Istrinya Pak Guru ?

Istrinya Pak Guru ?
Kasus Pisang Strawberry


__ADS_3

"Dedekkk !!!" Kedua tangannya di rentangkan, Shania berlari ke arah Galexia, putrinya. Membuat bayi yang sedang digendong ibu itu tersenyum senang, saat pawangnya pulang.


Arka tersenyum tipis, kedua gadisnya ini adalah hidupnya, tak akan ia biarkan siapapun mengusik mereka.


"Sha, bersih-bersih dulu..baru pegang dedek."


"Iya mas," gadis berambut bronze itu menurut langsung pergi ke dalam kamar mandi dan bersih-bersih. Bi Atun sudah menyiapkan segelas teh manis hangat dan Galexia sudah menyambutnya dengan mulut haus. Begitulah keseharian Shania yang ia jalani dengan happy.


"Sha, lagi ngapain ?" Arka masuk ke dalam kamar dan menemukan istri nakalnya ini tengah naik ke kursi untuk mengambil sesuatu dari atas lemari.


"Sha, mau ambil tas yang ini mas. Yang itu kotor, gara-gara sering di taro di bawah waktu MOS kemaren."


"Kenapa ga bilang mas, nanti kamu jatuh Sha ! Ayo turun !" pinta Arka.


Gadis itu mengunggingkan senyumnya, "tangkapp Shaaa masss !!!" ia melompat dari kursi ke arah Arka. Sontak saja Arka langsung menangkap istrinya itu.


Hap !


Ia tergelak, "Wowww ! Mas kuat !" Shania langsung mengalungkan tangannya di leher Arka.


"Nakal !" Arka mencolek hidung perosotan taman kota milik Shania.


"Kuatlah, buat bikin adek-adeknya Galexia pun masih kuat !" gigitnya di jari Shania yang mulai mengedar nakal di sekitaran garis wajahnya.


"Ih, pak guru mesum !"


"Kalo mas ga kuat nangkep kamu gimana ?" tanya Arka.


"Paling jatoh dua-duanya ke lantai !" jawab Shania enteng.


"Otot mas kan gede, masa iya nangkep badan Sha yang kecil ga kuat, malu ! Mendingan jual aja ke tukang baso buat campuran isian baso urat !" kembali imbuhnya.


"Ehhekkk...ehekk !!" keduanya menoleh pada si kecil yang tengah tertidur di kasur, namun kini tidurnya terusik.


Bibir Shania manyun, "dedek mah kebiasaan deh ! Ga bisa liat momynya seneng, dimanja-manja ayah kakunya !" Arka menurunkan badan Shania dari gendongannya, tapi Shania malah dengan sengaja tak mau turun dan melingkarkan kakinya di pinggang Arka.


"Engga mau !"


"Turun Sha, " pinta Arka, gadis itu menggeleng.


"Terus bagian Sha manja-manjaannya kapan ?!" bibirnya keriting kaya minta di pelintir.


"Nanti malam, sekarang bagian dedek dulu !"


"Ahhh, emohh lah ! Kalo malem Sha manja-manjaannya mesti pake jaring ikan ! Udah keburu ngantuk, curang ! Beda mode manjanya mas !"


Arka yang menepuk-nepuk pan tat Galexia sambil mengelus sayang mengerutkan dahinya, "beda ?"


"Kalo siang ga usah pake jaring ikan, ga mesti cape Sha-nya. Kalo malem mah kebalik, mas yang minta di sayang-sayang, bikin Sha ngeronda malam !" keluhnya membuat Arka terkekeh.


*****


"Siapa anak paling cantik ??!"


"Siapa anaknya ayah Arka ??!!"


"Siapa anak paling centil ??!"


"Siapa anaknya ayah kaku ?!"


"Siapa anak centil yang doyan di gendong ayah ganteng ?!"


"Mana calon istrinya CEO ?!"


"Hahahaha," bukan suara Galexia yang tertawa, tapi bi Atun.


