
Hari ke 2 lebaran, Shania berlebaran di rumah bunda. Karena hari ini Arka mengantarkan ibu ke Surabaya. Rencananya setelah mengantar ibu, Arka akan kembali pulang dan ikut ke Bandung.
"Mas sama ibu hati-hati !" ucap Shania.
"Iya, Sha juga hati-hati. Ibu cuma seminggu di Surabaya. Jaga Galexia baik-baik Sha,"
"Iya bu, salam buat keluarga disana ya. Maaf Sha sama Galexia ga kesana lebaran kali ini," jawab Shania.
"Ndak apa-apa nduk, haduhhh...belum apa-apa ibu ko yaa udah kangen sama cucu ibu," senyum ibu menggendong Galexia.
"Mas hati-hati di jalan," hanya mengantar ibu saja, Shania merasa sedih seperti akan ditinggal jauh dan lama.
"Iya, tunggu mas ya. Jaga dedek Sha, jangan dibisikin yang engga-engga."
Arka terkadang menggelengkan kepalanya melihat sikap konyol Shania yang sering mengajak Galexia ngobrol dengan tema random seperti permasalahan anak muda seperti petuahnya tentang mencari pacar yang seperti ayah atau jangan jadi cabe-cabean dempet 3, yang sudah jelas tak akan dimengerti si bayi. Yang Galexia tau, ia hanya akan menangis jika lapar dan haus, ataupun tak nyaman.
"Idih, kan obrolan ibu dan anak mas."
"Tapi dedek ga akan ngerti Sha, ada-ada aja," Arka mengacak gemas rambut istri natckalnya yang memang menggemaskan.
****
Musim libur lebaran sudah berakhir, Shania yang sudah mulai disibukkan dengan persiapan kuliah kini sibuk mencari bahan-bahan tugas MOS nya.
Pakaian hitam putih menjadi seragam awalnya, lebih mirip dibilang pelamar kerja sebenarnya. Dengan tambahan slayer biru terikat di kerah bajunya Shania sudah selesai mengurus tampilannya.
Tahun-tahun ini sudah tak berlaku lagi sistem perploncoan. Shania patut bersyukur, tapi tetap saja seabrek aktivitas seminar sudah menantinya sepanjang kegiatan MOS kali ini.
"Duh, males ! Udah kaya obat tidur buat Sha, mas kalo seminar gini," gerutunya pagi-pagi. Sebagai awal hari yang indah untuk Arka, yaitu omelan si cantik nakal-nya.
"Bagus dong. Daripada aktivitas fisik yang terkesan seperti perploncoan," jawabnya.
"Mas ga tau aja, seminar tuh kan ceramah panjang kali lebar. Tarawih aja Sha sering dibikin ngantuk sama ustadz,"
"Beda dong Sha, seminar kan suka diselingin sama sesi tanya jawab, yel-yel, visi--misi kampus sama slogan kampus, membangun, memotivasi, terkadang juga ada becandanya." Bagi Shania lebih baik diajak tanding voli 5 set atau basket saja, lebih membuatnya bersemangat dibanding mendengarkan sebuah penjabaran.
"Sama aja," kekehnya.
Meskipun kampus dapat ditempuh oleh angkutan umum, busway, atau kendaraan online dan termasuk Shania dapat membawa motornya sendiri, tapi Arka tak mau ambil resiko, kecolongan lagi mengawasi Shania.
"Sha, di kampus hati-hati. Kamu jangan terlalu percaya dengan semua orang, cukup temen-temen genk kamu saja."
Arka memperingati dengan nada yang seperti, itu adalah sebuah peringatan keras yang benar-benar harus Shania patuhi.
"Iya mas,"
__ADS_1
"Satu lagi, mas minta kamu ga usah cari masalah ataupun memancing orang buat fokus sama kamu," terakhir Shania di sebuah keramaian, tingkah konyolnya ataupun sikap spontannya menjadikan dia idola baru masjid kompleks.
"Iya, kapan sih Sha berulah ?!" jawabnya mempertanyakan. Hey ladiest, sepertinya dia amnesia dan butuh di tabok sampai Monas.
"Itu pakaian hitam putih yang waktu itu kita beli ?" tanya Arka melirik si gadis yang kini perawakannya bertranformasi mirip model majalah pria dewasa.
"Iya, kenapa emangnya ?"
"Ko keliatan kecil, kamu kecilin ?" tanya Arka.
"Ya engga lah, kayanya nyusut deh kainnya pas abis di cuci !" jawab Shania, pasalnya kini pakaian yang dulu dibeli dengan ukuran yang kebesaran ini malah terlihat pas di badan Shania.
"Ya sudah, ga usah dipermasalahin. Udah siang, nanti kamu telat !"
Shania mengangguk.
Akhirnya mereka sampai di parkiran Universitas.
