Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Cantik


__ADS_3

Rangkaian melati menutupi bahu seputih susu milik Shania. Dengan bando yang senada membuat Shania seperti kembali menjadi calon pengantin. Cahaya wanita hamil selalu terpancar darinya, membuat Shania terlihat sangat cantik meskipun dengan badan yang membengkak di beberapa bagian.


"Dulu tuh mau nikah ga begini begini amat deh," omelnya menatap ke layar cermin, sosok gadis..ralat ! Perempuan dengan perut buncit memakai kemben samping coklat dan untaian melati berdiri di dampingi suami guru-nya. Mematahkan kalimat anggun dan kalem dari tampilannya karena sifat penggerutu, terkesan seperti sosok angry bird.


"Ya udah, berarti sekarang ngerasain kan, biar nanti kamu ga penasaran. Nanti bunga melati tetangga kamu cabutin," jawab Arka.


"Dih ! Ga ada kerjaan banget mas, nyolongin tanaman orang !" cebiknya menyunggingkan bibir nyinyir layaknya host berita gosip.


Arka membantu Shania berjalan di tengah keramaian dengan sesekali mengusap lembut perut buncit Shania dan mendapat respon positif dari dalam dengan menendang perut Shania, hingga perutnya bergoyang goyang seperti jelly.


"Mas, ihh ! Anaknya jangan di ajak main terus, nanti Sha pengen pipis, ngilu !!" keluhnya mengomel seraya memukul dada dan lengan Arka dengan kepalan tangannya membuat Arka malah tertawa kecil, tiada hari tanpa omelan si natckal ini bagai sayur tanpa garam buat Arka. Sepertinya nanti Arka dan si bayi akan menjadi sekutu abadi membuat Shania senantiasa mengeluarkan suara 8 oktaf dari dalam mulutnya dan mengepulkan asap kekesalan dari kupingnya.


Halaman sudah disulap menjadi tempat untuknya mengadakan prosesi siraman, dengan bunga dan janur di tempel di beberapa sudut rumah, dibalut nuansa maroon dan gold. Disana sudah banyak yang menunggu Shania dan Arka, termasuk saat perempuan paruh baya, lengkap dengan kebayanya yang bunda sewa untuk membawakan acara Tingkeban ini mempersilahkan Shania duduk di tempat yang sudah disediakan.


Tak ada yang spesial disana, sama seperti prosesi Tingkeban pada umumnya, Shania duduk di kursi berdampingan dengan sebuah gentong besar berisi air dan bunga setaman.


Air bunga setaman mengalir dari ujung kepala hingga ujung kaki diguyurkan oleh suami dan anggota keluarga lainnya diiringi pembacaan step by stepnya oleh pembawa acara.


"Mas, ihh ! kalo gigit gimana ?" serunya.


"Engga, kan mas yang pegang. Cuma disentuhin aja badan licinnya di perut," Shania awalnya ogah ogahan. Melihatnya saja sudah geli, tapi berhubung tak memiliki pilihan lain, Shania hanya bisa memejamkan matanya dan berlindung di lengan baju Arka.


"Geli tau," ia menggelinjang kegelian di balik lengan baju Arka.


Arka meloloskan belut dan dua buah kelapa melewati kain yang Shania kenakan berukirkan wajah Dewi Kamaratih dan Dewa Kamajaya, jika di sunda ukiran wajah RamaSinta sebagai lambang wajah bayi yang rupawan layaknya kedua dewa dewi.


"Dingin ngga ?" Arka memegang dan membantu mengganti kain basah yang dipakai Shania.


"Dingin lah ! Baru kali ini Sha mandi ditontonin begini mas, malu !" tukasnya sedikit berbisik.


Arka membelah kedua buah kelapa yang akan menjadi simbol sebagai pembuka jalan lahir bagi anak keduanya atas permintaan pembawa acara,


Geprakkk !!!


Dengan sekali tebasan satu kelapa terbelah, dan merembeskan airnya dari dalam. Begitu pula untuk kelapa yang kedua.


"Widihhh ! Satu kali tebasan bruh !" decak kagum Ari.


"Bisa lah gue pinjem goloknya, kalo mau ribut di jalan !" Deni menaik turunkan alisnya yang sontak di geplak Niken.


