Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Dimas mengejar cinta


__ADS_3

Sejak kejadian itu, Shania dan Arka hanya mengambil hikmahnya saja, ia memasang cctv di atas pintu masuk rumah.


"Udah pas belum, coba liat di layar ?" tanya Arka.


"Bentar," Shania yang menggendong Galexia nyelonong masuk dan melihat layar laptop milik Arka.


"Udah mas, keliatan ko jangkauannya sampai depan pager !" jawab Shania berteriak dari dalam.


"Assalamualaikum !"


Terlihat dari layar laptop jika Dimas dan Lukman membuka pintu pagar.


"Ada penyusup tuh mas ! Rampok !!" pekik Shania.


"Sembarangan !" Dimas duduk bersama Lukman di kursi teras depan.


"Ngapain Ka ?!" melihat Arka turun dari tangga dengan obeng.


"Pasang cctv," jawabnya singkat.


"Ngupil ka Dim, ngupil pake obeng !" pekik Shania keluar dari pintu.


"Nih bini loe enaknya mulutnya di kunci aja lah Ka, kesel gue !" jawab Dimas, baru juga datang dari teriknya panas matahari sudah disuguhi mulut mercon Shania.


"Bukannya dulu suka ?" ujar Arka menggoda dengan wajah biasa-biasanya. Iya lah biasa terus mesti gimana ?! colek colek sambalado pada Dimas ?


"Dulu, sekarang mah engga mau kenal !" jawab Dimas.


"Jangan gitu ka Dim, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta !" Shania mengedipkan matanya sebelah, membuat Arka mencubitnya.


"Hihh, ngeri ! Jangan bikin gue khilaf tikung loe Sha !" ujar Dimas.


Tapi seakan tak kapok, Shania kembali menggoda Dimas.


"Kejar daku, kau kutangkap !"


"Ditangkap mau diapain ?" tanya Lukman.


"Mau gue jadiin pepes, uncle !" jawab Shania tertawa.


"Dikira gue ikan !" sewot Dimas. Jangankan Dimas yang sudah kenal, anggota dewan saja Shania gombali. Arka memang harus terbiasa dengan sikap ngeyel istri nakalnya ini.


"Cieee, ka Dimas bamper !!" goda Shania.


"Lakban aja deh Ka, mulut bini loe !"


"Ga kebayang kalo Shania married sama loe Dim, tiap hari berantem mulu !" ujar Lukman.


"Rumah ancur uncle Luk, gara-gara rebutan hairdryer !" jawab Shania.


"Mau bikin minum apa uncle Luk ?" tanya Shania.


"Pengen yang seger aja Sha, panas banget !"


"Gue ga loe tawarin Sha, gue tamu juga loh !"


"Gue pikir loe puasa ka," tawa Shania, istri Arka ini memang senang sekali menggoda Dimas sejak dulu, untung saja Galexia tidak mirip dengan Dimas.


"Puasa apaan, ini hari sabtu !" sarkas Dimas.


"Santai dong ka, ga usah ngegas ! Puasa qadha haid kan ?" Lukman tertawa melihat wajah kesal Dimas, tapi tidak dengan Arka yang hanya mengulas senyum tipis, tak ada yang lucu bagi si mister kebal candaan ini. Sudah biasa baginya jika Shania dan temannya ini akan gontok-gontokan.


"Kalo bukan bini Arka udah gue telen loe !"


"Uhhhh, ayahnya Ori serem !!" Shania langsung masuk ke dalam membuat minum untuk kedua tamu Arka.


"Jadi persiapan acara syukuran anniv Route 78 besok udah sampe mana ?" tanya Arka.


"Udah rampung 80% lah," jawab Lukman.

__ADS_1


"Voucher diskon makan 35% selama seminggu udah berjalan, undangan juga udah, hiasan sama segala macemnya udah, band juga udah !"


"Semoga lancar," jawab Arka.


"Aamiin,"


"Catering aman kan, ga keganggu acara ?" tanya nya.


"Aman, catering di lempar ke Route 78 cabang," jawab Dimas.


Shania membawa 3 gelas jus jeruk.


Arka menaikkan alisnya sebelah, "ko jus jeruk ?"


"Mas jangan kopi terus, biar sehat jus jeruk aja ! Dulu Sha ga boleh mie terus, sekarang mas yang jangan kopi terus !"


Karena bingung duduk dimana, Shania dengan seenaknya duduk di pangkuan Arka membuat Dimas berdehem.


"Sha, bisa ga sih loe ga usah pangku-pangkuan gitu ! Bikin gue jadi pengen nyari mamah baru buat Ori cepet-cepet !" ujar Dimas.


"Ka Dimas aja yang udah kelewat lama ngejomblo, jadi liat pangkuan gini mupeng, jangan-jangan cuma liat ayam gandengan aja ka Dimas ngenes lagi !" jawab Shania.


"Sue banget jawaban loe !" kecutnya.


"Shania ! Assalamualaikum," panggil seorang perempuan dari depan pagar.


"Teh Raya ?!" Shania bangkit dan membuka pintu pagar. Terlihat perempuan berjilbab itu memberikan sebuah paper bag pada Shania.