"Mas, Sha pamit dulu ya !" ia menatap ke luar jendela yang sudah ramai orang berlalu lalang, padahal hari masih gelap. Bahkan mereka meninggalkan Galexia yang masih tertidur bersama ibu dan bi Atun di rumah.
Pembukaan acara Camaba/ MOS ini memang dibuka pukul 5.30 pagi. Yang benar saja bahkan Shania yang di bangunkan Arka meraih handuk dengan mata yang masih terpejam. Ini tuh mau pembukaan acara mos apa mau balik lagi ngadain sahur on the road pikirnya atau jangan-jangan disuruh gantiin ayam jantan berkokok.
"Iya, hati-hati."
"Mas juga, assalamualaikum !" Shania meraih punggung tangan Arka dan mengecupnya.
"Makasih udah dibantuin paksu..."
"Sama-sama, nanti mas jemput !" Shania mengangguk, ia turun dari mobil langsung berjalan mencari dimana gedung fakultas teknik berada. Jujur ia kebingungan, karena setaunya kampus ini memiliki banyal gedung.
"Maaf ka, ini kumpulnya dimana ya ?" tanya Shania.
Selalu dan selalu, aura Shania memang tak dapat dienyahkan apalagi pagi-pagi begini, kaya kedatangan bidadari yang datang dari mobil sejuta umat dan lagi tersesat, bidadari jaman sekarang turunnya dari mobil bukan dari khayangan memakai kereta kencana. Senior yang memakai jaket berwarna biru tua itu meneliti penampilan si camaba di depannya yang bagaikan dewi nawang wulannya Sangkuriang hanya saja ga toplesan. Dengan rambut panjang berikal di bawah lalu diikat satu, tak banyak memakai polesan make up tapi terkesan seperti wajah wanita korea yang menggemaskan tanpa banyak sapuan make up.
"Anak teknik ?"
"Tata boga tepatnya," jawab Shania.
"Gun ! Itu adek kating gue !" mata si senior menatap tajam Gunawan yang berada di depan Shania, seakan berkata she is mine, udah tak tandai...
"Oh, tapi dia anak teknik, kuliner tepatnya ! Berarti bukan adek kating loe doang, adek kating gue juga !" jawab Gunawan.
Shania mengerutkan dahinya, ini mereka malah rebutan kating katingan, apaan pula pagi-pagi begini sudah ributin hal ga penting, kaya drama bocah ilang.
"Riyan !!" Shania menyapa Riyan yang berjalan mendekat, rupanya Riyan merupakan anggota kesenatan dan ikut berpartisipasi dalam acara ini.
__ADS_1
"Sha, "
"Gue mau nanya dong, ini gue harus kemana ya, bingung !"
"Yu gue anter !" ajak Riyan.
"Riyan, selalu aja nyuri start !" gerutunya dengan desisan.
Shania celingukan mencari dimana 3 makhluk jejadian lainnya.
"Pasti masih pada mo lor !" gumamnya.
Tepat sebelum acara akan dimulai Roy, Deni, dan Melan datang dengan berlari, merapat ke barisan bersama ratusan calon mahasiswa baru di lapang hijau yang menjadi kebanggaan kampus berjuluk almamater hijau.
Sepasang mata mengawasi setiap pergerakan Shania, dari sekian ratus calon mahasiswa baru, hanya Shania yang menjadi center (pusat) netranya, tak ada yang lain.
"Akhirnya gue bisa liat lagi loe, sunshine ! Kangen gue sama loe, "
Di tempat lain, Arka membaca satu persatu pesan yang orang sakit itu kirimkan sejak lebaran waktu lalu.
Arka menarik senyuman miringnya, tuduhannya semakin menyorot pada dua nama.
Sayangnya, sepintar-pintarnya tupai melompat pasti akan jatuh pula. Se rapi-rapi apapun ia menutupi jati dirinya, tetap ada cela dan kelemahan. Tak ada yang sempurna di dunia ini.
"Sayangnya kamu tak tau, apa yang Shania sukai dan tidak Shania sukai."
Parsel yang dulu dikirimkan kebanyakan berisi kue-kue manis, hanya coklat saja mungkin yang akan Shania sukai. Shania mengalami teror ini pertama kali saat ia sudah keluar sekolah, kemungkinan yang paling besar, sang pelaku berada di kampus Shania, bukan teman-teman SMA nya.
"Guh, coba saya minta nomor sepupu kamu yang kuliah bareng Shania," pinta Arka.
"Oh, Yuna ?"
Arka mengangguk," bisa ketemu ngga ?"
"Mau ngapain Ka, mau ngajak selingkuh ? Waduh jangan Ka," seloroh Teguh.
Arka hanya menggelengkan kepala tak ingin menanggapi candaan Teguh.
"Ya udah nanti gue ajak ketemuan balik ngampus, ketemu dimana ?" tanya Teguh.
"Di dekat almamater hijau saja, sekalian nanti saya mau jemput Shania,"
.
.
__ADS_1
.