
Gamis putih bermotif bunga timbul menjadi seragam Shania, ibu dan Galexia. Arka pun memakai koko yang senada.
"Maafin Sha, mas..selama ini Sha sering repotin, sering nakal, susah dibilangin, suka bentak-bentak..." mungkin jika dijabarkan kesalahan Shania sudah sepanjang jalan Anyer ke Jakarta. Semua larangan seorang istri seringkali ia lakoni. Ia terduduk menundukan kepala di lutut Arka. Pria itu mengangkat kedua bahu Shania lalu membawa ke pelukannya, mengecup kening Shania lama.
"Maafin mas juga, masih banyak kekurangan dalam membimbing Sha, " terlihat meresapi setiap kata yang diucapkan, Shania juga menghayati setiap kalimat tulus dari dalam lubuk hati yang paling dalam dari seorang Arka sampai suara Galexia memecah kekhusyuan ibu dan ayahnya. Keduanya tertawa, sejak kecil saja Galexia tak mau dicuekin, persis sekali Shania.
"Dedek ga mau dicuekin momy ya nak ?!" Shania lantas mengangkat bayi yang kini sudah dipakaikan dress putih dan bando sedemikian rupa oleh momynya, layaknya boneka. Tapi ternyata bayi itu masih terus menangis dan terkesan menatap getir pada sang ayah.
"Mau sama ayah dek ?" tanya Arka yang kemudian mengambil alih Galexia. Dan sungguh menakjubkan, bayi berusia hampir 2 bulan itu diam di gendongan Arka, tanpa melihat ibunya yang ternganga bengong bayi itu malah tersenyum manis pada ayahnya.
"Apa-apaan ?!" omel Shania.
"Dedek ko gitu, dedek ga boleh jadi saingan momy ya dek, idih dedek !" sementara Arka tertawa melihat kedua gadisnya ini yang berebut perhatiannya.
Ketiganya keluar, bersimpuh di kaki ibu. Meminta maaf dari ibu. Bukan hanya demit kurawa saja yang akan datang, para tetangga silih bergantian datang ke rumah untuk bersilaturahmi dan bersalaman. Sedari tadi rumah Arka tak pernah sepi kedatangan tamu, yang sekedar lewat seraya berkeliling saja ataupun yang ikut mencicipi kue buatan Shania.
"Kita jam berapa ke rumah bunda ?" tanya Arka.
"Katanya taun ini bunda sama ayah yang kesini, kasian kalo dedek mesti macet macetan di jalan. Masih kecil, takut rewel."
"Assalamualaikum,"
"Eh ada oma sama opa dek, " Shania langsung berjalan ke depan dengan menggendong Galexia, meninggalkan Arka yang tengah bersalaman dengan tetangga sebelah.
"Waalaikumsalam,"
"Ahhh, incu bunda anu deuyis !!! (cucu bunda yang cantik) Bunda kangen neng, meni tambah semox gini, dikasih apa ini teh ?!" seru bunda, baru saja beberapa hari tidak bertemu bunda mendusel-dusel Galexia seperti tak bertemu bertahun-tahun.
"Meni kangen pisan sama si deuyis ! Kaya udah setaun ga ketemu !" langsung saja bunda menggendong Galexia, begitupun ayah yang terlihat sangat jelas matanya berbinar penuh sayang terhadap Galexia. Ada yang bilang, seorang nenek dan kakek akan lebih menumpahkan kasih sayang terhadap cucunya ketimbang ibu ayahnya dulu.
"Yah, bun...minal aidin, maafin Arka selama ini banyak salah yang disengaja maupun engga," ayah dedek mengambil punggung tangan keduanya.
"Sama-sama Ka, maaf lahir bathin juga, ayah banyak repotin," ayah menepuk dan mengusap punggung Arka.
"Bu," bunda dan ayah bersalaman dengan ibu.
"Mas Arka, mbak Sha kita keliling dulu ke tetangga lain," pamit tetangga.
"Oh iya pak, bu..silahkan !"
"Yah, keluarin barang di bagasi," pinta bunda.
"Sini Arka bantu yah, " Arka mengekor.
.
.
Dari jarak 10 meter saja sudah terdengar suara knalpot dan deru mesin beberapa motor, seperti sedang konvoi. Sudah tertebak siapa mereka.
"Assalamualaikum mak Malin !!! Pak Arka !!!!"
Mulai saat ini, sejak mengenal mereka, Arka dan ibu harus terbiasa jika nantinya telinga mereka akan terasa nyut-nyutan karena kehidupan mereka yang sunyi dan terkesan tenang akan perlahan hilang.
"Noh ! Pejuang angpau udah dateng," decih Shania.
"Mama Sha-sha !!!"
