
Semua latar tempat kejadian di cerita ini, hanya terjadi di dunia halu halu mimin ya guys, jangan di bully, atau dibandingkan dengan tempat sebenarnya yang mungkin ada perbedaan atau tidak sesuai lapangan ðŸ¤, maklum mimin mah kaya keong, ga pernah main jauh-jauh dari rumah alias anak rumahan 😂.
🥀🥀🥀🥀
Disinilah Shania sekarang, beberapa gedung di depannya berdiri megah dengan ciri khasnya warna hijau, deretan tiang bendera berdiri kokoh dengan bendera negara Indonesia yang berkibar bebas berada di tengah-tengah, diantara bendera berwarna-warni setiap fakultasnya.
UNIVERSITAS N***** JAKARTA
Pepohonan palm yang mengelilingi menambah kesan tangguh. Tanpa di duga, hanya bermodal lucky day dari fortune cookie, Shania diterima sebagai calon Maba disini, ia menggelengkan kepalanya tak menyangka.
"Langsung aja ke administrasi Sha,"
Shania mengangguk, "mas, ini bukan mimpi kan ? Cubit Sha dong, niat ke almamater kuning jadi kesini ? Buat nyerahin diri jadi tukang kue ?" ucapannya membuat Arka ingin meledakkan tawanya.
"My pleasure," jawabnya dengan senang hati mencubit pipi gemoy Shania.
"Aw ! Mas ko beneran ?" aduh nya.
Arka dan Shania masuk ke ruang administrasi dan mengantri bersama para calon mahasiswa baru disana.
"Bersyukur Sha, dari sekian banyak peminat yang mendaftar nama kamu lolos, ini universitas negri loh !" ujar Arka.
Horayyyy !!!!! Shania membunyikan terompetnya tahun barunya.
"Shania Cleoza Maheswari, Fakultas Teknik, jurusan Tata Boga."
Bukan hanya Shania yang diterima disini, tapi Roy, Deni dan Melan. Sedangkan Ari, Guntur mereka di universitas swasta. Leli dan Inez berada di kampus yang sama juga.
Flashback
"Yeeeee !!!!!"
"Subhanallah !!! Subhanallah !!!" Deni maupun Ari dan Roy menangis sambil bersujud.
"Dih...dih...ngisinin ! Ga ada sejarahnya bad boy mewek ih !" Melan menjewer kuping Roy, menyuruhnya untuk bangkit.
Bahkan seragam putih itu sampai kotor karena dipakai guling-guling di lantai.
"Mak !!! Gue lulus ! Gue juga kuliah ! Mimpi apa gue !" teriak Deni.
"Bukan mimpi ketiban duren lagi kalo gini sih, mimpi ketiban janda kembang yang tajir plus bo hay !" seru Roy.
"Saravvvv, emak gue di rumah sampe tumpengan. Katanya ntong, otak loe bisa diandelin di detik terakhir ! Abis dimandiin sama rumus kimia pak Arka segentong, pak Arka nularin pinternya sama gue ! Kali aja besok-besok gantengnya yang dia tularin," tambah Ari. Shania hanya tertawa mendengar kekonyolan teman-temannya.
"Gue lolos fakultas teknik di almamater hejo Sha !!!" pekik Deni.
"Hah ??!!! Barengan lagi ?" tanya Shania, tanpa sadar mereka berpelukan sambil melompat-lompat.
"Gue juga !!" teriak Roy.
"Cih, bosen gue sama loe lagi loe lagi !" desis Melan.
"Emang loe dimana Mel ?" tanya Leli.
"Ibu nyuruh gue jadi guru, pas daftar di almamater hijau keterima,"
"Jiahhahahahaha !" mereka tertawa dengan nasib yang tak tau harus disebut garis takdir atau bukan, bisa bersama orang-orang yang satu frekuensi, padahal kalau tak salah.. Allah menyuruh hambanya bergaul di dalam lingkungan orang-orang beriman, dan sangat jelas mereka jauh dari kata beriman.
"Kalo gurunya kaya loe, auto anak-anak didik loe direbus semua bareng baso !" tawa Guntur.
"Si@lan !"
"Nah kan, mana ada guru kaya gitu ! Itu mah gurunya cewek-cewek geng Nero !" tunjuk Ari.
"Jadi gue doang nih yang pisah ?" Leli cemberut.
"Kalo ga salah si bigos juga disana Li," jawab Roy.
"Inez maksud loe ?" tanya Shania.
