
Love you to the moon and back
( Mencintaimu sejauh jarak ke bulan dan kembali ke bumi )
ARKALA MAHESA
----------------------
"Assalamualaikum nduk," suara menenangkan ibu membuat hati Shania ikut tenang. Jika bunda adalah sumber keceriaan, lain halnya dengan ibu Arka, ia adalah sumber ketenangan-nya. Mungkin like mother like son dan bagi Shania like mother like daughter.
"Gimana kabarnya ? kabar dedek ?" tanya ibu dari Surabaya sana.
"Baik bu," demi apa, kini Shania mengelus elus perut rata yang tertutup swetter.
"Jaga kesehatan ya nduk, ibu selalu berdo'a dari sini buat Arka, buat Shania dan sekarang nambah lagi buat calon cucu ibu,"
Shania mengangguk dan sesekali menjawab iya, matanya mulai memanas mendengar suara ibu.
"Sha takut bu, " suaranya tercicit, Arka memegang tangan Shania dan mengusapnya lembut membuat Shania menoleh.
"Kehamilan memang tidak mudah nak, proses menjadi ibu memang tidak mudah, butuh perjuangan. Apalagi di usia Shania, ibu tau Shania perempuan kuat..jangan takut apa-apa, ada kami disini, ada Arka. Terimakasih banyak Shania mau menerima Arka, Shania mau mengerti, dan mau berkorban. Allah percaya pada Shania, makanya Allah menitipkan dedek di perut Shania, dijaga baik baik nduk titipan Allah-nya."
Shania kembali mengangguk tanpa bisa berkata kata, tenggorokannya terasa tercekat.
"Maaf ibu belum bisa kesana nemenin Shania,"
"Ga apa-apa bu, makasih dukungannya."
"Dukungan ibu ga ada apa-apanya dengan apa yang sudah Shania korbankan dan lakukan untuk Arka, kalo ada apa-apa, bilang sama suamimu ya nduk,"
"Iya bu,"
"Berapa sekarang usianya ?"
"7 minggu bu, "
"Sehat sehat ya nak, "
"Iya bu, ibu juga sehat sehat disana !"
"Kalo gitu ibu mau solat ashar dulu, nduk ! Nanti ibu telfon lagi sama Banyu,"
"Iya bu, "
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," Shania menaruh ponsel Arka di meja.
"Mas, kapan bilang sama ibu kalo Sha hamil ?"
"Kemarin,"
"Udah sore, yu pulang ?!" ajak Arka.
"Iya, "
"Abisin dulu buahnya, mas beres beres dulu." Arka beranjak menuju mejanya, membereskan file dan mematikan laptopnya. Sedangkan Shania menghabiskan potongan buah mangga dan apel terakhirnya.
Keduanya keluar dari cafe di sore hari.
"Ada mau sesuatu ngga ?" tanya Arka menawari bumilnya ini.
Shania menggeleng," engga, mau langsung pulang aja."
Tiba tiba ponsel Shania bergetar, nomor tak tersave.
"Siapa ya ?" gumamnya menoleh pada Arka.
"Angkat aja, " pinta Arka.
"Hallo ?!"
"Hallo, ini Shania ya ?!" suara ibu ibu tengah menangis.
"Iya, ini siapa ya ?"
"Ini tante Ria, mamah Maya.."
"Oh iya tante, kenapa ya ?"
__ADS_1
"Sha, tante tau nomor Shania dari Rubi, tante mau minta maaf atas semua kesalahan Maya, minta do'a nya ya, Sha !" suaranya tertutupi oleh sesenggukan.
"Ah iya, Sha udah maafin Maya ko tante. Sha juga banyak salah sama Maya, sering berantem. Sha selalu do'ain Maya dimanapun sekarang Maya berada, " jawabnya.
"Makasih Sha, maaf tante ganggu Shania ya, assalamualaikum, "
"Waalaikumsalam, "
Telfon ditutup oleh tante Ria.
"Siapa Sha ?" tanya Arka memasang seatbelt di badan Shania sedikit hati hati.