"Gale gemoyykuuuuh !!!"
Oh Tuhan, jangan sampai Galexia satu frekuensi dengan makhluk-makhluk ini, karena rupanya seruan mereka membuat Galexia tertawa-tawa dan heboh menggerakan anggota badannya.
"Taqobalallahu Minna Waminkum !"
"Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir bathin !"
"Maafin gue ya Sha, "
"Maaf lahir bathin bu, pak, bunda."
"Sama-sama,"
Satu persatu dari mereka salam takzim pada Arka, ibu, bunda dan ayah. Arka melengos masuk ke dalam ruang kerjanya, saat mereka duduk di sofa menikmati kue dan hidangan hari raya di sini.
"Wah, kenyang gue nih !" seru Roy.
"Ga usah malu-maluin deh, ga malu apa itu ada ayah, bunda sama ibu. "
"Alahhh, kaya yang ga tau si Guntur aja, urat malunya dah putus !" jawab Ari ikut mencomot kue brownies.
"Liat tuh om Den..ga banyak ba cot tapi mulut penuh sama kacang !" tunjuk Melan.
"Definisi diam-diam mengenyangkan !" tawa Roy.
__ADS_1
"Loe semua ga dikasih makan berapa hari sih?! datang kesini udah kaya vacum cleaner ?!" Shania berdecak.
"Makanan disini enak-enak Sha, sayang kalo dilewatkan."
"Kalo gue yang punya rumah Sha, jarak 10 meter aja, langsung gue kunciin pager ngeliat kedatangan tamu macam mereka," kelakar Melan.
"Qarun kw 2 nih cik Melan," jawab Roy.
"Anak-anak, " panggil Arka keluar dengan membawa segepok amplop kecil berwarna hijau.
"Angpau !!!" seru mereka berlomba dan berebut menghampiri Arka, sampai Shania sendiri ditubruk.
Roy dan Guntur bahkan sampai kelabakan menutup dahulu toples, Deni buru-buru menelan dan menyeruput air sirup miliknya.
"Njirrr ! Ga ng'akhlak, ga tau malu," omel Shania.
"Udah ga aneh Sha, kalo berakhlak bukan temen loe !" jawab mereka tertawa.
"Baris--baris !" pinta bunda.
"Coy, berasa jadi bocah lagi ! Tadi gue ngantri di engkong, sekarang sama pak Arka, berkesan banget lebaran gue taun ini !!" ujar Guntur.
"Hahaha, saravvvv njirr ! Gue ikut-ikutan ga tau malu, gara-gara bergaul sama kelian !" jawab Niken.
"Ah, itu mah emang dasar loe nya aja yang ga tau malu, makanya se frekuensi sama kita-kita," jawab Ari.
"Gimana ngga berkesan, loe semua menang banyak. Gue ngerasa dirampok !" jawab Shania ditertawai mereka.
"Sekarang loe ada di list pertama tempat silaturahmi gue tiap tahun Sha," jawab Guntur.
"Wih, yang merah-merah ! Mata gue ikutan mateng kaya angpau dari pak Arka," seru Ari.
"Kimvritt," tawa Leli dan Melan.
"Pak Arka tuh keliatannya aja Izrail, aslinya mah Ridwan euyy !" ujar Roy. Arka, ibu, bunda dan ayah hanya tertawa mendengar ocehan mereka.
"Apa jangan-jangan pak Arka sodara gue yang tertukar, atau sodara gue yang lama hilang ?!" oceh Ari.
"Sodara seiman, beda bapak beda ibu Ri," jawab Melan.
"Kalian muji-muji tuh berharap dikasih lagi apa gimana ? Soalnya ga ada ulangan, gue bates anggaran buat angpau !" sarkas Shania.
"Nah ini, istrinya mah si Qarun !" kelakar Guntur.
"Hahahaha, si kimvrit ! Gue kutuk juga loe," jawab Shania.
"Njirr ! Mak Malin ikut ngantri angpau dari laki sendiri," seru Deni dan Ari.
"Gue juga mau lah ! Emang loe doang yang mau angpau ! Gue juga,"
"Dek ! Sini ngantri sama momy. Pasang tampang semanis mungkin !" ajak Shania pada Galexia.
"Wah, ngajarin ga bener ini mah ibunya," kekeh ayah.
"Astaga, ngukuk lah !" Melan sudah tertawa melihat kelakuan absurd Shania.
"Mas, Sha amplopnya dua ya ! Ntar Sha kasih kecupan plus-plus deh !" tawar Shania melongokkan kepalanya heboh dari belakang Leli.
"Idih, korupsi si mamak !"
"Neng, astagfirullah..jangan diliat sayang. Momy nya Dara kaya bocah SD," ujar bunda mengalihkan perhatian Galexia dari para pemburu amplop lebaran.