"Hooh,"
"Loe berantem mulu sama Inez, tau-tau besok jodoh !" imbuh Deni.
__ADS_1
"Hihhh ! Amit !" gidiknya.
"Ntar yang ada pas malam pertamaan di umbar juga !" tambahnya.
"Ish, segitunya ! Gue sumpahin loe cinta mati," Niken mencebik.
"Ga nyangka gue, anak-anak bandel kaya kita insyaf di detik terakhir. Dan ternyata Allah ssgitu sayangnya, ngasih kesempatan buat kita bisa maju tau ngga, terharu gue !" ujar Guntur.
"Loe terharu sih terharu Tur, ga usah seragam gue juga buat lap ingus loe ! Flu burung tuh ! Mesti mandi desinfektan gue-nya," sarkas Deni yang berada di dekatnya.
"Nyangka 'ga sih ?" tanya Niken.
"Engga gue mah, kirain gue nasib si Ari bakalan jadi tukang cakwe kaya mang Cece."
"Sat ! Ga gitu juga ! Ngapa jadi gue ?!" Ari mendorong kepala Roy.
"Yang lebih gue ga percaya Roy sama Deni masuk negeri !!" seru Leli.
"Otak enstein gue aja munculnya di saat-saat terakhir, loe semua aja yang ga tau kalo gue ini sebenernya keturunan penemu teori aljabar !" jawab Deni.
"Maksud loe, botak sulah plus jenggotan panjang gitu?" tanya Niken.
"Njirr ! Bukan fisiknya bege !" decak Deni.
"Gileee, mentang-mentang masuk negri omongannya ngeri, pake bawa bawa Muhammad bin Musa Al Khawarizmi," jawab Shania.
"Jadi ini terakhir kita sekolah bareng-bareng nih ?" mata Leli sudah tergenang oleh air, dan siap meluncur deras. Suasana mendadak sepi dan senyap.
"Loe semua lebay tau ngga ! Buat apa ada wa grup, lagian rumah loe semua pada deketan. Masih di kota yang sama, bukan dari Jakarta ke Aceh."
Krikk....
Kriikkk...
Mereka terdiam, tapi tak lama mereka kembali tertawa mendengar pernyataan Deni, memang benar, mereka saja yang lebay.
"Om Deni amic yuuu !" jawab Guntur sudah memajukan bibirnya yang mengerucut 5 cm.
"Dih, amit ! Jauh-jauh dari gue, rabies !" tolak Deni.
"Bawa balik honey, buat kenang-kenangan !" jawab Roy.
Flashback off
"Cari siapa ?" Arka memecah fokus Shania.
"Cari yang lain, apa mereka udah registrasi ulang ?"
"Telfon aja, atau mau ditungguin ?" tanya nya lagi.
Shania menggeleng, "mereka masih di jalan, kelamaan mas. Kasian dedek nunggu, ASI Sha juga udah ga enak banget. Kayanya dedek haus sama lapar, kita ga bawa breast pump sama cooler bag, yu pulang !" ajaknya.
"Ya udah yu,"
"Mau nuker almamater kapan?"
"Besok aja, masih ada waktu kan ?" Arka mengangguk.
Kampus beralmamater hijau ini seolah sedang ingin menampakkan keasrian tempatnya pada setiap orang yang menjejakkan kakinya kesini, hal ini terbukti dengan banyaknya pohon-pohon di sepanjang lorong di setiap fakultasnya. Citra hijau yang dibuat oleh pihak kampus begitu kental terasa dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi dan berwarna hijau. Terlebih dengan adanya lapangan hijau di tengah-tengah kampus dan pendopo di setiap fakultas.
"Kamu jangan ketiduran kalo disini, apalagi disini bawaannya sejuk gini !" cibir Arka.
"Cih, engga lah !" jawab Shania sengit.
"Perpus BP yang rame aja kamu bisa tidur, apalagi yang kaya gini ?!" tambahnya lagi, seakan belum puas untuk mengingatkan Shania akan kejadian pertama mereka bertengkar.
"Semoga aja nanti ada dosen kaya mas, biar mata Sha seger terus !" jawabnya menyebalkan. Arka menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada perempuan, ibu dari anaknya itu
"Jangan macem-macem !"
"Uhhhh, takut !" tawa Shania.
