
Shania masih berlari mengejar kedua pemuda yang membawa sebuah dompet merah milik seorang perempuan. Teriakannya membuat warga sekitar ikut menengok dan mengejar, bersamaan gerombolan dari cafe yang berada di belakang Shania. Membawa peralatan seadanya, mereka ikut berlari mengejar pencopet.
Terbayang bagaimana nanti babak belurnya kedua pencopet muda itu, saat tertangkap. Sungguh amsyong benar nasibnya kali ini, mencopet di depan Shania it's bad idea.
Shania kembali melempar sepatu heels yang sebelahnya lagi dan mengenai punggung salah satu pencopet. Tapi seakan ia tak takut dan malah meledek, si pencopet malah memungut sepatu Shania dan melemparnya ke comberan di sampingnya, membuat momy Gale ini benar-benar dilanda angkara murka.
"Ehhh ! Sepatu gue tuh !! Kurang aj_ar !" pekiknya.
"Kena abis loe !" Shania mempercepat larinya seraya membelitkan rambut dan mencepolnya.
"Wah, berani bener tuh bocah lempar sepatu mak gue ke selokan, minta di amuk !" ujar Guntur.
"Om Den, sepatu gue patah heelsnya," ditengah-tengah pengejaran Niken malah mengeluhkan heelsnya yang patah.
"Ahh ! Loe mah nyusahin !" Deni membantu Niken dan kembali mengejar karena tertinggal Arka.
Grepppp !!!
Jaket seorang pencopet akhirnya dicengkram Shania.
"Kena loe !"
Sebenarnya para pencopet itu bekerja sama dengan teman lainnya yang siap menjemput mereka menggunakan motor, namun naas belum sempat keduanya menaiki motor, keburu di uber Shania dan yang lain.
Saat hendak naik ke motor, tangan Shania terulur meraih jaket salah satu pencopet, dan yang lain ? Arka dan teman-temannya mengencangkan lari lalu dengan gerakan kilat.
Bughhhh !
Arka menendang punggung si pencopet yang hendak naik ke jok motor yang satunya hingga tersungkur. Seketika yang lain meringkus kawanan pencopet lainnya bersama warga.
"Kimvrittt, " Shania memukul, mencekik, menarik-narik si pencopet habis-habisan, kesal karena sepatu hak tingginya dilempar begitu saja dengan wajah tanpa dosa ke selo_kan.
Si pemuda tentulah bukan tanpa perlawanan, ia beberapa kali hendak melayangkan bogeman dan tendangan, tapi dengan sigap Arka menghadang juga melawan agar tak terkena istrinya.
Warga yang berbondong-bondong dengan membawa alat seadanya ikut menghakimi.
"Bapak-bapak !! Ibu-ibu sabar !! Jangan main hakim sendiri ! Kita serahkan ini ke polisi !" pekik Teguh, bersama yang lain melerai warga yang geram.
Sementara geng kurawa bukannya ikut menghajar tapi mereka justru kesulitan menjauhkan Shania dari si pencopet rivalnya, padahal pemuda ini sudah terkapar.
Tangan emak muda satu ini masih gatal menjambak rambut si pencopet sampai rontokannya nyangkut di sela-sela tangannya.
"Astaga mak !! Ck, ck, ck !"
"Baru kali ini gue kasian sama maling tau ngga !" tawa Leli.
"Sha udah Sha, kasian dia udah kesakitan, kita serahin ke polisi. Dia udah nyerah," ujar Arka menahan istri nakalnya, wajah imut selembut malaikat surga mendadak berubah jadi John Cena.
Shania mengatur nafasnya yang memburu, keringatnya membasahi wajah mulus Shania.
"Mak udah mak, dia udah melambaikan tangan ke kamera !" jawab Melan tertawa-tawa melihat wajah mengenaskan sang copet korban jambakan, cakaran, pukulan dan tendangan tsubasa momynya Gale.
Jika tadi mereka cape karena berlari, sekarang mereka cape karena tertawa.
"Loe apes bener jadi copet, ketemu Shania. Auto pensiun dini," tawa Roy.
Setelah dirasa tenang, dengan masih dipegangi Arka, Shania mendorong punggung si pemuda yang ambruk dan ditahan Deni juga Ari.
"Heh !"
"Tanggung jawab loe, itu sepatu mahal dapet gue rayu-rayu laki semaleman sampe masuk angin !" sewot Shania.
Drama pengejaran yang seharusnya memicu adrenalin dan tegang, malah berujung ngakak untuk mereka.
__ADS_1
"Iya kak," ia mengangguk.
"Ambil buruan !!! Ga mau tau gue !" bentak Shania menghentakkan kaki di jalanan.
"Kalo perlu tuh, loe ubek-ubek tuh selo_kan sampe loe jadi isian comberan, gue ga peduli !!!" pekik Shania kesal.
"Nah lohh tanggung jawab, Mak gue ngamuk tuh !" ujar Ari.
"Gue cocok (sumpel) juga mulut loe pake sepatu nih !" ujar Melan.
"Sepatu gue juga patah Sha," mewek Melan.
"Mas, sepatu Sha dilempar dia ke comberan !!" rengeknya.
"Nanti mas belikan lagi, udah ya.." jawabnya meminta Shania meredam emosi.
