
Shania langsung melepas tangannya saat lagu berakhir.
"Sha, mau gue anter ?" tanya Cakra, Shania menggeleng.
"Thanks Cak, tapi gue bisa balik sendiri. Lagian mau minta jemput juga," jawabnya, tak ingin mengulangi kesalahan yang sama dan menambah dosanya dengan bersama laki laki lain selain suaminya.
"Oh gitu, ya udah kalo gitu gue duluan !" pamit Cakra.
Shania sedang merapikan barang barangnya lalu sejenak berdiam diri, karena badannya semakin tak enak.
"Sudah keluar ?"
Sebuah pesan masuk dari Arka.
"Udah mas, Sha mau jalan keluar gerbang."
Shania beranjak lalu pamit pada yang lain.
"Guys, gue pamit ya ! "
"Thanks ka Sha, ati ati ya !" jawab yang lain berdadah ria.
Shania berjalan melewati lapangan yang sedang dibereskan oleh panitia OSIS.
"Ka Sha ! dah mau balik ?" tanya Reza.
"Yoi Za, duluan ya Za, Ti...guys !"
"Yohaa ka ! Ati ati, " Shania mengangguk.
Shania sudah keluar dari gerbang sekolah, lumayan masih ramai. Ia celingukan, mobil Arka sudah menunggu di tempat biasa ia selalu menunggu.
"Moga moga ga ada yang liat, " gumamnya memakai kupluk jaketnya dan menunduk.
Shania membuka pintu mobil dan masuk, ia langsung menyenderkan kepalanya yang kleyengan. Sebuah tangan menempel di keningnya.
"Kamu sakit Sha ?"
"Ga tau mas, Sha pusing sama ga enak perut."
"Udah makan kan ?" Shania mengangguk.
"Apa karena sambal ?"
"Engga kayanya, soalnya dari sebelum makan juga udah gini."
"Kita ke dokter ya ?" ajak Arka mulai menyalakan mobilnya.
"Engga mau mas, pulang aja ! Sha pengen istirahat, capek !" Arka mengangguk mengiyakan. Sepanjang jalan tak ada obrolan, keduanya sibuk dengan pikiran masing masing, tepatnya Shania yang setengah memejamkan matanya. Entah menghindar karena takut atau memang ia yang benar benar lelah.
Sesampainya di rumah Shania langsung masuk dan melempar tasnya secara sembarang, melepas sepatu pun tak ia simpan kembali di rak. Yang ia tuju adalah kasur.
"Bi Atun, Sha minta tolong buatin teh anget ya ! perut Sha ga enak banget nih," pintanya. Arka mengernyitkan dahi, niatnya menengok angkringan ia urungkan demi melihat Shania yang sedang tidak baik baik saja.
__ADS_1
"Iya neng, "
"Mas Arka, neng Sha sakit ? "
"Iya bi, " ia memungut sepatu Shania dan menaruhnya di rak, meraih tas Shania dan menyimpan di tempatnya.
"Sha, minum obat ya," pinta Arka ia duduk di tepian ranjang mengusap usap lengan Shania.
"Ih, udah tau Sha ga bisa makan obat."
"Ada pisang sama biskuit, mas panggilin dokter biar tau penyakitnya apa," bujuk Arka, gadis ini tetap menggeleng.
"Kalo dipanggilin dokter obatnya suka dikasih banyak," jawabnya.
"Terus gimana mau sembuh ?" begini susahnya Shania.
"Ntar juga sembuh sendiri, " bukannya mengiyakan Arka langsung menelfon dokter, tak mungkin ia menyimpulkan sendiri apa penyakit Shania. Gadis ini memang tak mau kalah jika berdebat pasal obat dan dokter, padahal katanya cita citanya ingin jadi psikolog, setidaknya itu akan berhubungan dengan obat obatan dan kedokteran.
"Masa iya psikolog tapi ga bisa berdamai sama obat ?!" kekeh Arka, membuat gadis ini memicingkan mata melihatnya.
"Kenapa ? Marah ? Harusnya mas loh yang marah, sekedar informasi loh ini !" Shania langsung mengalihkan pandangannya. Bi Atun datang membawa teh manis hangat, Arka langsung membantu Shania bangun dan minum.
"Mas bukannya mau ke angkringan ?" tanya Shania setelah menyeruput teh hangat.
"Engga jadi, nanti aja kalo kamu sudah mendingan."
"Mas, "
"Hm, "
"Liat, ga ada yang terlewat ! " kekehnya sumbang.
Jawaban Arka membuat hatinya semakin menohok dan mencelos, itu artinya Arka melihat setiap detiknya ia bersama Cakra. Shania langsung menghambur memeluk Arka.
"Maafin Sha, mas. Sha minta ampun, mas kalo mau marah..marah aja, Sha ikhlas..kalo mau cubit atau mau tampar..tampar aja, asal jangan diem aja kalo Sha salah," pinta gadis itu memeluk Arka kencang.
