
"Alhamdulillah !"
Shania hanya bisa mengucap syukur saat melihat beberapa lembar kerja siswa miliknya. Padahal, maunya sih ! Ia tumpengan terus dibagiin ke tetangga sambil bilang lewat toa masjid sukuran calon juara !! Kapan lagi kan ratunya trouble maker insyaf terus jadi siswi dengan nilai yang tinggi, kata impossible menjadi possible bagi Allah.
Mesti diabadikan, hey dunia !!! laskar pejuang almamater kuning in here !! pekiknya dalam hati.
NAMA : SHANIA CLEOZA MAHESWARI
KELAS : XII MIPA 4
MATA PELAJARAN : MATEMATIKA
NILAI : 90
Begitupun lembar kerja lainnya. Kata orang jika pelajaran Matematika saja sudah besar maka yang lain pasti ikut ngikut lancar jaya, secara matematika adalah pelajaran yang menyeramkan se seram jel*angkung lagi nyari mangsa. Uts merupakan nilai bayangan, seperti jurus kagebunshin-nya milik Naru to. jika bayangannya saja sudah 90 maka aslinya tak akan berbeda.
Bukan hasil dari beli kertas do'a lewat dukun ataupun makelar soal. Murni hasil kerja otak ceteknya dan didikan disiplin Arka, meskipun seringnya ia menguap dan kena amukan Arka pada saat belajar.
"Wah hebat ! Ga caya gue, ini asli loe kan Sha ? Bukan arwahnya Albert Einstein ?" tanya Inez.
"Enak aja ! Ini murni, kalo kata orang, rejeki istri sholeha !" jawabnya berbisik.
"Rejeki si utun," ralat Inez yang sudah tau jika Shania sedang hamil, awalnya Inez terkejut sama halnya dengan Melan, tapi tak sampai membuatnya mencekik, memukul Shania ataupun tersedak sampai paru parunya berd*arah dar*ah saking tercengangnya.
"Sha, " panggil Roy.
"Apaan,"
"Ikut kongres sama anak anak ?" ajaknya.
"Ga bisa Roy, gue ada rencana balik ke Bandung abis ini. Sorry ya !" tolak Shania.
"Ohh, oke deh !" jawabnya.
"Kongres apaan Sha ?" dari tadi Inez mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Kongkow ga beres beres," jawab Shania. Inez tertawa mendengarnya, memang tak ada yang lebih konyol lagi dibanding anak anak geng Shania.
"Eh, beneran loe mau ke Bandung ?" Shania mengangguk.
"Bareng mas Kala,"
"Idih so sweet, mau healing di kota romantis bareng pasangan," Inez mencolek dagu si little momy ini.
"Ih culak colek, dipikir sele coklat !"
"Sha, titip oleh-oleh ya !" ujar Inez merayu.
"Mana uangnya ?"
"Idih, kan loe mau jalan jalan. Jadi gue minta dapet bagian karena ga loe ajak."
__ADS_1
"Ishh, enak di loe ga enak di gue !" cibirnya mengeratkan pelukan swetternya saat ingin melewati koridor kelas yang ramai oleh siswa lain. Terkadang murid murid lain yang kadar kepekaannya tingkat suhu, melihat Shania sampai beberapa kali dari atas sampai bawah, demi mendapati jika salah satu gadis yang telah mengukir sejarah sebagai anak pak Hadi ini berbeda secara fisik tentunya. Berhembus kabar tak mengenakkan di sekolah, jika ada salah satu murid di BP yang tengah hamil, meskipun kabar itu masih samar dan tak begitu ditanggapi serius.
Saat ini waktu seakan lama berputar bagi si little momy ini, Shania ingin cepat cepat lulus saja. Setiap harinya jantung Shania selalu terpompa cepat, was was jika sampai kehamilannya ketauan, baru kali ini ia merasakan bagaimana rasanya jadi seorang ter oris. Padahal hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi sampai UN.
*********
Usia kandungan 23 minggu, berat badan 53,5 kg. Tekanan darah 110/80, tinggi fundus 1 jari panah ke bawah pusat. Letak kepala janin ball +, denyut jantung 135 kali per menit.
Catatan yang tertera di buku KMS berwarna pink milik Shania.
"Sehat sehat terus sampai lahiran, kembali lagi bulan depan."
"Perjalanan ke Bandung aman ya dok ?" tanya Arka.
"Aman. Asik healing nih healing ceritanya ? " senyum dokter Rani.
"Nengok orang Bandung dulu dok, kali aja pada kangen Sha," jawab Shania terkekeh.
"Hati hati di jalan, cantik !"
"Siap dok,"
Keduanya keluar dari ruangan dokter Rani menuju luar gedung rumah sakit.
"Mas, ke minimarket dulu. Sha pengen beli minum !" pinta Shania.
"Iya, "
Belum langkah kakinya memasuki minimarket, di ambang pintu minimarket ia malah berpapasan dengan seseorang yang tentu sangat ia kenal. Berkatnya, dulu ia setengah berlarian di mall kaya orang baru patah hati.
"Well ! ketemu lagi, kayanya dunia ga selebar daun kelor !" ia menatap rendah Shania.
