
Let Him Go...
(Lepaskan dia pergi...)
-------------
Arka bukanlah pahlawan yang akan berlaga di medan perang, ataupun kekasih yang akan pergi jauh entah ke belahan bumi bagian mana. Meskipun ia terkenal killer, para siswa dan guru lain tidak memungkiri kinerja Arka sebagai guru.
Namun apa mau dikata, sebagian lebih suka melihat sisi negatif yang belum tentu kebenarannya ketimbang hal-hal positif yang sudah di dapat.
"Mas, ko Sha ikutan sedih sih kaya siswi lain. Padahal kan tiap hari ketemu di rumah, tidur juga satu ranjang," ucapnya di sela sela sarapan.
"Kamunya saja yang berlebihan, " jawab Arka melihat lihat profil sekolah tempat barunya mengajar.
"Sha bakalan kangen dong belajar di kelas sama guru ganteng, " bi Atun tertawa melihat kelakuan manja majikan kecilnya ini.
"Si neng, ada ada aja ! jadi kalo liat Mas Arka tuh bukan merhatiin pelajarannya gitu ?" tanya bi Atun.
"Ya engga gitu juga, cuma kan kalo wajah tampan atau cantik tuh jadi moodbooster, bi Atun ga tau sejarahnya soalnya sih ! Jadi ga akan ngerti, "
"Sejarah apa neng, "
"Dulu kan Sha sering gombalin mas Kala kalo di sekolah, kurang aj ar kan bi ?" tanya nya mengakui.
Bi Atun semakin tertawa, "neng Sha berani gombalin guru ?"
"Shania tuh manjat pager sekolah aja berani bi, " Arka buka suara.
"Oalah, anak gadis ko bandel neng ?"
Shania tertawa, "kalo sekarang ga berani bi, takut kena amukan mas Kala. Kaya ngamuknya si Giant sama Nobita !" imbuh Shania berkelakar.
***
"Huwaaaa !!! pak Arka aku hampa tanpamu, "
"Udah kaya raga tak bernyawa !"
Shania menatap aneh pada kedua temannya, tadi Melan sekarang Inez, apa mereka tak sadar memuja suami orang di depan istrinya sendiri ? Sejak 3 hari kepergian Arka, sekolah memang terasa berbeda, jadi lebih sepi..biasanya akan banyak siswa yang ia hukum.
"Let him go !" ucap Shania pada Inez, bukan cuma Inez tapi untuk seluruh deretan fans gagal move on Arka disini.
__ADS_1
"Loe sih ketemu wajah surgawi tiap hari di rumah," Inez merengut.
"Laki gue Nez, ayahnya dedek tuh !"
"Ga apa apa lah, loe-nya aja santai santai aja tuh, laki loe di puja cewek lain," jawab Inez acuh.
***
Benar ucap Arka, sepintar pintarnya mereka menyimpan bangkai lama lama akan tercium juga. Termasuk hubungan keduanya. Bukan mau Arka untuk pindah meninggalkan Shania seorang diri, tapi itu sudah ketentuan pihak sekolah dan Arka tak dapat berbuat apa apa selain mempercayakan Shania pada pak Wildan dan beberapa guru lainnya.
"Ka, maaf sepertinya saya harus mengajukan surat pindah tugasmu secara kilat dan mendadak. Beberapa guru, mempertanyakan kebijakan sekolah yang tak kunjung dipenuhi saat mengetahui kamu menikahi Shania, ditambah nilai Shania yang dapat melampaui beberapa anak yang biasanya langganan nilai bagus,"
"Saya mengerti pak, nilai yang di dapat Shania murni hasil kerja kerasnya tanpa ada campur tangan saya, tapi jika memang kehadiran saya membuat keresahan diantara guru dan orangtua murid, maka jangan Shania yang keluar atau nilai Shania yang dipertanyakan. Biar saya saja yang pindah, Shania akan lulus sebentar lagi."
"Maaf mas meninggalkan Sha seorang diri, mas yakin untuk seminggu ini Sha bisa melewatinya, mulai minggu depan Sha belajar di rumah !"
***
"Sha, loe jangan keluar kelas deh !" wajah Inez terlihat khawatir duduk di samping Shania.
"Kenapa emangnya ?" Shania malah menjadi penasaran.
"Dikira cantik, baik baik..eh ternyata sama aja kaya alm.Maya !"
"Gue tebak dia kebobolan, dia sering pake swetter tuh karena memang udah melendung !"
Memang benar hal positif sebesar apapun yang kamu lakukan seketika akan sirna hanya karena hal minus yang tak seberapa, orang orang akan lebih percaya secara kasat mata sekalipun itu belum tentu benar faktanya, dibanding harus mencari tau kebenarannya.
"Sha, berapa tarif loe ?!" tiba tiba terdengar pertanyaan sumbang dari salah satu teman angkatannya membuat Shania meradang.
"Seharga kunci jawaban Kimia ngga ? Udah kaya gini ditinggal, gue ga sangka guru se killer Arkala ternyata pe cun dang ! Doyan muridnya sendiri !" tawa mereka merendahkan.
"Yoi ! tampang sih boleh keren, tapi doyannya anak murid sendiri. Memanfaatkan siswi yang kejepit nilai, guru ga bermutu !" Arka pun tak luput dari hinaan dan cibiran.
