
Belum marching band mengakhiri aksinya, anak modern dance sudah memasuki lapangan untuk melakukan aksi epicnya, seperti sebuah penampilan di parade yang saling bersambung. Saat barisan anak marching band kebanggaan SMA BP beranjak meninggalkan lapangan suara musik dari pemutar yang disambungkan melalui sound di setiap sudut memperdengarkan remix lagu lagu barat dan k-pop dengan liukkan gerakan badan anak anak ekskul dancer, sorakan beserta tepukan tangan kagum kembali menggema di lapangan tiap penampil memiliki waktu 5 sampai 10 menit untuk tampil.
Saat musik berhenti, mata para audiens langsung mengedar ke arah podium, dimana anak ekskul cheers sudah bersiap dengan formasi nya, dengan seragam biru pink mereka bergerak lincah, sesekali menampilkan aksi saling lempar tubuh ke atas, dan split. Gerakan yang cukup ekstrem hasil latihan mereka selama mengikuti ekskul cheers, rata rata dari mereka bertubuh ramping bahkan terkesan kecil, dan terakhir mereka membentuk piramid manusia dengan membentangkan spanduk kecil bertuliskan SMA BAKTI PERSADA di puncaknya.
Para siswa baru tak henti hentinya berdecak kagum. Disaat piramida manusia yang dibentuk sudah mulai meninggalkan podium, di lapangan sudah bersiap anak seni tari jaipong dan seni gamelan, dengan busana kebaya khas penari jaipong, patahan patahan dan gerakan luwesnya patut diacungi jempol, begitu pula dengan iringan musik gamelan anak anak seni. Mega salah satu anak jaipong bahkan sudah sering wara wiri di acara nasional. Setiap pergantian penampilan tak luput dari kerja keras anak anak OSIS yang bersiap mengganti setiap properti penunjang penampilan.
Anak angklung membawakan lagu rayuan pulau kelapa dan kopi dangdut, membuat suasana siang hari semakin hidup. Drama teater Roro Jonggrang mengubah mimik wajah para audiens karena ketragisan kisah cinta Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, begitupun tepukan tangan mereka untuk projek sains dari anak anak club sains seakan membawa mereka melintasi bima sakti ke ribuan tahun yang lalu. Bagaimana alam tercipta sepaket Indonesia yang dikelilingi oleh gunung berapi, bersama alat peraga yang dipadukan reaksi kimia yang nyata dan pidato in english ala anak anak english club. Selesai dengan aktivitas seni, mereka melanjutkan dengan tampilan marawis, gambus dan pelafalan ayat suci Al-Qur'an oleh Qori dan Qori'ah SMA BAKTI PERSADA, Lailatul Husna adalah salah satu anak Rohis yang pernah mengikuti lomba MTQ tingkat nasional di JABAR tahun lalu. Sejenak semuanya khusyuk dengan lantunan ayat yang di lafalkan oleh Husna.
"Break dulu oy break, solat dzuhur !" pekik Reza si ketos pada anggota OSIS lainnya.
Acara di istirahatkan dahulu, semua siswa yang muslim bersiap menuju mushola sekolah.
"Sha, solat dulu !" ajak Melan, Shania baru saja mengecek ponselnya, melihat pesan dari Arka untuknya beberapa jam yang lalu.
"Pantes aja ga ada, langsung ngacir ke kampus," gumamnya.
"Iya Mel, " Shania mengambil mukena miliknya di tas ceklisnya, bersama Melan menuju mushola.
Terkadang anak anak baru sudah tak asing dengan namanya, hingga terkadang tersenyum dan memanggilnya.
"Widih, udah kaya artis !" senggol Melan.
"Ck, ga suka lah gue," decak Shania.
Menuruni anak tangga menuju tempat wudhu, mereka harus bergantian untuk mengambil air wudhu, dikarenakan banyaknya siswa yang melaksanakan solat dzuhur. Selintas siluet tubuh Arka melewat di depannya, ia sedang menurunkan lengan bajunya yang di linting agar tak basah.
"Dih, udah balik lagi ?!"
"Siapa Sha, yang udah balik ?" tanya Melan di samping Shania.
"Engga Mel, bukan siapa siapa," ia tersenyum getir.
Shania celingukan mencari sosok Arka diantara tubuh tegap para guru dan siswa, tapi hasilnya nihil. Ia menggidikkan bahunya lalu melanjutkan memakai mukena warna ungunya. Shania berderet di shaf paling belakang dekat dengan jendela.
"Assalamualaikum ya ukhti !!" ia tergelonjak kaget mendengar suara cempreng dan heboh.
"Saraf ihhh, kaget gue !" keenam makhluk itu tertawa. Dari jendela keenam temannya baru datang ke mushola. Deni, Ari, Guntur, Leli, Roy, dan Niken.
Melan malah tertawa, "loe ber4 ngapain kesini, insyaf loe ? Ga takut kepanasan ?" tanya Melan.
"Si@*lan ! di pikir gue s3tan, " ketus Roy.
"Hay honey, duh..adem liat calon makhrom pake mukena !" sontak Roy dihadiahi toyoran dari yang lain.
"Masuk masuk oyyy ! ngapain kesini kalo cuma mau nengok doang," pinta Shania.
"Gue cuma liat, kalo mushola rame gue ga jadi ikut tidur disini, " kekeh Ari.
"Saravvv njirr !"
"Begini nih calon ahli neraka !" sarkas Deni.
"Lha loe apa kabar Den ?"
"Dia kan udah nyimpen kursi di kerak neraka !" tuduh Leli.
"Wah..wah...nih si mulut mercon minta di cipox !" ujar Guntur.
"Sutt oyy ! Masuk ga loe pada ! ambil wudhu dulu sono !" suruh Shania.
