
Acara 7 bulanan menyisakan tawa, dan yang jelas rumah yang berantakan.
Bi Atun, Arka, family Route 78 ikut membantu membereskan rumah.
"Makasih semua, maaf jadi merepotkan. Yuk ikut makan dulu sebelum pulang !" pinta bunda.
"Sama sama bu, ga apa-apa ko, ga repot," jawab mereka, berkat semuanya rumah sudah kembali menjadi hunian bukan tps (tempat pembuangan sampah).
"Makan dulu, sudah disiapkan !" Arka tidak sedang menawari tapi ia sedang menyuruh, mau tak mau mereka ikut makan di ruang tengah, bukan di kursi meja makan ataupun di sofa.
Nasi beserta lauk pauknya tergelar di atas karpet, masih hangat.
"Ayo silahkan, silahkan ! Jangan sungkan ! Dimas, Lukman, ayo di pangan !" pinta ibu.
"Yok lah, sa aya aya weh nya, seadanya aja !" (seadanya aja ya !). Seadanya padahal nyatanya di atas karpet sudah tersedia, nasi timbel, dengan lauk pauk lengkap, lalapan sambal, dan buah buahan. masakan khas sunda buatan bunda dibantu ibu.
"Oh, ibunya Shania dari Jabar (Jawa Barat) juga ?" tanya teh Mila.
"Sumuhun,"
"Sami atuh," jawab teh Mila.
"Wah ada ikan asin nih, " seru Dimas dan Lukman melirik satu menu di atas karpet.
"Iya atuh sok, jambal langsung dari Pangandaran," jawab bunda.
"Tah itu, sambelnya emhhh.. dijamin pedo ! Alias nampol ! Buatan besan !" ujar bunda menunjuk mangkuk kaca bening berisi sambal yang merah menggoda seperti sedang promosi sedangkan ibu hanya tertawa melihat sikap besannya yang hampir sama seperti Shania. Ucapan seorang pelaku bisnis memang beda.
Arga ikut tertawa, "mbak Shania 11 12 sama ibunya,"
"Bun, kopi mana kopi ?" pinta ayah menaik turunkan alisnya seraya melongokkan kepala di ambang pintu dapur, dari teras belakang.
"Oh iya bentar yah, sok atuh pada dimakan. Jangan sungkan!" ucap bunda kembali berlalu menuju dapur. Ke-10 karyawan Route 78 duduk melingkari makanan di karpet di temani ibu dan Arka. Benar, karyawan Arka memang ada 10 dengan cabang yang kedua, tapi sepertinya Arka harus menambah lagi karyawannya dalam waktu dekat, karena kini jam buka Route 78 adalah 12 jam.
"Ka, sudah ada beberapa pelamar. Mungkin besok saja disuruh training," ujar Lukman dan Dimas, seraya tangannya meraih beberapa lauk di depannya.
"Iya atur-atur saja,"
"Mbak Shania mana mas ?" tanya Sifa.
"Di kamar, lagi ganti baju. Saya ke atas dulu sebentar," Arka beranjak dan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dilihatnya Shania yang tengah tidur menyamping di atas tempat tidur, wajah tenangnya menandakan ia yang pulas.
"Sha, " gadis itu sudah berganti pakaian. Sepanjang memakai kebaya, ia selalu mengeluhkan tak nyaman memakai kebaya dan samping.
Arka kembali mengguncang bahu Shania, membuat si empunya mengulat dan mengusap perutnya, lama-lama matanya mengerjap.
"Capek ?" tanya Arka, ia mengangguk.
"Udah sore, ga baik tidur. Anak Route 78 lagi pada makan, mau gabung ?" ajak Arka.
"Gendong !" manjanya. Lihatlah dia, kemarin saja ia berikrar bahwa ia akan berjuang dan belajar menjadi wanita tangguh, mandiri, calon the best momy of the year.
Arka terkekeh, "calon the best momy of the year minta digendong ?"
"Besok-besok aja lah mas, jadi momy the best-nya, capek banget ! lutut Sha tremor, udah kaya mie lidi ! Sekali nginjek lantai langsung patah !" keluhnya. Ia sudah tak peduli jika gengsinya yang segede gaban sebagai cewek paling menjunjung tinggi harga diri, kini harga dirinya sudah bercucuran ke atas tanah dan menyatu dengan akar pohon tomat.
Jika memang pacaran setelah menikah seindah ini, maka Arka akan menikmatinya bersama Shania. Memang benar, apapun jika sudah halal, perasaan cinta yang tumbuh pun akan terasa semakin indah, seindah pelangi setelah hujan, Shania-nya makin kesini semakin menggemaskan.
__ADS_1
Shania turun dari lantai atas dengan digendong oleh Arka.
"Cie ekhemm ! Kenapa jadi gue yang blushingnya sih, yang gendong gendongan kan mas Arka sama mbak Shania !" ujar Arga di sela sela kunyahannya.
"Bilang aja lo ngiri, kepengen juga !" jawab Dimas.
"Siapa yang ga pengen mas, yang halal suka bikin ngiri,"
"Nduk, makan dulu !" ajak ibu.