"Beneran ?" tanya Arka.
"Bener. Kira kira kalo di tampar sakit engga ? Tangan mas gede soalnya ?" tanya nya.
"Sakit lah pasti, " jawab Arka.
"Ya udah ga apa apa, tapi pelan pelan ya mas namparnya, " Shania melepaskan pelukannya dan menatap Arka lalu memejamkan matanya.
Bukannya menampar Shania, Arka malah mendaratkan kecupan manisnya di pipi gembil Shania.
"Udah, "
Shania membuka matanya dan mencibir, "jangan modus mas, Sha seriusan ini ! Sha udah takut dari tadi, takut mas marah !"
"Mas memang marah, mas kesel, mas cemburu. Laki laki mana yang ga marah liat istrinya ada kontak fisik sama laki laki lain, di depan umum pula. Laki laki mana yang ga cemburu, denger istrinya di jodoh jodohin sama laki laki lain, hampir satu sekolah bilang kalo kamu cocok dan ada sesuatu sama Cakra, " Shania semakin menunduk, jarinya memainkan selimut yang menutupi kakinya sampai ke perut.
"Tapi bukan berarti suami harus melakukan kekerasan. Bukan berarti mas berhak untuk menampar atau memukul kamu. Adalah tugas mas buat bimbing kamu, buat ngasih tau kamu kalo kamu salah."
__ADS_1
Shania semakin diliputi perasaan bersalah, "Sha ga mau mas, tapi anak anak basket maksa, belum Sha minta ijin atau iyain tapi mereka simpulin sendiri, memutuskan sepihak," air matanya jatuh karrna perasaan bersalah.
"Apapun alasan kamu, kamu tetap salah. Yang penting kamu tau dan sadar, kalo itu salah.. kamu tau gimana rasanya kalo jadi mas. Jangan diulangi lagi, ada hati yang harus kamu jaga, disini !" Arka membawa tangan Shania ke dadanya, menyentuh setiap detakan jantungnya yang tenang dan teratur. Gadis itu mengangguk mengerti.
Bukan dengan kekerasan ataupun bentakan cara membimbing Shania, toh..gadis itu pun mengerti dan paham.
"Mas sejak kapan bisa gitar ? ko Sha ga tau ?! tadi pagi mas ga bilang apa apa sama Sha soal band, " tanya nya.
"Sejak lama, dari jaman SMA di Surabaya juga udah mahir, " Arka beranjak dan mencari t shirt di lemari untuk mengganti pakaiannya.
"Kemarin dadakan pak Nirwa ngajak buat bawain lagu, "
"Tau ngga, yang dibawah bilang apa ?!" bibir Shania melengkung mencibir, seakan kesal dengan mulut mulut ciwi genit.
Arka menoleh memperhatikan Shania.
"Pak Arka !!!! Akhhhh ! Ganteng banget, keren deh ! Mau deh nikung bapak !" Shania menirukan ucapan beberapa siswi yang berteriak histeris.
"Melan aja bilang gini, pak Arka makin top markotop, kalo jomblo udah gue uber sampe lubang semut !"
"Iya tikung aja, ntar kalo udah sampe perempatan depan Sha jorokin ke comberan !" dumelnya.
"Uber aja Mel...uber !! ntar gue suruh semut rangrang buat gigitin Melan !" tambahnya, membuat senyum Arka tersungging.
"Udah sembuh sakitnya ya, bisa ngomel ngomel ?" tanya Arka.
"Ih nyebelin !" cebiknya membaringkan kembali badannya di kasur, seiring datangnya dokter.
Dokter memberikan resep obat yang harus ditebus, untuk sementara dugaan penyakit Shania adalah asam lambung dan kelelahan memicu anemianya kambuh.
"Mas ngapain sih manggil dokter segala, " ketusnya.
"Biar jelas penyakitnya apa, sama penanganannya gimana. Kamu harus sehat, biar bisa full sekolah, bukannya mau ngejar cita cita ?" Arka memakai jaketnya hendak pergi ke apotik.
"Mas mau kemana ?" Arka hanya menunjukkan kertas resep.
"Denger kata dokter, jangan makan makanan pedes. Jangan telat makan, jangan terlalu capek karena kamu punya anemia, "
"Kelas XII sudah harus fokus belajar untuk ujian, mas minta ini yang terakhir buat tahun ini kamu ikut kegiatan di luar akademik,"
"Iya ah, bawel !" gumamnya.
"Sha pengen donat mas sama cakwe, kalo lewat di jalan depan beliin ya !" Arka mengangguk, sementara Shania kembali merebahkan badannya di ranjang, mendekap perut yang kembali diserang rasa tak enak.
"Mas ke apotik dulu, kalo ada apa apa minta bi Atun !"
"Iya, "
.
.
.
__ADS_1
.