
Please bocil bocil harap skip ae guys, buat bo iboe yang lakinya kerja, bacanya nanti ae setelah suami on fire 🤣🤣 canda bu...harap bijak ya geng's...
Arka merapatkan badan Shania agar lebih menempel dengannya dengan sedikit menyentaknya hingga membuat kedua aset milik Shania memijit da da pria matang ini. Membawa kedua tangan gadis itu mengalung di leher Arka.
"Mas, handuk Sha melorot ! " di otak Arka, suara Shania terdengar begitu sexy, entah mungkin ia yang sudah terlalu menahan.
"Ga apa apa biar aja, " tautan handuk berwarna pink itu semakin mengendur, Shania merasakan lilitan handuk semakin melonggar.
"Mas, Sha mau pake baju.." tapi Arka tak mendengarkan, seakan aroma tubuh Shania seperti aroma hero in tersendiri untuknya, menjerat akal pikiran Arka, melupakan jika Shania masih kelas XII, tapi tak ada peribahasa menodai anak gadis orang disini, jika mereka sudah terikat dan sah dimata hukum maupun agama.
Hidungnya mulai mengendusi sepanjang leher yang masih segar itu, membuat Shania kegelian. Mendadak serangan glenyer aneh membuat pori pori Shania membesar hingga bulu romanya berdiri, bersamaan perasaan aneh membuat sekujur tubuhnya melemas, ternyata efek nutrisi dari susu yang selalu ia minum setiap hari yaitu membuat tulang kuat tak berlaku untuk waktu waktu tertentu, Shania merasa tulangnya tiba-tiba berubah seperti jelly. Arka menahan tubuh Shania agar tak meluruh.
Dengan gerakan kilat badan Shania sudah berbalik menempel di dinding, terjepit tubuh kekar Arka.
Sengatan kecil menimbulkan tanda merah layaknya disengat lebah, membuat Shania meringis.
Buzz...
Buzz...
Pak guru natckal !
Tidak berhenti hanya di leher, seperti nyamuk yang baru saja menetas, haus akan darah anak perawan. Sepanjang tulang sel angka Shania hingga bela han dada ia beri jejak kepemilikannya atas Shania.
She is mine...
Pluk..
Handuk merah muda itu terjun bebas dari badan Shania, menampakkan maha karya Tuhan yang sedari tadi tersembunyi rapi. Seakan Allah memberikan akses penuh untuk Arka.
Shania sendiri sudah memejamkan matanya karena malu. Seharusnya ia menutupi properti berharganya. Namun yang ia lakukan hanya memejamkan matanya, karena sedari tadi kedua tangannya menggantung di leher Arka.
"Mas, malu !" bisiknya, tak taukah Shania, malu malu kucingnya ini membuat Arka semakin gemas. Dengan sekali hentakan Shania sudah berada dalam gendongan Arka.
Kesempatan ini tak boleh Arka sia sia kan, sebelum gadis labil ini berubah pikiran lagi.
Ia menyentuh Shania dengan lembut dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Mas..."
Yes, call me baby....
"Mbak Shania !!!"
"Mbak, yo masak welut ! udah dibersiin ibu. Tinggal kita goreng aja plus nasi anget enak loh mbak !"
Dor..dor...dor..
"Nyu, mbak Shania-nya ga ada kali !"
__ADS_1
"Lha dha lha...moso sih ?!"
"Itu sandalnya ada ! tadi kan pulang bareng padhe Arka, "
"Dimandiin di sungai kali Nyu, " anak anak itu tertawa.
"Kamu tunggu disini, biar mas yang keluar," rahang Arka terlihat mengeras.
Shania mengangguk, ia menarik selimut coklat dan menahannya di dada.
Tak tau apa yang dikatakan Arka pada kelima anak itu, hanya saja kini Shania sedang mengatur perasaannya, tadi ada rasa menggebu seperti ingin melakukan sesuatu yang lebih, ingin merasakan sentuhan Arka lebih lagi. Tapi setelah mendengar suara anak anak tadi, kesadarannya telah kembali sepenuhnya. Ia tertawa cekikikan mengingat kejadian barusan.
"Udah gila gue, " Shania hendak turun untuk meraih kopernya, tapi tiba tiba Arka kembali masuk dan mengunci pintu kamar, menanggalkan kaosnya menampakkan setengah badan atletisnya.
Ia menarik Shania untuk kembali bergulung di kasur dengannya, kali ini sedikit lebih memaksa dan menuntut. Tapi tak mengurangi sensasinya.
Menempelkan bibirnya ke bibir Shania dan meny ecapnya. Melakukan gerakan gerakan yang membuat Shania lupa akan daratan, lupa jika kini ia sedang disentuh oleh pak guru-nya. Ketika kepalanya mulai menjelajah menuruni bukit menuju lembah, Shania hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan menjambak rambut belakang Arka, menahan sesuatu yang ingin keluar karena serbuan kepakan sayap dewi cinta di perut dan hatinya.
"Mas, awas.. Sha pengen pipis !" ucapnya kepayahan saat di bawah sana semakin memabukkan. Kenapa suaranya menggelikan sekali ? kaya ben cong ben cong di taman Lawang mende sahh tak jelas.
"Keluarin aja, "
"Masa pipis di kasur, malu sama umur mas !"
Arka tersenyum tapi tak membuatnya berhenti memberikan serangan bertubi tubi. Kulit selembut sutra itu begitu membuat gejo lak nya berlompatan ingin segera dituntaskan.
"Mas ihhh, " Shania meraup nafasnya yang tersengal, sedari tadi ia hanya diam tak melakukan apa apa, tapi badannya berkeringat, tubuhnya merasakan lelah seperti habis pemanasan, udara di kamar mendadak panas. Padahal ia baru saja mandi, rambutnya saja belum kering benar.
