
"Mas ih, gercep banget kalo urusan begini !" gerutuan Shania sudah menjadi hal yang lumrah sebelum melakukan sesuatu yang indah.
Sebelum gadis ini lebih berisik lagi, Arka membungkam mulut Shania dengan bibirnya, lebih dalam dan menuntut, mengabsen seluruh isi rongga mulut si little momy ini berikut bermain main disana dan bertukar saliva.
"Mas jangan digigit !"
"Kasih dulu Sha nafas !"
Arka malah semakin gemas. Semakin Shania mengomel dan memukul mukulkan kepalan tangannya semakin ia dengan sengaja membuat Shania kewalahan. Kain jaring mahal yang dipesan Shania tempo hari, karena rasa ego wanitanya yang hanya ingin menjadi satu satunya milik Arka, tak ingin tersaingi oleh lainnya. Dan hanya padanya lah Arka akan bertekuk lutut, kini teronggok dibawah kaki Shania dalam hitungan menit. Arka memang pintar dalam hal bongkar membongkar, meskipun dalam gerakan slow motion diselingi suara decapan menggema seisi kamar demi sesuatu yang sudah basah dan tegak.
Dengan tidak menyakiti keduanya dan ayat yang selalu dibacakan, Arka membawa Shania mengarungi samudra cinta keduanya, meraup manisnya kata nik mat, memantik gelora as mara hingga ruangan kamar yang terisi udara dinginnya malam pun tak mampu meredam panasnya hawa dari keduanya. Peluh keduanya kembali menyatu merekatkan hubungan antara kedua insan yang semakin di mabuk kep ayang.
"Ga mau lagi pake lah," Shania menjauhkan jaring ikan mahalnya.
"Kenapa ?" Arka tengah mengatur nafasnya berbaring di samping Shania.
"Kalo Sha pake itu, mas berubah buas !" protesnya, ia meraih t-shirt milik Arka yang masih tergeletak di lantai dan memakainya, tak peduli si empunya harus mengambil lagi t-shirt dari lemari. Yang jelas ia mager, tak ingin bergerak sama sekali.
Arka mengambil t-shirt barunya dari dalam lemari.
"Ganti, baju mas udah kena keringet," Arka bahkan menyodorkan t-shirt lainnya untuk Shania, meminta Shania mengganti t-shirt yang dia pakai.
"Kaos mas masih wangi ko, masih kering," jawabnya.
"Ganti Sha, ini masih kaos mas !"t-shirt baru yang ia ambil barusan adalah miliknya, ia tau jika Shania suka memakai t-shirt miliknya ketimbang milik Shania sendiri. Gadis itu kembali membuka bajunya, Arka menyunggingkan senyumannya manakala melihat beberapa tanda merah di sekitaran dada, leher, dan si bukit teletubbies.
"Jangan dicuci di mesin, nanti sobek sobek Sha."
"Bo*do !" ketusnya galak.
Bukan Shania yang memungut, tapi Arka, ia membawa baju jala ikan itu.
"Eh, mas ! Mau dibawa kemana ?"
"Mau mas cuci, "
"Malu ih, jangan dijemur di luar !"
"Terus dimana ? Lagipula ibu sama bi Atun ga akan ngerti yang kaya gini," lelaki itu tetep kekeh membawanya ke kamar mandi dan mencucinya dengan tangan.
Shania lebih memilih tenggelam dalam selimutnya dan siap memasuki alam mimpi, sampai Arka mengguncang bahunya untuk segera meminum susu.
"Minum dulu susunya, nutrisi buat dedek," ucapnya.
"Mas, ko sekarang kalo gituan, Sha mules ya ?!" tanya nya.
"Kapan jadwal kontrol lagi ?" tanya Arka.
"3 hari lagi, "
"Nanti ditanyakan saja, sekarang udah baikan ?" Shania mengangguk.
__ADS_1
"Ya udah tidur, "
"Mas Kala mau kemana ?"
"Mau cek email," jawabnya.
Shania meringsek masuk, tak tau jam berapa atau sejak kapan Arka berbaring disampingnya yang jelas, sekarang ia sudah bangun dan terlihat segar.
****
"Bu," Shania menyapa ibu yang sudah berada di dapur.
"Sha, sudah bangun ? Arka sudah bangun ?" tanya ibu.
"Udah, lagi solat. Biar Sha aja bu, kasian ibu capek loh, dari kemaren ibu masak !" ujar Shania.
Shania yang sudah terbiasa langsung membuka tudung saji, menghangatkan lauk kemarin dan membawa beberapa bahan sayur dari kulkas untuk ia tumiskan.
"Nggeh nduk, kalau capek biar ibu bantu ?!" tawar ibu duduk di kursi memperhatikan Shania.
"Engga bu, udah biasa."