"Iya bu, "
"Euleuh euleuh eta nanaonan pake di ais sagala, kaya anak koala ?!" ujar bunda muncul dari ambang pintu dapur.
(ilih ilih...itu apa apaan pake di gendong segala, kaya anak koala?)
"Biarin atuh bun, biar kaya orang orang, romantis !" jawab Shania turun dari gendongan Arka dan bergabung dengan family Route 78 yang duduk melantai di karpet.
"Makan mbak!" tawar Arka begitupun yang lain mengangkat piringnya di depan wajah pada Shania.
"Ikutan lah ! Enak kayanya !" Shania bukan gadis yang jaim dengan selera tinggi yang makan saja harus dengan orang orang berkelas di tempat yang mahal.
"Widih ! Ada sambel ibu, ada udang balado sama nasi timbel buatan bunda !" seru Shania.
"Neng, jangan terlalu banyak makan udang, itu bukan udang galah soalnya. Suka gatel-gatel kan ?" bunda mengingatkan membuat Arka menoleh.
"Sip !" Shania memberikan jempolnya.
"Sha alergi udang bun ?" tanya Arka, diangguki perempuan berumur 43 tahun itu,
"Engga udang, " Shania menoleh.
"Apaan sih mas ?"
"Jangan ambil resiko, nanti ada apa-apa lagi."
"Kalo dikit engga mas, " bela Shania.
"Mas ga mau ambil resiko, yang lain boleh ! sambel juga jangan terlalu banyak," bibir Shania manyun, matanya mendelik tajam tapi ia tak sampai melawan, bunda mengulum bibirnya demi mendapati Shania yang manyun, biasanya anak nakal itu akan melawan jika keinginannya tak terpenuhi, tapi saat ini sangat terlihat ia tengah benar-benar menahan diri untuk tak melawan.
"Pelit, kalo anaknya nanti ngiler..orang pertama yang Sha cari dan Sha gebukin mas, ya ?!"
Bukannya jadi canggung, mereka yang berada di sana mengulum bibirnya menahan kedutan di bibir melihat si nakal ini marah.
"Iya, " jawab Arka.
"Dih, nyebelin banget !" ketusnya meraih ayam, tahu, tempe, sambal, lalapan dan oseng cumi dan tumisan.
Inget Sha, laki loe kan manusia peraih piala oscar manusia paling datar, dingin dan tegaan.
"Nih tuh ! Sha cuma makan dikit !" Shania melahap makanan dalam piringnya.
"Busett Sha, gue baru tau dikitnya bumil itu satu piring mentung ?!" ujar Lukman di tertawai yang lain termasuk ibu dan bunda.
"Uncle ga usah ikut ngomong, nanti Sha makin ga selera makan !" jawabnya dengan mulut penuh makanan.
"Oke..oke..." bukan Shania yang tersedak tapi Arga karena menahan tawanya sedari tadi.
__ADS_1
"Uhukkk...uhukkkk !" Arga menepuk nepuk dadanya yang perih.
"Euhh, ini lagi ! nih minum minum !!" Dimas dan Lukman mengangsurkan cup air mineral.
"Pelan pelan makannya Ga, " imbuh teh Mila.
"Gue bukan karena kecepetan makan teh Mil, tapi karena mbak Shania kocak banget, " jawab Arga.
"Dih, ko jadi Sha ?!" Shania mencibir.
Acara makan berlangsung begitu hangat dan penuh canda, bahkan ayah juga ikut bergabung disana.
Arka ikut makan, tapi bukan dengan tangannya sendiri. Ia makan disuapi Shania, menjadikan moment ini pemandangan paling uwu diantara semua moment yang terjadi hari ini.
Ting tong !!!
Semuanya berhenti bicara saat terdengar suara bel dari luar.
"Ada tamu ?" tanya bunda.
"Paket !!!" pekiknya dari luar.
"Yes paket Sha dateng !!" serunya beranjak memberikan piringnya yang masih berisi nasi.
"Mas pegang dulu, " ujar Shania pada Arka yang tengah meneguk air minum, gadis itu mencuci tangannya.
Shania berjalan menuju pintu depan.
"Ka Shania ?!" seorang laki laki tersenyum lebar, sepertinya ia adalah model iklan pasta gigi karena senyumnya begitu lebar sampai sampai Shania merasa silau, ia memakai jaket berwarna oren membawa kotak berisi paket yang dipesan Shania tempo hari.
"Iya, "
"Tanda tangan dulu ya kak," Shania mengangguk.
"Makasih pak, " jawab Shania menutup pintu depan dan membawa kotak itu melewati orang orang langsung ke lantai atas.
"Paket apa neng ?" tanya bunda.
"Bom, duarrr !!" Shania tertawa tak lama ia kembali duduk dan menyelesaikan makannya.
"Cih, dasar !" cebik bunda.
"Mas udah ?" tanya Shania disuapan terakhir dari Shania, Arka mengangguk.
"Paket apa tadi ? Kamu beli apa ?"
"Victoria's secret !" bisik Shania mengedip genit pada Arka.
.
.
.
Noted
*Nasi timbel : nasi hangat yang dibungkus dengan daun pisang yang sudah di panaskan dahulu diatas api agar aroma daun pisangnya keluar.
__ADS_1