Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Mencintaimu dengan caraku


__ADS_3

Arka menghapus jejak air mata di seputaran pipi dan hidung Shania, yang malah semakin deras seperti hujan di bulan November.


"Jangan bilang kaya gitu lagi, tak ada yang lebih pantas ataupun lebih layak, begitupun mas."


Manusia sekaku kerupuk aci, tapi pemilik pelukan hangat ini adalah Arkala Mahesa, suami gurunya.


Bersamaan dengan terdengarnya alunan lagu dari radio yang di stel di mobil Arka.


Walau kau menghapus, menghempas diriku,


Mengganti cintaku.


Semua tak mampu hilangkan cinta yang kau tlah kau beri,


walau kau berubah aku kan bertahan di sepanjang waktuku, biarkan aku mencintaimu dengan caraku....


(Arsy Widyanto feat. Brisia Jodie_ Dengan caraku)


Arka melepaskan pelukannya, lalu menjalankan kemudi.


"Sebelum sampe sana, cari dulu masjid buat maghrib, " ujar Arka diangguki Shania.


Hari kedua dibukanya angkringan milik Arka dan kawan kawan, pengunjung masihlah sangat ramai, sebagai bagian pemasaran Nino dan Priyawan sukses besar menarik pelanggan lewat sosial media.


"Rame banget mas, " Shania berpegangan di jaket Arka, seperti anak kecil yang takut hilang.


"Alhamdulillah, " jawab Arka.


"Widihhh mas bro, di kawal bojo !" seru Teguh salam sapa, sedangkan Shania hanya tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya, mengikuti salam ala ala ukhti tanpa bersentuhan.


"Wewww, Sha basket ?!" tanya Priyawan melihat stelan Shania, Shania mengangguk.


"Iya om Pri, "


"Keren, " kagum Priyawan.


"Rame bos ?" tanya Arka menarik bangku. Seperti biasa, tak ada ruangan khusus untuk manager angkringan disini, keempatnya malah senang melingkarkan kursi plastik di dekat dapur sebagai ruang meeting mereka sambil ngopi dan merokok.


"Duduk, " pinta Arka, Shania menurut.


"Tapi Sha pengen itu mas !" tunjuknya ke arah dalam pada deretan makanan yang jadi pusat utamanya saat ini.


"Ya udah ambil, biar nanti mas yang bayar !"


"Ko mas bayar ?" Shania mengerutkan dahinya menjadi beberapa lipatan seperti nene nene.


"Iyalah, kan pemasukan harus mas hitung dulu, bukan sepenuhnya uang mas, ada uangnya Teguh, Nino sama Priyawan."


Shania beroh panjang,


"Ya udah kalo gitu, kalo mas yang bayar, uang jajanku utuh dong ! asikk," serunya, ia berlari kecil ikut berbaris dengan para pelanggan.


"Duh duh....gemesnya gue ! timbang uang jajan 50 ribu aja bisa sebahagia itu, otewe cari bocil ahhh !" pandangannya terlena dengan ekspresi Shania.


"Buat apaan No ? ternak tuyul ?" tanya Teguh, ditertawai Priyawan dan Arka.


"Si*@lan, buat dijadiin bini lah Guh," Nino menarik kursi dan mulai menyalakan sebatang rokok.


"Muka muka pedo fil, " ledek Priyawan tertawa.

__ADS_1


Wajah Shania sedikit tertekuk kecut, mendapati antrian yang mengular. Padahal perut dan lidahnya minta cepat cepat dimanjakan oleh manis dan gurihnya makanan makanan di etalase, penataan ruangan tak beda jauh dengan cabang sebelumnya, masih dengan konsep yang sama.


Shania kembali dengan wajah yang sedikit masam, lalu mendudukkan diri di samping Arka agak ke belakang.


"Ko mukanya kecut ?" tanya Arka mengangsurkan sekoteng panas pada Shania lengkap dengan isian sekoteng mutiara, kacang hijau, kacang tanah sangrai dan potongan roti di dalam sebuah mangkuk batok kelapa.


"Ngantri cape cape, eh putri ayu nya malah abis ! kesel kan, " pipinya menggembung. Ketiga temannya ini selalu tertarik dengan interaksi antara Shania dan Arka, yang satu laki laki matang nan kaku, dan yang satu gadis muda yang ekspresif. Tapi bisa sangat nyambung dan lucu saja.


"Berarti anda belum beruntung, nanti aja lagi. Makan apa yang ada," jawab Arka, melirik isi piring Shania yang tak kalah banyak.


Nino bahkan sampai mengulum bibirnya saat melihat gadis itu mengomel tak jelas karena mulutnya yang mengunyah makanan sambil melampiaskan kekesalannya pada Arka, kakinya malah menghentak hentak halaman angkringan.


"Mas tau kan sekarang aku lagi doyan itu !" sesekali mulutnya di usap Arka untuk membersihkan cairan gula yang meleleh melewati garis mulutnya.


"Ga bisa jadi ! masa istri yang punya angkringan sampe ga kebagian !"


"Lain kali mas, harus telfon yang bikin ! pesen sendiri buat Sha di rumah, "


Selalu jawaban yang sama yang Arka berikan, "iya."


"Mas ngerti ga sih, jangan cuma iya iya doang ?!"


"Iya, ngerti."


