Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Disaat satu daun jatuh


__ADS_3

Tok...tok...tok....!!


Shania yang baru saja mandi dikejutkan dengan kedatangan Niken pagi-pagi dengan mata yang sembab dan wajah yang kacau.


"Nih, minum dulu !" Shania memberikan secangkir teh manis hangat untuk temannya ini.


"Thanks Sha, sorry gue ganggu loe pagi-pagi," ucapnya parau.


"It's oke. Ga apa-apa !" Shania mengusap-usap lembut punggung Niken.


"Ken, ke teras belakang yuu ! Sambil gue suapin Gale," ajak Shania, Niken mengangguk.


"Bu, biar Sha aja yang suapin dedek," pinta Shania.


"Iyo nduk, awas panas..buburnya baru ibu angkat dari panci," jawab ibu, Shania mengangguk membawa kursi bayi milik Galexia ke belakang.


"Niken, ayo sarapan bareng !" ajak ibu.


"Iya bu, makasih..." ujar Niken.


"Pak Arka kemana Sha ?" tanya Niken.


"Mas Kala lagi lari pagi, biasa lah paling keliling kompleks," jawabnya, mengipasi bubur Gale lalu merasai, setelah dirasa cukup hangat ia menyuapkannya pada Galexia.


"Mau cerita ?" tanya Shania saat melihat Niken malah sibuk bermain dengan Galexia.


"Niko selingkuh Sha," cicitnya dengan mata berlinang.


"Apa ?! Kurang aj_ar !!" sungut Shania menghentak kaki di lantai dan sendok di mangkuk plastik Gale, hingga membuat bayi gemoy bermata bulat dan berkucir 2 itu kaget.


"Sha, ihhh.." tegur Niken.


"Eh, maaf sayang," ujar Shania pada anaknya.


"Lagian loe be*go banget sih Ken, udah tau dulu kelakuannya kaya gitu. Pake dimaafin lagi, dimaagin lagi, kesel gue !" alhasil jadi Shania yang kesal.


"Gue kira setelah gue kasih kesempatan, dia ga akan kaya gitu lagi Sha. Tapi nyatanya gue salah."


Air mata Niken kembali berlinang, dengan suara yang bergetar dan sesenggukan ia bercerita, "gue sayang banget sama dia Sha,"


"Udah dari seminggu yang lalu gue curiga sama dia Sha, tapi gue coba percaya sambil cari bukti lain. Tapi kemaren pas selesai acara anniv cafe, gue ga sengaja mergokin dia..." ia terhenti, tenggorokannya tercekat.


"Mergokin dia kenapa ?! jalan sama cewek ? Berduaan ? Mesra-mesraan ? Ngomong Ken," seru Shania tak sabar. Tapi Niken malah menangis.


"Sakit banget Sha, padahal gue udah serius sama dia..."


"Dasar cowok ga tau diuntung ! Dulu pas susah loe mau nerima dia apa adanya, sekarang baru kerja jadi manager aja udah berani selingkuh. Harusnya loe bersyukur Ken, Allah menunjukkan keburukan dia sama loe sebelum loe sama dia lebih jauh !" desis Shania.


"Loe udah mutusin dia ?!" tanya Shania.


"Kemaren gue ngajak dia ketemuan, tapi dia selalu ngelak, dan ga mau gue putusin."


Shania sedikit merasa aneh disini dengan apa yang diucapkan Niken.


"Ko bisa, kan dia dah punya lagi..kenapa masih kekeh pengen sama loe ?" tanya Shania.


"Gue ga tau," jawab Niken gagap.


"Putusin dia, cowok masih banyak. Apa loe ga bisa mutusin dia ? Sini biar gue bantu !" tawar Shania.


"Heran deh, loe mau-maunya kaya gitu. Nikah juga belom udah ga bener !" omelan Shania seraya menyimpan mangkuk yang sudah tandas isinya ke dalam rumah.


Arka yang sudah datang ikut terheran-heran dengan istri nakalnya yang tak ada angin tak ada hujan ngomel-ngomel pagi-pagi.


"Kenapa ?" tanya Arka meneguk air minum. Shania beralih membuat kopi setelah mencuci mangkuk Gale dan menyimpannya di rak piring.


"Laki-laki mah gitu ! Giliran susah aja minta dukungan, giliran udah seneng perempuannya ditinggal buat perempuan lain, kan ga waras kaya gitu namanya ! Yang kaya gitu minta dijadiin empan hiu !!" dumel Shania.


Arka menggelengkan kepala, "mas juga laki-laki Sha, kalo kamu amnesia," ia meraih Shania dan memeluknya dari belakang lalu mengecup pucuk kepala si emak tukang ngomel ini.


"Itu pacar Niken mas,"

__ADS_1


"Oh ada Niken ?"


"Ada tuh, sama dedek di belakang !" tunjuk Shania.


"Sha, nanti siang sepulang ngampus sama ngajar mas mau ketemu konsumen dulu di luar, jadi ga bisa jemput pulangnya," ijin Arka menghampiri anaknya.


"Eh pak," sapa Niken.


"Ken," Arka mengangguk.


"Iya mas," jawab Shania memekik.


"Sha, gue mau ke kampus deh.." pamit Niken.


"Ga mau bareng ?" tanya Shania.


