
She loves him
Shania Cleoza
******
"Biar mas buka pintu dulu, " Arka beranjak dari ranjang, dan segera memungut pakaiannya, ia membuka pintu kamar dan menutupnya kembali.
Shania mencoba untuk duduk, "Aw, sakit juga beginian. Capek ! kaya abis main basket sama rival kuat," ia menggeser duduknya, malas untuk bangun karena rasa mengganjal dan perih masih tertinggal di bawah sana. Shania mencoba menggusur koper, namun selimut yang ia tahan malah melorot.
Ia membelalakkan matanya.
"Apaan nih ?! Mas Kala !" giginya menggertak demi mendapati totol totol di kulit putihnya seperti guguk dalmation hanya saja berwarna merah keunguan.
Ia beranjak dari tepian ranjang, mengumpulkan sisa sisa tenaganya, penasaran ingin meraih cermin. Tangannya tetap berada di depan dada, mendekap selimut yang menutupi badan polosnya.
"Anj*rrriitt ! penuh banget, " Shania melongo tak percaya.
"Mana gue udah kaya orang gila gini, badan polosan sama rambut acak acakan !" ia membolak balikkan badannya, melihat keseluruhan badannya dari sisi kiri dan kanan.
Ia jadi mengingat Maya, ternyata melayani seorang pria apalagi untuk pertama kalinya bukan hal yang mudah. Sampai sebegitunya Maya mengorbankan kehormatannya demi uang. Belum lagi dengan laki laki yang berbeda beda.
"Naudzubillah, " gumamnya.
"Apanya yang naudzubillah ?" Arka masuk ke dalam kamar, Shania menoleh.
"Ngeliat tampilan Sha sekarang, kaya odgj, mana totol totol kaya guguk dalmation !" sewotnya.
Arka tertawa, ia memeluk Shania dari belakang.
"Masih sakit engga ?"
"Dikit, masih ngilu sama perih, kaya punya-nya mas masih ketinggalan disitu !"
"Kalo gitu mesti lanjut, " Arka membalikkan tubuh berbalut selimut seperti lemper ini.
Melihat bibir Shania yang cemberut membuatnya ingin melahapnya kembali.
"Mas nakal banget sih ! ini leher sampe dada Sha penuh gini !!" ia memukul dada Arka.
"Belum penuh itu, rencananya mau ditambah lagi !" ia menaik turunkan alisnya.
"Sha lapar ! tau bakalan cape begini tadi Sha ngikut makan dulu sama Banyu !" omelnya.
"Mau makan ? mas beliin," tawarnya masih memeluk Shania, mengusap punggung yang tertutupi selimut.
"Mas tadi bilang apa sama anak anak, "
"Kamu tidur, " jawabnya.
"Ibu ?"
"Ada, mau pengajian rutin."
"Jadi ibu mau pergi lagi ?" tanya Shania.
"Iya, " angguk Arka.
"Oh, "
"Mas beliin kamu makan ya, kamu mandi !"
------------
"Mas, banyak banget ! Perut Sha bukan tong sampah, " Shania mendapati banyak menu makan siang kesoreannya di meja makan.
__ADS_1
"Ga apa apa cadangan tenaga buat nanti malem, "
"Ga ada nanti malem nanti maleman, nanti insomnia-nya Sha balik lagi !" jawabnya di sela sela kunyahan.
"Mbak Sha !!"
Ternyata Banyu datang lagi dengan membawa sepiring belut goreng.
"Masuk Nyu !" pinta Arka dan Shania.
"Mbak Sha baru bangun ?" Shania melirik Arka dengan mendelik, bisa bisanya seorang guru mengajarkan berbohong.
"Iya Nyu, maaf ya !" ringisnya.
"Ndak apa apa mbak, ini hasil kita ambil welut ! udah digoreng tadi, " Shania mengambil potongan belut di piring yang dibawa Banyu.
"Enak mbak ?" tanya Banyu, duduk di kursi sebrang Shania. Sedangkan Arka memperhatikan keduanya.
"Enak Nyu, kayanya karena masih fresh gitu dari sawah !" seru Shania.
"Mbak, " Banyu menautkan alisnya, membuat Shania mendongak dengan mulut penuh nasi.
"Hm, "
"Mbak alergi belut ya ?" tanya Banyu.
Shania melirik Arka, seakan menanyakan what's wrong ? (ada yang salah ?)
"Emang kenapa ?" beo Shania mengunyah nasinya.
"Itu lehernya merah merah gitu, kaya Banyu kalo makan udang suka merah merah banyak !" mata Shania membola sampai hampir keluar dari tempatnya.
Matanya beralih menatap sengit pada Arka yang memasang wajah tanpa dosanya.
"Cih, cuci tangan banget nih pelakunya !" gumamnya.
"Oh ! Baru tau Banyu, padhe..kalo ada orang alergi belut sawah !" jawab Banyu.
"Iya Nyu, apalagi kalo yang kepalanya gede terus bertaring kaya vampir !" jawab Shania melotot pada Arka.
"Ah, mbak Sha ada ada aja, mana ada belut kaya vampir !" tawa Banyu.
