Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
The New Little Angel


__ADS_3

Arka meraih nampan lalu menyuapi Shania, sebenarnya Shania beberapa kali menolak, jangankan untuk makan, duduk saja ia tak enak. Berkali kali ia berpindah posisi hingga berbaring dengan posisi miring lah posisi terlamanya.


Untung saja kemeja flanel Arka bukan bahan yang mudah robek, jika iya..mungkin saat ini nasib kemeja yang dipakainya akan berakhir jadi lap kompor karena sobek seperti habis di koyak serigala.


"Gantian, sekarang mas yang makan dulu !" pinta Shania, Arka mengangguk. Kedua ibu ini memang wanita yang sudah berpengalaman, mereka datang membawa pakaian ganti, alat solat dan makanan untuk Arka.


"Makasih bu, "


"Mas solat dulu sudah sore, takut keburu abis waktunya."


"Iya,"


Bunda dan ibu bergantian mengurus Shania, sampai akhirnya bunda pamit undur diri terlebih dahulu.


"Sha, bunda pulang dulu. Tadi waktu kesini ayah taunya mau memastikan saja, bunda nanti kesini lagi bareng ayah.."


"Iya, " jawabnya singkat, benar kata orang, ibu melahirkan memang harus memiliki tenaga berlipat ganda, karena jujur menanti pembukaan sampai lengkap cukup menguras tenaga Shania.


Ibu duduk di samping Shania dengan mengusap punggung dan pinggangnya lalu berlanjut mengusap lembut perutnya sambil bercerita kisah terdahulu, bukan kisah perjuangan bung Tomo ataupun perjuangan warga Surabaya yang mempertahankan kemerdekaan dari tentara sekutu, tapi menceritakan bagaimana dulu ia berjuang melahirkan Arka dan masa kecil Arka yang ternyata cengeng. Meskipun tak terlalu kentara perbedaannya tapi setidaknya bisa mengalihkan sedikit rasa sakit yang Shania rasakan, sedangkan Arka memperhatikan keduanya sambil makan di sofa sana, menjadi pendengar setia saat masa lalu memalukannya di beberkan di depan istrinya, menjadi penonton setia saat Shania terkikik menertawakan dirinya dulu.


Arka menutup pintu saat Shania terusik dengan suara sesama pasien yang merintih. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Bunda kembali datang bersama ayah, disaat Shania yang semakin merasakan sakit teramat. Benar kata orang, melahirkan mempertaruhkan nyawa. Ia sudah seperti makhluk kecil yang tinggal menanti ajal datang, rasa sakit yang hanya bisa dirasakan oleh kaum perempuan. Tak ada Shania yang memukul-mukul atau membentak-bentak seperti biasanya. Pikiran buruk berseliweran, apa ini adalah tanda-tanda? Naudzubillah.


"Sha mau ke toilet, ga mau di pispot," bisiknya.


"Biar gampang pake kain samping aja atuh neng, biar bunda bantu."


Kini bergantian bunda yang membantu Shania, tak ada daya untuk sekedar mendebat. Sepertinya dipakein baju badut pun oke saja untuk Shania.


Shania memilih duduk kembali memeluk bunda yang berdiri di depannya seraya mengusap-usap sekitaran area pinggang Shania.


"Dulu bunda juga kaya gini neng, tapi yakin..perempuan itu lebih kuat dari apapun," Shania menenggelamkan wajahnya di ceruk leher bunda seolah meminta kekuatan, seiring ayah yang menghampiri dan mengusap kepala putri tunggalnya.


"Akhirnya Sha merasakan perjuangan bunda dulu ya ?" tanya ayah dengan senyum teramah persis seperti saat dulu ia belajar naik sepeda dan jatuh.


"It's oke ! Sha pasti lancar gowes nanti. Sha kuat, berdarah sedikit bukan masalah"


Shania berganti memeluk ayahnya, bagaimana pun kerasnya ayah, Shania tau itu untuk kebaikannya, dan ayah sangat menyayanginya.


"My little angel udah mau jadi ibu sekarang," bisik ayah membuat Shania menangis sesenggukan.


