Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Pacaran ala pak guru part 1


__ADS_3

"Badan Sha udah kaya jelly,"


"Kaya abis dilempar ke jurang,"


"Udah kaya perkedel, "


Bukan kausnya yang ia pakai, tapi kaus Arka dengan ukuran yang lebih besar dari badannya.


"Mau di gendong ke kamar mandi ?"


"Engga, "


"Mas udah siapin air hangat buat mandi, sayangnya disini ga ada bathtub kaya di rumah. Atau mau pake ember atau di bak ? "


"Ihh emang Sha balita ! engga apa apa kalo ga ada," gadis itu berdiri dan menyambar handuk miliknya.


Jujur saja badannya masih pegal, matanya masih sepet. Bahkan saat shalat subuh saja, ia melama lamakan gerakan sujudnya demi memejamkan matanya sebentar. Badannya masih terbungkus mukena putih berbahan sutra, mas kawin yang Arka berikan. Kata bunda ada tanggung jawab dan kewajiban di seperangkat alat solat yang Arka berikan. Mungkin laki laki ini sengaja agar Shania selalu ingat 5 waktunya, dan membawa namanya di setiap sujud Shania. Makna seperangkat alat sholat memang sakral walaupun terlihat tak seberapa harganya dibandingkan emas, begitupun kalung yang Shania pakai merupakan mas kawin dari Arka. Karena dosanya akan ditanggung sang suami di akhir nanti, Shania memang tanggung jawabnya sejak janji sehidup semati, maka Arka harus mampu membimbing gadis itu mulai dari hal terdasarnya untuk nantinya sama sama meraih jannahnya Allah.


Gadis itu nyungseb di ranjang, masih dengan mukenanya, Arka menggelengkan kepalanya, "sarapan dulu Sha, "


"Pegel mas, pijitin dong !" gumamnya dengan mata tertutup, Arka duduk di samping badan Shania, ia meraih kaki Shania dan benar benar memijitnya di balik mukena.


"Emang tangan mas udah ga apa apa ?" tanya nya.


"Engga, "


"Nanti mas lanjutin, tapi sekarang sarapan dulu.." pria itu menghentikan pijatannya.


Shania membuka mata, memang perutnya sudah lapar. Masakan orang jawa memang tak beda jauh dengan orang sunda, ada manis manisnya sama kaya Shania, membuat Shania tak harus bersusah payah untuk beradaptasi. Shania selalu suka apa yang dimasak oleh ibu, ia bukan tipe gadis manja pemilih, meskipun ia tak begitu suka dengan makanan yang kelewat manis.


"Nanti siang mas ajak jalan jalan ke alun alun, sebelum besok kita pulang, " ajak Arka.


"Oke mas, "


"Shania sehat sehat di sana, " ibu memegang tangan Shania.


"Tetap istiqomah sebagai seorang istri," tiba tiba saja suasana sarapan yang asalnya secerah sinar mentari mendadak haru.


"Iya bu, ibu juga sehat sehat disini. Kalo ada apa apa telfon aja bu, kalo mas Kala sibuk, Sha yang bakalan susul ibu kesini !" Shania memeluk ibu mertuanya. Arka tersenyum, Shania sungguh tulus menyayangi ibunya.


"Kalo mas Kala ga kasih uang beras sama jajan, bilang sama Sha..biar Sha rampok uang dari dompetnya !" ibu tertawa mendengar pernyataan menantunya itu, bukan menantu durhaka seperti di tv tv yang selalu ia lihat, bukan menantu yang pelit dan tega seperti di sinetron. Sekali lagi tayangan itu terkadang dipenuhi bubuk cabai, dan cairan cuka. Menantunya Shania tidak begitu.


"Arka tidak begitu nak, ia selalu kasih ibu uang beras sama jajan, " ibu mengurai pelukannya dan mencolek hidung Shania.


"Kalo padhe udah sehat, ibu pulang aja ke Jakarta bu, Sha suka ditinggal sendiri di rumah. Ga ada tempat buat ngadu kalo mas Kala nakal bu, " dumelnya.


"Memangnya Arka suka nakal ?" tanya ibu.


Shania melirik Arka, yang dari tadi anteng saja menyendok nasi meskipun sedang jadi bahan ghibahan dua ibu ibu di depannya.


"Mulai nakal bu, "


"Nanti biar ibu uyel uyel kalo gitu !" jawab ibu.


.

__ADS_1


.


Arka sedang memanaskan motor di teras samping.


"Mas ! ini kopinya disini, " ujar Shania, Arka menoleh dan mengangguk.


"Kamu ganti baju dulu, takut keburu siang. Panas !" Shania mengangguk.


"Ibu udah siap siap, mau nganter padhe ?"


"Iya nduk, " jawab ibu tengah bedakan di kursi depan, dengan mata fokus pada cermin kecil yang dipegangnya.


"Oh, iya deh ! Sha juga mau siap siap. Ada yang ngajakin pacaran bu ," kekehnya.


"Hati hati ya nduk kalo orangnya ganteng, baik, ga apa apa !" seloroh ibu membuat Shania tertawa.


Arka masuk ke dalam rumah untuk menyeruput kopinya.


"Tuh bu ! itu orangnya ! menurut ibu ganteng sama baik engga ?"


"Wah, ibu tau kalo ini !"


