Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Stalkerin pria soleh


__ADS_3

Shania menarik kerah baju Niko, lelaki ini bukan tanpa perlawanan, tapi jika kamu tanya seberapa kuat tenaga emak-emak disaat ia kalap. Maka jawabannya lebih dahsyat dari tsunami Aceh tahun 2004.


"Sha, sabar Sha..." pinta Niken mengekor.


"Eh loe ! Jangan seenaknya main tarik baju orang. Saya manager disini !" bentak dan pekik Niko.


"Baru manager kan, gue pembeli !! Tau kan slogan pembeli adalah raja ?!" sengak Shania.


"Jadi gue tanya sama loe, manager sama raja lebih tinggi mana kedudukannya ?!" tanya nya lagi. Benar, perempuan memang lebih cocok jadi pengacara, pandai bicara dan membolak-balikkan kata termasuk perasaan.


Ada saja jawaban yang Shania lontarkan dan tentunya membuat si Niko ini skak mat seperti dalam permainan catur.


"Loe laki apa ben_cong ?!" tanya Shania menghempaskan Niko hingga terhuyung dan tersungkur di area halaman restoran.


"Loe sendiri, cewek apa cowok ?! Cewek ko kasar banget !"


"Kalo gue sebut gue cowok mau apa loe ?!" tanya Shania sengak.


"Terus kalo gue sebut gue cewek loe mau apa ?" Niko membalikkan.


"Pantes aja, enaknya ditelan_jangin terus dipakein rok !" sengit Shania tak kehabisan kata.


"Loe inget muka dia kan ?! Cewek yang udah loe tidurin terus loe hamilin ?!" tanya Shania menunjuk Niken.


"Sekarang gue mau nanya sama loe, loe mau tanggung jawab apa engga ?!" tanya Shania tajam dan menusuk.


"Kalo engga ?!" senyumnya miring. Niken sudah hampir menjatuhkan air matanya, tapi ia ingat perkataan Shania.


"Loe emang br3ng_sek !"


Plakkk !


Niken mendekat dan menampar Niko.


"Janji loe palsu semuanya !" Niken meraih kerah baju Niko dan mencengkramnya kuat lalu menghempaskannya.


"Gue udah nyuruh loe buat gugurin, Ken. Gue belum siap kalo harua nikah dalam waktu dekat ! Nikah butuh biaya, butuh mental yang siap juga," jawab Niko.


"Enak aja loe ngomong. Kalo belom siap jangan nanem bibit dong !" sela Shania mendorong keras kepala Niko sekali, kesal rasanya melihat lelaki mental ban_ci.


"Jadi jawaban loe engga kan, oke maka keputusan gue adalah jeblosin loe ke penjara !" jawab Shania.


Sontak saja Niko bangun dan hendak kabur, tapi Shania mensleding kakinya hingga ia jatuh dan terjerembab.


"Coy, kenalin ! Gue Shania, kalo loe belum kenal, terus kalo loe mau nandain muka gue silahkan takutnya loe mau bales, atau cari gue !" Shania yang lututnya menahan punggung Niko menyuruh Niken merogoh dompet Niko.


"Ken, ambil dompetnya!" pinta Shania.


"Buat apa Sha ?"

__ADS_1


"Buru !" titah Shania.


Niken segera mengambilnya di saku belakang.


"Ambil KTP, SIM, ATM, credit card sama duit cash yang ada disana !"


"Eh, Ken jangan ! Oke..oke...gue salah Ken. Maafin gue," ucap Niko.


"Permintaan maaf ditolak ! Enak aja, kalo semua kesalahan di muka bumi cukup pake kata maaf kasian pengacara sama jaksa, nganggur !" jawab Shania tegas.


Setelah semua di dapat, Shania menyimpan KTP, dan SIM.


"Gue ambil ini sebagai jaminan. Kalo loe butuh ini semua, loe ambil ke rumah orangtua Niken, sepaket dengan uang mahar sama penyesalan. Niken nunggu tobatan nasuha loe, atau gue yang nunggu loe di atas kuburan loe ?! Dalam waktu 1×24 jam, kalo loe ga ada etikad baik, loe tunggu temen-temen gue yang datang sebagai malaikat pencabut nyawa buat loe !" Shania mengangkat lututnya, tapi saat Shania dan Niken hendak pergi, seorang perempuan muncul berlari dan menghambur pada Niko.


"Beb, kamu kenapa ?!" tanya nya, Shania melirik Niken yang menunduk, ia mengusap bahu Niken sambil menampilkan senyum ketenangan.


Perempuan itu membantu Niko berdiri.


"Hey mbak, situ pacarnya ?!" tanya Shania, ia mengangguk.


"Gue cuma mau nawarin air keras sama cangkul, kali aja setelah tau yang sebenernya loe mau siram tuh air keras ke mukanya dia, atau nyangkul tanah buat ikut nguburin dia," dengus Shania.


"Maksud loe ?!" ia mengernyit dengan sedikit sewot dan wajah memerah karena marah.