"Maafin Sha, ayah...bunda !" tangisannya semakin deras.


"Sha belum bisa jadi anak yang membanggakan buat ayah sama bunda, kerjanya bikin masalah terus, nyusahin ayah sama bunda !"


Ibu bahkan sudah mengusap sudut matanya berkali-kali. Arka ? jangan ditanya lagi bagaimana perasaannya sekarang, matanya telah memerah, ia sedang mengalihkan pandangannya ke lain arah, mengingat almarhum bapaknya yang telah berpulang.


Arka lebih memilih menghadapi 3 kelas sekaligus dengan isi anak bandel semua dibandingkan melihat Shania menangis sesenggukan merasakan penyesalan dan sakit begini. Jika bisa, rasa sakit yang Shania rasakan sekarang pindahkan saja seluruhnya untuk dirinya.


"Udah ah, jangan nangis. Simpen tenaga nya buat nanti !" bunda menyudahi acara haru biru yang tak terjadi saat pernikahan Shania ini.


Tok..tok..tok...


Ayah mengusap pipi lembut putrinya yang basah dengan kedua tangannya sepaket wejangan dan do'a.


"Sha pasti bisa, Sha anak ayah yang kuat !" ayah mengecup kening dan pipi Shania lembut. Sikap bunda dan ayah menjadi suplai energi tambahan untuk Shania.


"Wah, rame nya oma, opa yang ga sabar mau liat dedek !!" seru dokter Nabila masuk.


"Boleh saya ganggu sebentar ya, mau diliat dulu bukaannya," pinta dokter Nabila.


"Boleh dok, " jawab bunda.


"Oma, opa boleh keluar dulu ?" Arka mengambil alih Shania.

__ADS_1


"Kita lakukan lagi pemeriksaan dalam ya bunda, "


Shania mengangguk pasrah, dengan tangan yang bertaut dengan tangan Arka.


Ia menghirup nafas dalam.


"Wah hebat, sudah pembukaan 9 ini, sudah bisa masuk ruangan tindakan."


"Pak, bisa dibawa sekarang ke ruang tindakan."


Arka mengangguk, dokter Nabila tak lantas berjalan di depan, tapi ia ikut menuntun Shania dengan kelembutan, agar pasiennya ini merasa nyaman dengannya.


"Masih bisa jalan ?"


"Ini hebat loh ! Pertama kali lahiran, tapi engga teriak-teriak, ga nangis, ga minta pain killer, manut-manut wae, "


Sungguh perjuangan yang hebat ! seorang Shania sekalem itu.


Suster merapikan dahulu ranjang tindakan. Mata Shania mengedar, dengan bau etanol yang khas, dan berbagai peralatan logam lainnya, membuat nyalinya berkurang, dengan segera ia memberikan afirmasi positif untuk dirinya sendiri agar tak terbawa suasana.


Tes...


Tes....


Lelehan air bening kekuningan mengalir dari pangkal pa hanya sampai ke ujung kaki, seiring rasa seperti ingin buang air yang tiba-tiba menderanya.


"Dokter...." lirihnya.


Dokter Nabila menoleh.


"Wah, hebat !!! tidak perlu kita pecahkan, sudah pecah sendiri, mari ayah ! Bantu bunda naik ke ranjang, "


"Jangan dulu mengejan kalau saya belum suruh ya !" Shania mengangguk, kakinya terasa kebas.


"Posisinya bisa pilih mau gimana ? Nungging setengah duduk, berbaring atau...."


"Ya sudah, begitu juga bagus. Mengejan tapi tidak usah sampai berteriak, dan jangan sampai menutup mata, jangan angkat pantatnya, jika rasa mulas yang teramat sangat seperti ingin buang air, tarik nafas lalu mengejan, paham ?" Shania mengangguk, sedangkan Arka menggeleng. Otak Einstein seketika ambyar.


"Siap ! Kalau dedek ada dorong dari dalam...seperti mau keluar, bilang sama saya, bundanya bantu push !" dokter Nabila yang sudah bersiap dengan sarung tangan karet dan posisinya kembali menuntun Shania.


