
"Mas, hari ini Sha pulang telat. Soalnya penutupan acara camaba !" ujar Shania dengan mulut yang menggigit ujung roti tawar.
Shania mulai keteteran dengan management waktunya.
"Rambut kamu masih basah Sha," tunjuk Arka pada rambut Shania.
"Sha ga sempet keringin mas, ga ada waktu, takut telat !" Arka mengangguk, sesekali ia menatap Shania dan meminta maaf dalam hati.
Sadar akan lirikan Arka, Shania mencebik, "Ck, ngapain sih mas lirik-lirikan kaya orang lagi pedekate an aja !" imbuhnya cemberut.
Arka terkekeh, "emang ga boleh ? Sama istri sendiri ?"
"Ya engga, risih aja ! Mas mau ngomong apa ?" tanya Shania langsung tepat sasaran, pasalnya tak biasanya Arka seperti ini.
"Engga, cuma mau ngomong hati-hati yang semangat ! Kalo ada apa-apa telfon aja mas, "
"Cih, tumben banget. Lebay pake semangat-semangatan..." decih Shania.
*****
Acara penutupan berjalan begitu meriah, para camaba dan senior saling bersalaman bahkan berpelukan tanda tak ada slek diantara mereka.
"Duh, ini-nya gue ga enak banget ! Kayanya Gale kepengen ng'ASI..."
Di tengah euforia penutupan, Shania ijin ke kamar mandi untuk mengganti breast pad-nya yang sudah penuh dan sedikit rembes.
"Ka, gue ijin ke toilet dulu !" ijinnya pada seniornya.
Tanpa di duga ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.
"Yan ! " pekik Vano.
Riyan berjalan mendekat ke arah Vano, "kenapa Van ?"
"Ada camaba yang butuh bantuan, temenin gue yuk !" ajak Vano.
"Oh oke, bentar !" Riyan mengikuti kemana arah jalan Vano.
Riyan sedikit mengerutkan dahinya bingung, arah yang mereka tuju adalah menuju gudang kampus dekat dengan laboratorium fakultas teknik, sebuah ruangan yang sudah tak terpakai dan belum sempat di renovasi. (anggap saja ada ya guys 🤣)
Tapi saat baru saja di ambang pintu gudang yang gelap, Vano mendorong Riyan masuk ke dalam dan menguncinya dari luar, membuat Riyan tersentak kaget dan tentu saja menggedor-gedor pintu gudang.
"Sorry yan, "
"Oyyyy Van, ga lucu !! Buka !!!"
Vano meninggalkan Riyan yang terkunci di dalam gudang pengap. Selanjutnya Vano menemukan Shania yang baru saja keluar dari kamar mandi tengah mengusap-usap pakaiannya yang sedikit basah karena terkena air.
"Sha, gue mau minta tolong ! Riyan, Sha ! Bisa bantuin gue ngga ?!" paniknya, membuat Shania ikut panik.
"Kenapa ?!"
__ADS_1
"Kayanya si Riyan di kunciin di gudang, tiba-tiba dia ga ada suaranya, mungkin pingsan apa gimana gue ga ngerti !" Shania yang tak berfikir panjang mengikuti dan masuk ke dalam jebakan betmen si manusia belok ini.
Gadis ini berlari mengekor hingga mendadak langkahnya terhenti di dekat gudang saat Vano memegang handle pintu gudang dan memasukkan sebuah kunci.
"Tunggu ! Kenapa gue mesti ikut loe ?! Lagian kenapa harus gue yang bantuin loe juga, kan loe bisa minta bantuan senior lainnya yang jelas bukan mahasiswa baru kaya gue apalagi gue cewek." Shania mengerutkan dahinya merasa ada yang aneh dengan Vano.
Sadar akan kesalahan dan keanehan yang terjadi Shania hendak berjalan kembali, tapi ia mendengar suara dan gedoran pintu dari dalam.
"Van !!! Gila ya loe ! Buka !!!"
"Riyan ?!" gumamnya bertanya.
"Loe gila, ngunciin temen loe sendiri di gudang ?!!" Shania mendorong bahu Vano mendekati pintu.
"Bukain !!" pinta Shania ketus dan sinis. Vano menurut memutar gagang kunci.
"Yan !!!! Loe ga apa-apa ?!" Shania menempelkan telinganya di pintu gudang tanpa berpikir macam-macam, entah Shania yang terlalu baik atau emang be*go. Tanpa ia perhitungkan tubuhnya di dorong Vano masuk ke dalam gudang menubruk tubuh Riyan yang berada di balik pintu, lalu sejurus kemudian saat keduanya terjatuh Vano menutup kembali pintu gudang dan mengunci keduanya di dalam gudang.