Ibu tersenyum melihat Shania, dulu gadis ini hanya tau enak dan tidaknya rasa makanan saja, tanpa mau capek-capek memasaknya, dulu untuk bangun pagi pun harus Arka yang menjadi alarm alaminya. Tapi sekarang, jangankan bangun siang, jam segini saja Shania sudah sibuk memasak dan menyiapkan kopi untuk Arka, ia bahkan sudah hafal jadwal pagi Arka. Buah kesabaran dan ketelatenan Arka membimbing Shania. Kini ibu tenang, jikalau nanti ia pergi menghadap sang kuasa, Arka sudah memiliki pendamping hidup yang mampu mengurusnya.
"Neng, mang Usep lewat ! Ada ikan mas, ayam, sama sayuran. Masih penuh," informasi bi Atun yang tengah menyapu di luar membuat Shania bergegas menanggalkan appron nya.
"Bi titip sebentar, Sha mau liat dulu ke depan !"
"Iya neng,"
"Mau ketemu pacar !" Shania menaik turunkan alisnya dan bergegas meninggalkan Arka yang melongo.
Karena penasaran, lantas Arka ikut mengekor kemana Shania pergi.
Mendadak hatinya dilanda sapuan lava pijar yang menyala-nyala, dan ombak laut yang bergulung-gulung demi mendengar kata pacar dari Shania.
Disana, tepat 2 rumah sebelum rumah Arka, sudah bergumul ibu-ibu kompleks sepaket dengan daster dan forum ghibahnya. Bukan hanya si empunya rumah, tapi beberapa art dari rumah yang bermukim disini berbaur disana, mengerumuni idolanya, tukang sayur.
Bukan sekelas Sehun ataupun Lee min Ho, ia hanya laki laki biasa dari tanah bumi pertiwi berkulit hitam. Bukan pakaian merk Polo shirt, melainkan kaos 100/3 asli Tanah abang yang jadi wardrobenya, sepaket topi dan handuk kecil menggantung di lehernya. Bukan mustang ataupun Alphard, melainkan gerobak dengan dua roda dan satu kayu penyangga. Tapi kharismanya, membuat siapa saja penghuni wanita di kompleks ini mengejarnya bahkan rela meninggalkan suami di rumah.
"Mang Usep bawa apa aja ?" tanya Shania ikut bergabung.
"Banyak neng Sha, diliat aja. Tumben Atun ga ngikut ?" tanya laki laki berumur 37 tahun ini.
"Lagi dititipin dulu masakan," Shania memilih-milih sayuran beserta kawan-kawannya.
Shania tidak lama memilih sayuran, bukan karena ia tak mau teliti dan pemilih. Tapi ia ingin mengurangi perbuatan dosa yang tak terasa jika lama-lama disini.
"Mau jam berapa bu ?"
"Acara jam 11 kan ?"
__ADS_1
"Katanya ga undang banyak sih, mungkin takut ketauan udah di dp in !"
"Lakinya sama sama anak sekolah ?"
"Iya, "
Kupingnya harus tahan godaan untuk tak mendengar gunjingan, Shania memang bukan tipe perempuan yang senang membicarakan aib seseorang.
"Neng Sha, diundang juga ?"
"Ya ?" Shania mendongak.
"Itu sama anak bu Opi, kan nikahan besok ?!" Shania menggeleng, lagipula ia tak mengenal siapa itu bu Opi, ia hanya mengenal pak Slamet, pak Hari, mang Usep, dan beberapa tetangga saja disini, untuk selebihnya Arka memang tak terlalu membiarkan Shania kongkow tak jelas.
"Oh kirain diundang,"
"Mang, Sha ambil ini semua. Itung aja berapa, nanti Sha suruh bi Atun yang bayar ya ?!" ucap Shania.
"Iya neng,"
"Mari ibu-ibu, Sha duluan !" Shania berlalu dengan membawa sekeresek penuh stok bahan makanan.
"Bi Atun ! Bayarin ya, Sha ambil dulu uangnya di kamar !"
"Itu pacar kamu ?" tanya Arka, Shania tertawa.
"Iya mas, ganteng kan ? Sayangnya banyak selirnya, tuhh !!" tunjuk Shania pada gerombolan ibu ibu.
Ibu menertawakan sikap Arka, ia rasa dengan umur Arka yang segitu, kurang pantas baginya untuk cemburu, gadis nakal itu sudah berhasil mengusili suaminya sendiri sampai seperti orang yang sedang frustasi.
"Mas, besok- besok..kalo stok sayur abis, Sha mau ke pasar aja ah ! Males, ibu-ibu seneng ghibah !" ujarnya memindahkan masakan ke dalam piring dan mangkuk.
"Iya, mas lari dulu sebentar !" pamitnya membetulkan posisi pad topi dan lari keluar dari rumah berkeliling kompleks.
"Mas Arka barusan nanya-nanya tuh neng, katanya sering ada laki-laki datang kesini buat nemuin neng Sha engga ? Maksudnya siapa neng ?" ujar bi Atun.
"Ga tau," kekeh Shania tanpa dosa.
.
.
.
.
Noted
*Slow motion : gerakan lambat
* Mager : males gerak.
__ADS_1
* Wardrobe : pakaian.