Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Depresi Antenatal


__ADS_3

"Kontraksi otot wajar terjadi, bibit kecebong milik pria mengandung pro*sta*glandin sedikitnya memicu kontraksi ra him. Orang orang sih biasanya menyebut kontraksi palsu, atau Braxton hicks."


"Dan untuk stretch mark itu wajar terjadi, nanti tinggal disamarkan saja memakai krim atau gel khusus."


Penjelasan dari dokter Rani sedikit banyaknya membuat Shania lega sebentar tentang semua keluhan yang terjadi kemarin kemarin.


Dokter Rani sudah mulai mewanti-wanti dan memberikan penjelasan gejala-gejala proses melahirkan.


"Kalau sudah keluar len dir merah segera ke RS atau rumah bersalin."


"Kalau rasa mulas dan panas pinggangnya sudah terasa hampir setiap menit, segera datang ke RS atau rumah bersalin."


"Langkah yang harus diambil, adalah berusaha tenang dan mengatur nafas seperti yang sudah saya ajarkan."


Keningnya mengkerut, jangankan tenang disaat melahirkan, semua artikel dari mesin pencari akhir akhir ini yang sering ia baca dan penjelasan dokter Rani barusan sukses membuat Shania merinding dan menelan ludah berat belum lagi cerita dari orang-orang yang berpengalaman membuatnya bergidik sampai terbawa mimpi.


"Dok, kalo lahiran caesar itu gimana ya ?" pertanyaan itu lolos dari mulut Shania, membuat Arka mengernyitkan dahinya. Padahal menurut penjelasan dan hasil pemeriksaan dokter Rani, Shania dan kandungannya sehat dapat melahirkan secara normal.


"Oh bisa saja, biasanya orang orang yang ingin melahirkan sesuai tanggal yang diinginkan atau ada kelainan dan tak mau sakit memilih operasi caesar," pungkas dokter Rani. Ada senyum cerah di wajah Shania saat mendengar kata tak mau sakit.


"Tapi apapun prosesnya, yang namanya melahirkan selalu ada keluhan, efek samping dan lain hal sebagainya."


"Jika berminat, ini saya kasih brosurnya !" dokter Rani mengangsurkan selembar kertas brosur operasi caesar beserta biaya per/paketnya.


Bukan main, harganya mulai di kisaran 25 juta sampai 60 juta per/paketnya dengan fasilitas lengkap.


Arka mengurut dada untuk itu, bukan ia tak mampu atau tak mau. Arka menjadikan caesar sebagai option cadangan "JIKA" memang Shania membutuhkannya dalam keadaan darurat. Ia harus menabung dan berhemat demi beberapa plan ke depan yang cukup menguras kantong, seperti biaya masuk kuliah Shania, aqiqah, biaya semester-nya, dan pengeluaran untuk cafe, yang tentunya Route 78 cabang 2 belum semaksimal cabang pertama, tentu saja ia akan butuh dana untuk promosi dan sebagainya.


"Mas, pokonya Sha mau caesar, titik !!" ucapnya telak.


Arka menghela nafasnya, "Sha, mau caesar ataupun normal sama saja sakit, "


Shania menoleh dengan tatapan sengit, "tapi Sha ga mau sakit mas, mas sih enak, cuma teori doang. Yang rasain kan Shania ! Mas kan usaha, dulu katanya mau berlian apa mobil mewah bakalan mas beliin, sekarang minta lahiran caesar aja ribetnya kaya Shania mau rampok semua harta mas aja !" tensi bicara gadis ini meninggi sampai-sampai Arka mengerutkan dahinya, ada apa dengan istri natckal nya. Apakah ia salah bicara ? Apakah hormon kehamilan yang sedang berhadapan dengan Arka sekarang, atau memang kini Shania sedang merasa tertekan dengan pikiran tentang sekelumit proses kelahiran yang menyakitkan? Seharusnya tadi Arka iyakan saja, mungkin tidak akan seribet ini.


"Sha, bisa kan kalo bicara sama mas ga usah pake nada bicara tinggi ? Mas minta maaf kalo mas salah bicara," bujuk Arka demi melihat wajah Shania yang keruh.


"Tau lah ! Sha udah ga mood lagi !" Shania beranjak dari kursi menuju teras belakang mengambil buku komik yang biasa ia baca. Anehnya, jika biasanya ia bisa tertawa-tawa, saat ini bahkan wajah si tokoh utama dan beberapa kejadian kocak tak dapat membuatnya tertawa malah membuatnya bosan dan melempar komik di ayunan.


"Neng Sha kenapa mas ?" Arka memijit pangkal hidungnya.


"Ga tau bi, tiba-tiba marah marah gitu gara gara pengen caesar," jawab Arka.


Ting tong !


"Ada tamu mas, bi Atun buka dulu," perempuan paruh baya ini beranjak pamit untuk membuka pintu. Sedangkan Arka berdiri dan berjalan mendekati Shania.


"Sha, " Shania hanya mendelik tajam ke arah Arka tapi mencoba tak bergeming, ia malah mengetuk ngetuk kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa otak gue ga konsen sih !" ia menggigiti kuku jarinya.


"Mas, ada tamu !" Arka dan Shania menoleh.


"Iya bi, sebentar. Mas terima dulu tamu !"


Terdengar beberapa suara perempuan dari pintu depan.


"Assalamualaikum pak, " senyumnya ramah. Shania yang penasaran akhirnya tergerak untuk mengintip.


