
Sebuah pertanyaan besar menempel di jidatnya, kenapa ia tak tau kalau Arka sekertaris BEM kampus kuning ? Daebakkkk !!
Kepulan asap hampir dilewati sepenuhnya, mulai terlihat kumpulan orang-orang dengan jas pelangi alias berwarna-warni, tapi di tempatnya saat ini adalah kebanyakan yang berjas kuning dan hijau. Kaya pohon jeruk lemon yang lagi berbuah.
"Sha !!!! Baru kali ini gue seneng banget ketemu loe lagi," Inez, Melan, Niken, dan Leli memeluk Shania khawatir. Banyak pasang mata yang menatap Shania penuh kagum, kini nama Shania jadi viral diantara sesama mahasiswa seantero Jakarta, banyak yang mencari tau siapa Shania ? Arka semakin mengepulkan asap cemburu.
"Nih ! Kalo tingky winky, dipsi, lala ketemu 'mpok ! Pasti berpelukan," ujar Ari dikekehi Deni dan Roy yang sudah berhasil kembali lagi ketempat aman.
"Ga ada yang kangen gue nih ? Ga ada yang mau peluk Malin, Cik Mel..onty Niken, onta Leli ?" ujar Guntur. Bukan drama mengharu biru, tapi sekali lagi gelak tawa mewarnai kembalinya sang hero nyamuk 🤣🤣🤣 maksudnya heronya kaum emak-emak milenial.
"Si@*lan, loe yang onta !" decih Leli meninju perut Guntur.
"Congrats Sha, orasi loe bisa bikin yang diatas lirik kita !" ujar Kevin menyelamati.
"Thanks, gue cuma refleks curhat aja sih sebenernya, bawaan ibu-ibu, suka emosi kalo harga sembako pada lomba panjat pinang ! Ga niat orasi mati-matian," kekeh Shania.
"Ka," panggil Vian.
"Sebentar, kamu tunggu disini dulu. Jangan kemana-mana !" ancamnya penuh penekanan, karena terakhir kali peringatannya tak digubris sang istri.
"Iya," Shania kembali bergabung dengan teman-temannya, tapi matanya tak sedetik pun berpaling dari Arka, dilihatnya Arka yang tengah mengobrol serius dengan Vian dan Kevin, juga beberapa ketua DPM dari kampus lain.
"Ngobrolin apa sih Yan ?" tanya Shania penasaran.
"Ngobrolin pembagian nasi bungkus kali Sha," jawab Roy asal.
"Loe yang dipikir makanan mulu ! Dasar perut karet !" tukas Inez.
"Loe yang mulutnya karet !" desis Roy tak kalah sengit.
"Ini kalo gue punya gas air mata, gue semprot nih loe berdua ! Heran deh, jarang ketemu, giliran ketemu udah kaya pitbull sama pigiii utan, saling gigit saling seruduk !" decak Ari.
"Eh, ngomongin makanan ko gue jadi laper ya ?!" imbuh Shania.
"Sayang banget ga ada tukang mie ayam di dalem tadi mak," ujar Guntur.
"Otak loe di jual apa gimana sih ? Loe kira ini lagi karnaval ?! Pake ada segala 'kang mie ayam !" jawab Melan sewot.
"Nyari 'kang somay atau mie ayam yuk ! Ko demo begini bikin perut gue ikut demo juga !" ajak Shania, memang benar, Shania senang dengan hidup ala Larry si lobster, menantang maut atau ia memang senang dengan yang ekstrem-ekstrem. Tak ada takutnya sama sekali dengan peringatan sang suami, punya nyawa berapa ?
"Loe ga inget disuruh diem ya Sha, loe mau ditanem di halaman belakang barengan sama pohon singkong sama pak Arka apa gimana Sha ?" tanya Inez.
Ia menepuk jidatnya sendiri, "gue lupa lah !"
"Ini nih, masih muda pikirannya udah harga rawit ya begini !" jawab Niken.
__ADS_1
"Emangnya loe Ken, yang ada di otak loe terong-terongan !"
Niken melepas sepatunya dan melemparnya pada Roy.
Plukkk !
"Adawww, temen cewek gue nih lebih sangar dari aparat disini !" ujar Roy malah melempar sepatu Niken ke sembarang tempat.
"Nih !!!! Sepatu emak tirinya Cinderella ! Ada yang minat ambil ngga ?!" pekiknya saat melempar.
"Kimvrittt !" Niken menimpuk Roy dengan pukulan bertubi-tubi.
"Hadeuh ! Ini kita mau demo, apa mau ngelawak disini sih, ko jatohnya kaya kelompok lenong nyangkut di tengah-tengah aksi demo," jelas Deni yang baru bereaksi.
"Hooh lah ! Dari minyak, nyambung ke rawit, nyambung ke teletubbies, terus ke terong. Ini teletubbies disuruh dagang terong dicabein apa gimana ?!" Beberapa mahasiswa yang berada di sekitaran mereka asyik menyimak obrolan geng dedemit ini dibandingkan hasil demo hari ini. Shania mengambil posisi duduk di jalanan beraspal bersama yang lain, ia kembali meng-unboxing isi tasnya, masih ada cemilan keripik disana dan coklat yang langsung diserbu geng demit kurawa.
"Wah, Sha ! Sekarang loe beneran udah jadi emak Sha, cuma emak tau ngga yang inget nyiapin makanan kalo lagi begini," ujar Ari.
