
"Karena bel istirahat sudah berbunyi, dan perut bapak juga sudah keroncongan. Maka kita sudahi saja pelajaran hari ini, well see you tomorrow class !" ucapan penutup pelajaran b.Inggris by pak Wahyu.
"Ahhh bapak malah curhat, saya juga sama pak, dari sejak lahir belum makan ! " pekik Roy, pak Wahyu memang guru yang bersahaja dan sering berseloroh dengan anak didiknya.
"Terus loe bisa jadi segede ini dikasih apa kalo ga makan ?" tanya Shania.
"Dia mah kan parasit Sha, jadi ngisep nutrisi inangnya !" jawab Inez.
"Betul....!" jawab Roy.
"Betul betul minta di cipoxs !" tambah Roy membuat Inez memelototinya.
"Kali aja, anak kelas ini ada yang mau berbaik hati nraktir bapak gitu makan siang," jawab pak Wahyu.
"Ahhh bapak, dompet pelajar mana cukup pak buat traktir makan guru," ujar Umay dari bangku belakang.
"Ya sudah kalo ga mau nraktir, bawa buku catatan kelas ini ke meja Mr. Wahyu the handsome, di ruangan guru, tolong dibantu sekalian sama buku paketnya !" pinta pak Wahyu.
"Hahahahaha, " tawa siswa.
"Oyyy bantuin oyy !" pekik Roy dan Hendi.
"Gue aja gue, biar sekalian liat guru kesayangan, udah lama ga kesana. Kangen gue sama bapak gue !" jawab Shania. Si langganan BP ini sudah lama tak bertemu pak Hadi sejak bersama Arka.
Sepertinya tinggal bersama Arka memberikan perubahan yang drastis untuk Shania.
"Eh hooh lah ! udah lama gue ga liat Shania masuk BP lagi, insyaf loe Sha ?" tanya Yuri.
"Namanya juga manusia, ada khilafnya !"
"Njirr ! jadi maksud loe sekarang loe lagi khilaf gitu ?!" tawa Rudi.
Pak Wahyu yang mendengar celotehan kelas Shania hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Come on guys ! kita kawal pak Wahyu..." pekik Shania sudah membawa tumpukan buku catatan.
"Kawal sampai halal !" tambah Roy.
"Sableng, " gumam pak Wahyu sambil tertawa.
Roy dan Hendi membawa buku paket ke arah perpustakaan. Sedangkan Shania membawa buku catatan sampai ruang guru.
"Pak Hadi !!!! pucuk dicinta ulam pun tiba, tadi liat ruang BP kosong, Shania kangen bapak !!!" pekik Shania, sudah tidak diragukan lagi satu sekolah ini tau hubungan harmonis yang sudah seperti anak dan bapak antara Shania dan pak Hadi. Padahal bukan hanya ada pak Hadi saja di ruang guru, tapi masih banyak guru lainnya termasuk Arka.
"Apa kabar Sha ? bapak dengar kamu dicurangi rival sekolah ?" tanya pak Hadi khawatir.
"Iya pak, alhamdulillah udah ga apa apa ko, biasa lah kalo pejuang mah tangguh ga gampang buat ditumbangin, sekalinya tumbang cepet bangun !" jawab Shania jumawa.
"Mantap !" jawab pak Nirwa.
"Sudah lama bapak ga lihat Shania, alhamdulillah sudah tidak pernah bermasalah lagi, ya Sha !" ujar pak Hadi yang sedang menyeruput teh manis panasnya.
Melan yang sama sama sedang menyimpan buku di meja Arka melirik begitu melihat Shania.
__ADS_1
"Hay Sha !"
"Hay Mel, " Shania melirik Arka yang melihatnya juga.
"Hay pak, " sapa Shania memainkan dramanya sebagai anak murid Arka yang diangguki Arka sebagai balasan sapaannya.
"Hay hay....ga sopan Sha, pantesnya tuh salam, " cebik bu Wita.
"Mau ngapain kesini ?" tanya sinis bu Wita.
"Si ibu nih, galak amat ! nyimpen buku bu, di mejanya Mr. Wahyu the handsome !" Shania berjalan mengekori pak Wahyu yang ikut tertawa, sedangkan pak Hadi dan Arka menggelengkan kepala seraya mengulum bibir.
"Done pak, " jawab Shania setelah menaruh tumpukan buku catatan di meja pak Wahyu.
"Assalamualaikum, " ketuk dua orang siswi kelas XII IPA.
"Waalaikumsalam, " mereka semua menoleh.
"Maaf pak Arka, " keduanya mesam mesem tak jelas seraya menghampiri meja Arka.
"Saya ?"
"Ini ada oleh oleh buat bapak, dari mamah. Semoga bapak suka !" ia menyerahkan paper bag berwarna coklat bertuliskan salah satu toko ternama oleh oleh khas Jogja. Shania mengangkat alisnya sebelah, mendadak air mukanya berubah sinis.
"Wah, kenapa repot repot. Sampaikan ucapan terimakasih buat mamah di rumah, makasih banyak !" jawab Arka tersenyum ramah.
