Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Panggil aku cinta


__ADS_3

Paper bag berwarna ungu pastel, dengan pita dan bunga cantik menjadi hampers pernikahan sederhana Shania dan Arka. Tak banyak..hanya 20 buah, dua buah gelas mug dan satu mangkok cantik, dua toples kue..sagu keju dan almond cookies, juga manisan nanas in jar terbungkus rapi, cantik dan elegan di dalamnya, bertuliskan.


The wedding


Arkala ❤ Shania


Sudah meluncur duluan, dikirim oleh Arka melalui temannya pemilik travel. Arka sering melakukan ini, jika dulu ia dan ibunya tak bisa mudik.


"Bun, mas Kala nanyain..jadi semuanya berapa ?" tanya Shania via telfon.


"Ga usah, itung itung itu selametan bunda, dulu waktu kalian nikah kan biayanya ditanggung Arka semua !"


"Tapi mas Kala udah kirim uang ke rekening Sha, bu !"


"Ga apa apa simpan aja, kata orang tua sunda tuh pamali kalo orang tua cewek ga selametan nikahin anak gadisnya !" begitulah bunda, orang modern tapi masih selalu percaya hal tabu kata orangtua dulu.


"Mas, di rumah bi Atun sendiri dong ?!" Shania memilah milih pakaian untuk dimasukkan ke dalam koper.


"Bi Atun, mas kasih cuti dulu selama kita pergi, biar rumah dijaga pak Slamet sama pak Hari,"


"Oh," Shania mengangguk angguk mengerti.


"Besok kita berangkat awal saja, takut macet, soalnya jadwal keberangkatan kereta jam 8 pagi,"


"Iya mas, "


*********


Shania sudah bersiap, "mau sarapan apa mas ? ini makanannya Shania masukkin kotak makan buat bekal ya ?!" Shania memasukkan roti selai, kue dan buah buahan.


"Iya, ga usah banyak banyak. Nanti kita beli kalau kereta singgah di stasiun."


Semua sudah siap, hanya satu koper pakaian, dan tas kain hijau sejuta umat bertuliskan go green, berisi makanan dan minuman untuk bekal selama di kereta. Arka mencabut regulator gas, mematikan seluruh saklar lampu, dan mencabut kabel kabel dari terminal, meminimalisir hal hal yang tidak diinginkan.


Setelah menitipkan rumah pada pak Slamet dan pak Hari, menyelipkan sekedar untuk uang kopi pada keduanya, taksi online akhirnya datang.


"Terimakasih pak, hati hati di jalan pak guru, neng Sha ! jangan khawatir masalah rumah dan isinya, " ucap pak Slamet tersenyum kikuk melipat amplop putih, dan memasukkannya ke dalam saku celana.


"Iya pak, titip rumah..takut ada yang gendong !" kekeh Shania.


"Pak, kami pergi dulu," pamit Arka, satu tangan menyeret koper dan satu tangan merangkul bahu Shania.

__ADS_1


Koper dimasukkan ke dalam bagasi, sedangkan Shania masuk ke dalam mobil disusul Arka.


"Mas, " Arka menoleh menatap Shania yang terlihat gusar.


"Kenapa ? ada yang tertinggal ? atau kamu mabuk darat ?"


"Ck, ihh..bukan !!" decaknya memukul lengan Arka, this is Shania-nya.


"Terus apa, "


"Kalo keluarga mas Kala ga nerima aku gimana ?" tanya Shania, setidaknya dari kebanyakan novel atau list sinetron tontonan bunda yang banyak dibumbui ke bulshittan sampe bikin si bunda selalu ngomel ngomel sendiri di depan tv, kebanyakan keluarga laki lakinya tidak menerima bahkan mengusir si pemeran utama wanita, oh no !! ini bukan jamannya sinetron Bidadari.


"Keluarga mas bukan korban sinetron, justru mas yang khawatir kamu tidak bisa menerima mas sekeluarga yang hanya remahan kue nastar, " jawab Arka tertawa kecil, mengusap pipi selembut sutra milik Shania.


"Kalo remahannya satu toples bisa bikin kenyang, mas !" cibir Shania.


Berhubung masih pagi sekali, jalanan tak terlalu padat, hingga mereka sampai di stasiun Gambir dengan cepat.


Arka membeli tiket di loket, keduanya naik KA Argo Bromo Anggrek (2) Gambir - Surabaya, Pasarturi.


"Perjalanannya lama ya mas ?" tanya Shania, duduk di ruang tunggu.


