
Dress biru baby begitu cantik dan lembut dipakai Shania dipadukan swetter rajut putih yang tak pernah lepas dari badannya.
"Titipan bunda udah dimasukkin belum mas ?" tanya Shania, membuat Arka mengangguk.
"Udah, di bagasi."
"Kamu masuk duluan, mas ambil dulu laptop," seraya berjalan menuju dalam rumah.
Keduanya pamit pada bi Atun, dan berangkat sore hari menuju Bandung, melewati tol Cipularang - Purbaleunyi.
"Kalo ngantuk tidur aja, nanti mas bangunkan kalo sudah sampai di gerbang tol," ucap Arka mengusap rambut dan garis wajah Shania lalu turun ke perut buncitnya pas tepat di bawah tali seatbelt.
Hay nak, siap berpetualang ?
"Iya mas nanti aja, " Shania meraih bungkusan snack dan membukanya. Perjalanan tak membosankan karena tol ini cukup membuat mata berdecak kagum. Tol Cipularang - Purbaleunyi adalah tol dengan daya tarik tersendiri, jalanan tol yang dibuat melewati bukit-bukit dan jurang menyuguhkan pemandangan yang menyegarkan mata dan tentunya tak terlalu panas, belum lagi area pesawahan dan bangunan rest area yang terkesan modern menjadi daya tariknya.
"Sha tuh paling seneng kalo ke Bandung mas, perjalanannya ga bikin cranky," ujar Shania di sela sela kunyahannya.
"Iya, adem."
"Mau istirahat dulu engga ? kita belum solat ashar ?" tanya Arka.
"Boleh mas, " jawab gadis itu.
Arka menyalakan lampu sen dan menepikan mobil di rest area.
"Mau makan ?" tanya Arka, kebutuhan Shania yang satu ini tak pernah terlewatkan untuk ia tanyakan. Terkesan boring memang, tapi hal itu amat penting untuknya.
"Mas, Sha mau itu !"
"Ya sudah, setelah ashar kita makan dulu."
Hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 2,5 jam keduanya sudah sampai di gerbang tol Pasteur.
Gerbang Tol Pasteur
"Selamat datang di kota Bandung"
Dari sini keduanya lebih dekat ke rumah milik bunda dan ayah yang berada di daerah Cipaganti. Sebagai orang yang lebih tau kota ini Shania menunjukkan jalannya pada Arka. Hanya menempuh perjalanan 23 menit mereka sudah sampai, seharusnya hanya 17 menit saja namun jalanan kota Bandung kini semacet ibukota apalagi di jam pulang kerja begini. Arka memutar stir ke arah telunjuk Shania. Suasana jalanan yang rindang dengan pepohonan besar dan sudah tua dipertegas dengan banyaknya akar gantung membuat hawa semakin dingin menjelang malam hari. Memang inilah ciri khas daerah ini. Shania menyuruhnya berbelok ke kanan, jalanan ini tak asing, atau memang sering ia jumpai di kebanyakan film yang berbau kota Bandung. Saat si cowo berandal mengejar cewek baik, dan mengatakan jika rindu itu berat. Ah..iya ia ingat..jalanan ini mirip seperti di film.
"Ini tuh jalanan di film yang viral itu kan ?" tanya Arka buka suara, Shania melongo, seorang Arka tau film film remaja bucin.
"Maksud mas yang Di lan itu ?" tanya Shania, dan Arka mengangguk.
"Beda mas, kenapa ? mirip ya ?" Arka kembali mengangguk.
__ADS_1
"Kalo itu di Buah batu mas, " jawab Shania tertawa renyah.
"Kenapa ketawa ?"
"Lucu aja, kirain kalo modelan mas nontonnya tuh G 30S/PKI." Arka menggelengkan kepalanya demi anggapan kaku Shania.
"Segitu kakunya ya, mas di mata kamu?"
"Hm, "
Mobil sampai di satu rumah bergaya tua, dengan pagar besi berwarna putih sebatas dada, rumah yang hanya berlantai satu, dan banyak pohon yang ditanam di halaman rumahnya semakin menambah keasrian dan kesejukan. Disana sudah ada salah satu saudara yang senantiasa menjaga rumah disini. Udara di Bandung memang tak seperti di Jakarta, hawanya dingin membuat ingin selalu menarik selimut dan makan.
"Pakai jaket double Sha, Bandung dingin banget ternyata."
Arka tak biasa dengan hawa dingin, tapi Shania malah tertawa.
"Udah biasa mas, oh iya..besok kebetulan hari sabtu, Sha mau ajak mas ke suatu tempat, pasti mas bakalan suka !" serunya berbinar.
"Teh Yeni !!" seru Shania saat seseorang keluar dari rumah dan menggeser pagar besi. Keduanya berpelukan.