"Mamahnya Maya, tapi ko aneh ya !"
"Aneh gimana ?"
"Bentar deh, coba...coba...nanya Inez deh !" Shania mencoba menghubungi temannya si netizen sekaligus lambe turah sekolah ini.
"Halluuu this is Inez speaking !"
"dih, belaga ! lama amat ngangkatnya Nez," sewot Shania.
"Kenapa kenapa nih ? what's wrong bebs ?!" tanya Inez.
"Nez, barusan mamahnya Maya nelfon gue, pake mewek segala minta minta maaf, sama minta do'a. Ada apa sih ?" tanya Shania.
"Loe ga tau ya Sha ?!"
"Ga tau apa ?" kening Shania berkerut.
"Maya koma Sha, menurut kabar yang gue dapet dari temen temen sih, dia kebobolan lagi..terus si pasangannya itu nyuruh gugurin tuh kandungan, ya loe tau kan om om tua yang cuma pengen cari kehangatan dan kesenangan doang, takut ketauan bini tua yee khan, Maya gugurin deh tuh kandungannya. Mungkin karena pas percobaan pengguguran pertama berhasil makanya dia coba gugurin lagi eh tapi ternyata malah ada komplikasi pendarahan apa gitu, ga ngerti gue ! anak anak ada yang jenguk Sha, loe mau jenguk ga Sha ?!"
PLUKKK !!!
Ponsel yang dipegangnya terjatuh dari tangan.
Shania menganga dan terkejut, jantungnya serasa berhenti saat itu juga.
"Sha ?!" Arka menepikan mobil ke tepi jalan.
Air matanya meleleh, seandainya kemarin ia nekat menemui Maya dan melakukan hal yang sama dengannya, mungkin saat ini kakinya sudah tak berpijak lagi di bumi. Jika seandainya Arka sama seperti ayah janin yang dikandung Maya, mungkin Shania akan langsung nyebur ke dalam neraka, karena menggugurkan janin dan tak selamat saat itu juga.
"Sha..."
"Sha....!!!! nih anak mo lor ya ?! oyyy !!"
Masih terdengar suara Inez dari ponsel Shania, Arka memungutnya dan berbicara dengan Inez, sementara Shania masih syok mendengar kabar Maya.
"Makasih Nez, saya tutup telfonnya ya !"
"Iya pak, "
"Mau jenguk Maya ?" tanya Arka.
"Boleh mas, "
"Kayanya masih bisa sebentar, RS nya juga deket dari sini. Tapi sebentar saja ya bumil jangan sampai lama lama keluar malem, kalo kata ibu sama bunda pamali," Shania mengangguk.
Tak butuh waktu lama hanya 10 menit, mereka sampai di RS tempat Maya dirawat atas info dari Inez.
Terlihat tante Ria yang tengah menunggu di depan ruangan ICU, setelah mereka sempat janjian.
"Tante Ria," sapa Shania.
"Shania ?" jawabnya, terlihat mata yang sudah sembab dan lelah dari wanita paruh baya ini. Shania tak bisa membayangkan jika ini terjadi pada bunda.
"Maafin Maya ya Sha, selama ini seringnya mencari masalah sama Shania, " wanita itu memeluk Shania, semua sudah tau jika Maya selalu bermasalah dengan Shania di sekolah.
"Maafin Sha juga tante,"
"Ini.." tunjuknya kebingungan pada Arka.
"Saya guru kimia Shania dan Maya semasa di BAKTI PERSADA, bu."
"Saya Arkala, "
"Oh pak Arkala, "
Shania awalnya melihat Maya dari kaca, kondisinya begitu memprihatinkan dengan selang tertempel di mana mana, di hidung, mulut, dan infusan yang terdiri dari cairan infusan dan darah.
__ADS_1
"Ya Allah !" Shania menutup mulutnya dengan tangan.
"Kenapa bisa begini bu ?" tanya Arka.
"Maaf pak, mungkin ini sebuah aib. Maya memang salah."