"Lumayan. Sekitar 9 jam kurang,"


"Ambil hikmahnya, kita bisa mengobrol dan duduk bersama selama 9 jam !" jawabnya, selalu mengambil sisi positifnya dari semua kejadian.


Bunyi roda kereta bergetar sampai menggema di sepanjang lorong, para penumpang keberangkatan Gambir - Pasarturi masuk ke dalam gerbong sesuai kelasnya masing masing.


Arka memasukkan koper di bagasi atas tempat duduk, sedangkan Shania duduk tepat di samping jendela. Hanya menunggu sekitar 20 menit kereta sudah mulai melaju.


Kecepatan tinggi tak membuat penumpang hingga terbanting banting seperti saat naik angkutan umum atau kopaja. Shania malah duduk dengan nyaman, ditemani sinar mentari yang masih terasa hangat karena ia pergi disaat udara masih sangat menusuk kulit. Baru Shania sadari sejak dari taksi online, Arka tak pernah lepas merangkul bahunya, hingga ia bisa dengan nyaman menyenderkan kepalanya di dada yang sandarable. Kenapa menciptakan pahala bisa seindah ini dirasakan, kenapa halal bisa senyaman ini rasanya ? jawabannya karena di ridhoi Allah.


Aroma woody dan lemon mengingatkan wangi pertama kali yang Shania cium dari sosok Arka, membuatnya mabuk kepayang. Apakah ini degupan pertama yang kembali ia rasakan.


"Kalo mau lanjut tidur, tidur aja.." ucapnya membuat Shania mendongak.


"Iya, " jawabnya.


"Kali ini ga akan digeplak lagi pake penggaris kan ?" tanya Shania tertawa renyah, Arka ikut tersenyum.


"Engga, " jawabnya mengusap usap bahu Shania lembut, dengan tak tau malunya gadis ini malah semakin menyerukkan kepalanya di dada bidang Arka. Biarlah orang mau berkata apa, ia akan menutup telinganya, yang jelas ia tak mau kehilangan moment ini.

__ADS_1


Dirasa matanya ikut berat, Arka menyenderkan kepalanya di kursi dan ikut memejamkan matanya.Ia mulai terbiasa dengan semua ini. Bahkan mungkin, bisa dikatakan jika ia mulai haus akan pelukan istri nakalnya ini.


Guncangan kereta api tak mengganggu keduanya. Hingga tak sadar kereta sudah melewati stasiun Jatinegara, Manggarai dan Karawang.


Arka menggeliat, merasakan jika bahu sebelah kanannya kebas tak bisa bergerak. Ia memijit pangkal hidungnya saat beberapa kali mentari menembus kaca tepat ke arah matanya. Senyumnya merekah demi melihat Shania masih nyaman bersandar padanya.


Panggil aku cinta....


Disaat kamu membutuhkan sandaran kuharap hanya aku yang bisa membuatmu nyaman, only me..


Rupanya kereta sudah meninggalkan batas daop I yaitu Cikampek dan masuk daop II wilayah Cirebon.


Shania mulai menggeliat seperti ulat, matanya sedikit memerah, mungkin karena tidurnya nyenyak. Shania menegakkan kepala dan duduknya, meninggalkan bekas kerutan di kaos Arka. Lelaki itu merogoh tas hijau dan meraih tumbler berisi air putih, menyodorkannya pada Shania.


"Minum dulu, " Shania menerimanya.


"Makasih mas, " ia memberikan lagi tumbler pada Arka, bukannya menyimpan Arka malah minum dari bekas mulut Shania. Lelaki itu mengutamakan Shania, dan menomor duakan dirinya. Hal kecil dan sepele memang, tapi inilah sweetnya Arka.


"Mau makan bekalnya ?" tanya Arka, layaknya seorang ayah yang sedang mengurus putrinya.


"Boleh mas, "


"Mau apa ? roti, kue, snack keripik, atau buah ?" ia mengangkat tas hijau.


Shania mengambil kotak berisi buah yang sebelumnya sudah ia kupas dan potong.


Arka kembali menyimpan tas di bawah kakinya.


"Krekkk !" Shania membuka penutup kotak, mengambil potongan buah.


"Ga baik suami makan bekasan istri, kata bu ustadznya bunda." tangannya terulur menyodorkan sepotong apel di depan mulut Arka.


"Jadi kata bu ustadz ? " Shania mengangguk.


Arka memakan apel barusan dari tangan Shania.


.


.


.

__ADS_1


* pamali : hal tabu / larangan orangtua jaman dahulu.


* daop : daerah operasi


__ADS_2