Shania kembali mengangguk.


"Dokter...."


"Siap, push !!!" (dorong)


Shania menarik nafas dalam, dan mengejan.


Hhhhhh....


Percobaan pertama gagal.


"Ga apa-apa, kita coba lagi !" senyumnya memberi semangat.


"Kamu kuat Sha, kamu ibu terhebat !" bisik Arka mengecup pipi Shania dari samping dengan menggenggam tangan Shania, seakan memberikan kekuatan untuknya berjuang.


"Siap, mengejan jangan sampai pantat terangkat ya,"


"Push !!"


Hhhhhh.....


Hanya 2 kali dorongan, tenaga Shania hampir seluruhnya terkuras. Ia sampai menggeleng kuat saking lelahnya.

__ADS_1


"Ga kuat mas," bisiknya.


"Kamu harus kuat, pasti bisa !" jawab Arka, hatinya bergetar hebat mendengar itu, ingin rasanya ia membantu Shania tapi hanya ini yang bisa ia lakukan. Do'a do'a ia panjatkan sampai ke langit.


"Oke, mau minum dulu bundanya ?" suster memberikan segelas teh manis hangat dengan sedotan dan memberikannya pada Shania, dalam sekali sedot saja ia bisa menghabiskan setengah gelas.


"Oke siap ? Kepala dedeknya sudah nongol itu, "


Demi apa ? ucapan dokter Nabila memberikan kekuatan tersendiri untuk Shania.


"Kamu pasti bisa sayang," bisik Arka mengecup kembali pipi Shania.


"Push !!"


Mengerahkan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, Shania mengejan dengan sekuatnya, dan seperti sesuatu yang besar keluar begitu saja dengan licinnya, perut Shania mulai mengempes.


Seorang malaikat kecil kini hadir diantara mereka, sosok kecil yang kini berada di tangan dokter Nabila meloloskan air mata Arka dan Shania.


Shania benar-benar meloloskan nafas lega, genggaman tangan yang semula menguat kini mengendur, ia sudah seperti tak memiliki tulang, hanya seonggok daging yang kehilangan daya. Shania memejamkan matanya demi mengingat sesuatu.


"Saya Arka, guru kimiamu."


"Kamu tidur ? Apa yang kamu pelajari ? Lari lapangan 5 keliling !"


"Perjanjian pra nikah,"


"Kasih waktu setahun pak, bapak bisa ceraikan saya !"


"Alya, pacar pemilik cafe ini !"


"Saya tidak mau bercerai, pernikahan bukan untuk main-main."


"Sha mau jadi atlit, Sha keterima mas !!!"


"Mas ijinkan kamu, kejarlah cita-cita kamu, mas akan menunggu. Karena itu cara mas mencintaimu,"


"Tau Siti Khadijah ?"


"Mas jahat ! Sha hamil !!!"


"Aborsi, Maya....."


Dan bisikan seseorang membuyarkan lamunannya, membuatnya membuka mata perlahan-lahan.


"Terimakasih sayang,"


Suara tangisan bayi terdengar kencang mengisi seluruh inci ruangan tindakan ini, seorang bayi perempuan imut nan cantik seperti ibunya. Dokter Nabila menjepit tali pusar dan mengguntingnya, membersihkan the new little angel...


(Malaikat kecil baru)


"Bunda, masih ada yang harus keluar dari dalam sana, aga mulas sedikit tapi tidak seperti yang tadi, cuma butuh dorongan sedikit..." pinta dokter Nabila, dengan Arka yang melepaskan Shania dan mulai mengadzani anak mereka.


"Nanti sambil saya membersihkan, dedeknya di taro di dada bunda ya, buat IMD,"


.


.


.


Noted


*Pispot : Wadah yang menjadi toilet pasien yang terbaring biasanya terbuat dari logam, keramik, gelas atau plastik.

__ADS_1


*Pain killer : pereda nyeri.


*IMD : Inisiasi Menyusu Dini.


__ADS_2