"Ini profesinya guru kan ?" Shania sudah tertawa tergelak, ternyata diam diam ibu Arka orang yang humoris.


"Ko ibu tau ?"


"Tau lah, disini kan dia perjaka desa yang diincar banyak gadis nduk, "


"Tapi kalo ngajar galak bu, serem !" gidik Shania.


"Wah ! Kisanat, ibu ga kasih restu !" Shania menepuk nepuk punggung Arka.


"Ya sudah, saya cari lagi kalo gitu !" jawab Arka membuat Shania melongo.


"Dih, dih ! mas mah gitu !" Shania memukul mukul Arka membuat lelaki itu tergelak. Semenjak mengenal Shania, Arka jadi pribadi yang sering tertawa, meskipun hal itu terjadi hanya bila bersama Shania saja.


"Cepet ganti baju, kalo engga mas tinggal ?!"


"Baik paduka, " Shania membungkuk lalu masuk ke kamar.


Gadis itu meraih celana jeans panjang, dan blouse tangan pendek berwarna biru dongker dengan tas selempang.


"Kunci saja pintunya, simpan di bawah pot cocor bebek, " pinta ibu.


"Iya bu, " Shania memakai helm bogo nya.


"Pakai jaket atau swetter Sha, nanti kita pulangnya takut malem, dingin !"


"Iya mas, "


Keduanya memulai perjalanan keluar dari gerbang desa, seperti sepasang kekasih. Jika biasanya mereka memakai mobil kali ini sambil motoran.


Mata Shania tak lepas melihat jalanan kota, meneliti satu persatu bangunan dengan Arka sebagai tour guide nya.


Arka memarkirkan motornya. Sedangkan Shania membuka helmnya.

__ADS_1


"Kalo siang begini masih panas lebih baik ke alun alun bawah tanahnya, sambil liat liat lukisan dan mural !" ajak Arka menggandeng tangan Shania. keduanya menuruni lantai dengan menggunakan escalator di bawah atap kaca yang modern Surabaya rasa Singapura. Sesampainya di bawah beragam hasil seniman Surabaya banyak dipamerkan. Tak hanya itu, bahkan ada arena yang digunakan untuk bermain skate board. Puas dengan itu, Arka mengajak Shania ke tempat lain, sekitar 2 kilometer dari Alun alun Surabaya, mereka menemukan Monumen Kapal Selam (MONKASEL).


"Mas, foto disini keren deh !"


"Ini tuh sebenernya KRI Pasopati 410, Armada Angkatan Laut Republik Indonesia buatan Uni Soviet, "


"Oh, jadi ini kapal selam beneran ?!"


"Iya,"


"Keren deh mas, kalo di rumah ada yang beginian ! jadi kalo kemana mana tuh ga perlu macet macetan !" tawa Shania.


"Mau lewat mana ? mau parkir dimana ? selokan depan rumah ?" tanya Arka, Shania kembali tergelak. Ada ada saja gadis ini.


"Harusnya tuh Sha waktu nikah mintanya mas kawin kapal selam ya mas, biar unik !"


"Iya nanti mas kasih kapal selam, pake bumbu cuko nya sekalian !" pria ini kembali mengitari area ini.


"Ih !! itu mah pempek mas !!!" pekik Shania menyusul. Dari sana mereka melanjutkan perjalanan ke Gedung Siola, untuk sekalian makan siang disana.


Gedung yang dulunya toserba, diubah menjadi museum Surabaya. Di lantai 1 dipenuhi sekitar 1000-an benda benda yang berkaitan dengan sejarah perjalanan Surabaya, koleksi yang terdapat disini dimulai dari arsip kependudukan 1837, baju Dinas Pemadam Kebakaran sejak jaman Belanda, alat transportasi seperti dua becak berwarna biru dan putih, beberapa referensi tentang sejarah berdirinya Surabaya dan perjuangan rakyat Surabaya pada peristiwa 10 November dengan Bung Tomo sebagai tokoh utamanya, ada pula beberapa artefak masa lalu yang tak lepas dari mata Shania. Pacaran ala pak guru tuh ya begini...


"Laper ngga ?"


"Baru nanya. Laper, aus, capek, pegel ! ga liat nih tulang Shania udah pada gelar tikar di lantai ?!"


"Kita ke lantai atas. Ada foodcourt," ajak Arka.


Shania berjalan tergopoh gopoh, "mas ih, raja tega !" dumelnya.


"Itu udah di depan, apa mau mas gendong ?" tanya nya.


"Engga ah ! malu !"


Arka merangkul Shania, dari depan pintu mereka sudah disambut oleh showcase berisi minuman segar membuat Shania menelan salivanya, seperti menemukan oasis di padang pasir. Matanya berbinar.


Ada aneka susu coklat, coffe beer sinom, teh Rosella, sari rumput laut, dan lain lain dengan packaging rapi.


Di sisi kiri, produk makanan dari mulai cemilan sampai sambal berderet rapi memanjakan mata.


Memang disini tempatnya UKM dan UMKM asli warga Surabaya untuk memasarkan dan mengembangkan bisnisnya.


.


.


.


* Istiqomah : Usaha untuk mrnjaga perbuatan baiknya di jalan Allah SWT secara konsisten dan tidak berubah.


*Tourguide : Pemandu wisata


*Toserba : Toko Serba Ada


*Foodcourt : Area yang terdiri dari gerai gerai makanan.

__ADS_1


__ADS_2