Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Tamu tak diundang


__ADS_3

"Ga harus pake pengaman kan ?"


"Orang udah jadi juga !" tukas Shania dengan nada ketus memukul dada Arka.


Arka selalu menyentuh Shania dengan lembut, bahkan untuk bibir semanis madu, membuat si empunya terbuai.


He's a good kisser...


Seiring berjalannya waktu dengan bahasa marketing baik yang diajarkan Nino dan Priyawan, bujuk rayu makhluk bernama Arka mampu membuat Shania menerima Arka kembali untuk menyentuhnya, walaupun dengan sedikit kalimat gerutuan Shania, tak masalah baginya selama kebutuhan bathin-nya terpenuhi. Tak ada lagi karet yang menghalangi urusan jenguk menjenguk kali ini dan seterusnya.


.


.


"Besok pelajaran pertama apa ?"


"Matematika, sama Biologi."


"Mas, kapan Sha mulai belajar di rumah ?"


"Menjelang UN, "


"Tapi perut Sha udah makin gede. Mulai susah buat ditutupin,"


"Udah mulai ada yang curiga ?" tanya Arka.


"Engga sih, cuma kadang suka pada bilang. Udah jarang basket Sha badan gedean tuh,"


Shania beranjak dari kursi setelah menyelesaikan acara menghafalnya. Dress tipis rumahannya tak dapat berbohong seperti seragam dan swetter yang dipakainya ke sekolah. Perut membuncit itu menantang untuk di elus.


Gadis itu menuangkan susu bubuk ke dalam gelas tinggi lalu menyeduhnya 3/4 gelas air panas, ia aduk lalu mencampur air suhu ruangan sisanya. Shania tak suka jika harus menunggu susu dingin, ia selalu senang untuk meneguknya langsung.


"Aduh !" keluhnya spontan.


"Kenapa ?"


"Dedek kayanya lagi ngulet di dalem. Dia nendang perut Sha," tak tau kapan gerakan pertamanya. Hanya saja seingatnya saat tendangan tsubasa pertamanya disambut lantunan ayat suci Al Qur'an oleh Arka.


Saat itulah hati Shania terenyuh dan ia kembali menangis karena terharu, semakin sayang pada makhluk kecil di dalam perutnya meskipun ia gengsi untuk menunjukkannya di depan Arka.


Kian hari perkembangan janin di dalam sana semakin bagus, mulai dari detakan jantungnya yang setiap kali periksa di dengar oleh keduanya, lalu gerakan gerakan menggelikan yang membuat Shania selalu ingin pipis.


"Kayanya minta dibacain surat sama ayah !" Shania duduk kembali di samping Arka yang masih sibuk mengerjakan tugas kuliahnya.


"Udah beres mas ?" Shania mengangkat kedua alisnya demi melihat Arka membereskan lembaran kertas di meja dan segera menutup laman yang sedang dikerjakannya.


"Belum, biar besok saja."


"Sejak kapan mas Kala nunda nunda kerjaan ?" tanya Shania.


"Sejak punya tugas baru," jawabnya.


"Apa ?"


"Bacain Al Qur'an buat dedek,"


"Sha mau isya dulu deh mas," belum Shania masuk ke dalam kamar mandi, terdengar pintu di ketuk dari luar bersamaan bunyi bell.


"Ting tong !"


"Tok..tok..tok..!"


"Assalamualaikum,"


"Iya bentar !" maksud hati sekalian beranjak Shania juga membukakan pintu rumah, tapi ia malah terkejut.


Ceklek !

__ADS_1


Pintu dibukanya, mata Shania membelalak. Demi apa ? ia sekarang berhadapan dengan Melan.


"Shania," Melan sama terkejutnya dengan Shania.


"Sha, loe ngapain di rumah pak Arka ?" Melan meneliti pakaian Shania dan yang lebih tercengang saat matanya berhenti di perut membuncit Shania yang tertutup baju rumahan tipis.


Percayalah Shania ingin terjun saja dari tebing saat ini juga.


"Mel, gue bisa jelasin," gadis itu terbata.


