
Shania berniat pulang dengan membawa motornya dari halaman teras rumah pak Yono.
"Assalamualaikum, " pekik Shania.
"Waalaikumsalam, " perempuan, dengan daster coklat dan kerudung instannya, keluar dari dalam rumah berukuran sedang yang menempel di dinding sekolah. Sambil menggendong anak laki laki hanya memakai kaos dalam dan celana selutut. Yap ! anak dan istri pak Yono,
"Neng Shania ?!" tebak bu Endah, dengan melihat name tag di dadanya di bawah lambang merah putih saja, semua tau jika dia adalah Shania.
"Iya bu, " Shania mengangguk.
"Mau ambil motor ?" tanya nya lagi.
"Iya bu, "
"Mari masuk dulu neng, mampir dulu di rumahnya pak Yono !" ajaknya ramah, cuaca panas membuat Shania memutuskan untuk diam sejenak di teras rumah pak Yono.
"Iya bu, panas banget hari ini ! numpang ngadem deh, " Shania membuka sepatu warriornya di bawah teras rumah dan menginjakkan kakinya di teras pak Yono, bukan keramik mahal seperti rumah Arka, ataupun marmer seperti istana raja.
"Masuk neng, jangan di luar," bu Endah melambaikan tangannya, dan melongokkan kepalanya di ambang pintu.
"Ga apa apa bu di luar aja, " jawab Shania tak enak hati, ia lantas mendudukkan dirinya di tembok pembatas rumah dari tanah merah yang hanya setinggi lutut.
"Disitu masih kesorot matahari atuh, panas ! " mau tak mau Shania ikut masuk ke dalam ruang tengah kediaman rumah pak Yono.
Ruang tamu yang merangkap ruang tengah itu tak besar, mungkin hanya seukuran kamar bi Atun. Pas foto pak Yono dan bu Endah juga kedua anaknya yang masih kecil kecil dengan yang satu sedang memakai toga tk menjadi sorot utama di ruangan ini. Kursi berbahan kulit yang sudah lusuh dan mengelupas di beberapa bagian, menjadi pemandangan utama saat Shania duduk di sana.
"Maaf ya, kalo rumahnya jelek !" senyum bu Endah tak bermaksud mengejek ataupun merendah, hanya sekedar basa basi.
"Ga apa apa bu, justru Sha ngucapin makasih udah diterima numpang neduh, " jawabnya.
"Hai adek, " Shania mengulurkan tangannya demi menyentuh lengan anak bu Endah dan pak Yono. Namun, anak itu sepertinya takut dengan orang asing.
"Diminum neng, maaf adanya cuma air putih, sama ini...dicoba neng, mumpung masih hangat ! " bu Endah mengangsurkan segelas air putih dan bolu kukus berwarna putih dan pink di depan Shania, kemudian ia kembali melanjutkan kegiatannya membungkus kue kue basah ke dalam kotak kardus, jadi inget bunda.
"Ibu jualan kue basah bu ?" tanya Shania ikut melantai, melihat bu Endah yang cekatan mengurus pesanan kue dan anaknya yang masih kecil.
"Iya neng, ngembangin bakat yang terpendam !" serunya berkelakar.
"Ah ibu bisa aja, " cibir Shania mencomot salah satu penganan berbahan tepung, telur dan gula itu.
"Emhhh, enak bu !" serunya.
"Alhamdulillah, dulu ibu seneng bikin kue neng, cita cita ibu tuh pengen jadi chef taraf Internasional di bidang puff pastry," binar matanya tak bisa berbohong, jika bu Endah memang tengah bercerita keadaan sebenarnya.
"Terus kenapa ga dikembangin bu ?" tanya Shania, akhirnya gadis itu tertarik dengan cerita bu Endah.
"Karena kendala biaya neng, kepingin kuliah..tapi saya bukan dari keluarga yang berkecukupan alias ga mampu !" selorohnya, ceritanya terjeda karena anaknya menangis dan mengompol. Membuat bu Endah ijin menceboki anaknya dan mengganti celananya.
Shania mengedarkan pandangannya, menyapu dinding berwarna kusam. Namun, nampak bersih karena terurus sentuhan perempuan.
__ADS_1
"Neng ! nih, coba juga kue pastelnya !" bu Endah membawa satu piring kecil lagi pastel yang masih hangat, dan baru surut kadar minyaknya.
"Ibu, ga usah repot repot bu !" Shania beruntung datang di waktu yang tepat, rejeki anak sholeh, ia mengurut dadanya jumawa.
"Terus bu, "
"Ah iya, sampe mana tadi ya ?!" nyengirnya.
"Sampe kuliah ga ada biaya !"lanjut Shania kini merambah meraih pastel.
"Akhirnya ibu dipertemukan sama bapak, lalu menikah. Sempat kursus lalu mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan makanan gajinya lumayan besar. Tapi saya tolak, " jawabnya mencengangkan.