"Ga mauuuu ! Sha maunya yang itu !" rengeknya.
"Nih yang sebelah Sha," ujar Nino yang tak sengaja memungut sepatu hak tinggi milik Shania si gadis (bukan) Cinderella.
"Alhamdulillah, makasih om Nino !" jawab Shania menerimanya.
Si perempuan yang kecopetan menghampiri Shania, dengan mata berlinang ia mengucapkan terimakasih.
"Makasih banyak ya mbak, kalo ga ada mbak, saya ga tau gimana nasibnya uang belanja sebulan, sama uang buat tebus obat anak saya mungkin raib !" jawabnya terharu, baru saja beberapa menit yang lalu ia merasa dunianya runtuh.
"Sama-sama mbak, saya juga ngerasain ko, duit akhir bulan dibeliin gas aja berasa langit runtuh, apalagi duit belanja sebulan sama uang obat," jawab Shania.
"Curhat Sha," jawab Hendra.
Shania menghampiri copet yang satunya lagi dan melihatnya lalu mendengus.
"Denger kan loe ! Duit makan sam obat tuh ! Loe mau tanggung jawab kalo anak si ibu ini kenapa-napa ?!!" Shania menoyor kepalanya tak sopan.
"Mau loe kasih Sha ?!" tanya Guntur.
"Engga, siapa tau kan kalo usaha nyari bener-bener mah pasti nemu !"
"Saravvv,"
Polisi datang menginterogasi dan membawa para pencopet.
"Pak, bentar !" pekik Shania.
"Iya ada apa mbak ?"
"Pak, kan saya udah nolong nih ?! Kalo saya ada permintaan boleh engga ?" tanya Shania.
Jangankan polisi, Arka saja mengerutkan dahinya.
"Apa Sha ?" bukan karena kebingungan atas permintaan Shania, Arka hanya tak mau Shania mengeluarkan mode absurdnya kali ini.
"Buat dia !" tunjuknya pada pemuda yang melempar sepatunya ke selo_kan.
"Bisa pinjem dia sebentar kan ? Bapak temenin deh !"
"Mau diapain tuh ?" tanya Priyawan.
"Sha," tegur Arka menahan pundak Shania.
"It's oke mas ga usah khawatir Sha jadiin dia isian risoles !"
"Sini loe, ikut gue !"
__ADS_1
Shania bersama si pencopet yang sudah berwajah pasrah dan satu orang polisi berjalan menyusuri trotoar.
"Nah !!! Itu dia !!!" seru Shania.
"Ambill ! Loe yang lempar, loe yang mesti tanggung jawab !" titah Shania.
"Pak, ijin suruh dia ambil barang bukti lain !" pinta Shania.
Polisi tadi mengernyitkan dahi.
"Itu salah satu barang bukti, kalo dia sempet tumbang sama tuh benda, terus dia lempar ke comberan !" jawab Shania.
"Astaga, emak-emak ga mau rugi banget saaloh !"
Dengan terpaksa si pencopet tadi turun ke selo_kan yang airnya hitam untuk mengambil sepatu Shania yang ia lempar kesana.
"Beneran apes nih copet, ketemu bini loe, Ka !" bisik Lukman tertawa.
Ari tertawa, "udah ketangkep, digebukin, rambut rontok, di marah-marahin, sekarang disuruh mandi air comberan pula."
"Besok-besok kalo loe mau nyopet lagi, loe tandain nih emak satu, jangan sampe ketemu lagi !" tunjuk Roy pada Shania.
"Kebayang kalo Shania dicopet yang diambil uang susu Gale, auto diperes si copet buat jadi susu Gale," ujar Leli.
"Tapi kan Gale ga 'nyu_su formula ?"
"Kan misal Niken..." jawab Leli memutar bola mata jengah.
"Pulang Sha, dedek sama ibu pasti nyariin," pinta Arka.
"Iya mas, dedek...." Setelah mendapatkan sepatunya yang kotor Sha meminta kresek pada salah satu warung untuk membungkus sepatunya.
"Mas, kaki Sha sakit...ga pake alas," rengeknya.
"Suruh siapa ngejar copet ?" jawab Arka.
"Mas ih, tega sama Sha ! istri kesakitan juga !" cemberutnya.
Lihatlah emak ini, sudah berubah kembali ke mode manjanya, padahal tadi saja mode ben_cong yang lagi diuber satpol pp saat mengejar copet.
"Untung aja dress Sha ga sobek mas, kalo sobek Sha mau minta ganti siapa ?!" manyunnya.
Arka berjongkok di depan Shania, "naik !" pintanya, Shania mengembangkan senyumannya dan naik ke punggung Arka.
"Berat ngga mas ?" tanya nya memiringkan kepala.
"Berat bangettt," suara Arka dibuat-buat lalu tertawa saat Shania menyarangkan pukulannya.
"Momynya dedek mah ringan, kan mas sering gendong, jadi udah biasa !" jawabnya.
"Selain jago gulat jago apalagi nih momy dedek ?" tanya Arka.
"Jago bikin suami on fire !" jawab Shania tertawa, memang jika sudah berdua begini mereka akan lupa jika sedang berada di tempat umum.
"Duhhh, senangnya !!! Dunia milik berdua, yang lain mah makhluk halus," pekik Dimas dari belakang.
.
.
.
.
__ADS_1