
The real teacher..
(Guru sebenarnya..)
Shania Cleoza Maheswari
---------------------
Shania masuk ke dalam kamar.
"Bu, Shania ke kamar dulu ya !"
"Iya Sha, " jawab ibu, ia pun sama.
Hari ini cuaca memang panas, daripada bete ga ngapa ngapain, Shania lebih memilih membuka kopernya. Senyumnya terbit, saat melihat bungkusan yang sempat ia bawa dari rumah.
"Cocokkk ! maskeran ah ! panas banget," Shania segera menyeduh serbuk masker teh hijaunya dengan air. Mengambil bando yang ia gunakan untuk menahan rambutnya agar tak menutupi wajah, ia menghadap ke depan cermin dan mengoleskan masker itu di seluruh permukaan wajah.
Hemmm, dingin !!
Ia menaruh mangkuk plastik yang ia gunakan untuk masker di meja kayu, matanya menyipit melihat album foto milik Arka tersusun rapi bersama buku lainnya di sudut kanan meja. Tangannya terulur untuk mengambilnya, dan ia mendudukkan diri di kursi.
Membuka lembaran demi lembaran foto lama Arka. Mulai dari Arka kecil yang tengah bermain sepeda, foto ayahnya dan Arka. Shania tertawa melihat sosok foto Arka kecil, yang tengah berangkulan dengan kedua anak lelaki lainnya. Sepertinya mereka habis bermain perang perangan terlihat wajahnya yang di coret coret arang, kepala di ikat tali, badan kurus setengah toples bagian dada, dan memegang senjata dari bahan batang daun pisang. Disini terlihat jelas jika dada dan perut Arka masih sangat kerempeng, bahkan mungkin bisa dibilang tulang dadanya saja sedikit terlihat. Jika dibayangkan dengan Arka sekarang ia tak akan percaya, karena sangat berbanding terbalik. Ia masih tertawa dalam kekakuan karena masker yang menempel di wajah mulai mengering.
Ia membuka lembaran berikutnya menunjukkan Arka yang beranjak remaja.
Tapi tunggu !
Setiap foto Arka remaja selalu ada sosok gadis yang mukanya terasa familiar.
"Ini mbak Retno kan ?" benaknya. Lebih dari 3 foto yang menunjukkan kebersamaan mereka, hampir di setiap moment berharga Arka, sepertinya ia selalu hadir. Kenapa hatinya mendadak mendidih ?Tak suka !
Tiba tiba saja ia teringat dengan kejadian perkenalan tadi di rumah mbah, tatapan dan ke grogian Retno menunjukkan jika something happen (sesuatu terjadi).
Tapi bukankah Arka dan Retno bersaudara ? atau justru Retno hanya kerabat ? arghhh... Shania menutup album saat sudah mencapai lembaran terakhir dan menyimpannya kembali.
Arka berjalan menuju rumah. Temaram lampu neon putih kecil menerangi teras.
Ia membuka pintu rumah, ternyata belum dikunci, ia lalu menguncinya dan merapatkan gorden coklat yang melapisi gorden tile putih tipis.
Sebelum masuk ke dalam kamar ia terlebih dahulu ke kamar mandi. Ia membuka pintu kamar, Arka tergelonjak kaget bukan main, saat melihat sesosok berwajah hijau duduk di kursi kayunya.
"Astagfirullahaladzim !" Tapi sedetik kemudian sosok itu tersenyum kaku.
"Mas, "
__ADS_1
"Sha, kamu pake apaan ?"
"Maskeran mas," suaranya sedikit tak jelas karena bibirnya yang kaku. Arka terkekeh tanpa suara.
"Ada ada aja, mas kira kamu hantu,"
Matanya mendelik tanpa membalas. Arka membuka kaosnya di depan Shania tanpa aba aba, membuat Shania kelimpungan menutup matanya. Jika bukan karena masker mungkin kata kata sengit sudah ia loloskan untuk Arka yang selalu membuat dirinya sport jantung. Dasar pak guru ga tau malu.
Arka tau kekesalan Shania, ia hanya tersenyum dan malah menggodanya membuat gadis ini memberikan ancaman dengan melotot, jangan macem macem !! Arka tertawa lepas melihat tingkah Shania.
Arka mendekat sepaket dada polosnya, Shania sudah memasang ancang ancang. Ia juga tak segan segan membawa bantal untuk ia pukulkan pada Arka.
"Kamu harus terbiasa Sha, liat mas polosan," goda Arka.
"Udahan ah mas, awas minggir ! Aku mau cuci muka !"
"Ambilkan dulu kaos mas di lemari," pintanya.
Shania menurut dengan membuka lemari, ia mengambil kaos berwarna putih dari tumpukan kaos milik Arka yang tersusun di lemari.
"Matur nuwun," jawab Arka.
"Your welcome !" balas Shania seraya keluar dari kamar, membuat Arka terkekeh.
"Udah reuniannya ?!" Shania masuk dengan keadaan wajah segar.
