnya, dan ternyata ayah tidak salah pilih," bunda meloloskan kalimat bijaknya.
"Besok udah gantung sepatu atuh ?" tanya nya.
"Gantung sepatu warrior maksudnya ?" tanya Shania, dan bunda mengangguk.
"Kan masih ada UN, ada UAS juga !" jawab Shania.
"Hooh lah, poho (lupa) !" jawab bunda.
"Maklum ges rek incuan," tambahnya seraya mengusap perut Shania.
(maklum udah mau punya cucu)
"Eh eh...nendang !!" seru bunda melihat ke arah perut Shania.
__ADS_1
"Berarti UAS tuh pas awal puasa ?" tanya ayah, Arka mengangguk.
"Iya, "
"Bagi rapot ? masih puasa ?" tanya ayah lagi.
"Iya, yah.."
"Hm, langsung daftar kuliah dulu..nanti abis lebaran kita ke Bandung !" ajak ayah.
"Kuy ahh, gaskeun !" seru Shania.
Keduanya pulang menggunakan mobil, sedangkan motor Shania menjadi penghuni tetap Route 78.
"Mas, Sha tuh lahiran pas udah UN sebelum UAS kayanya yah ?!" tanya Shania sedang meminum susu-nya.
"Iya, " seperti biasa, laki laki ini meskipun sudah pulang ke rumah tetap mengerjakan tugasnya yang seabrek. Laporan pendapatan dan pengeluaran angkringan, memeriksa tugas tugas anak didiknya, terkadang jika santai ia akan menyempatkan membuat modul untuk hafalan dan latihan Shania.
"Gimana sekolah baru mas ? Sha ngiri deh sama murid barunya mas, ketemu guru gantenggggg... !" Shania merengutkan bibirnya dan menumpukkan dagunya di pundak Arka malas, demi melihat setumpuk buku catatan di samping laptop dan tabel pendapatan/pengeluaran angkringan di laman laptopnya.
"Biasa aja, " jawabnya lempeng, ngenggg ! kaya laju mobil di jalan tol tanpa hambatan ga mau jelasin panjang lebar tetep datar dan lurus. Selalu kaya gini, kalo kesannya Arka dingin, itu memang sudah biasa.
"Mas, reaksi kamu tuh kalo ngobrol sama orang tinggal di siramin sirup !"
"Maksudnya ?"
"Emangnya harus gimana, cengar cengir kaya orang ga waras gitu ?" tanya Arka.
"Ya engga gitu juga mas, amit amit ya Allah !" Shania mengusap usap perutnya.
"Apanya yang amit amit ?"
"Itu !" tunjuk Shania ke wajah Arka.
"Jangan sampe anak kita dingin kaya gitu, ntar pada dikatain.." tawa Shania.
"Sembarangan, " jawabnya kembali menoleh pada laptopnya.
Shania yang suntuk melihat ke arah tumpukan buku di depan meja, meraih salah satu buku catatan bersampul kertas kado diantara beragam warna sampul buku.
"Ini ko gini sampul bukunya, love love pink gini, gelayyy ! Kaya mau ngasih kado ke pacar aja, ini apalagi pake koran, ga modal apa emang sengaja ?! " kritik Shania sambil tertawa mendengus menunjuk buku lainnya.
"Ga tau," acuh Arka menggidikkan bahunya.
__ADS_1
"Emang boleh sampul buku pake kertas kado gini, " Shania melirik namanya bertuliskan Lita Diana kelas X B.
"Ya seharusnya sih ga boleh ya, kurang sopan saja, memang tidak wajibkan memakai yang coklat, hanya saja biar lebih sopan, seragam dan rapi disarankan pake yang coklat."
Shania membuka buku catatan itu, awalnya tulisannya hanya terdapat setengah setengah halaman. Lembaran demi lembaran Shania buka, hingga ke 4 lembaran terakhir isinya lebih full sampai batas bawah, tak ada yang aneh sampai ia menyimpan kembali dengan posisi buku terbalik, dan sampulnya tak sengaja terbuka, tepat di halaman terakhir ada beberapa tulisan gabut si pemilik buku.
Mata Shania membulat sempurna, dengan alis yang menukik tajam bagai jalanan menurun.
"Apa apaan nih !" sengitnya, Arka sontak menoleh.
"Kenapa?" tanya nya.
Lita love Arkala...
Pak Arka miss you...
LiAr (Lita Arkala) polepel...
The weeding day Lita 💓 Arkala tgl...
"Gue sobekin juga bukunya, gue acak acak juga nih buku buat bungkus gorengan mang Mamat !" mulutnya sudah berapi api seperti naga demi mendapati tulisan yang bisa dikatakan halu tingkat dewa Poseidon milik salah satu murid Arka.
"Kenapa... kenapa ?! ga liat ini !" Shania membuka lembaran tugas milik Lita dan dengan seenaknya meraih pulpen Arka untuk membubuhi nilai 0 besar di pojok kanan bawah, padahal terlihat jelas jika jawaban si murid ini hampir betul semua.
"Ini nol !!! Nol banget nilainya !! dia salah tuh, salah semua, hidup aja salah !!!" seraya menyimpan kasar buku dan beranjak dari kursi meninggalkan Arka yang memanggil manggilnya.
"Sha !"
"Sha ! Ko dikasih nilai nol ?" tanya nya.
"Pake nanya, bilangin baliknya Sha tungguin di perempatan !" pekiknya masuk kamar.
"Ngajak ribut nih cabe level 1!"
Arka tertawa melihat tulisan anak didiknya yang membuat Shania sampai kebakaran jenggot begitu, ia menggelengkan kepalanya demi melihat bentuk kekesalan Shania.
.
.
.
.
__ADS_1
Note
*Gabut : di deskripsikan sebagai kondisi dimana seseorang tidak melakukan aktivitas apapun hingga berujung bosan dan badmood.