Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Cantik-cantik sales panci


__ADS_3

"Sha, loe ga ngampus ?"tanya Melan di sebrang telfon sana.


"Engga, mendadak gue mules. Diare gue-nya !" bohong Shania.


"Salah makan apa loe ? Perasaan kemaren di acara, loe ga makan pedes ?"


"Gue ngabisin sambel sama pabrik-pabriknya ! Dah dulu Mel, gue pengen bo_ker !" Shania menutup sambungan telfonnya bersiap untuk mencari Niko bersama Niken.


"Dih, aneh ! Ga bakat boong nih emaknya si Gale !" ujar Niken.


Niko memang tak pernah tersorot, geng Shania memang tak pernah mempermasalahkan siapapun yang jadi pasangan temannya masing-masing, jika urusan hati mereka tak pernah ikut campur, asal temannya bahagia, mereka ikut bahagia. Shania memang tak pandai berbohong, tidak pada bunda, tidak pada geng kurawa, apalagi Arka.


"Bye baby bolo-bolonya momy ! Jangan nakal sama nene sama bibi ya ! Nanti pulang momy beliin snack atau buah pake uang ayah !" ujarnya pamitan pada Gale.


"Sini, gue aja yang nyetirin motor loe. Kalo loe yang bawa, takut nyungseb di belokan depan, kasian kan mas Kala kalo mendadak duda.." ucap Shania pada Niken.


"Sembarangan banget loe kalo ngomong Sha !"


"Maksud gue dudanya beberapa hari, karena gue ga bisa ngelusin junior-nya mas Kala, soalnya mesti masuk RS !" kekeh Shania.


"Maksud loe gue mati gitu ? Amit-amit gue masih belum tobat lah, belum punya bekel buat di akhirat !" ditengah kegalauan Niken, Shania sedikitnya mampu memberi senyum di wajah Niken dengan ocehannya.


"Loe udah siap belum nih ? Jangan sampe disana nanti loe malah mewek, males banget gue bawa emak-emak mewek kaya acara tv, cewek lemah yang cuma bisa bilang tega sambil nepuk-nepuk dada si cowok doang !" omel Shania layaknya seorang ibu. Semua tau, jika pasal begini Shania memang cerewet, pantas teman-temannya memanggilnya Mak Malin.


"Iya Sha, bawel loe ! Terus gue mesti ngapain kalo ketemu Niko ? Kalo bukan mewek," jawab Niken di tengah deru angin jalanan.


"Loe pukul kek pake balok kayu, loe lempar granat kek ! Atau loe jorokin dari lantai 10 gitu, yang penting gue ga mau liat cewek mewek-mewek !" omel Shania, Niken tergelak.


"Calon anak gue langsung yatim dong Sha,"


"Bo*do amat lah ! Kesel gue sama pacar loe si Nikotin, dari dulu juga belagu banget. Heran aja loe mau-maunya sama dia, kita dukung karena liat loe bahagia, tapi kalo ujung-ujungnya gini mah. Gue jadilah pesen TNT."


"Buat apa Sha ? Loe mau jadi teror__is ?"


"Mau gue bongkar, terus gue cemilin. Mau gue lempar lah ke dalem mulutnya Niko ! Pake nanya lagi," manyun Shania sewot. Di jidat momy Gale ini sudah tertulis mode senggol bacok, jangan ganggu !


Saat lampu merah, Shania berhenti.


"Pokonya ya Ken, gue ga mau tau. Loe kalo ketemu jangan memble, jangan cuma nampar pelan doang atau siram pake air."


"Terus harus gimana Sha ?" tanya Niken memiringkan kepalanya demi mengobrol dengan Shania.


"Gue lupa oyy, ga minta cairan keras yang ada di lab. IPA-nya mas Kala !" Niken tergelak. Memang bar-barnya kebangetan temannya yang satu ini. Jika tidak kenal Shania, maka orang-orang akan tertipu dengan wajah cantik momy satu anak ini, padahal aslinya Shania gadis nyablak, bar-bar meskipun ia memang baik.

__ADS_1


Lampu kembali hijau, baru saja Shania akan melajukan motornya, tiba-tiba pengendara lain dari arah belakangnya melaju kencang dengan sembarangan dan hampir menyerempet motor Shania, jika Shania tidak menghindar.


Ngengggg....


"Oyyyy, kimvrittt loe !!" pekik Shania.


"Sha udah biarin aja, ga usah diurusin !" Shania masih memandang motor tadi, meskipun secepat kilat, ia masih mengingat plat nomor dan jenis motor itu.


"Gue tandain loe, awas kalo sampe ketemu gue. Gue bikin motor geprek loe !"