"Neng, astagfirullah !"

__ADS_1


Shania membuat wajahnya sekonyol mungkin sambil bermain dengan Galexia di baby bouncernya. Ibu menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya sambil memotong sayuran, sedangkan Arka hanya menjadi pendengar setia istri nakalnya ngoceh-ngoceh tak jelas.


Tapi kebahagiaannya melihat Shania dan Gale terganggu oleh suara ponsel yang memanggil.


"Assalamualaikum,"


(..)


"Oke,"


(..)


"Urus saja, nanti saya datang."


Meskipun wajahnya terkesan datar, tapi Shania tau ada yang tak beres mengganggu ketenangan Arka.


"Siapa mas ?"


Lama Arka memandang Shania, "kepsek Angkasa Raya."


"Ngapain ?"


"Mas dapet kabar, seseorang mengirimkan video mas lagi gebukin Vano waktu acara penutupan MOS, dan mas disuruh datang ke sekolah."


Shania menghela nafasnya lelah, "dia lagi ?! Kenapa ga habis-habis sih urusan sama dia ?!"


"Mas belum tau, biar nanti mas urus sama yang lain. Kamu tenang aja, "


"Ga bisa mas, Shania mesti ikut andil mas ! Mas tuh apa-apa jangan sendiri, Sha mau ikut. Tangan Sha masih gatel pengen bejek-bejek Vano !" jawabnya bersungut.


"Sha, mau sekuat apapun kamu. Kamu itu tetap perempuan, beda tenaga sama dia, mau gimanapun dia, dia tetap laki-laki. Jangan jadi korban film Wonderwomen Sha, tangan kamu terlalu berharga buat nyentuh dia," Arka meraih tangan Shania dan mengecupnya.


"Tapi Sha ga ridho kalo mas diliat-liat sama dia !"


"Kamu cemburu ?"


"Pokonya Sha mesti ikut ! Mas tuh terlalu meremehkan perempuan, ini yang Shania ga suka dari dulu. Kenapa sih cowok tuh selalu menganggap cewek lemah, pihak yang harus selalu dilindungi !"


"Bukan gitu Sha, biar kita urus tanpa ada emosi dan kekerasan. Mas ga meremehkan kamu, tapi kamu, dedek, ibu, adalah orang-orang paling berharga dan harus mas lindungi. Kamu ngerti kan Sha," nada dan tatapan Arka seolah meminta pengertian Shania.


Gadis itu akhirnya mengangguk.


"Mas, hati-hati. Sha do'ain yang terbaik !"


"Aamiin, makasih !" Arka mengecup kening Shania.


****


Apa yang dikhawatirkan terjadi, ternyata Vano memang tak sebo*doh kelihatannya. Tapi sayang, otak cerdasnya dipakai untuk niat buruk pada orang lain. Seorang temannya merekam kejadian saat pemukulan Vano oleh Arka, Shania, dan Riyan. Jika Shania dan Riyan tak jadi masalah, tapi Arka, figur seorang gurunya dipertanyakan gara-gara kejadian pemukulan itu. Pihak Sekolah dikecam karena tindakan Arka yang memukuli mahasiswa dibawah tingkatnya, ditambah ia adalah senior dari istrinya, kabar yang diberitakan menggiring opini agar masyarakat menyudutkan dan menyalahkan sikap Arka.


"Gimana mas ?" tanya Shania.


"Mas kena SP dari sekolah. Untungnya pihak sekolah, kampus kuning dan hijau membantu menarik berita viral yang disebarkan orang tak bertanggung jawab. Jadi belum masuk ke Dinas, masih beredar di seputaran sekolah dan kampus."


Shania menggertakkan giginya, "si@*lan si pisang strawberry, mau main-main sama gue !"


"Terus kasus si pisang strawberry gimana ?" tanya Shania.


"Pisang strawberry ?" tanya Arka.


"Si Se tan g4y lah ! Siapa lagi ?!" omel Shania, membuat Arka tertawa akan julukan baru untuk Vano.