"Gue duluan deh Sha," jawabnya sendu, terlihat getir. Tapi baru saja sampai di pintu depan tubuh Niken ambruk.


Brukkk....


"Kennn,"


******


"Sha, sabar.." pinta Arka setelah mengantar dokter ke luar rumah.


"Iya mas, mas kalo mau berangkat..berangkat aja," jawab Shania.


"Kamu bicara sama Niken baik-baik. Jangan pake emosi," pinta Arka mengusap-usap kepala istri nakalnya, karena ia tau Shania..emosinya selalu meluap-luap seperti sungai yang banjir.


"Iya, Sha juga tau.." Shania meraih punggung tangan Arka.


"Mas jalan dulu, assalamualaikum,"


"Eh, mas...ada yang lupa !"


"Apa ? dedek, udah pamit ko."


"Bukan," Shania menggeleng.


"Bukan, ihh..."


"Apa ?"


"Cipika, cipikinya mana ?!" tanya Shania. Arka terkekeh, semakin hari momy Gale ini semakin manja, apakah Gale akan memiliki adik atau memang sifat Shania sebenarnya memang manja.


Arka mendekatkan wajahnya, meraih wajah menggemaskan Shania lalu mengecup pipi kanan sambil mendo'akan,


"Semoga istri mas nakalnya berkurang," Shania tertawa kecil.


Kemudian mengecup pipi kiri Shania dan kembali berucap, "semoga ga emosian terus."


Shania kembali tertawa kecil, "Sha orang paling kalem ya mas, CATAT !"


"Iya, mas catet di bon hutang !"


Arka kembali mengecup kening Shania, "semoga semakin sholeha."


Shania tertawa lagi, "kurang sholeha gimana lagi coba, tiap hari yang diurusin dapur, sumur, kasur. Atau bila perlu Sha ganti nama jadi Soleha ? Biar nanti pas ada yang nanya sama mas, mas bisa jawab istri saya 'Soleha'."


Dan terakhir Arka mengecup bibir Shania singkat, "semoga tetap mencintai mas yang apa adanya."


Shania tersenyum, "always, forever."


"Lagi dong mas, dikit amat. Pelit !"


Cup !!


Cupp !!


Cup !!

__ADS_1


Shania benar-benar tertawa, karena Arka bukan hanya sekali mengecupnya tapi 3 kali.


Selesai dengan ritualnya mengantarkan Arka sampai ke pintu dan berpamitan, Shania kembali masuk ke dalam. Dia bimbang antara pergi kuliah dan tidak. Sebenarnya Arka sudah mengijinkannya untuk membolos hari ini demi menemani Niken.


Shania menghembuskan nafasnya lelah.


"Pelan-pelan bicaranya nduk," pesan ibu.


"Nggeh bu, Sha titip dedek dulu sebentar ya bu. Maaf Sha selalu ngerepotin ibu."


"Iyo nduk, ga apa-apa. Temani dulu temanmu, dia pasti butuh teman ! Biar ibu ajak si cantik jalan-jalan ke luar," Shania mengangguk.


Shania masuk ke dalam kamar tamu, dimana ia mendapati temannya Niken tengah berbaring menyamping dengan wajah lusuhnya.


"Ken, loe udah ga apa-apa kan ?" tanya Shania.


"Hey, mak ! Gue ga apa-apa, cuma pusing sedikit aja. Tas gue mana mak ? Mau balik gue," ia celingukan mengedarkan netranya mencari tas miliknya.


"Ken," Shania duduk di samping Niken.


"Ya mak ?"


"Udah berapa bulan ?" pertanyaan Shania sontak membuat Niken tersentak kaget.


"Apanya Sha ?" tanya nya gugup.


"Dulu gue juga gitu waktu hamil Gale, sering pusing sama lemes."


Niken menelan salivanya berat.


"Gue..."


Matanya tergenang dan mulai buram, "gue bo*doh Sha...gue naif !" tangisnya pecah.


Shania meraih Niken yang sudah bergetar, dan memeluknya.


"Niko tau ?" tanya Shania.


"Dia suruh gugurin Sha, dia...dia ga mau tanggung jawab, dia...dia selingkuh," tangisnya tergugu.


"Tapi...hiks..hiks...gue..ga mau Sha,"


"Sutttt, dah cukup...kita cari Niko !" jawab Shania.


"Tapi Sha ?" Niken menggeleng.


"Bagaimanapun caranya dia harus tanggung jawab Ken, ga bisa kaya gini !" mata Shania pun sudah basah.


"Sha, jangan dulu cerita sama yang lainnya. Gue takut,"


"Takut apa Ken, susah senang kita sama-sama ! Loe takut si br3ng_sek diapa-apain sama yang lain ? Itu pelajaran buat dia, jangan pernah macem-macem sama anak-anak gue !"


"Sha,"


"Hm,"


"Makasih,"


"Biar gue kasih pelajaran berharga buat Niko,"


"Mak," rengek Niken.


"Apa ?!" sengak Shania tertawa sambil menangis.


"Si Niko jangan dulu dibikin perkedel ya mak,"


"Udah ga jaman dibikin perkedel Ken, sekarang jamannya dibikin kaldu ! Gue remes sampe ancur, gue jemur sampe kering, terus gue bungkus buat bumbu masakan !" jawab Shania.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2