
Tangannya melingkar di lengan kekar Arka. Tak sabar untuk bertemu Galexia. Tak ada yang lain lagi selain bayi gemoy berumur 3 minggu itu, yang selalu mengisi pikirannya.
"Dedek cantik, kesayangan om Arga....jangan mau deket-deket sama tante ganjen gini, nanti diajarin ga bener !" ucap Arga bicara dengan Galexia.
"Dih, mulut loe Ga ! Minta diroasting bareng kopi ! Jangan didengerin dek, wong gendeng kaya dia," timpal Sifa.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, "
"Dedek !!!" seru Shania berbinar melihat bayi gemoy yang memakai bando pink itu tengah di rebahkan di baby bouncernya dan dikelilingi orang-orang tersayang, meskipun sudah dipastikan ia tak akan mengerti apa yang diucapkan oleh para orang dewasa di sekitarnya.
Mata bulat Galexia menatap kedatangan Shania dan Arka.
"Sha, ke kamar mandi dulu. Jangan langsung ke dedek," pinta Arka diangguki.
"Sha, "
"Neng, udah pulang ? Kenapa ga bilang ?"
Bunda dan ibu rupanya sedang berada di dapur, Shania salim yang langsung disambut pelukan hangat dari keduanya.
"Iya bun, kebetulan tadi dokternya cepet. Jadi ga harus nunggu lama,"
"Meni pucet kieu anak bunda ! Jangan bandel atuh neng, kalo makan jangan jorok ! Jangan terlalu capek, jangan terlalu banyak pikiran, udah tau kamu mah punya anemia dari dulu," Shania mendengarkan ceramah bunda seraya melengos ke dalam kamar mandi untuk cuci muka dan cuci tangan, seperti biasanya. Sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Shania bila bunda mengomel begini, bukan bunda jika mulutnya tidak bisa diam.
"Iya, " jawabnya singkat.
"Mbak Sha, sehat-sehat mbak. Kasian dedek cantik sama mas Arka kalo mbak sakit."
"Lagian siapa juga yang mau sakit Ga, makasih ya udah selalu nemenin Xia, "
"Sama-sama," jawab Arga dan Sifa.
"Kalian ga kerja ?" tanya Shania.
"Lagi libur,"
"Oh ceritanya lagi libur terus nge-date nya sambil nemenin Xia gitu ?" Shania mengangguk-angguk yang sontak saja langsung mendapat sergahan keduanya.
"Ih engga mbak !!!"
"Enggak ka !"
"Gue sama dia ?! uluh uluh langit runtuh !" jawab Sifa.
"Hilih, siapa juga yang mau sama kamu ! Mabok !" Shania tertawa melihat keduanya saling mencibir.
"Hati-hati, benci jadi cinta !" jawab Shania.
"Idih amit-amit," cebik keduanya.
"Hay sayangnya momy, Xia punya om sama tante banyak ya ! Sampe lupa sama momy, Xia kangen ga sama momy ?" Shania meraih dan menggendong Galexia lalu menimangnya menuntaskan rasa rindu yang sudah menumpuk setinggi gunung. Arka hanya duduk memperhatikan interaksi mereka dengan wajah lelahnya, menjaga orang melahirkan dan berlanjut pada bayi yang senang bergadang lalu diteruskan pada Shania yang sakit adalah sesuatu yang cukup membuatnya lelah, mungkin saat ini ia akan mampu menghabiskan waktunya untuk tidur seharian.
Setelah hari cukup sore, Arga dan Sifa pamit dengan dibekali kue yang bunda bawa dan masakan yang ibu buat. Ini senangnya mereka jika bertandang dari rumah Shania dan Arka, selalu ada dua bidadari dapur yang tak pernah absen menyajikan masakan dan kue yang enak.
****
"Dedek udah tidur ?" tanya Arka selepas isya.
"Udah, " Shania duduk di atas pangkuan Arka.
"Bunda juga udah pulang dijemput sama ayah," gadis itu menaruh kepalanya di dada Arka seakan tengah menaruh beban pikirannya.
"Mas,"
__ADS_1
"Hm,"
"Sibuk banget ya ?" Arka menjauhkan tangannya dari laptop.
"Kenapa ?"
"UAS Sha gimana ?" tanya nya.
"Mas sudah bilang sama pak Wildan, kamu ikut susulan. Untuk susulan hari senin, "
"Oke, " jawabnya tak semangat.
"Ko Sha pesimis buat UTBK SNMPTN atau SBMPTN ya mas, "
"Ga usah jadi pikiran, berusaha saja semaksimal mungkin. Tapi jangan dipaksakan, kalo memang sudah rejeki ga akan kemana."
"Tadi bunda ada bilang mas,"
"Bilang apa ?" Arka mengerutkan dahinya.
"Katanya kenapa ga coba ke kampus lain, bunda sih selalu pengen Sha masuk ke almamater hijau mas, dan bukan jurusan psikologi."
Arka semakin menautkan alisnya, ia tau jika ibu mertuanya tak mungkin berbicara atau berandai-andai. Bunda adalah wanita penuh perhitungan, ia tau yang terbaik untuk putrinya.
"Apa dasar bunda nyuruh Sha buat ke almamater hijau dan bukan jurusan psikologi ?" tanya Arka.
Shania hanya bergidik acuh, "ga tau, padahal Sha ga suka bikin kue !" Shania beranjak dari posisinya lalu melangkah menuju kamar.
Arka mengangguk paham, mulut Shania yang polos membuatnya tau jika bunda melihat potensi Shania yang lain, atau justru ingin Shania menjadi penerusnya.
Shania membaringkan badannya di samping bayi gemoynya yang sudah terlelap berbalut selimut lembut. Sesekali tangannya mengusap pipi Galexia, lalu kembali menatap langit-langit kamarnya.