"Sembarangan !!! mau ngapain loe ?! " sarkasnya.


"Ga tau goloknya yang tajem, atau emang pak Arka yang kuat, " ujar Leli.


"Kayanya dua-duanya," bisik Melan.


Bunda menyerahkan sebuah kendi berisikan permen, uang logam, uang kertas dan bunga setaman di dalamnya pada Arka.


"Mungkin ini ya ?! yang ditunggu hadirin. Dipersilahkan untuk para hadirin yang mau ikut acara saweran, tapi jangan rusuh dan tertib," bukan hanya anak muda yang ikut berdiri dan berbaris yang tua-tua pun tak mau kalah. Besarnya antusias mereka, membuat Arka, bunda, ayah dan ibu menyiapkan kendi tambahan untuk saweran.


Shania dibawa mundur dahulu, berjaga-jaga untuk mencegah tertubruk atau terdorong.


"Awas lo ! Jangan dorong dorong oyyy !" pekik Roy.


"Lo geser elah !"


"Hahaha, rame banget !" ujar Arga, family Route 78 pun ada diantara pemburu saweran.


"Pak, bapak udah sepuh jangan ngikut ! Entar encok, kan repot !" ucap Melan pada pak Wahyu.


"Tua tua gini pengalamannya banyak Mel, apalagi kalo cuma nangkep saweran," jawab pak Wahyu berseru tak mau kalah bersama pak Hadi dan bu Juli.

__ADS_1


"Seru gila, si Arka juga nyiapin doorprize katanya," Nino yang asalnya kalem kalem saja kini berebut posisi demi mendengar kata doorprize dari mulut Teguh.


"Tau darimana Guh ?" tanya Priyawan.


"Kemaren diminta beliin gadget buat doorprize hari ini," jawab Teguh.


"Kuyy kalo gitu ! gue ngikut baris !" seru Nino.


"Njirr, geser ihhh belum apa-apa kaki lo dah nginjek kaki gue !" dorong Leli pada Guntur, ditertawai yang lain.


"Rusuh bet sih ! " gerutu Niken.


"Saweran tingkeban bermakna rasa syukur yang mendalam dari pihak keluarga. Pada para hadirin dimohon tertib ya, " pinta pembawa acara lagi mengingatkan. Awalnya ayah, bunda dan ibu yang melempar isi dari kendi.


Diiringi tembang sunda dan dilanjut jawa, ayah melemparkan isi kendinya.


Wurrrr !!!!


Permen, uang logam, dan bunga bertebaran menghujani para tamu yang berbaris dan sontak mereka kalang kabut menangkap dan mencari barang barang yang terlempar. Koin logam seribu dan lima ratus rupiah juga permen diperebutkan. Meskipun tak seberapa, tapi antusias mereka begitu besar. Setelah isi kendi ayah kosong berlanjut isian kendi ibu dan bunda isi uang cukup bertambah level, karena terdapat uang kertas dengan pecahan 2 ribu, 5 ribu dan 10 ribu.


"Oyyy keinjek tangan gue !!" seru Guntur mendorong kaki Deni.


"Awas geser ih !"


Pak Wahyu sampai menggunakan kemeja kokonya dan melompat untuk menangkap saweran.


"Harusnya bawa sarung ya pak, " tawa bu Juli, pak Wildan tertawa tawa di pojokan melihat tingkah rekan guru dan muridnya.


"Bu sini bu !!!" pekik para tamu yang datang meminta bunda dan ibu melempar saweran ke arah mereka.


"Bunda kesini bun, " pekik Inez.


Wurr !!!!


"Mas, doorprizenya buat Sha aja mas !" tak mau kalah, Shania ikut terbawa suasana dan ingin bergabung.


"Mau kemana kamu ?" menahan tangan Shania yang mendekat.


"Mau ikut nangkep lah !" jawabnya, ditahan Arka.


"Kamu mau ke dorong ?! Ada ada aja ! Tunggu disitu !" decak Arka.


"Sha juga mau doorprizenya, " bibirnya melengkung.


"Nanti mas kasih yang bener bener bikin dorrr !" jiwirnya di hidung bumil nakal satu ini, karena sekarang bibirnya sudah mengerucut 5 cm.