"Siapa Sha ?" tanya Arka dari dalam.


Melan langsung menarik Shania keluar dari pintu rumah.


"Loe..."


"Iya Mel, seperti yang loe liat. Gue.."


"Are you kidding Sha ?!"


"Ini gue lagi mimpi ngga sih ?!" Melan memegang dadanya dan duduk di kursi di teras.


"Tunggu ! Sejak kapan ? Dan loe ga ngomong Sha ?!"


"Sorry Mel, tapi gue yakin loe bakal paham kenapa gue ga bisa bilang. Udah lama Mel, sejak kejadian naas itu."


"Yang loe kepergok sama pak Arka di toilet ?!" Shania mengangguk.


"Oh my !"


"Dan loe lagi.."


"Hamil, " jawab Shania.


Arka penasaran, menunggu Shania yang lama berada di luar. Ia akhirnya menghampiri Shania dan Melan.


"Melan ?!"


"Kamu bilang tidak jadi, saya kan sudah bilang kalo sesi tanya jawab hanya sampai pukul 3 sore saja, itupun di Route 78."


"Maaf pak, maaf saya lancang. Tadi sebenarnya saya mau hubungi lagi bapak, tapi ternyata ponsel bapak ga aktif. Saya berfikir dan berinisiatif untuk menyusul saja, karena waktunya sudah mepet."


"Mas, " gumam Shania menenangkan Arka yang kesal dengan sikap Melan.


"Makanya harus konsisten jangan plin plan. Saya bukan orang yang kerjanya hanya diam menunggu siswa hanya untuk bertanya.materi dan modul."


"Iya pak, sekali lagi saya minta maaf atas miskom yang terjadi, dan sikap plin plan saya." murid murid di BP bukan tidak tau Arka yang disiplin dan tegas, selalu konsisten dan tepat waktu. Tak ada toleransi untuknya dalam mengerjakan tugas. Itu kenapa ia terkenal killer.


Arka masuk ke dalam berniat mengambil buku kimia beserta beberapa modul. Melan menunduk tak enak hati, tapi bukan itu yang ia pikirkan.


"Mel, nanti gue jelasin ya. Tapi mungkin loe sekarang kelarin dulu deh urusan pelajaran,"


"Masuk, " pinta Arka.


Kedua gadis ini masuk. Netra Melan menyapu seluruh ruangan depan rumah Arka, tak ada yang aneh disana, hanya figura kaligrafi ayat suci dan bunga kering dalam guci coklat tinggi. Begitupun lemari kaca, menunjukkan barang pecah belah yang bentuknya elegan dan unik koleksi ibu Arka semasa masih disini.


Melan duduk, di sofa tamu bersama Arka yang membawa buku.


"Apa yang mau kamu tanyakan ?" tanya nya, sikap dingin memang nama tengah Arka.


"Ini pak, " Melan menyerahkan sederet materi yang ia ingin perjelas lagi dari buku catatannya.


"Bi, minta bikinin minum buat tamu ya !" pinta Shania melengos ke dapur meninggalkan Arka dan Melan di ruang tamu.


"Iya neng,"


Arka sedang menjelaskan pada Melan, hingga bi Atun datang membawa secangkir teh manis.

__ADS_1


"Makasih, " ucap Melan. Shania sengaja membiarkan keduanya dan menunggu di ruang tengah setelah melaksanakan salat isya nya.


Hanya butuh waktu setengah jam, tuntas sudah semua sesi tanya jawab Arka dan Melan.


"Sudah selesai kan ?" Melan mengangguk.


"Udah pak,"


Arka merapikan buku, "diminum dulu tehnya, " Melan kembali mengangguk.


"Melan, saya harap kamu bijak dalam berfikir ataupun mengambil sikap. Untuk kejadian yang tak terduga dan tak disengaja gara gara miskom ini, saya harap kamu bisa mengerti dengan tidak menyebarkannya di sekolah. Saya menunggu Shania lulus baru go publik tentang status saya dan Shania."