"Kenapa ?" tanya Shania.
"Karena jauh neng, "
"Tapi kan bisa memperbaiki taraf hidup, bu ?" alis Shania mulai mengkerut.
"Ada kewajiban yang utama yang harus saya jalankan lebih dari sekedar memperbaiki taraf hidup. Karena sejatinya wanita yang sudah menikah adalah melayani suami, menjadi makmum sang imam."
Hati Shania bagai dihantam ombak besar, dengan kecepatan yang sepersekian detik.
"Bapak memang mengijinkan saya untuk berkembang dan maju, tapi saya tau disitu ada hati yang terluka, ada kewajiban yang saya tinggalkan dan ada hak yang saya tidak berikan. Ridho Allah ridho suami, hebat dimata manusia belum tentu hebat di mata Allah, "
Demi apa ?! kini tangannya bergetar mendengar kata kata bu Endah. Berkali kali Shania menelan salivanya susah.
"Tau kisah Siti Khadijah ?" Shania menggeleng.
"Salah satu dari 4 wanita yang dinanti surga, ibunya orang orang beriman, cinta sejatinya Rasulullah SAW?" Shania kembali menggeleng.
"beliaulah suri tauladan istri istri muslim, beliau tak pernah meninggikan suaranya di depan suami, mendampingi Rasulullah meskipun Rasul bukan orang kaya, tidak pernah menganggap posisinya lebih tinggi dari suami, padahal ia berasal dari kalangan mulia dan terpandang dari kaum Quraisy. Ia selalu mengikuti perjalanan Rasul, termasuk orang pertama yang mengetahui kenabian Rasulullah SAW, sampai ajalnya pun selalu berada bersama suaminya (di pangkuan suami)."
Selama beberapa waktu Shania benar benar mendengarkan siraman kalbu dari bu Endah, sampai matanya benar benar tergenang air.
"Loh, neng nangis ?" tanya bu Endah, Shania segera menghapus jejak jejak genengan becek di pipinya yang sampai merembes ke bawah dagu yang tak terlalu lancip.
"Terharu bu, " cicitnya singkat.
"Memang neng, " bu Endah menyetujuinya.
Ponsel Shania bergetar, tertera nama Arka disana.
"Bentar ya bu, " Shania mengusap lelehan air dari mata dan hidungnya.
"Hallo mas,"
"Assalamualaikum, kamu dimana ? kata bi Atun kamu belum pulang,"
"Shania masih di rumah pak Yono mas, mau pulang tapi masih panas. Jadi ikut ngadem."
__ADS_1
"Oh. Kamu nangis ? "
Demi mendengar suara Shania yang bergetar, Arka menjadi khawatir.
"Engga mas, Shania ga apa apa."
"Ya sudah, mas masih di kampus lanjut ke Route 78. Hati hati di jalan."
"Iya mas Kala juga."
...............
"Bu, makasih ya buat kue kuenya, enak ! sama ceritanya juga," Shania mencangklok tasnya dan beranjak.
"Sama sama, kapan kapan main lagi kesini neng, kebetulan saya jarang keluar rumah, " jawabnya.
"Insyaallah bu, dadah adek ! salam buat pak Yono bu, makasih udah mau diinepin motor Sha, " kekehnya.
"Dadah kaka !" bu Endah melambaikan tangan anaknya pada Shania.
Shania memasang helm dan mulai memasukkan kunci, lalu menstater motornya, keluar dari halaman rumah pak Yono.
"Sha !! baru balik ?!" Cakra yang masih berada di warung depan sekolah dengan anak anak satu genknya menyapa.
"Eh, iya ! kemaren titip motor di rumah pak Yono," Cakra menghampiri Shania.
"Ekhem ekhem...." deheman teman temannya di belakang.
"Suuthhhh !" Cakra menempelkan telunjuk di depan bibirnya memberi isyarat pada teman temannya untuk menghentikan godaan demi rasa nyaman Shania.
"Sha, selamat ya ! kamu daftar Dispora, dan ada di daftar pertama orang yang di accept, hebat !!! aku juga udah daftar, semoga ada di list nanti. Kalo aku diterima dan lolos, nanti seleksi kesehatan barengan ?" tanya Cakra.
Shania menjadi ragu, dan menunduk. "Ga tau deh Cak, gue masih ragu buat nerusin,"
Cakra mengerutkan dahinya, "loh, kenapa ? sayang banget kalo ga diterusin ?!"
"Gue mau sekolah aja kayanya, " ringisnya.
"Sayang banget, padahal dari sana bisa jadi atlet, dan aku yakin kamu bakalan sukses, kuliah dimanapun yang kamu mau, bisa lah !"
Shania memang setuju dengan pernyataan Cakra, tapi....
"Gue duluan ya Cak, dah sore..orang rumah udah pada nyariin !" pamit Shania.
.
.
.
__ADS_1
.