"Udah ini Sha mau lanjut ngantri sungkeman di ayah, " jawab Shania, hanya mendapat jawaban deheman dari ayah.
"Ayo makan dulu lah, biar ga salatri pas waktu konser dadakan," ajak bunda. Arka dan ibu mengerutkan dahinya demi mendengar kata konser dadakan.
Ternyata banyak juga yang bunda bawa dari rumah, selain kue, salad buah, puding dan rujak, masih ada menu makanan berat.
"Pokonya hari ini gue pasti kenyang !" imbuh Roy.
"Loh, Inez mana ?" tanya bunda.
"Inez mudik bun," jawab Shania.
"Oh pantes, ga ada yang heboh dari tadi."
"Hah ? Segini kurang heboh gitu bun, padahal telinga Sha udah nyut-nyutan denger mereka," jawab Shania mempersilahkan para makhluk ini makan.
Shania sengaja menggeser sound dan speaker ke teras belakang, ada tradisi lebaran yang tak boleh dilewatkan setiap tahun di rumahnya.
"Mau konser ?" tanya Arka.
"Sok ahh ! Yang mau jadi biduan ku bunda sama ayah disawer !" ujar bunda.
__ADS_1
"Ini nih mas, tradisi rumah Sha tiap taun, biar rame !"
"Melan bun, "
"Gue aja..gue aja bun !" Guntur dan Roy maju menunjuk-nunjuk dirinya sendiri.
"Saravvv dasar, " kekeh Deni yang sudah terbiasa langganan tiap tahun hanya jadi pengatur sound dan lagu, mendadak mereka jadi biduan sehari jika sedang lebaran begini atau acara ulangtahun dan kumpul-kumpul.
"Wah, rame Sha !" jawab ibu.
"Iya bu, orang-orang yang barengan Sha emang suka heboh bu, yu ikutan bu !" ajak Shania saat Roy sudah mendendangkan lagu dangdut di tengah hari yang panas dsngan iringan penari latar amatiran, goyangan mereka saja sudah seperti bebek encok.
"Njirrr ! Mendung tanpa udan !!" tawa Melan, meskipun tak ada panggung, tanah berumput pun jadi.
"Yeee !!! Saweran ayah Sha mah gede ! Yoo yah, sawer terus biduan kampung sowang," ujar Roy yang menghayati lagu sambil menerima selembar uang berwarna biru dari ayah.
"Loe joget apa butuh parem kocok Ri ?" tawa Leli.
"Butuh disiram, pake siraman rohani !" jawab Niken.
Giliran Guntur yang maju memegang mik, "selamat siang semuanya dan selamat berlebaran ! Saya akan membawakan sebuah lagu.."
"Huuu !! Kelamaan buruan, "
"Oke oke tenang,"
"Musrrrikkk !!" pinta Guntur pada Deni.
"Musik peak,"
Deni mengangguk dan memencet tombol play, Guntur mulai mengeluarkan suara emasnya.
"Malam ini....."
"Huuuuu, bang Caca !!!"
"Caca apa ?"
"Caca Handika, "
"Hahaha itu bukan lagu Caca Handika lah,"
"Terus lagu siapa ?"
"Lagunya Peterpan, No ah !"
"Hahaha saravvv,"
"Woy ! Penonton ga ada akhlak. Mau dengerin gue nyanyi apa mau ributin pencipta lagu ?!" kesal Guntur.
"Oke jutttt !!" jawab Deni.
"Njirrr ! Om Den, bisa ngga pengucapannya yang lengkap !" sarkas Niken.
"Malam terakhir bagi kita," lanjut Guntur.
"Cihuyyyyy, cuwit...wittt....!" seru dan cuitan Ari.
"Untuk mencurahkan rasa rindu di dada...."
"Esok aku, akan pergi lama kembali !"
"Mau kemana Tur ? Jadi TKI atau mau rantau?" tanya Leli.
"Ah udahlah ! Ganti lagu ganti ! Emang dasar loe pada ngeselin tingkat dewa, gue nyanyi bukan mau kasih info !"
"Gue kira loe lagi tahlilan," jawab Roy.
"Uhukkk ! Sat, gue sampe keselek !" jawab Deni yang tengah meminum minuman bersoda.
Mereka tergelak bersama menikmati suasana lebaran yang jauh dari kata sepi.
"Mas, ayo nyanyi mas !" Shania menarik-narik Arka.
"Nyanyi ! Nyanyi ! Nyanyi !" tepukan tangan mereka.
"Buruan mas, Sha sawer deh !"
.
.
.
__ADS_1
Noted
*Salatri : gejala telat makan, seperti pusing, lemas, mata kunang-kunang.