"Ini cuacanya enak buat main layangan mbak ! udah sore tapi masih cerah dan berangin, " Shania ingin sekali, tapi badannya terasa sangat lelah karena aktivitas yang baru ia jalani bersama Arka.
"Mbak Sha nonton aja deh Nyu di pinggiran, lemes banget !" Arka menyunggingkan senyumnya.
"Lemes ?!" ini semakin tak masuk akal menurut Banyu, bukankah little budhenya ini baru saja bangun tidur.
"Mbak Sha sakit, atau lagi hamil ?" soalnya ibunya pun begitu dulu waktu hamil adiknya, suka tidur menjelang sore lalu badannya mudah sekali lemas.
"Uhukkk...uhukkk !!" suapan terakhir yang merupakan gong-nya sebuah kudapan, menyembur bebas dari mulut Shania.
"Biar padhe aja yang ikut main, budhe Sha jadi penonton aja, dia ga bisa main layangan," potong Arka.
"Asikk, yu padhe..Banyu tunggu di lapangan dekat rumah mbah !" anak laki laki berkulit sawo matang itu berlari keluar rumah untuk menyiapkan layangan beserta tali senarnya.
"Gara gara mas nih !!!" decaknya memukul bahu Arka.
"Mau pake motor ke rumah mbah nya ?" tawar Arka.
"Lebay ahh, gak usah ! " jawab Shania.
"Ya udah jalannya pelan aja !"
Shania berjalan memeluk lengan Arka, lebih tepatnya menjadikan lengan Arka sebagai pegangannya.
__ADS_1
Baru kali ini ia berjalan dengan pak guru ini diliputi hati berbunga bunga, begitupun Arka. Ternyata efek malam pertama begitu dahsyat.
"Mbak ! padhe !"
"Budhe Nyu, " ralat ibunya. Disana pun ada padhe Parjo, kaka ibu Arka yang duduk di atas kursi roda akibat stroke, mungkin sedang menikmati udara senja yang memang indah.
"Ibu besok mau anter padhe Parjo kontrol diantar paklek Parman, " ucap Arka, Shania mengangguk.
"Mau ikut ? sekalian jalan jalan ?" tanya Arka, tentu saja Shania mengangguk.
"Tapi nanti malam, siap siap olahraga dulu ya !" wajah Shania merona sekaligus malu dan kesal, ia menepuk kembali bahu Arka.
"Padhe, mbak Tias, mbak Retno, Nanang," Shania menyapa satu persatu orang yang ada disana dan menyalaminya takzim lalu duduk di samping Tias.
Arka bergabung dengan anak anak sd itu, berbaur memasang tali timba di layangan pilihannya. Nanang yang ada disana ikut bergabung.
"Mbak Sha, Banyu bilang alergi welut to mbak ? oalah...maaf mbak Tias ndak tau, " ujar Tias.
"Ga apa apa mbak, " ringis Shania, karena ulah Arka, ia jadi harus membohongi semua orang begini.
Dilihatnya Retno. Selama melihat Retno, Shania bisa menyimpulkan jika wanita ini memang pendiam, ia hanya melemparkan senyuman kalemnya. Namun, dapat Shania lihat jika perempuan ini sampai kini masih menyiratkan sebuah perasaan terhadap suaminya. Tatapan Retno pada Arka tak dapat berbohong.
She loves him...
Dia [perempuan] mencintai-nya [laki-laki]
"Woahhhh ! layangan padhe Arka tinggi !!" seru Banyu dan Rio memecah lamunan Shania.
"Wahhh, jauhnya mas !" ucap Shania.
"Mas ! tuh ada layangan lain !" tunjuk Shania.
Arka mengarahkan layangannya untuk ke arah layangan itu, ternyata sang lawan mengajaknya beradu.
"Padhe, ngajak adu tuh !" tunjuk Rio.
"Boleh, kamu jual aku beli !" jawabnya mengambil ancang ancang mengangkat gulungan senarnya.
Para laki laki itu malah asik, Nanang dan Arka terbawa suasana ke masa masa saat mereka masih kecil.
"Dih, ga tau umur !" decih Shania.
"Sini Sha, temenin mas ! Mau ikutan ngga ?" pinta Arka.
"Sha ga bisa mas, "
"Biar nanti mas ajarin, ini cuma tinggal dipegang aja !" jawabnya.
Shania mendekat, begitu pun Arka yang menyerahkan tali layangan.
"Awas mbak Sha, layangannya nyungseb !" ledek Nanang dan Banyu.
"Kalo nyungseb berarti bukan rejeki ," jawab Shania. Melihat Shania yang kegirangan memegang layangan membuat Arka ikut senang. Retno dapat melihat itu.
Shania beruntung, dari tatapan tulus Arka saja sudah terlihat jika Arka menyayanginya, takut kehilangan gadis itu.
"Assalamualiakum, " ibu bersama ibu ibu tetangga baru saja pulang dari masjid.
"Waalaikumsalam, " ibu memperkenalkan Shania pada teman temannya.
Satu kata yang keluar dari mulut mereka dan sependapat, CAH AYU...
.
.
__ADS_1
.
.