"Gimana ga gampang banget kasih ke nikma tan sama laki laki, liat dong pergaulannya dulu !" beberapa foto Shania saat sedang bersama Deni, ditambah seragam pas body, dan kenakalan kenakalannya dulu terpampang di beberapa grup whatsapp kelas, menjadi penguat alibi buruk mereka tentang Shania, mau membela diri sampai berdarah darah pun tak akan mengubah opini negatif tentang Shania.
Shania memang salah, selalu keluyuran dengan teman teman geng Deni di luaran bahkan sampai malam, tapi itu dulu dan tak ada yang terjadi selain dari mengobrol dan kongkow bareng, melepas penat dari rutinitas. Ia juga selalu bandel dengan selalu memakai seragam minim padahal bunda seringkali menyuruhnya mengganti, ditambah di detik detik terakhir hidup Maya, ia selalu membela seorang Maya, dikaitkan dengan kedekatannya dengan almarhumah Maya menggiring opini mereka jika Shania dan Maya satu frekuensi. Apakah salah ia bersikap baik pada seorang seperti Maya ? Apakah karena dekat dengan seorang seperti Maya, lantas mereka menyamaratakan orang-orang yang dekat dengannya, berstatus sama dengan Maya, hanya karena Shania selalu memakai seragam minim dan bergaul dengan geng Deni di luaran sana ? bisa Shania pastikan Shania tidak begitu. Pernikahannya dan Arka murni karena kejadian tak disengaja, begitupun nilai nilainya murni hasil kerja kerasnya. Jika pasal kehamilannya, memang itu diluar kendalinya dan Arka, toh ia dan Arka adalah pasangan sah, halal.
"Anj* rittt !!!" Shania ingin maju ke depan namun ditahan Inez.
Bughhhh !!!!
__ADS_1
Siswa kurang aj ar tadi tersungkur mendapatkan bogeman mentah dari Deni.
"Si @*lan loe ! Sekali lagi loe bilang itu, abis loe !" ucap Guntur.
"Sha, loe ga apa apa kan ?" tanya Melan dan Leli.
Shania menggeleng,
Beberapa poster yang memampang wajah Shania bahkan dicorat coret. Jika dulu semua menatap kagum pada Shania, kini mereka menatap rendah, fokus mereka juga mengarah pada perutnya yang langsung dihalangi badan teman temannya.
Sampai sebegitunya mereka melindungi Shania. Padahal Shania juga merahasiakan statusnya dan Arka dari mereka.
"Kenapa marah ?! emang bener kan loe..Shania..apa mungkin anak-anak geng loe juga jadi nila setitik buat BP ?!" bentaknya pada Deni, diketahui ia adalah wakil ketua OSIS pada angkatan Shania.
Bimo, anak seorang pengusaha. Ia sempat akan menjadi sampul sekolah untuk promosi. Namun, namanya tergeser oleh kehadiran icon sekolah Shania dan Cakra.
"Gue emang bandel ! tapi ga usah bawa bawa Shania ataupun temen gue yang lain !!!" Deni kembali maju hendak melayangkan pukulan pukulan telaknya.
Ari, Guntur, dan Roy menahan. Shania memang tak menangis, namun ia benar benar merasa hancur di dalam bersama nama Arka yang ikut buruk di mata semuanya. Setidaknya karena perkataan Bimo dan kawan kawan akan memancing orang orang beranggapan hal yang sama.
Pihak pak Wildan melepaskan beberapa spanduk wajah Shania yang dicorat coret juga meminta siswa lainnya jangan terprovokasi atas berita yang tak jelas kebenarannya.
"Saya harap kamu terus berjuang untuk UN Shania, meskipun sedikitnya kamu terpengaruh akan kejadian ini. Hargai usaha Arka, dan sekolah untuk memperjuangkan hak kamu. Mungkin hanya ini yang bisa kami lakukan untuk kamu dan Arka, sebagai mantan atasan yang pernah merasakan pengabdian Arka, sebagai senior di kampusnya dulu, sebagai kepala sekolah yang menyayangi anak murid berbakat seperti kamu. Setidaknya kamu pernah menorehkan prestasi, membawa nama sekolah di ajang bergengsi !" Shania mengangguk mengerti.
Rupanya apa yang dia tanam dulu itu juga yang akan dia tuai.
Shania keep strong !
Kenakalannya dulu, membangkang, malas, nongkrong sampai larut dan yang lain lain seakan kini sedang memperlihatkan akibatnya untuk Shania. Bukankah obat memang pahit ? Maka akan Shania telan. Kenapa ia tidak menganut prinsip mencegah lebih baik dari pada mengobati ? Penyesalan memang selalu datang di akhir.
Tapi siapapun tak mengenal Shania dan teman-temannya. Mereka sudah terbiasa dengan hinaan, bullyan dan suara-suara sumbang tentang mereka. Kejadian ini memang menohok bagi Shania, tapi justru semakin mengeratkan persahabatan mereka semua.
Perkataan mereka bak angin malam di dini hari, berlalu begitu saja meskipun membuat dingin sampai menusuk tulang, tapi mereka akan selalu baik-baik saja.
.
.
.
.
__ADS_1