"Si geulis teteh, kemana aja ?! ( si cantiknya teteh, kemana aja ?!) Liburan kemaren ga ikut sama si bibi," manyunnya memeluk Shania rindu.
Lalu pandangannya turun ke perut Shania dan mengelusnya, "uluh uluh....udah ngisi ternyata, pantesan makin glowing adek teteh teh !" euforianya.
"Teh, kenalin suami Sha !" Arka tersenyum dan menyalami Yeni, umur Yeni memang dibawah Arka, ia baru berumur 27 tahun.
"Ih kasep Sha, menang timana nu kieu ?!" bisik Yeni, Shania tertawa.
(Ih ganteng Sha, dapet darimana yang kaya gini ?!)
"Hadiah tina ciki !" tawanya.
(Hadiah dapet dari snack)
"Ihh, teu baleg ah (ihh, ga bener ah)! hayu atuh masuk, udah malem. Pasti mau bilang Bandung mah dingin ya ?!" tebak Yeni pada Arka yang diangguki Arka.
"Iya, dingin banget malah."
Arka memasukkan mobil ke parkiran, lalu ketiganya masuk ke dalam rumah dengan Arka mengekor di belakang Shania yang dirangkul teh Yeni.
Arsitektur rumah seperti gaya Belanda kuno masih melekat disini, dengan jendela yang masih memakai tralis besi memanjang dan pintu juga jendela kayu dengan dua sisi. Begitupun kursi kursi jadul sangat memiliki nilai. Ayah Shania memang terlihat punya kelas.
"Teh, si a Ridwan masih sering main ke Bosccha ngga ? booking in tempat lah buat Sha besok, pengen ngambil paket malam !" ujar Shania yang duduk di meja makan dengan meja panjang, berbagai suguhan hidangan sudah tersaji di situ, seperti bandrek, tahu sumedang, peuyeum, bolu dan lain lain.
"Si aa nya suka minum kopi engga ?" tanya teh Yeni.
__ADS_1
"Suka teh, biar Sha aja yang bikin."
Shania menaruh tahu yang sedang ia makan dan beranjak menuju dapur, perpaduan rasa gurih dan asin, crunchy di luar tapi lembut di dalam, membuat gadis ini selalu suka dengan makanan asal kota Sumedang Jawa Barat itu.
"Boleh, nanti teteh telfon. Kebetulan dia tau kalo Sha ke Bandung !" teh Yeni mengambil ponsel dari sakunya.
"Nengsih besok kesini katanya, sono (kangen) sama neng Sha !" teriak teh Yeni mengekor ke dapur meninggalkan Arka sendiri di ruang makan yang asik menikmati makanan di depannya.
"Bener kata si bibi, kalo umur suami Sha teh 33 ? Ko kaya seumuran teteh ?!" tanya teh Yeni berbisik pada Shania di dapur.
"Iya teh, muka teteh aja yang boros," Shania tertawa demi melihat wajah kecut teh Yeni.
"Kamar udah teteh beresin, ganti sepreinya, jadi tinggal istirahat aja."
"Sip, hatur nuhun pisan teteh anu bahe nol !" jawab Shania.
***
Keduanya kini tengah berbaring di ranjang kamar, Arka bahkan tak pernah lepas dari selimut dan swetter.
"Jangan lepas swetter Sha, disini dingin, " ia memeluk Shania dari samping dengan posisi Shania yang membelakangi Arka.
"Iya, apalagi kalo subuh ! biasanya Sha kalo musim hujan suka ga mau mandi mas, " kekehnya.
"Jangankan musim hujan, sekarang aja dingin !"
"Teh Yeni itu siapa ?" tanya Arka.
"Dia anak uwa, kalo di Jawa anaknya padhe, dia tuh kakanya teh Nengsih yang kemaren baru lahiran. Dia yang suka jagain sama bersiin rumah ini, kadang juga suka nempatin kalo suaminya pulang."
"Emangnya suaminya kemana ?"
"Kerja, teh Yeni mah nomaden, tinggalnya disana sini !" tawa Shania.
"Besok mas bakal ketemu teh Nengsih, dia mah hecticnya sama 11 12 sama bunda, jangan kaget kalo keluarga Sha yang cewek pada kaya gitu, "
"Hm, rame banget, hangat.." Arka lebih merapatkan lagi pelukannya di tubuh Shania dengan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Shania, menyesap aroma tubuh khas vanilla lembut yang selalu menjadi candunya.
"Bukan rame sama anget lagi mas, tapi heboh !"
"Bukan itu, kamu yang anget ! Mas butuh kehangatan di kota yang dingin, "
Shania memicingkan matanya dan mendesis, "ihh itu mah maunya mas, tiap malem ! Butuh kehengatan di kota yang dingin, modus !" Arka membalikkan badan Shania dan membuat malam yang dingin menjadi panas.
.
__ADS_1
.
.