"Di coba dulu atuh neng, siapa tau keterima, mumpung masih ada waktu jalur SBMPTN aja,"
"SNMPTN almamater kuning udah ga mungkin, SBMPTN juga udah masuk hari terakhir, dan ga mungkin sistem kebut semalam, butuh waktu bikin akun terus daftar belum lagi jaringan, sistem dan lain hal sebagainya,"
****
"Neng, bunda pengen ketemu dulu si deuyis ! (plesetan dari kata geulis artinya cantik) Hari ini bunda dikejar deadline, jadi ga bisa kesini lama."
Bunda masuk ke dalam rumah.
"Bun, ikut sarapan !" ajak Arka dan ibu.
"Iya Ka, maaf bunda pagi-pagi udah kesini, pengen ketemu Dara...bunda sibuk banget hari ini takut kangen !" Shania bersidekap menatap bunda, ada yang aneh dari bundanya ingat ! like mother like daughter ?
"Ada apa ?" Shania sambil mengulum bibirnya bertanya pada bunda.
Bunda cekikikan, Shania sudah tau alasannya selain ingin bertemu Galexia ada hal lain yang membuat bunda se hectic ini.
"Tau aja kalo bundanya lagi mau minta tolong, "
"Neng, jadi gini...." bunda memetakan tangannya di meja makan.
"Tenang dulu bu, minum dulu, " pinta ibu mengangsurkan segelas teh hangat pada besannya yang heboh ini.
Arka sampai menyimpan sendok di piringnya demi memperhatikan bunda, bahkan Xia sampai melongo di baby bouncernya.
"Tolongin bunda neng, jadi orang yang dulu pesen cake sama bunda pengen rupa cake yang Sha buat dulu ! Anaknya sampe nangis kejer, kan anaknya cewek 2, yang dulu ultah kaka nya yang ini adeknya. Kemarin sempet bunda kasih, tapi dia ga mau, beda katanya !"
Uhukkk...!
"Cake ?" tanya Arka tak percaya, begitupun ibu yang mengangkat kedua alisnya terkejut.
"Iya," jawab bunda.
__ADS_1
"Oalah Shania bisa bikin kue to ?" tanya ibu, Shania menggeleng.
"Engga bu,"
"Hayu atuh neng, tolongin bunda. Masa nanti akreditasi 'Dapur mama Lia' turun cuma gara-gara hiasan cake ultah doang ?!"
Shania mengambil nasi gorengnya dengan tatapan melucuti dari ketiga orang di depannya, Shania mengalihkan pandangan pada si kecil Galexia.
"Dedek jangan natap momy juga ya," tunjuknya pada Galexia yang masih diam dengan mata bulat dan beningnya, sebulat bola bekel, membuat Shania berseru gemas pada makhluk kecil yang 3 minggu lalu keluar dari perutnya ini dan mencubit pipinya pelan seraya mengecup hidungnya.
"Sha lupa sama desainnya, " jawab Shania enteng.
Bunda keluar ke arah mobilnya, ternyata tanpa di duga bunda membawa cake berukuran 2 tingkat dalam tangannya berikut krim yang sudah ia buat, dan secarik kertas bergambar lalu menaruhnya di meja pantry.
"Ya Allah, bunda sampai sengaja bawa-bawa cake gini ?" seru Shania tak percaya.
"Lumayan besar ini cake nya, umur berapa yang ultah ?" tanya ibu.
"3 tahun bu, " jawab bunda.
Arka masih anteng memperhatikan, ia penasaran dengan kejadian yang akan terjadi selanjutnya, seraya tangannya menggendong Galexia.
"Ya ampun bu, ini kue siapa ?" seru bi Atun.
"Kue orang bi, pesenan deadline jam 1 siang."
"Pegawai bunda kemana ini, buat apa punya pegawai kalo ga bisa apa-apa !" cebik Shania.
"Bisa kan neng ? Nanti bunda kasih voucher makan,"
Shania tertawa, jika dulu ia akan berseru kegirangan, beda dengan sekarang.
"Dih, apaan bunda. Suami Sha kan punya cafe, kalo mau makan tinggal berangkat !"
"Ih yang ini beda, ini makanan jepang !" tawar bunda.
"Sebentar aja neng," bunda mengerling mengambil alih Galexia dari Arka dan mengecupi pipi gemoy nan merah merona itu.
Shania menghela nafasnya lelah, lalu mencepol rambutnya ke atas, dan memakai bando agar anak rambutnya tak berkeliaran mengganggu atau jatuh di kue, ia juga memakai sarung tangan karetnya.
Shania mulai menunjukkan aksinya.
"Ini teh cream nya dari jam berapa ?"
"Barusan, "
"Butter cream ya ?!" Shania merasai tekstur cream yang dioleskannya di kue.
"Iya, "
"Siapa yang buat ?"
"Bunda, "
"Tumben biasanya bikin cream chesse, bunda biasanya bikin lembut. Ini mah masih ada yang kasar bun, coba minta saringan kecil sama plastik segitiga lagi !"
"Buru-buru neng, mau puasa toko rame bikin hampers !"
"Mau Sha saring dulu, soalnya ada yang ngegumpalnya nanti susah bentuknya !" Arka menyunggingkan senyumannya. Memang benar perkiraannya.
Bukan keinginan yang menggebu, tapi hobby, rasa nyaman dimana kamu bisa menjadi dirimu sendiri yang akan membawa sebuah kesuksesan. Sekuat apapun Shania mencoba menutupi, Allah tau cara menunjukkannya.
"Almamater hijau, Ka !" bisik bunda.
.
__ADS_1
.
.