"Bank_sat !!!" sarkas Riyan.
"Ehhhh !!!" Shania bangkit tapi sayang pintu yang terus menerus ia pukul tak terbuka.
"Woyyy, buka !!!!" pekik Shania.
"Temen loe tuh !!" Shania menendang-nendang dan memukul-mukul pintu tiada henti berharap ada yang membukakan.
"Bank_sadh si Vano ! Apa-apaan ini !"
"Sha, loe ga apa-apa ?!" tanya Riyan.
"Gue takut gelap Yan, gue ga bisa kalo gelap gini, sesek nafas gue !"
"Sha," Riyan meraba-raba sakunya tapi nihil, ia meninggalkan ponsel miliknya di meja panitia tadi.
"Shittt ! Hape gue ketinggalan."
Shania meraba saku bajunya dan mengeluarkan ponsel miliknya yang hampir saja lowbath, memencet nomor milik teman-temannya, tapi lebih naasnya mereka tak mengangkat, mungkin karena acara diluar terlalu ramai. Ia memencet nomor Arka, pun sama, seperti mereka sudah janjian untuk tak mengangkat panggilan dari Shania.
"Ini ngapain pada punya hape kalo ga bisa dihubungin semuanya!" teriak Shania.
"Sini cobak gue !" Riyan mencoba menghubungi nomornya dan beberapa nomor yang ia hafal, sementara Shania sedang mengatur nafasnya yang semakin terasa sesak dengan peluh yang bercucuran.
Ryan mencoba menghubungi nomornya beberapa kali, matanya terkadang melirik Shania khawatir, gadis tangguh yang dulu disukainya terlihat begitu panik dan mengkhawatirkan.
Kejadian ini sama seperti dirinya dulu yang terjebak bersama Arka, hanya saja bedanya tak segelap ini, terkesan terang dan di toilet yang terdapat banyak lubang udara.
"Hiks...hikss ! Mas Kala tolongin Sha, " gumamnya. Riyan menghentikan panggilannya.
"Sha,"
"Yan, gue tuh udah nikah sama pak Arka," Riyan tampak sedikit terkejut mendengar hal itu.
__ADS_1
"Sabar Sha, kita pasti bisa keluar !"
"Si@*Lan si Vano ! Gue pikir kemaren-kemaren dia nanya-nanya alamat rumah loe, nanya-nanya tentang loe, karena dia mulai suka lagi sama perempuan Sha, awalnya gue bersyukur sebagai teman, dan rela juga kalo emang ternyata cewek yang gue suka bisa bikin temen gue pulih dari penyakit mentalnya yang belok, tapi ternyata gue salah. Gue ga tau apa maksudnya Sha, dia bertindak kaya gini. Yang jelas dengan jebak loe juga, bisa gue pastikan dia ga suka sama loe, dugaan gue salah," Shania mendongak, jadi kemarin-kemarin yang menerornya memang kemungkinan besar adalah Vano.
"Jadi mungkin beberapa kejadian belakangan ini yang neror gue adalah Vano ?!" gumamnya, tangan Shania sudah mendingin, nafasnya sesak dan keringatnya deras seperti sungai. Di tengah cahaya ponsel, Riyan bisa melihat gadis itu menangis.
"Neror ?" tanya Riyan, Shania mengangguk.
"Uhukk...uhuukkk...!!" Shania terbatuk-batuk karena debu.
"Vano dah tau kalo gue dah nikah sama mas Kala, Yan..malahan dia beberapa kali liat mas Kala."
Shania dan Riyan terdiam, tapi tak lama keduanya melotot bersamaan.
"Vano suka pak Arka..."
"Vano suka mas Kala...."
"Mas !!!! Tolongin Sha !!!!" tangisan Shania menggema dengan sisa tenaganya menggedor-gedor pintu.
"Sha hemat tenaga sama nafas loe, disini pengap, oksigennya terbatas, kita tunggu sampe ada yang datang atau lewat sini, biasanya ada penjaga kampus," Riyan sudah membuka jas almamaternya dengan peluh yang sama mengalir, ia duduk dengan lutut tertekuk dekat pintu.
"Gue ga bisa Yan, anak gue nunggu di rumah, bukaaaa !!!!" Shania belum menyerah menggedor-gedor pintu.
Ponsel Shania menyala, Arka memanggil
"Mas Kala, "
"Mas....!!! Tolongin Sha !!!"
"Sha, mas ditelfon seniormu. Dia suruh mas dateng ke kampus,"
"Mas...to...."
Gubrakkk !!!!
"Shania !!!" terdengar pekikan Riyan dari sambungan telfon.
"Sha !!...Sha....!"
Tuut...
Tuut....
Bip ! ponsel mati.
.
.
.
__ADS_1