"Kendi terakhir berisi doorprize, jadi siap siap bapak, ibu, adek adek !" ujar si pembawa acara.


"Wihhh, ada doorprizenya !!!" Roy malah menarik teman temannya untuk menyingkir.


"Idih si peakk ngapain ?!" sewot Guntur.


"Kalian istirahat aja, capek ! mendingan aa gans yang nangkep saweran !"


"Huuu !!" toyoran teman temannya.


Dimas tertawa, melihat ke hectic an para tamu.


Tembang kembali dilantunkan, seiring tangan Arka yang mengaduk dan meraup isi kendi.


"Wurrrr !!!!"

__ADS_1


Segulung kertas kecil terlempar sempurna melewati kepala para tamu, bukan Roy ataupun Arga yang sejak tadi heboh ingin doorprize, tapi di tangan pak Wildan yang baru saja berdiri untuk bergabung kertas itu mendarat.


****


Sementara Arka membuang semua sisa mandi beserta tektek bengeknya di perempatan terdekat dengan rumah, ibu dan bunda membagikan Takir Pontang, ialah makanan yang dibungkus dengan daun pohon pisang serta janur. Makanan tersebut pun dikemas dalam bentuk serupa kapal.


Shania berganti pakaian dengan kebaya.


"Sini, mas bantu !" sekembalinya ia ke rumah.


Kini ukuran tubuh Shania sudah berkali lipat berisi, hasil karya Arka.


"Apa, liat liat ?!" ujar Shania sewot, sadar akan pandangan Arka yang terkesan meneliti badannya.


"Jangan bilang gendut ya ! Ini juga ulah mas, Sha dikompain terus kaya balon !" gerutu istri nakalnya tapi Arka malah terkekeh.


"Bagus, kalo dulu kan kerempeng. Itu tandanya kamu bahagia hidup sama mas, badan kamu jadi lebih berisi."


"Berisi, isinya bayi !" ketusnya.


"Ga ikhlas ?" tanya Arka mengancingkan kebaya Shania.


"Ikhlas ko ikhlas," jawab Shania mengangguk angguk.


Arka lantas mengikat rambut Shania yang terburai basah satu cepolan dan menambahkan bunga melati sebelumnya seperti intruksi ibu dan bunda.


"Cantik, " kata itu lolos dari mulut Arka setelah Shania selesai berpakaian. Pipi kemerahan bukan berasal dari make up membuat Shania cantik alami.


"Ihh, gombal !" pukulnya.


"Mas, Sha juga mau doorprize !!!" teriaknya di depan Arka.


"Masih inget ?" tanya Arka menautkan alisnya, Shania mengangguk.


"Apa yang belum mas kasih buat kamu, cobak ?" tanya Arka.


"Emang apa isi doorprizenya ?" tanya Shania.


"Gadget,"


Shania membelalakkan matanya, "gadget ?!!" ia terkejut.


"Sebagai bentuk syukur Sha, atas rejeki yang didapat tahun ini. Mas buka cabang Route 78 sama angkringan. Mas juga punya kamu sama dedek," jawabnya.


****


Bukan digendong, tapi disana sudah tersedia seperti sebuah tanggungan kecil berisi rujak kanistren dan dawet, dimana Shania akan berjualan keduanya sebagai filosofi usaha kedua orangtuanya untuk memenuhi segala kebutuhan si buah hati hingga dewasa.


"Kalo tukang rujaknya cakep-cakep gini, gue auto tiap hari beli !" ujar Roy. Dimulai pihak yang disegani dan dituakan, berlanjut kerabat, tetangga dan yang lebih tua lalu giliran anak anak muda yang hadir disana.


.


.


.


.


Noted


* Doorprize : Hadiah yang didapatkan dengan cara undian

__ADS_1


* Rujak kanistren : rujak manis yang biasanya ada di acara 7 bulanan terdiri dari 7 bahan bahan buah yaitu : Buah ciremai, ubi, jeruk bali, jambu klutuk, kedondong serut , delima, mangga muda.


* Dawet : minuman yang terbuat dari tepung beras atau tepung beras ketan, yang disajikan dengan es parut serta gula merah cair dan santan.


__ADS_2