"Bwahahahahahahaha ! gue udah ga kuat pengen ketawa, " Shania dan Arka menoleh pada Nino. Begitupun Teguh dan Priyawan.


"Kenapa ?" Shania mengernyit.


"Otewe juga lah gue cari bocil, " jawab Teguh. Arka tersenyum kaku, tak tau saja mereka menghadapi istri seperti Shania sungguh menguras kesabaran, dan butuh kedewasaan yang bukan main main.


"Laporan dikirim ntar jam 11 kaya biasa, " ucap Priyawan.


"Sha, bisa pindah sebentar ? temen temen mas kayanya mau roko'an lagi ?"


"Iya, aku di mobil aja deh. Mas mau pinjem laptop dong !" pinta Shania.


"Ada di jok belakang," Shania mengangguk dan meraih kunci mobil dari Arka.


Shania duduk di bangku samping pengemudi, setelah sebelumnya meraih laptop dari jok belakang, ia menyalakan layar pipih di pangkuannya itu. Gadis itu terkesiap mendapati layar laptop Arka bahkan sudah berganti dengan background Shania dengan pakaian kebaya pengantinnya dulu.


"Dih, dapet dari mana ?" senyumnya terkembang tipis namun pipinya sudah ditaburi bubuk pelangi jingga.


Ada sebuah email masuk, dan Shania mengkliknya.


PPOP DISPORA JAKARTA.go.id


Gadis itu mengernyitkan dahinya terheran, bukankah pengumuman penerimaan seleksi calon atlit minggu depan, tapi email yang masuk jelas jelas tertera nama instansi terkait.


Karena rasa penasaran, ia membukanya. Matanya semakin berbinar dan terharu, saat menerima surat elektronik dari Dispora, entah apa yang membuat mereka bisa menspesialkan Shania. Jika karena kejadian tempo hari, maka ia akan bersyukur, cederanya membawa berkah.


Nama : SHANIA CLEOZA MAHESWARI


Usia : 17 tahun


Jenis Kelamin : Perempuan


NIK : 325XXXXXXXXXX


Asal Sekolah : SMA BAKTI PERSADA

__ADS_1


Alamat : VICTORI RESIDENCE No.29 B, JAKARTA.


Menyatakan dengan ini bahwa nama diatas LULUS SELEKSI calon atlet pelajar DKI JAKARTA.


Informasi dapat dilihat tanggal 24 Mei 202X di website ppop-Dispora Jakarta.go.id. Untuk tahap selanjutnya peserta yang telah lolos seleksi administrasi akan mengikuti seleksi kompetensi yang terdiri dari seleksi keterampilan, seleksi fisik, dan seleksi kesehatan pada tgl 27 mei - 31 mei 202X.


"Yesssss !!! omg omg omg !" pekiknya tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia membayangkan jika dirinya menjadi atlet nasional, bisa mengharumkan nama daerah, kedua orangtuanya akan bangga, begitu pun Arka, tapi sejurus kemudian hatinya mencelos dan terasa ada yang berdenyut.


"Eh, tapi...kalo gue lolos terus jadi atlet, itu artinya gue mesti asrama ?! untuk waktu yang tidak ditentukan, " gumamnya.


"Terus mas Kala ?" tanya nya lagi.


Shania keluar dari dalam mobil, dengan membawa laptop. Bahkan email yang tadi pun belum ia tutup.


Terlihat Arka tengah berbincang seraya diselingi tawa kecilnya sedangkan yang lain sudah terbahak bahak.


"Mas, " panggilnya, Arka menoleh.


"Kenapa ? udah bosen ya, mau pulang sekarang ?" tanya nya.


Shania menggeleng, "Shania lulus mas, Dispora DKI..." jawabnya tak tau ia harus bersuka cita atau justru tak enak hati.


"Dispora maksudnya, dinas pemuda dan olahraga ?" tanya Nino membeo.


"Mau jadi atlet daerah Sha ?" tanya Priyawan.


"Wawww ! apik tenan, " Teguh memberikan jempolnya di udara.


Arka menghela nafasnya, lalu menarik senyuman.


"Bagus dong, di accept lebih awal. Berarti kamu berbakat dan semua orang tau itu. Selamat ya Sha, istri kecil mas memang juara !" kata kata selamat itu seperti menyimpan kekecewaan dan luka di dalamnya, Shania dapat merasakan itu.


"Sudah malam, kamu juga belum mandi. Sebaiknya kita pulang. Pri, laporan kirim aja !" Arka menggerus puntung rokok yang tersisa beberapa centi.


"Bro, saya duluan ya !"


"Oh iya Ka, hati hati. Sha hati hati ya !" dijempoli ketiganya.


Arka merangkul bahu Shania dan membawanya ke parkiran.


"Mas, tapi kalo Shania lolos... Shania menggantung ucapannya di udara, dan menghentikan langkahnya.


Arka yang ikut terhenti menatap Shania, meyakinkan pada gadisnya jika ia baik baik saja.


"I'm fine, "


"Aku istri dur*haka ya mas ?!" cicitnya.


Arka mengernyit, "dur*haka ? mau mas kutuk ?" tanya nya mencoba menggoda Shania meskipun wajahnya datar.


"Mas capek harus mengulang lagi Sha, mas ga bisa kasih kebahagiaan apa apa sama kamu, jadi anggap saja dukungan dan support mas adalah kebahagiaan yang mas kasih buat kamu, cara mas mencintai kamu,"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2