
"Udah Den, ga usah abisin tenaga buat orang ga penting kaya gini. Sha loe ga apa-apa kan ?" tanya Melan.
"Ga apa-apa." jawab Shania.
Mereka semua berlalu menuju tempat dimana mereka sering berkumpul.
"Kenapa ga bilang sama kita Sha ? Toh, kita juga ga apa apa !" pelukan hangat para sahabat memang selalu menenangkan. Tak tau darimana asal usulnya kabar berita ini, tiba tiba saja sudah merebak layaknya pandemi dan menumbangkan Shania.
Bukan itu sekarang yang jadi fokus utama mereka,
"Ponakan gue jangan sampai terpengaruh Sha," Melan dan Niken mengusap perut di balik swetter besar milik Arka yang dipakai Shania.
Terbukti ampuh, wangi parfum sang suami gurunya, mampu membuatnya keep strong. (kuat)
"Sorry guys, gara gara bandelnya gue. Loe semua jadi kebabad abis sama gosip murahan !" Deni menunduk. Bukan hanya Shania saja yang menyesal disini.( kebabad disini terbawa bawa / disikat)
"Apaan loe !" mereka malah tertawa.
"Sejak kapan babang Deni jadi melow gini, anj* irrr loe ! Jelek tau ngga Den," Guntur, Ari, Niken dan Leli juga Roy dan Melan menimpuki Deni yang terkesan lebay untuk mereka.
Ke 8 anak itu kini tengah berada di belakang kantin, tempat mereka biasa berkumpul.
"Sha !!! Sha !!!"
Inez berlarian mencari Shania, saat menemukannya. Ia menyingkirkan teman teman Shania dengan heboh.
"Sha, loe ga apa apa kan ? loe ga diapa apain si Bimo kan ?! Kurang aj ar si Bimo !!" nafas yang tersengal dengan dada yang naik turun menandakan kepanikan Inez.
"Nih akun gosip ngapain juga sih ! Heboh loe Nez, heboh !!" sewot Roy.
"Ape loe !" sungutnya tak kalah sengit.
Shania tersenyum, masih ada Arka, masih ada bunda dan ayah, masih ada teman teman yang menyayanginya.
"Gue ga apa apa Nez, ada temen temen gue ini ko. Berandal berandal sekolah, iye ngga ?!" Shania menaik turunkan alisnya.
"Gue nelfon pak Arka, Sha.." Inez memainkan kedua telunjuknya menunduk.
"Abisnya gue khawatir sama loe, "
"Apaan, loe telfon ?!" Inez mengangguk.
"Katanya dia langsung meluncur," Inez meringis.
"Dih, ngapain...gue ga apa apa ko Nez, doi mau kuliah Nez. Ada materi pagi katanya !"
"Huuu, so tau si bigos !" sewot Roy lagi. (biang gosip)
"Diem loe cu rut !"
"Loe berdua kalo ketemu berantem mulu, gue jodohin !" jawab Guntur.
Arka berlari mencari dimana Shania, ini yang ia takutkan. Akhirnya terjadi juga ketakutannya beberapa hari ini. Sania-nya... mana Shani? pikiran Shania yang sedang terpojok dan menangis menari nari di otaknya.
__ADS_1
"Pak, " tak pernah Arka terlihat se khawatir ini.
"Arka, "
"Shania mana ? Kenapa bisa begini ?"
"Tunggu sebentar, ini di luar dugaan kita, Ka. Tapi saya mohon kamu tenang saja, semua sudah kami atasi. Tadi Shania habis dari sini, dan sekarang sudah kembali ke kelas," jawab pak Wildan.
"Pak Arka, saya titip Shania ya ! Dia memang bandel, tapi saya yakin dia tidak seperti yang diberitakan anak anak, dia anak baik baik, meskipun sikapnya seringkali bikin jengkel dan naik darah ! " kini pak Hadi buka suara. Sungguh ia tak ingin mendengar apa apa tentang apapun, yang ia ingin tau adalah dimana Shania sekarang.
"Pak, kalo Shania ga ada di kelasnya. Bapak pasti tau dimana dia berada kalo bolos dari jam pelajaran," jawab pak Wahyu.
Arka mengangguk, ia teringat sesuatu, ia berlari secepat mungkin menuju belakang kantin. Dan benar saja, Shania ada disana.
Bukan sedang menangis, berjongkok karena terpojok sambil menenggelamkan kepalanya, apalagi bunuh diri. Tapi kini little momy itu tengah tertawa tawa bersama teman temannya yang berjuluk berandal sekolah. Bukan ketua OSIS, bukan organisasi basketnya, ataupun siswa yang sering mengelu elu kannya. Namun, sahabat berandalnya yang merangkul Shania. Sahabat sejati bukan dilihat dari siapa dia dan darimana dia berasal, seberapa royal dia padamu.