"Mas, biar Sha aja yang jelasin. Melan pasti ngerti ko, mas belum isya kan ?" imbuh Shania menghampiri keduanya, Arka mengangguk.


"Saya masuk dulu,"


"Silahkan pak,"


"Mel, sini yu !" ajak Shania menarik Melan ke ruang tengah agar obrolan yang dari tadi terasa menegangkan seseram wahana roller coaster itu mencair, karena suasana hangat di ruang tengah.


Kini terpampanglah nyata di depan mata Melan, begitu ia menginjakkan kaki di ruang tengah. Meja kayu sepanjang 1,5 meter dengan figura figura kecil diatasnya menunjukkan foto foto Shania dan Arka, mata Melan menyipit meneliti satu persatu, lalu berhenti demi melihat bulatan bulatan di kalender yang berdiri di samping figura figura kecil itu. Beberapa tanggal yang di bulati oleh pulpen dengan tulisan tangan, tgl 15 jadwal kontrol dokter obgyn Rani, jadwal usg.


"Loe bisa nyembunyiin ini Sha ? Selama ini ?!" tanya Melan.


"Ceritanya panjang Mel, intinya sekarang gue udah nikah sama pak Arka, dan lagi hamil anaknya."


"Loe ga bener bener ngelakuin itu kan waktu dulu pas kepergok di kamar mandi ?" Shania mengerti pemikiran Melan, adalah hal wajar yang akan semua orang tanyakan mengingat usia dan status pelajar Shania. Semua orang pasti berfikir jika Shania hamil diluar nikah.


"Ya engga lah ! ga mungkin pak Arka kaya gitu Mel, ngaco !"


"Udah berapa bulan Sha ? Pantesan sekarang loe beda Sha,"


"Udah 5 bulan lebih," Shania duduk di sofa bersama Melan yang masih mengatur jiwa jiwa yang terbang dari ubun ubunnya oleh kenyataan menohok ini, tangan gadis itu terulur mengusap perut Shania. Bentukan perutnya memang tak sebesar hamil anak kembar, makanya Shania masih bisa menyembunyikan dengan seragam kedodorannya.


"Terus sekolah gimana ? Bentar lagi UN ?" Melan mengerutkan dahinya.


"Mungkin setelah usia 6 atau 7 bulan saat perut gue udah bener bener ga bisa disamarkan lagi, gue sekolah di rumah, ada beberapa guru yang tau berikut pak Wildan."


"Ya Allah Sha, kita terlalu sibuk sama kehidupan masing masing, sampe sampe kita kecolongan kalo loe tuh udah ada yang bawa," Melan memeluk Shania dengan kondisi mata yang sudah mengembun.


"Ga apa apa Mel, cukup kalian masih jadi temen gue. Gue udah syukur banget !"


"Sha, kita tuh temen. Berarti hanya tinggal 1,5 bulanan lagi loe sekolah ? loe UN pas perut loe udah gede banget Sha ? Udah mau lahiran ?" Shania mengangguk.


"Lo jahat banget Sha, kenapa baru kasih tau sekarang ?!" Melan hampir menumpahkan air matanya.


"Sorry ya, bukan maksud gue. Tapi gue jaga jaga takut sampe bocor satu sekolah !"


"Loe tau gue bukan orang kaya gitu, Sha !"


"Gue percaya," jawab Shania.


"Sebenernya masih banyak yang pengen gue tanyain sama loe, tapi ini udah malem banget Sha. Gue takut pulang kemaleman," Melan melirik jam di tangannya.


"Iya Mel, besok ke rumah aja bareng Inez."


Melan mengerutkan dahinya, pasalnya Inez salah satu ember bocor dan netizen julid di sekolah mereka. Melan heran saja, kenapa Shania bisa berteman dekat dengan modelan warga +62 yang mulut dan telinganya tak punya tadah hujan seperti Inez.


"Ga apa apa Mel, dia sohib gue di kelas. Lagian dia nyaksiin gue pas nikah ko,"


"Ihhh jahat ! masa Inez diundang terus gue engga," manyunnya.


"Iya ntar gue undang kalo ngadain resepsi !" jawab Shania.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2