__ADS_1
"Tuh dengerin ! mamah Shania lagi ceramah !" imbuh Melan.
"Luruskan shaf nya !" pinta imam.
"Buru !!! awas kalo pada ga solat, gue gantung di ring basket !" Shania melotot. Saat ia berbalik ternyata dari depan sana, shaf ke dua, Arka sedang melihatnya.
Sesaat keduanya saling bertatapan, tapi Shania segera memutus pandangan keduanya, takut membuat yang lain curiga. Dan benar saja, Melan menyadari hal itu.
"Sha, "
"Hm, "
"Dari tadi pak Arka liatin loe terus deh, ada apa sih ?"
"Au, tanya aja orangnya. Berani ngga ?" ujar Shania terlihat so sibuk membenarkan mukenanya yang terinjak.
"Ga berani," kekehnya.
"Makanya gue tanya sama loe, masa sih pak Arka suka sama loe, aneh ga sih ?" Shania sedikit terkejut demi mendengar pertanyaan yang seperti pernyataan dari mulut Melan.
"Ah masa sih, "
"Makanya. Tapi tatapannya itu loh, kaya...orang lagi sayang gitu, kaya..."
"Ck, udah lah ! ga usah dibahas !" tepis Shania.
"Mas Kala ngapain sih liatin terus kaya gitu !" benaknya.
Setelah selesai solat dzuhur, satu persatu mulai meninggalkan mushola.
"Sha, bisa ke ruang guru sebentar ?!" saat Shania dan Melan tengah memakai sepatu di teras mushola.
"Sha, " Melan menyenggol, sedangkan Shania sudah tau itu suara Arka.
Shania mengekor di belakang Arka.
"Mas, udah lama balik lagi kesininya ?" tanya nya sedikit bergumam, melewati beberapa murid yang berseliweran.
"Baru, mas beli dulu makan. Kamu udah makan belum ?"
"Belum, kalo makan takut sakit perutnya mas. Kan mau demo bentar lagi, "
Keduanya sampai di ruang guru, Shania melihat dua buah paper bag berwarna coklat berlogo Route 78.
"Ya udah, nanti kamu makan kalo udah selesai."
Arka menyerahkan makan siang Shania, Arka tidak seuwu pasangan muda seperti teman teman Shania, yang harus selalu bertukar pesan tiap menit sambil sayang sayangan, ataupun selalu bergandengan tangan kemanapun mereka pergi. Tapi perhatiannya ini, yang membuat Shania selalu bisa tersenyum.
"Emh, wangi banget. Mas bawain aku apa ?"
"Nasi bakar, sama ayam goreng. Minumnya teh manis dingin. Ada choco lava juga. Favorit kamu, " Shania berkali kali menyunggingkan senyumnya.
"Ada sambelnya ga mas ? Sha pengen yang pedes pedes ih !" tanya nya.
"Ada, mas tau kamu suka yang pedes."
"Makasih, mas !" bisiknya.
"Kalo gitu Sha balik dulu, mas makan aja duluan," pamit Shania mengambil salah satu paper bagnya.
__ADS_1
Shania berjalan dengan membawa paper bag dan tas mukenanya menuju ruangan ekskul basket.
"Duh, perut gue ko ga enak gini sih ! apa gue masuk angin ya ?! Gawat ! Masa mau tampil malah ga enak perut, " ia celingukan, "Ris.. Riska !!!"
"Iya ka, " untung saja ada Riska.
"Gue titip ini dong, minta tolong bawain ke ruang basket !"
"Oh boleh, emh wangi ! Makan siangnya ya kak ?!" Shania mengangguk.
"Gue kebelet ! Sorry ya repotin !" ringisnya.
"Ga apa apa,"
Riska menerima tas mukena dan paper bag makan siangnya, lalu kemudian Shania masuk ke dalam toilet.
Shania ragu, karena rasa tak enak ini bukanlah seperti yang ia rasakan tiap pagi.
"Apa gara gara semaleman gue tidur toplesan, jadi masuk angin ya ?! perasaan di pelukin," gumamnya, ia segera membasuh wajahnya dan kembali ke ruangan basket.
"Guys bentar lagi kita tampil, "
"Sha, loe darimana ?"
"Dari toilet, "
"Loe sakit Sha ?" tanya Cakra.
"Kayanya cuma masuk angin, tapi ga apa apa lah. Cuma di olesin minyak kayu putih juga baikan, lagian gue ga kenapa napa !" jawabnya mengambil kayu putih dari dalam tas ceklisnya, yang selalu ia bawa.
"Oh gitu," namun tanpa permisi Cakra menempelkan punggung tangannya di kening Shania.
"Sorry, " ucapnya sebelum menempelkan tangannya.
"Eh, "
"Ekhemmm, cie..cie !" deheman anak anak basket, sebenarnya mereka sering menjodoh jodohkan Shania dan Cakra. Bahkan mereka tau peristiwa pernyataan cinta Cakra, tapi mereka tak mengerti, Shania selalu menolak Cakra. Padahal di mata yang lain keduanya pasangan cocok.
"Gue ga kenapa napa Cak, "
"Badan loe anget Sha, "
"Gue ga apa apa !" tegas Shania.
"Ya udah 'serah loe Sha, tapi kalo loe ngerasa ada yang sakit, gue minta jangan dipaksain."
Shania mengangguk.
"Oke guys here we go !!!" Devan sangat antusias dengan penampilan anak basket dibawah kepemimpinannya.
"Santai Van, ga usah grogi !" Cakra menepuk pundak juniornya ini.
"Hehe..iya ka, takut gagal !" jawabnya
.
.
.
__ADS_1
.
.