"Siapa bi ?" tanya Shania, saat bi Atun masuk hendak membuatkan minuman.


"Kurang tau neng, kayanya anak murid mas Arka," bi Atun berlalu.


Shania semakin dilanda penasaran, ia mengintip dari ruang tengah, beberapa gadis dengan salah satunya memakai hair extension, berlaga so anggun sangat terlihat mencari perhatian seoramg Arka.


"Ta, kasiin sama pak Arka hampersnya !" pinta seorang lainnya pada gadis yang menyambung rambutnya jadi sepanjang pinggangnya.


"Oh iya pak, ini ada sedikit dari kami buat bapak sebagai tanda terimakasih, mohon di terima ya pak, " ucapnya tersenyum.


"Oh tidak usah repot, " awalnya Arka menolak tapi sejurus kemudian mereka memaksa membuat Arka mau tak mau menerimanya.


"Laki-laki mah sama aja ! mau dingin mau kalem atau mau pecicilan kaya si Roy juga ! Sama sama ga bisa jaga penglihatan, ga bisa jaga hati !" api biru berkobar di hati Shania, darahnya sudah mencapai titik didih. Belum tau saja mereka, jika bar-barnya gadis ini keluar. Jangankan hanya para gadis pecicilan anak kemaren sore seperti mereka, negara api yang mau menyerang bumi pertiwi saja auto ngibrit balik lagi sambil tarik sarung, langsung insyaf dan pergi jum'atan. Tapi tak tau kenapa, imbas dari amarahnya tidak seperti biasanya, ia justru semakin dilanda stress.


Blughhh !!!


"Astagfirullah !"


"Sebentar saya lihat ke belakang dulu !" Arka beranjak ke ruang tengah, tak sampai 10 menit Shania sudah berhasil membawa koper dan menuruni tangga.


"Sha ?!" Arka mengerutkan dahinya melihat Shania sudah lengkap dengan koper, dan memakai jaket sekaligus ponsel yang ia genggam.


"Kamu mau kemana ?"


"Sha pamit, mau pulang !!" ujarnya dingin.


"Kalo masih mau cekikikan, mau cari perempuan yang siap lahirin anak mas secara normal dan ga neko-neko kaya Shania silahkan !"


"Nyesel udah mau lanjutin kehamilan ini," gerutunya. Arka melotot demi mendengar kalimat terakhir Shania.


"Shania !!" ia benar benar geram, tak ada angin tak ada hujan Shania berubah menjadi menjengkelkan.


Arka sudah diambang batas kesabaran, pekerjaan yang menumpuk, tugas yang juga menguras otaknya, belum lagi Shania yang berubah jadi sosok mengesalkan membuat otaknya serasa ingin pecah. Arka mencengkram pergelangan tangan Shania.


"Balik ke kamar !! Sebelum mas marah Sha, " ujarnya dingin terlebih lagi alisnya sudah menukik dan wajahnya kelam, laki-laki ini sungguh tak ingin di debat saat ini.


Bukannya mengalah Shania malah semakin tertantang, mengingatkannya pada ayah yang dulu selalu mengekangnya dan hanya memberi perintah tanpa mau mendengarkan isi hatinya.

__ADS_1


"Lepasin ngga ?!" tanya nya tak kalah sengit.


"Aduh neng, mas...jangan pada berantem, " bi Atun ingin menengahi tapi dari keduanya tak ada yang ingin mengalah.


"Awas !!" bentak Shania.


"Apa pantas Sha, istri membentak suami ?"


"Kalo suaminya main serong, udah ga sayang istri lagi, harus kaya gimana sikap Shania ?" sengitnya semakin berkobar-kobar.


"Kamu nuduh ?!"


"Bukan nuduh tapi tau !"


"Ga cowok kalem, ga cowok alim, sama aja ga lebih dari yang berandal sekalian !" Shania menepiskan dan menghempaskan tangan Arka ia berlalu meraih kunci motor yang tergeletak di meja dekat kalender.


"Shania !" panggil Arka, ketiga gadis yang berada di ruang tamu saling terdiam melongo, merasa tak enak hati datang di waktu yang salah.


Sebelum benar-benar pergi, Shania melirik dahulu ke arah ketiganya.


"Diantara kalian yang namanya Lita yang mana ?!" tanya nya tengil.


"Saya kak ?!" si rambut sambung menjawab begitupun kedua lainnya yang menunjuk Lita.


Shania tertawa sumbang, "suka laki orang ternyata," Shania berlalu keluar dengan langkah cepat, Arka meraih kunci mobilnya.


"Anak anak maaf, saya ada urusan sebentar. Kalian bisa pulang saja, maaf sekali lagi !" Arka menyusul Shania berharap bisa menghentikan Shania.


Si alnya pintu gerbang belum sempat ditutup, jadi Shania bisa langsung lolos keluar gerbang rumah.


"Sial !!" Arka langsung menyalakan mobil dan masuk ke dalamnya, masih dengan t-shirt dan celana selututnya.


.


.


.


.


Noted


*Pro*stag*landin : zat dengan struktur kimia menyerupai hormon. Perannya penting karena dibutuhkan untuk sistem reproduksi dan penyembuhan luka.


*Braxton hicks : kontraksi palsu


* Caesar : proses persalinan dengan melalui pembedahan dimana iri san di perut ibu dan ra him untuk mengeluarkan bayi.

__ADS_1


*Hair extension : Metode sambung rambut dengan menambahkan sejumlah helai rambut ke rambut yang sudah dimiliki.


__ADS_2