# Tapi dari hati yang siap memelukmu.
"Sha, "
Seketika tawa mereka langsung senyap, bukan lari tunggang langgang karena takut digiring menuju ruang BK seperti dulu.
"Geser oy !" Roy mengangkat pan tat nya dari kursi mempersilahkan Arka duduk di samping Shania.
Mereka kini diam menyaksikan guru dingin, galak dan disiplin ini tengah menggenggam tangan seorang gadis berswetter biru dongker kebesaran dan mengusap pipinya.
Jika dulu Arka akan menyeretnya ke BK, lain halnya sekarang.
"Are you oke ? maafin mas, ga ada tadi, " ucapnya.
"Makasih kamu sudah menjadi perempuan tangguh."
"Ekhem, pak...! Ga mau bawa saya ke BK nih ?" ujar Deni dan Roy.
"Hahahahaha, saravvv njirrr !" tawa Niken.
"Mas, kenapa kesini ?Ke kampus aja lagi gih, Sha ga apa apa !"
"Mulai besok kamu belajar di rumah saja, mas sudah bilang barusan untuk mempercepatnya dan di acc pak Wildan,"
"Besok pelajaran bu Juli dan pak Wahyu kan ? Bilang sama bi Atun buat masak aga banyakan,"
Shania baru sadar, sikap inilah yang sering Arka tunjukkan jika ia sedang sedih, agar tak berlarut..maka ia akan mendikte apa saja plan dan step yang harus berjalan ke depannya.
"Iya, "
"Mas balik ke kampus gih, nanti ketinggalan materi. Sayang, mas udah bayar biaya semester mahal mahal."
Arka mengusap kedua tangan putih Shania.
"Titip Shania ya sampai pulang, " ucapnya melirik satu persatu teman teman Shania, dan mereka mengangguk.
"Iya pak," ini kali pertama mereka mengiyakan dengan hati ikhlas dan tulus permintaan dari guru tegas dan galak ini.
__ADS_1
"Hati hati sampai pulang, nanti ada Dimas yang menjemput pake mobil."
"Mas pake apa ?"
"Mas pake motor kamu," jawabnya.
"Oh, ya udah kalo gitu."
Arka pamit pada Shania, setelah mengetahui jika istri nakalnya itu baik baik saja, ia tak peduli dengan tatapan beberapa warga sekolah yang memandangnya rendah, aneh ataupun tak percaya. Baginya tatapan mereka tak membuat perutnya dan Shania kenyang. Pandangan mereka tak menggaji pekerjaannya untuk menafkahi keluarga.
"Ko gue geli ya, Sha...ga ada panggilan lain apa, sayang kek, baby kek, hubby gitu ?!"
"Yoi, loe anak masa kini, tapi seleranya masa gitu !"
Ari tertawa akan celotehan teman teman perempuannya.
"Loe berdua ribet amat, yang kawin kan Shania sama pak Arka. Loe kalo mau manggil ayang beb, punya aja 'ndiri !" seru Ari pada Niken.
"Loe semua mau lulus ngga ? buktiin dong kalo berandal juga punya kelas, " tanya Shania.
"Mau gue mah !" jawab Melan.
"Datang ke rumah gue aja sekarang. Kan udah ga ada yang gue tutup tutupin lagi, biar kita belajar bareng. Biar lulus sama sama, terus bisa lanjut kuliah ! Kita tunjukin sama mulut-mulut julid, sama pandangan yang selalu liat kita hanya sebelah mata. Kalo kita juga bisa lulus dengan versi terbaik."
"Emang bisa sistem kebut dalam semalam belajarnya Sha ?! Ngaco deh," ujar Leli.
"Engga semalam juga Li, ini tuh 4 hari menuju UN," jawab Deni.
"Minimalnya kita tau strategi buat menghafal dan modul yang disiapkan, "
"Loe lupa laki Sha guru ter de'best ?" tanya Melan.
"Boleh lah, gue juga bosen dimarahin emak dirumah ! Diomelin kalo engga lulus atau bisa kuliah gue disuruh balik ke kampung buat bantuin usaha ayam petelor !" jawab Guntur.
"Hahahaa, berandal sekolah ngurusin ayam sama telor !" cibir Niken.
"Gratis engga nih ?" tanya Ari.
"Gratis, " jawab Shania.
"Kuy kalo gitu !" ajak Guntur.
"Den, jangan bawa mi ras ! karena gue yakin pak Arka tau, dan bakalan dibuang jauh jauh !"
"Si@*lan, insyaf lah gue sekarang !" jawab Deni, ditertawai yang lainnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.