"Wah !! pak Arka dapet oleh oleh nih, loh...buat bapak ga ada ?" goda pak Wahyu. Siswi bernama Rani itu menunduk malu malu kucing dan menggeleng, lalu pergi bersama temannya. Definisi gadis andelemi (pemalu), yang bukan Shania banget.
"Wah, ada udang di balik batu itu, " tuduh bu Wita lebih sinis lagi, wajah sinisnya mengalahkan judesnya si cruela devil, musuh guguk polkadot dalmatian.
"Ciee !!! ada yang cemburu pak Arkanya di rebut orang," balas pak Wahyu. Mungkin bagi sebagian guru di dalam ruangan hanya menganggap selorohan pak Wahyu sebagai candaan semata, karena yang mereka tau banyak siswi disini yang memang menyukai Arka, termasuk sikap Shania dulu.
"Suka, suka...pak Arka itu guru disini.. harap dihormati !! " sinis bu Wita. Sekali lagi Shania hanya mengulum bibirnya, roman romannya wanita jomblo abadi itu menyukai suami gurunya. Dan menganggap Shania adalah bon cabe tingkat 5 yang menjadi rumput liar diantara padang luas tempat cintanya bersama Arka berlabuh.
"Pak, Shania balik ke kelas ya, tugas Shania ngawal bapak udah kelar !" pamitnya.
"Pacarnya pak Arka ngamuk !" bisik Shania membuat pak Wahyu yang berada di dekatnya tertawa. Ia berlari kecil demi melihat mata bu Wita yang sudah mengeluarkan elemen api.
"Katanya kangen sama pak Hadi ?!" seloroh pak Wahyu.
"Ga jadi ah, pak Hadi udah lupa sama anaknya ! udah punya anak baru, " jawab Shania memekik.
"Oh iya, kamu punya saingan Sha, Pratiwi anak kelas XI IPS !" seru pak Darma.
"Yahhh, jangan dong pak ! kalo gitu Shania besok mau berulah ahhh !" Arka menatapnya dengan alis menukik, sementara Shania hanya memeletkan lidahnya sampai benar benar pergi dari ruang guru.
"Saya pensiun kalo gitu Sha, " imbuh pak Hadi mengundang gelak tawa.
"Cih ! curang !!! giliran gue dikasih coklat diambil, giliran dia dikasih oleh oleh diterima !" Shania menendang nendang udara. Shania masuk kembali ke kelas, dan duduk di bangkunya.
"Jajan yu Sha !" ajak Inez.
"Gue bekal Nez, " Shania menunjukkan kotak makan yang disiapkan Arka.
__ADS_1
"Hidihhhh, enaknya jadi loe ! tiap hari disiapin bekal sama suami, " Inez merengut.
"Gue temenin jajan deh, tapi gue ga jajan, " jawab Shania membetulkan resleting tasnya.
"Yuu !"
"Bentar, " Shania mengambil tumblernya.
"Yu !"
Keduanya memilih duduk di bangku depan lapangan, "Muka loe suntuk banget Sha ?!" Inez melahap pop mie yang dibelinya dari kantin.
"Engga, ga apa apa !"
"Apa efek kejadian di lab. tadi ?" tanya Inez, Shania menggeleng.
"Bukan lah, gue ga apa apa, " ketusnya, tapi serasa ada yang mengganjal di hatinya melihat Arka menerima paper bag oleh oleh dari anak muridnya.
"Nez, curang ga sih...giliran gue dikasih orang dia ambil, malah barangnya dia kasih ke orang lain, tapi giliran dia dikasih orang, dia terima ?!" tanya Shania, sudah ditahan tahan tapi akhirnya lolos juga.
"Apa sih Sha, gue ga paham sama bahasa loe yang berbelit belit ! coba pake bahasa manusia biar gue paham, " jawab Inez mengerutkan dahi.
"Tau ah !! gue juga pusing !" gerutunya.
**************
"Kenapa ?" tanya Arka melihat wajah Shania yang ditekuk.
"Ga papa !" tukasnya ketus saat melihat paper bag coklat di bangku belakang dari spion mobil.
"Tadi waktu istirahat mas dikasih oleh oleh sama orangtua murid kelas XII IPA, " Arka menyerahkan paper bag oleh oleh yang tadi ia lihat saat di ruang guru dari jok belakang, membuat Shania menoleh dan mengangkat alisnya.
"Dah tau ! lagian kan udah mas Kala terima juga kan ? ngapain bilang lagi ! mau pamer ?!" ketusnya lagi.
"Mas cuma menghargai, lagipula itu di depan orang banyak, ga mungkin mas tolak. Sekarang mas bilang sama kamu, kalau kamu terima mas juga terima, tapi kalau kamu ga mau, biar dibagiin aja, buat bi Atun sama anak anak cafe," jelas Arka. Shania memalingkan wajahnya, malu...kesal !!
"Ya udah taro aja ntar Sha liat !" ketusnya. Arka menyimpannya kembali di bangku belakang, lalu menyalakan mesin mobil.
"Kamu marah ?"
"Engga,"
"Jangan marah nanti cantiknya berkali kali lipat, " jawab Arka terkekeh, wajah Shania semakin memerah karena malu.
"Ga usah gombal ! ga pantes !"
Arka tertawa, "ga pantes ya ?"
.
.
.
__ADS_1
.