Shania mengedarkan pandangannya selama berjalan menuju parkiran, ia harus sedikit berhati-hati. Kampus ini tak seluas kampus negri lainnya, tidak sedikit banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan utama kampus untuk mencari tempat parkir. Akses ke kampus ini juga sangat bebas, jadi bisa dimasuki siapapun termasuk non mahasiswa.
__ADS_1
Ia sekali lagi menatap gedung yang akan menjadi tempatnya menimba ilmu untuk beberapa tahun ke depan. Tak sangka hidupnya bagai jalan berkelok, naik turun tanjakan dan tak pernah ia duga sebelumnya, bisa nyangkut disini dalam keadaan seperti ini. Realita (kenyataan) yang sekarang terjadi jauh melenceng dari ekspektasi (harapan).
Seperti ia merencanakan liburan ke pulau pribadi dengan fasilitas lengkap sesuai impiannya, tiba-tiba saja kapal mengalami mati mesin dan ia terdampar di tempat antah berantah lalu berjodoh dengan titisan ki Hajar Dewantara namun berwajah personel One Direction. Bukankah menakjubkan ?
Dughhh !
"Ehhh, sorry !"
Swetter berwarna biru dongker dengan tulisan huruf FT di dada kiri, ciri khas anak teknik disini melekat di badan yang tak sengaja bertabrakan dengan Shania.
"Sha, " Arka berbalik.
"Maaf, ga sengaja. Terlalu fokus liat-liat kampus matanya ga liat ke depan," Shania meringis tak enak.
"Maaf, " ucap Arka juga.
"Shania,"
"Ini pak Arkala kan ?" tunjuk salah satu pemuda yang berjalan dan tertabrak Shania.
"Loe kenal Yan ?" tanya satu lainnya.
"Kenal, ini guru gue..dan ini adik kelas waktu di SMA," jawab Riyan.
"Ya ?!" Shania membeo.
"Riyan, Sha."
Senyum pemuda ini merekah melihat Shania, "wah, camaba disini?"
Shania mengangguk.
"Maaf siapa ?" tanya Arka mengamankan tangan Shania di genggamannya.
"Riyan pak XII MIPA 2, "
"Oh Riyan," Arka mengingatnya.
"Ahhh, yang waktu itu ngasih...." belum Shania menyelesaikan kalimatnya, Riyan sudah memotong.
"Ngasih boneka, terus kamu bilang kamu lebih suka boneka jelangkung, "
"Pffftt," kedua temannya menahan tawa yang ingin meledak karena pernyataan Riyan, bukan karena Riyan yang lucu, tapi jika benar yanh dikatakan Riyan, maka gadis cantik di hadapan mereka lah yang menakjubkan sskaligus unik. Jarang-jarang gadis seimut boneka susan temenannya sama jelangkung.
Sungguh kenyataan yang konyol, mamposss kan ! Ia bisa terdampar disini, dengan senior yang ternyata dulu pernah Shania usili karena menyukainya, apa lagi yang lebih menakutkan jika bukan muka keruh Arka yang berada di sampingnya.
"Oh, oke Riyan..kamu kuliah disini ?" tanya Arka.
"Iya pak alhamdulillah, teknik elektro pak !"
"Sha, ko bisa ditemenin pak Arka ?"
"Karena saya..."
"Kamu tambah cantik Sha, " potong Riyan, entah ketan apa yang merasuki otak rebahan Riyan, apa selama ini ia bertapa di goa, sampai-sampai kabar menggemparkan jika gadis di depannya adalah istri guru killernya ini.
Shania melotot mendengarnya, saat ini jantungnya sudah copot minta diganti pake jantung ayam sekilo.
Wahhh cari mati nih orang, ga tau banteng di samping lagi kurang sajen semalem !
Shania segera menggenggam tangan Arka, dan menariknya pergi dari sana, sebelum kampus ini habis digerogoti Arka, atau mungkin almamater kuning akan menyerbu dan berperang dengan almamater hijau layaknya di film Crows Zero.
"Oke Riyan see you lagi ! Gue sibuk banget sekarang !" Shania segera menggeret jelmaan siluman burung hantu di sampingnya dengan sekuat tenaga, yang hanya berisi bahan bakar sarapan nasi goreng tadi pagi.
"Apa tadi maksudnya ?!" gerutu Arka.
"Ck, udah lah ga usah dibahas mas. Lagi mabok kali dia, maklum panas cuacanya jadi dehidrasi terus ngigo !" jawab Shania.
"Buruan ah, Nih ASI Sha udah ga enak banget, sakit !" paksanya.
.
.
__ADS_1
.