"Mas Kala yang siapin. Gue mah boro-boro inget bawa beginian ! Terlalu excited mau demo," jawab Shania.
"Besok-besok kalo demo gue bawa karpet plastik lah !" jawab Guntur.
"Gue bawa rantang sama termos !" jawab Ari.
"Sha, pak Arka beneran sekertaris BEM kampus kuning ? Keren dong !" bisik Leli.
Shania menggidikan bahunya, "gue aja baru tau barusan dikasih tau Guntur, kalo di liat-liat sekarang dia sama para ketua BEM sih kayanya iya deh ! Pantesan dia ijinin gue demo, ternyata dia-nya disini !"
Arka kembali bersama yang lain, meskipun peluh mengucur tapi semakin kesini, semakin Shania mengenal suaminya semakin ia mengagumi Arka, Arka tak pernah menyombongkan siapa dirinya pada Shania, jika Shania tau lebih awal siapa Arka, bagaimana sepak terjangnya, apa yang ia miliki. Mungkin dari dulu, ia sudah sangat getol mengejar pak guru dinginnya ini.
"Capek ?" Arka berjongkok.
"Sha laper lah mas, mas main tarik-tarik aja tadi. Ga tau apa Sha lagi makan sama Guntur !" jawab momy cantik ini mengomel seperti knalpot bajaj.
"Hah ?!" mereka jelas terbengong. Tak waraskah Malin ko_tang dan mak Malin. Disaat suasana chaos mereka sempat-sempatnya makan ?
"Loe berdua sempet-sempetnya makan ? Enak bener ! Berasa di bioskop !" dengus Melan.
"Emejingggg !!! Temen gue berandal sejati, besok-besok gue ajak lagi tawuran lah Sha sambil ngopi !" puji Deni tertawa, Arka langsung menoleh dengan tatapan tajam.
"Nah lohhh ! Pawangnya Shania ngamuk, diacak-acak tuh muka !" tawa Roy.
"Ya udah, mau makan dimana ? Pulang sekarang ?" tanya Arka.
"Ka," Vian menyentuh pundak Arka.
__ADS_1
"Sorry Ian, Sha kayanya udah ga bisa lanjut. Galexia di rumah butuh Shania, saya cuma ijinkan Shania ikut demo disini, tapi tidak meninggalkan tugasnya sebagai ibu," tegas Arka.
"Tapi mereka mau ada Shania sebagai perwakilan dari para pendemo," jawab Vian diangguki ketua BEM dan DPM kampus lain.
"Ini ada apa sih mas ? Ko Sha dibawa-bawa ?" tanya Shania.
Arka meloloskan nafasnya kasar, "orasi kamu tadi dapet sorotan pihak atas, memang biasa mereka mempersilahkan perwakilan dari mahasiswa untuk duduk bersama, tapi mereka mau kamu ikut diantara kami-kami yang masuk,"
"Wahhhh !!! Sha keren, siapa tau abis ini jadi anggota dewan, Sha !" puji Roy.
"Dedek mas, kalo disana pasti lama. Sha ga mau lama-lama. Stok susu buat dedek cuma cukup sampe siang," ia melirik jam di tangannya. Ada tanggung jawab yang lebih penting menunggu Shania di rumah dibandingkan duduk-duduk cantik di ruangan berAC sambil berfikir keras pake batu merumuskan masalah negara yang tentu saja akan membuat Shania mengantuk, Arka sangat paham akan hal itu.
"Sorry Vi, dan yang lain. Shania ga bisa ikut ke dalam." Keputusan final dari Arka, tak mengijinkan Shania untuk duduk bersama para anggota wakil rakyat.
"Gini aja deh, Sha loe bikin video permintaan maaf karena ga bisa hadir, terserah loe gimana bahasanya seenak loe," usul Kevin.
Shania melirik Arka meminta ijin, dan Arka mengangguk.
Shania duduk di bahu jalan berteduh dibawah pohon besar yang terkadang angin sepoi-sepoi membawa serta rambut bronze yang ia gerai. Wajahnya yang berpeluh, sedikit dekil bukannya membuat kecantikan momy satu anak itu berkurang, malah dengan slayer merah putih yang membalut leher putihnya menjadikan ia definisi cantik sebenarnya.
Vian merekam video berdurasi 20 menit yang disampaikan Shania.
"Wajah baru mahasiswa Indo_nesia nih !" seru Hendra pelan. Karena ia tau jika memuji istri orang akan membuat singa penunggu-nya marah dan mengaum. Apalagi ia sudah tau bagaimana marahnya Arka.
Saat salam terakhir, suara sendok dan mangkuk yang beradu memecah konsentrasi Shania, terlebih lagi para demit kurawa sudah berlarian layaknya lomba marathon saling menyusul.
"Abangggg !!!! Gue se porsi !"
"Gue ga pake sayur bang, mie-nya dibanyakinnnn !"
Mata Shania sudah melirik-lirik. Saat video telah di cut, Shania segera berlari menyusul teman-temannya.
"Gue mie ayamnya pake basooo !!!!"
"Astagfirullah !!! Sha," Arka kembali menepuk jidatnya, saat Kevin, Vian, Hendra dan yang lain tertawa.
Inhale...exhale...pak Guru, udah ga sabar buat hukum momynya Gale ya pak ?😂
.
.
.
.
__ADS_1