"Mas sudah masukkan berkas laporan ke pihak polisi, dia juga sudah jelas dipecat dari keanggotaan BEM, masalah kampus...ada kemungkinan ia akan dipecat dari kampus hijau jika ia sampai dipenjara, untuk saat ini dia masih diamankan pihak keluarga, kampus dan polisi tentunya !"


"Mesti dike biri tau ngga !" kesal Shania.


"Kita tidak bisa gegabah Sha, pasalnya jelas ada aturan perundang-undangan tentang hak asasi manusia, dan orang-orang sejenis itu !" jawab Arka.

__ADS_1


"Tapi dia udah kaya gitu sama kita, dia ganggu hidup kita mas ! Kalo emang negara ga bisa hukum orang kaya gitu, maka siap-siap hukum rimba masyarakat yang akan bicara !" nada bicara Shania tak main-main.


"Ga usah macem-macem Sha. Mas tau apa yang ada dipikiranmu !" ucap Arka penuh nada peringatan.


"Sha ga bisa diem aja mas,"


"Mas tau, kamu pikir mas 'ga siapin power apapun di belakang sana ? Kamu yang belum tau mas, Sha !" jawab Arka.


"Kamu ga usah pikirin masalah ini, SP ini cuma formalitas biar mas bisa istirahat," kembali Arka melanjutkan.


Pembicaraan mereka dikejutkan dengan suara bel rumah yang berbunyi bersahutan.


"Mak !!!"


"Iya bentar !!! Sabar !!! Lama-lama rumah gue meledak tau ngga diteriakin mulu !" Shania keluar dari ruang kerja Arka, menemukan ruang tamunya sudah penuh oleh pasukan kurawa.


"Sha, loe ga apa-apa kan ? Pak Arka juga ga apa-apa kan ?" tanya Niken panik melihat keadaan setiap inci tubuh Shania.


"Gue oke !" jawab Shania.


"Sha, yang mana orangnya ?! Biar kita sikat !" tambah Guntur.


"Ga perlu guys, tanpa loe semua mak Malin bisa atasi, keren dong ! Ternyata Shania bukan cuma speasialis pelakor sexy, tapi pelakor kekar juga dia sikat abis !" jawab Melan.


"Mendadak gatot kaca ya Sha !" imbuh Ari.


"Itu kalo ga ditahan sama pak Arka sama ka Kevin, wahhh ! Udah abis tuh laki, dihantam pake balok !" jawab Deni, bercerita seperti menceritakan kisah heroik seorang pahlawan.


"Tapi syukur deh loe ga apa-apa !" ujar Leli.


"Ga apa-apa, ingetin gue buat nge-laundry kaki si Roy !" jawab Shania. Roy, Melan, dan Deni kembali tertawa.


"Sorry Sha, namanya juga panik. Lagian yang ngambil kayu putih kelamaan, apa ruang kesehatannya di Baghdad, jauh banget ?!"


"Saravvv loe !" Guntur dan Ari ikut tertawa.


"Hampir aja gue mau olesin keringet dari ketek gue, Sha ! Tapi gue punya ide lebih cemerlang, kaos kaki !!" ucapnya jumawa.


"Kimvrittt, ide cemerlang !" teman-teman lainnya mendorong pelan kepala Roy bergantian.


"Enaknya tuh orang diapain mak ?!" tanya Guntur.


"Di semir !"


"Di cukur bulu keteknya !"


"Di laundry bareng orangnya sekalian !"


"Mesti dibakar !"


"Kita sikat sampe akarnya Sha,"


"Glekkk !"


Roy menelan salivanya berat.


"Segitu kejinya kalian sama gue, cuma gara-gara kaos kaki doang !"


"Ha ? Siapa yang ngomongin loe ? Pede banget !" jawab yang lain.


"Otak loe masih nyangkut di kaos kaki, Roy ?!" tanya Ari tertawa.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2