"Woo, udah gede ternyata !" cibirnya dengan tawa sumbang, sontak saja beberapa orang yang ada disitu menoleh pada Alya dan Shania, secara..suara desisan Alya mirip istri tua yang menangkap basah pel akor, sementara Shania hanya bisa diam mematung.
Ingat Sha, membalas dan meladeni titisan nene gayung satu ini sama kaya orang gila akut.
Shania cukup tersenyum simpul saja seperti orang dengan kadar kesabaran level kyai, padahal dalam otaknya sudah memikirkan bagaimana caranya mencincang mulut Alya dan menjadikannya bahan campuran rujak cingur. Menanggapi perempuan gagal move on di depannya cukup dengan senyum ayu tanah jawa, manis manis pedes. Ia anggap Alya tengah menguji iman dan takwanya.
"Cih, kecil kecil udah belajar jadi player. Kebobolan juga jadinya,"
"Alya,"
"Mas Arka," beonya tak menyangka jika ternyata Shania sedang bersama Arka.
"Dunia memang tak selebar daun kelor, istri saya bilang beberapa kali bertemu kamu, katanya kamu jadi lebih cantik setelah membuka jilbab, tapi buat saya Shania lebih cantik untuk saat ini, " Arka merangkulkan tangannya dari belakang pinggang Shania dengan satu tangan yang mengelusi perut Shania.
"I..iya, " tapi tulang rahangnya terlihat menggertak.
"Alhamdulillah, terimakasih atas do'a kamu, akhirnya saya dan Shania bisa hidup bahagia dan sebentar lagi akan segera memiliki bayi. Saya sangat bersyukur meskipun Shania masih muda, tapi dia sosok perempuan tangguh, baik luar dalam, setia, dan tentunya selalu menjaga kehormatannya sendiri dan kehormatan suami."
Perkataan Arka itu setidaknya melucuti nyali Alya, reaksi kimia dari dalam tubuh Arka jika melihat dan mendengar Shania tersakiti adalah gejo lak amarah.
__ADS_1
"Dan saya lihat, kamu bisa lebih baik juga selepas kita berpisah, selamat juga atas hubunganmu dengan beberapa orang laki laki, saya harap siapapun dan yang manapun laki lakinya kamu bisa bahagia sampai tak perlu lagi mengurusi setiap detail perubahan istri saya."
Baru kali ini Shania melihat kalimat terpanjang yang keluar dari mulut Arka demi menyanjung dan membelanya.
"Oh iya Al..saran saya, kalau memang mau saling melepas haz rat sebaiknya di tempat privasi, biar kejadian seperti ini tidak diekspos khalayak ramai," Arka membuka file galerinya dan mengklik satu buah foto saat Alya dan pasangan mesumnya tengah ber cum bu ria. Bukan hanya Alya yang terkejut tapi Shania ikut menutup mulutnya menggunakan tangan.
"Oh..Em Ji....oh my to the god !"
Wajah Alya sudah benar benar sangat merah. Arka bisa berubah mematikan, saat sedang marah.
"Jangan terkejut, saya tau Al.. tapi saya bukan manusia dengan hati dengki dan pendendam untuk menyebarkannya.Tapi jika nanti kamu macam macam atau melukai Shania maka jangan harap saya melepaskan," matanya menatap tajam bak elang.
Alya kesal dan marah bukan main, ia juga tak menyangka jika Arka akan tau dengan kelakuannya selama ini. Ia fikir Arka adalah pria yang gampang ia bo dohi, karena kecuekannya dan kebaikannya.
Alya berlari menuju motornya bersama teman yang biasa menemaninya. Sedangkan Shania masih melongo dengan kejadian barusan.
Tak percaya jika selama ini Arka menyimpan rahasia itu. Memang ia pernah berkata kalau ia tidak berhak membuka aib seseorang, tapi kali ini Alya sudah kelewat batas.
"Daebak !"
"Sha ga percaya loh ! Mas sejak kapan tau kalo ka Alya..."
"Buka bukaan ? Liar ?" tanya Arka demi mendapatkan kata yang tepat.
"Iya, "
"Udah lama, "
"Berarti mas nyimpen foto ka Alya yang lagi bu gil gitu di hape mas ?" Shania mulai bersungut, alisnya menukik bak talang air yang patah, sepaket bibir manyun dan dahi yang berkerut.
"Mas sudah hapus, tapi berhubung tempo hari ada kejadian dia hina kamu, tak ada salahnya mas minta lagi ke Lukman buat jaga jaga kalau dia macam macam."
Foto mantan sedang bu gil di dalam ponsel suami, jelas bukan sesuatu yang bagus dan patut diapresiasi apalagi ia beri jempol.
"Sexy ?! Bikin ngiler ?!" tanya nya sengit.
"Lebih se xy liat kamu dasteran dengan perut buncit," jawab Arka seraya melengos masuk ke dalam minimarket meninggalkan Shania yang menggerutu di depan pintu menghalangi jalan orang.
"Mas ikhhhh ! " pekiknya kesal tapi tak menutup jika Shania tengah malu merona.
"Me sum, "
"Katanya mau minum, jadi ngga ?" tanya Arka.
"Jadilah !!!"
.
.
.
__ADS_1