It's so hot....
Arka sedikit menarik dirinya. Namun, tetap di atas dengan bertumpu lengan, hingga terlihat otot otot bisepnya.
Tunggu ! sejak kapan ia ikutan toples kaya botol air mineral yang dibuka merknya.
Shania terkesiap melihat pria matang itu, leku kan tubuh inilah idaman setiap wanita. Tapi kenapa ada rasa takut yang ikut nyempil di dadanya. Belum Shania meredakan keterkejutannya, Arka kembali menyentuhnya di titik sensitif Shania membuat gadis ini lemah seketika, hanya bisa pasrah. Sudah tak ada lagi jalan untuknya mundur, tak mungkin ia dengan tega menghentikan lelaki yang sedang on fire, bisa bisa satu kamar kebakaran. Sekalipun Arka pasti akan melakukan untuknya. Shania tak bisa memungkirinya, bahwa ia pun menginginkannya.
Do it dude....
"Ga usah takut, mas ga akan kebablasan. Mas juga ga lupa kalo kamu masih sekolah, " bisiknya.
Sentuhan pak guru nackal ini membuat Shania kembali harus menggigit bibir bawahnya, berpegangan pada leher kuat Arka.
"Maaf Sha, ternyata iman mas tak sekuat yang mas fikir."
Hingga, Shania memejamkan matanya saat Arka membisikkan satu ayat yang belum pernah Shania dengar sebelumnya di telinga gadis itu, rasa ketakutan itu berubah menjadi rasa tenang. Mungkin itu yang orang orang bilang agar s3tan tak ikut serta dalam kegiatan mereka, meskipun ia sendiri tak dapat memastikan kebenarannya.
Shania tersentak kaget, saat sesuatu memaksa masuk. Menggedor dirinya di bagian bawah sana. Hanya satu yang ia tau, saat itu terjadi, itu terakhir kalinya ia menyandang status seorang gadis, menjadi seorang istri Arkala Mahesa sepenuhnya.
"Sakit ?"
__ADS_1
Shania mengangguk, tapi tak sampai membuatnya merengek atau memukul Arka seperti biasanya.
Arka memberikan waktu untuk Shania bernafas, ia menyatukan kening keduanya. Sangat terlihat jika Shania tengah mengatur nafasnya.
Sebelum akhirnya Arka melanjutkan pada kegiatan yang mengasyikan untuknya dan untuk Shania, perasaan membuncah untuk saling memu as kan. Di tengah tengah perjalanan, Arka berhenti. Ia beranjak menuju lemari pakaiannya, mengambil sebuah bungkusan dan tampak sibuk beberapa saat di balik pintu lemari. Lalu kembali menyatukan keduanya.
"Mas ngapain dulu ?" tanya Shania.
"Pake pengaman, " sebenarnya ada perasaan bersalah dan tak enak hati. Tapi mau bagaimana lagi.
Arka kembali menyatukan peluh keduanya, memacu adrenalinnya dan Shania di dalam kamar berukuran 5×5 meter ini. Untungnya ibu belum pulang, jadi beliau tak harus mendengar rengekan manja Shania yang selalu meminta Arka untuk menyudahi petualangan mereka. Namun seperti serangan Israel di jalur Gaza, tak berkesudahan. Arka terus menggempur, bahkan si balon merah saja sudah berganti 2 kali.
"Mas, udah..!" ucapannya terbata.
"Badan Sha udah remuk kaya ayam tulang lunak, udah lemes kaya ga makan seminggu !" ucapnya saat Arka sudah melambung terbang meraih puncak kenik mat an untuk kesekian kalinya dan meledak bersama diatas awan jingga. Beberapa kali Arka mengecup kening Shania.
"Done nyonya Arka, " laki laki itu menggulingkan badannya di samping Shania, tapi sejurus kemudian Arka menarik Shania untuk tidur di dekapannya. Gadis ini meletakkan kepalanya di dada Arka berbalut selimut coklat.
"Mas jahat ihhh, Sha mesti mandi lagi !" tangannya dengan nakal menusuk nusuk dada bidang itu, membentuk pola abstrak membuat si empunya berdehem dan menangkap jemari lentik Shania.
"Kamu mau jadi ayam geprek apa perkedel ?" tanya nya membuat Shania tertawa terkikik.
"Kapan mas beli karet balon begituan !" tanya Shania, kini Arka menggigiti jemari lentik itu pelan dengan giginya.
"Tadi siang, pas kamu main ke sawah."
"Jadi pas Sha main mas juga pergi ?"
"Iya, buat jaga jaga. Mas ga tau kapan mas bakal hilang kendali kaya kemaren, kaya barusan. Mas laki laki normal, kalo terus berduaan sama kamu, mas pasti bakal minta hak mas," degupan jantung Arka terdengar normal dan tenang sekarang, tidak seperti tadi.
"Sha kirain.."
"Sama Retno ? Makanya kalo punya masalah tuh nanya dulu, jangan ambil kesimpulan sendiri, mau gimana mas jelasin kalo kamunya main banting pintu ?"
"Iya maaf, " tangan lentik itu kembali bermain pola di dada Arka seperti sedang menulis kata Arka love Shania.
Arka menangkap lagi jari nakal Shania, kali ini ia membalikkan badannya sehingga Shania kini ada dalam kungkungannya.
"Ohhh bandel ya, minta dijadiin perkedel !" baru saja memajukan wajahnya.
"Assalamualaikum !! Ka, Shania ?!"
"Ibu, mas ! buruan pake baju !"
.
.
Haduhhhh ga bisa lebih hawt lagi takut ga goals up-nya.
__ADS_1