"Kita skip saja bagian dimana dia mencari rupiah tante, " sela Shania tak ingin membicarakan hal yang tidak nyaman bagi tante Ria.
Shania duduk di samping tante Ria dan menggenggam tangannya.
"2 hari yang lalu, tante sudah melarang untuk melakukan hal itu, Sha. Tapi Maya tetep kekeh melakukannya karena lelaki itu..." wanita ini kembali menangis membuat Shania ikut terenyuh.
"Biarkan anak itu lahir, biar tante yang urus, dia tidak punya salah apapun. Yang salah itu kelakuan bejad kedua orangtuanya. Bayi makhluk suci,"
"Tapi ternyata Maya tetap tak mendengar, ia malah pergi dengan alasan sudah diberi uang untuk melakukannya. Toh dulu pernah melakukan dan itu berhasil, tapi rupanya tindakan beresiko ini tak selalu berhasil, cenderung lebih seringnya gagal.." Perempuan ini mencoba tegar dengan mengusap lelehan air mata demi melihat nasib anak sulungnya.
"Kemarin keadaannya memburuk, badannya demam, pendarahan hebat.." ia tak mampu lagi meneruskan ceritanya, Shania sudah tak enak duduk.
"Udah cukup tante, " Shania memeluk tante Ria.
"Terus lelaki itu ?" tanya Shania.
"Tante sudah menghubunginya Sha, tapi dia seakan cuci tangan.." terlihat kilatan api kemarahan dari mata tante Ria berbalut air mata.
"Ya Allah, ga bisa dilaporin aja ke polisi tan ?" tanya Shania miris.
"Tante sama keluarga masih sibuk ngurusin Maya, belum sempat. Mungkin besok adik tante mau urus," jawabnya.
"Tante yang sabar ya, Sha do'ain Maya cepet sadar dan sembuh," suara Shania bergetar.
"Tante, Sha sama pak Arka ga bawa apa-apa. Cuma makan buat tante, tante udah makan belum ?" perempuan itu menggeleng.
"Tante makan ya, Sha nangis loh kalo tante ga makan !" selorohnya mencoba menghibur perempuan itu. Maya memiliki adik perempuan bernama Miya.
"Mah, " seorang gadis smp berlari ke arah tante Ria.
"Ini baju ganti buat mamah, sama makan," ucapnya.
"Tante kalo gitu Shania sama pak Arka pamit dulu ya, jangan lupa dimakan." ia menyimpan paper bag berisi makanan yang tadi sempat ia beli di depan RS.
"Nanti rencananya temen temen sama sebagian guru mau pada jenguk,"
"Makasih ya Sha. Tante pesen sama Shania, cukup di Maya aja kejadian ini...jangan lagi terjadi sama yang lain, " Shania menarik senyumannya.
"Iya tan, "
"Bu, kami pamit. Semoga Maya lekas sadar dan sembuh," pamit Arka menyalami ibu Maya.
"Terimakasih pak, sudah mau repot repot menjenguk," imbuh tante Ria.
"Sama sama bu,"
Arka merangkul Shania dan membawanya pergi dari situ.
"Mas, Sha 'ga nyangka bisa separah itu, " ujar Shania, kejadian itu menohok hatinya.
"Bersyukur sama Allah, masih melembutkan hati kamu," jawab Arka.
Di bassement, Shania yang tak mampu lagi menahan bendungan air mata, menubruk dada Arka dan memeluknya.
"Maafin Sha sempet berfikir buat gugurin kandungan, " tangisnya pecah.
"Alhamdulillah, Allah masih sayang kamu !" Arka membalas pelukan Shania.
"Kalo sampe kemaren Sha nekat buat kaya Maya, Sha ga tau sekarang Sha kaya gimana ?!"
"Mas 'ga akan biarin itu terjadi sama kamu, "
"Makasih, mas ga seb reng sek lelaki-nya Maya," ia mendongak.
"Love you to the moon and back Sha,"
.
.
.
.
__ADS_1