"Kasian gue sama loe mbak, cuma jadi selingkuhan papahnya si utun !" ujar Shania mengelus perut rata Niken.


"Dia udah ga punya apa-apa loh mbak, tinggalin aja !" tambah Shania seraya membawa Niken ke arah motor Niken.


"Beb, apa maksudnya ?" tanya nya pada Niko.


"Beb, gue jelasin !" pinta Niko, tapi si perempuan menghentakkan kakinya kesal ke dalam mengambil tasnya dari ruangan Niko.


"Ga usah diliatin Ken kalo bikin hati loe sakit, loe cuma tinggal do'ain aja.. kalo emang si Niko jodoh loe minta dilembutkan hatinya, dikasih kesadaran dan ilham buat dia. Loe minta ampun sama Allah gih, minta maaf sama orangtua juga," ucap Shania mengusap air mata yang sudah kembali meleleh dari mata Niken.


"Makasih Sha," Niken menghambur memeluk Shania.


Mereka sudah akan meninggalkan parkiran restoran, tapi baru saja akan melaju, si perempuan kembali keluar tanpa Niko, dengan tangisan menuju motor yang ternyata bannya tadi digembosi Shania.


Si perempuan tadi celingukan melihat ban motornya.


"Si*@l !!" umpatnya menendang ban motor.


Shania berhenti tepat di depannya.


"Mbak, bannya kempes ya ? Hati-hati disini rawan kejahatan gembos ban motor ! Tapi deh, ga tau ban motornya, yang ga kuat nanggung dosa si empunya," ucap Shania berlalu.


Niken tertawa, "loe usil banget mak ! Itu motor yang tadi loe bocorin !"


"Ha-ha-ha, mana gue tau ! Anggap aja apesnya dia kenal si Niko, salam tempel dari gue..onty'nya si utun !" jawab Shania.

__ADS_1


"Kita mau kemana Sha ?" tanya Niken.


"Cari minum dulu yuu ! Aus gue abis teriak-teriak barusan !" jawab Shania sekalian ia membelokkan motornya ke sebuah mall ternama di Jekardahh.


"Terus ini buat apa Sha ?" tanya Niken pada barang-barang milik Niko di tangannya.


"Itu loe pake lah ! Anggap aja si Nikotin lagi ngasih obat healing buat loe, karena sikap dia,"


"Loe pake credit cardnya buat beli baju, ke salon, liburan kek, beli perhiasan ! Berapa limitnya tuh ?!" tanya Shania.


"Gue ga tau Sha."


"Ya udah pake aja, jebol-jebol deh tuh !"


"Duit cashnya loe pake buat jajan, nah ktp sama sim biar itu buat jaga-jaga. Sebelum loh halal sama dia jangan dikasiin ktp'nya !" jawab Shania.


Mereka sampai di bassement,


"Gue mau beli snacknya Gale di supermarket, baru kita beli minum !" ujar Shania.


"Oke Sha,"


"Oh iya Ken, periksain dulu kandungan loe, apa mau gue anter ?" tanya nya.


"Ga usah Sha, biar gue sendiri aja. Makasih banyak Sha, selalu ada buat gue !" ucapnya haru.


"Loe udah ngomong 2 kali loh Ken, sekali lagi gue kasih piring !" jawab Shania.


Shania memilih snack cemilan kesukaan Gale.


"Kita beli minum disana aja ya !" tunjuk Shania pada Niken.


"Boleh mak,"


Disaat Shania dan Niken tengah mengobrol dan masuk ke dalam gerai makan, pandangan Niken membulat saat melihat seseorang yang tak asing lagi.


"Sha, itu pak Arka kan ?" tunjuknya pada sosok laki-laki yang tengah duduk dengan seorang perempuan tidak tua tapi pun tak terlalu muda juga.


"Loh iya ! Itu laki gue ngapain disitu ?! Berduaan sama cewek lagi," entah efek tadi melabrak Niko atau memang pikirannya yang diliputi hal negatif karena lelah, Shania kembali merasakan hawa panas.


"Bukannya tadi mau ketemu konsumen ya, jadi ini konsumennya !" gumamnya sedikit kesal dan menggerutu.


"Mungkin emang konsumen kali Sha, atau cuma temen kampus !" jawab Niken.


"Datengin aja kalo penasaran," kembali lanjut Niken.


"Dih, kalo cuma konsumen biasa gue yang malu dong, ngelabrak tanpa sebab !" jawab Shania, ternyata gadis ini masih memikirkan rasa malu.


"Kita minum disini aja, cari tempat yang lebih deketan ! Biar gue bisa denger obrolan mereka," pinta Shania berjalan mendekati posisi Arka dengan menutup wajahnya memakai tas.

__ADS_1


"Ini konsumen cafe atau konsumen hati ?! Cengar-cengir ga jelas," monolognya kesal. Niken tertawa, "loe lucu deh mak, stalker-in laki sendiri ! Menurut gue ga mungkin deh pak Arka selingkuh mak, dia baik, dia soleh !"


"Pria soleh juga manusia !" jawab Shania.


__ADS_2