Shania melajukan motornya, menuju tempat kerja Niko.


"Sha," gumam Niken saat berada di parkiran sebuah gerai makanan cepat saji.


"Ini rame, jangan sampe bikin keributan."


"Iya, ah ! Ga loe, ga mas Kala pesennya sama aja. Ngapa sih, takut banget kalo gue marah ?!" Shania sudah melepas helmnya.


"Abisnya kalo loe marah nyeremin Sha,"


"Gue tuh lembut loh, selembut hati ibu peri !" jawab Shania mengedip-ngedip imut, padahal Niken sudah membayangkan Shania dengan tanduknya dan clurit milik malaikat kematian.


"Justru loe makin nyeremin Sha, ngedip-ngedip gitu !" tawa Niken.


Shania menghentikan langkahnya saat baru saja beberapa langkah di parkiran.


"Ini motor kaya gue kenal, Ken !" tunjuknya pada salah satu motor matic yang terparkir disana.


"Iya, kaya motor yang tadi nyerempet kita bukan si ?" tanya Niken balik.


Shania mengangguk," iya !!! Nih platnya sama D 1234 RT," seru Shania.


"Iya Sha, motornya sama juga ini !"


"Asem nih motor. Bentar !" ujarnya pada Niken. Shania mencari sesuatu di tas selempangnya, ia menemukan sebuah peniti dari pin miliknya. Lalu ia berjongkok di samping motor itu.


"Loe mau ngapain Sha ?" tanya Niken.


"Sukur loe, gembos-gembos deh tuh ban !" senyumnya miring.


"Sha, astaga ! Ha-ha-ha !" Niken tertawa.


"Yu masuk !" ajak Shania.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam gerai makan yang lumayan ramai, kebetulan posisi gerai ini terletak di dekat kampus dan gedung perkantoran, jadi para mahasiswa dan karyawan yang sedang sarapan, atau ngopi-ngopi cantik pasti kesini.


"Misi mbak, pak Niko nya ada ?" tanya Shania.


"Oh, pak Niko manager ?" tanya karyawan itu.


"Iya mbak, Niko...Niko siapa sih namanya ?" tanya Shania pada Niken.


"Niko Alamsyah," jawab Niken.


"Pak Niko sedang ada tamu, mbak. Kira-kira mbak berdua ini siapa dan ada perlu apa ya ?" tanya si karyawan perempuan.


"Bilangin aja sama pak Niko, saya sales panci anti karat, mau nagih tunggakan dari 2 bulan sebelumnya. Nah mbak yang ini yang punya warung makan deket rumahnya, pak Niko ngutang mulu tiap hari ga pernah bayar !" jawab Shania, sontak Niken memalingkan wajahnya untuk tertawa.


"Istrinya guru begini banget ya Allah," benaknya.


Karyawan barusan setengah tak percaya dan ingin tertawa.


Cantik-cantik tapi sales panci.


Istri guru juga manusia ya guys, jadi jika kalian bertanya-tanya hal yang sama dengan Niken, karena memang ini adalah Shania, manusia dengan keunikan tersendiri.


"Mbak, pake senyum lagi ! Buruan mbak," pinta Shania.


"Iya mbak sebentar," ucapnya, ia lalu menyuruh temannya untuk memanggil Niko ke ruangannya.


Shania dan Niken mengambil tempat duduk di dekat jendela, dengan menghadap ke arah pintu masuk.


"Sha, thanks ya ! Loe udah mau bela-belain gini buat bantu gue," ujarnya dengan suara bergetar.


"Dibilangin jangan mewek Ken, loe tau kan kita itu gimana. Kita temen Ken, setelah selesai dari sini gue harap loe jujur sama yang lain, sama keluarga loe juga. Jangan pernah berfikir apa yang pernah gue fikirkan dulu, buat gugurin janin loe yang ga bersalah. Kita ada disini buat loe !" jawab Shania.


Seorang laki-laki keluar dari ruangannya meninggalkan seorang perempuan di dalam ruangannya, dengan wajah super kesal.


"Yang mana orangnya ?!! Kredit panci, siapa juga yang punya utang panci !" omelnya pada karyawannya.


"Heh mbak, kalo mau nipu ga usah pake ngaku sales panci segala !" Teriaknya pada Shania dan Niken dengan berkacak pinggang. Kedua gadis ini berbalik, betapa terkejutnya Niko saat melihat Niken.


"Ko," baru saja Niken berucap, Shania sudah menarik kerah kemeja Niko dan menggeretnya keluar.


"Iya panci !! Panci buat nampol kepala loe. Biar otak loe bisa guna dikit !" Shania menarik laki-laki itu keluar.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2