"Udah. Besok Nanang kesini pagi pagi buat bagiin hampers dari bunda,"
"Iya, " Shania naik ke atas ranjang dan menaruh guling diantara keduanya.
"Ini batasnya ya, mas ga boleh lewatin itu !" ucap gadis itu. Arka hanya mendengar tanpa mau menggubrisnya.
"Nanti juga kamu yang lewatin, kamu kan kalo tidur udah kaya kuda lumping," cibir Arka.
"Ih engga ya ! Shania kalo tidur kalem mas, kaya putri keraton, " kilahnya sengit.
Arka membaringkan badannya terlentang.
"Bisa tidur ngga ? kamu kalo di tempat asing kan mesti adaptasi dulu, " tanya Arka.
"Hm, " Shania menyetujuinya.
"Susah, mana tadi di kereta kan tidur lama."
"Udah coba minum susu hangat ?" Arka kini berbalik ke arah Shania.
__ADS_1
"Ga ada susu disini mas, " jawab Shania. Kini keduanya saling berhadapan, guling hanya bisa membatasi badan keduanya saja, itupun hanya dari dada sampai lutut. Obrolan susu hanya sekedar basa basi saja, karena sekarang yang mereka lakukan adalah saling pandang, menyelami perasaan masing masing.
"Mas, kalo nanti seandainya aku ga diterima di almamater kuning, dan malah diterima di kampus lain beda kota gimana ? di Bandung may be, mas bisa ke Bandung atau aku pulang ke Jakarta pas weekend. Kamu ijinin ngga ?"
"Engga, " jawab Arka to the point. Lelaki ini memang selalu begitu, mengutarakan isi hatinya tanpa berbasa basi.
"Kampus bagus di Jakarta masih banyak, katanya ada surga yang harus kamu kejar.." terang Arka.
"Hm, iya." Shania mengedip lama, tapi saat ia membuka matanya kembali, jarak Arka malah semakin mendekat, hingga wangi aroma teh hijau dari wajah Shania menyegarkan penciumannya, membangkitkan gai rah kelaki lakian Arka untuk segera menyapu dan membelai wajah Shania.
"Temen temen mas udah pada nikah ya ?" tanya Shania.
"Udah, udah punya buntut lebih dari satu malahan," jawab Arka.
"Cuma mas yang belum ?" Arka mengangguk.
"Oh, " Shania kembali mengedipkan matanya lama, obrolan ini setidaknya membuatnya merasakan hawa hawa mengantuk.
Kali ini Shania tersentak membuka matanya hingga melotot, saat sesuatu yang basah dan kenyal telah berani menyentuh bibirnya. Tangan Arka pun telah mengusap lembut dan menahan rahang Shania.
Mulutnya tak bisa berkata kata, degupan jantungnya semakin cepat membuatnya jadi lemas seketika. Membiarkan Arka mengakses semuanya tanpa perlawanan.
Beberapa kali Shania memejamkan mata dibawa melambung ke atas awan, sapuan aroma segar mulut Arka menyapu kulit wajahnya. Meskipun perokok, Arka selalu menggosok giginya diakhiri dengan cairan mouthwash jika setelah merokok, hingga bau tembakau dan nikotin jarang tertinggal di dalam mulutnya.
Mencecap rasa manisnya bibir Shania sudah menjadi candunya. He is pro...sampai sampai Shania dibuat melayang. Padahal selama ini, ia hanya sebatas tau kissing itu tanpa pernah merasakannya. Sempat tak sengaja ia melihat di depannya, antara Deni dan pacarnya yang selalu kissing tak tau tempat, tapi ia tak tau jika rasanya akan seindah ini.
Arka melepaskan pagu tannya, memberikan Shania waktu untuk meraup nafas, 5 detik cukup untuk 3 tarikan nafas, Arka kembali menyatukan bibir keduanya. Memperdalamnya dengan mengetuk pintu bibir Shania dengan gigitan pelan, layaknya Shania yang berkenalan dengan keluarga Arka tadi, ia pun kini begitu...mengabsen satu persatu gigi, lidah Shania. Memberikan belaian belaian lembut disana, meninggalkan napak tilasnya.
She is mine.....
(Dia [perempuan] milikku....)
Jika dulu, saat tak sengaja melihat Deni vs pacarnya hanya nav su dan grasak grusuk liar yang ia lihat. Beda halnya dengan yang terjadi sekarang antara ia dan Arka. Ia memang the real teacher, mengajarkan dan membimbing Shania dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, buktinya saja sekarang ia tak berkutik dibuat menembus nirwana. Tidak seperti anak anak muda yang mengikrarkan cinta hanya untuk menutupi gelora bi ra hi. Cinta bukan pasal nav su yang menggebu.
This is the real love, soul kissing...
.
.
* Kuda lumping : kesenian berasal dari Ponorogo biasa disebut juga jaran kepang, tarian ini biasanya bersifat dinamis.
* Adaptasi : menyesuaikan diri.
*Mouthwash : cuci mulut, cairan mouthwash adalah cairan pencuci mulut.
__ADS_1