Perempuan dengan wajah meneduhkan nan lembut itu adalah salah satu pegawai di toko kue bunda.


"Ini kata si bunda, titipan buat neng Dara !" ucapnya memberikan paper bag itu pada Shania.


"Uihhh, dikasih puding sama oma hebring ! Teh Raya sini masuk dulu, Sha mau titip undangan buat temen bunda !" pinta Shania ia mengangguk dan ikut masuk.


"Pak, permisi," sapanya pada Arka.


"Masuk aja teh," jawab Arka, beberapa kali mereka pernah bertemu di toko.


"Siapa Ka ? Cantik oyy," bisik Dimas.


"Pegawai bundanya Shania,"


"Calon mama baru Ori !" Dimas menggosok-gosok kedua tangannya.


"Gue duluan Dim," timpal Lukman.


"Bersaing secara sehat lah !" jawab Dimas.


"Udah punya pacar," jawab Arka meneguk jus miliknya.


"Sebelum janur kuning melengkung masih bisa ditikung !" kekeh Lukman, Arka menggelengkan kepalanya.


"Tapi masalahnya bukan itu," Dimas mengerutkan dahinya.


"Apa ?"


"Satu-satunya mak comblang ya bini loe, ahhh ! Ini yang gue males," jawab Dimas membuat Lukman tertawa.


"Nah kamu baik-baikin deh tuh Shania," jawab Arka.


"Jadi gugur sebelum berperang nih ?" tanya Lukman.


"Oh ga ada kata gugur buat Dimas," jawabnya jumawa.


"Bini loe kalo dibaikin ngelunjak Ka," keluh Dimas.


Disaat yang sama Shania dan Raya keluar, senyumnya sungguh membuat Dimas dan Lukman meleleh seperti es krim kena panas.


"Neng Sha, kenapa ga pernah ke toko lagi, ga rame kalo ga ada neng Sha, "

__ADS_1


"Ga ada yang ngelawak ya teh ?! Nanti lah kapan-kapan Sha sibuk di kampus !"


"Dadah cantik !!" Raya meraup dagu Galexia yang ada di gendongan Shania.


"Dadah onty cantik !!!" pekik Shania melambaikan tangan Galexia saat Raya pergi.


"Sha," panggil Dimas.


"Apa ?!" sengaknya. Belum apa-apa gadis ini sudah menyebalkan.


"Yang barusan siapa ?" tanya Dimas.


"Teh Raya, itu karyawan toko kue bunda."


"Boleh minta nomornya ngga Sha ?!" tanya Lukman.


"Ntar gue kasih coklat deh !" Shania mengerutkan dahinya.


"Apaan, emang gue bocah disogok coklat ! Kalo uncle Luk sama ka Dimas mau, siapin voucher belanja buat Shania atau engga voucher salon and spa, baru Sha kasih !" jawabnya melengos masuk.


"Njisss mahal banget sogokannya, kan gini nih kalo bininya Arka, yang ada gue bangkrut duluan sebelum bisa rebut hati Raya," decak Dimas, Arka tertawa.


"Mau pedekate, kuatkan modal dulu kawan !" Arka menepuk-nepuk pundak Dimas.


"Si@*lan !" desis Dimas, Lukman pun ikut tertawa.


*****


Acara syukuran anniversary Route 78 yang kedua ini, sederhana namun cukup meriah. Tamu undangan yang merupakan rekanan bisnis dan beberapa konsumen pilihan ikut hadir, kerabat dan sahabat juga hadir disini.


"Sha, kita udah otewe !" ujar mereka di video call.


"Giliran makan gratis aja loe pada cepet !" sarkas Shania.


Di cafe sudah mulai penuh, Arka sibuk mengobrol dengan beberapa konsumen tetapnya.


"Neng, biar si geulis sama bunda sama ibu aja !" pinta bunda.


"Iya bun, baru makan terus minum ASI, jadi kenyang. Paling tidur sebentar lagi."


"Disini berisik kayanya neng, jadinya rewel. Bunda bawa keluar aja !" Shania mengangguk.


Terlihat dari arah luar geng kurawa sudah datang, kehadiran mereka selalu menjadi perhatian karena ke hectic'annya.


"Temen-temen mbak Sha cantik-cantik !" ucap Arga pada teh Mila seraya melihat Shania yang sedang menyambut geng dedemitnya.


"Huuu ! Kalo liat yang cantik aja langsung melotot !" teh Mila mengusap wajah Arga kasar, dikekehi Sifa.


"Mak ! Gilaaa, rame banget !" decak Niken.


"Kirain cuma gue aja yang semangat makan gratisan, ternyata yang berdasi dan bermobil juga semangat !" jawab Guntur.


"Ga usah keras-keras ngomong gratis-nya om Gledek !" Melan menoyor Guntur.


"Loe bawa kresek gede ngga, Tur ?!" tanya Ari.


"Engga, padahal tadinya gue mau bawa orang sekampung Sha !"


"Kimvritt, dikira lagi acara bagi-bagi amal !" ujar Deni.


"Roy mana ?"


"Katanya tadi nyusul, dia mau jemput...." baru saja mereka bicara dan belum selesai, Roy datang.


"Inez ?!!!" pekik mereka tak percaya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2